RSS

Arsip Kategori: HADDADIYAH

TAHDZIR ULAMA KIBAR (SENIOR) TERHADAP JAMA’AH YANG GEMAR MENGHAJR DAN MENTABDI

TAHDZIR ULAMA KIBAR (SENIOR) TERHADAP JAMA’AH YANG GEMAR MENGHAJR DAN MENTABDI

 

Tahdzir Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz

A

l-Allamah, al-Mufti al-’alim, Samahatus Syaikh Abdil Aziz bin Abdullah bin Bazz – rahimahullahu- berkata, sebagaimana termuat dalam harian al-Jazirah, ar-Riyadh, asy-Syirqul Awsath, Sabtu 22/6/1412 H, sebagai berikut :

“Telah merebak di zaman ini tentang banyaknya orang-orang yang menisbatkan diri kepada ilmu (tholibul ‘ilm, pent.) dan terhadap dakwah kepada kebajikan (da’i, pent.) yang mencela kehormatan kebanyakan saudara-saudara mereka para du’at yang masyhur dan memperbincangkan kehormatan (menjelekkan, pent.) para thullabul ‘ilm (penuntut ilmu), para du’at dan khatib (penceramah). Mereka melakukannya secara sirriyah (sembunyi-sembunyi) di dalam majelis-majlis mereka, dan bisa jadi ada yang merekamnya di kaset-kaset kemudian disebarkan kepada manusia. Terkadang pula mereka melakukannya secara terang-terangan di dalam muhadharah ‘am (ceramah umum) di masjid-masjid. Cara ini menyelisihi dengan apa-apa yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya, dengan beberapa alasan :

Pertama.
Hal ini merusak hak-hak kaum muslimin, dan khususnya para penuntut ilmu dan da’i yang mengerahkan segenap usahanya di dalam mengarahkan manusia, menunjuki mereka dan membenahi aqidah dan manhaj mereka. Mereka bersungguh-sungguh di dalam mengatur/mengelola durus (pelajaran-pelajaran) dan muhadharaat (pengajian-pengajian) serta penulisan buku-buku yang bermanfaat.

Kedua.
Hal ini memecah belah persatuan kaum muslimin dan memporak porandakan barisan mereka, dimana ummat ini lebih membutuhkan kepada persatuan dan menjauhi dari berkelompok-kelompok dan berpecah belah serta menjauhi dari banyaknya qiila wa qoola (perkataan-perkataan yang tidak jelas, pent.) di tengah-tengah ummat. Khususnya kepada du’at yang dicela, padahal mereka adalah termasuk dari Ahlis Sunnah Wal Jama’ah yang dikenal akan sikap mereka dalam memerangi bid’ah dan khurofat, memerangi orang-orang yang menyeru kepada bid’ah dan khurafat, dengan cara menyingkapkan kesalahan-kesalahan dan kekurangan mereka (para penyeru bid’ah dan khurafat). Kami tidak melihat adanya mashlahat (kebaikan) di dalam perilaku semacam ini (yaitu mencela para du’at), melainkan akan memberikan maslahat bagi musuh-musuh Islam dari kaum kuffar, munafik, dan ahli bid’ah serta kesesatan.

Ketiga.
Sesungguhnya perbuatan ini (yaitu mencela para du’at), akan membantu dan menolong orang-orang yang menyimpang dari kalangan kaum atheis, sekuler dan lainnya. Dimana mereka ini tersohor akan permusuhannya terhadap para du’at islam dan terkenal akan pengadaan kedustaan terhadap mereka dengan menghasut melalui buku-buku maupun kaset-kaset rekaman. Hal ini (mencela para du’at) bukanlah hak dalam persaudaraan dalam Islam bagi orang-orang yang dengki itu dengan membantu musuh-musuh mereka terhadap saudara-saudara mereka thullabul ‘ilmi dan para du’at.

Keempat.
Hal ini akan menyebabkan rusaknya hati umat ini secara umum dan mereka sendiri secara khusus, dengan menyebarkan dan mengedarkan kedustaan serta merebakkan kebathilan. Hal ini merupakan sebab berkembangnya ghibah, namimah (mengadu domba) dan pembuka pintu-pintu kejahatan bagi orang-orang yang jiwanya lemah, yang mana mereka ini akan menyebarkan syubuhat dan meluaskan fitnah serta mendorong mereka menghancurkan kaum mu’minin.

Kelima.
Sesungguhnya kebanyakan perkataan-perkataan tersebut tidaklah berdasar. Sesungguhnya perkataan-perkataan tersebut hanyalah bersumber dari dugaan (imajinasi) yang Syaithan menghiasinya dan memperdayainya. Allah Ta’ala berfirman.

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah olehmu kebanyakan dari purbasangka, karena sesungguhnya sebagaian purbasangka itu adalah dosa.” [Al-Hujurat : 11-12]

Selayaknyalah bagi seorang muslim membawa ucapan saudaranya seislam pada sebaik-baik tempat (kepada makna yang paling baik). Sebagian Salaf berkata, “Janganlah engkau berprasangka buruk terhadap perkataan yang dilontarkan saudaramu sedangkan engkau dapat membawa perkataan tersebut pada makna yang baik.”

Keenam.
Apa yang didapatkan dari ijtihad sebagian ulama dan penuntut ilmu dari perkara-perkara yang memang memungkinkan di dalamnya berijtihad, maka orang tersebut tidak boleh disalahkan apalagi dicela, jika ia memang ahli ijtihad. Jika sekiranya ada orang lain yang menyelisihinya, selayaknyalah ia berdiskusi dengannya dengan cara yang baik, dengan mengharapkan memperoleh kebenaran dan dengan menolak waswas syaithan yang hendak memecah belah kaum mu’minin. Jika hal ini tidak memungkinkan dan ia beranggapan harus menerangkan penyelewengannya, maka hendaklah dengan ungkapan-ungkapan yang baik dan ucapan-ucapan yang lembut tidak kasar tanpa celaan ataupun ucapan yang sia-sia yang dapat menyebabkan seseorang menolak kebenaran atau bahkan menjauhi kebenaran, juga tanpa menyebutkan perorangan atau menuduh niat atau menambah ucapan-ucapan yang tidak dimaksudkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda tentang perkara ini, ‘mengapa ada kaum yang berkata demikan dan demikian??
[1]‘”

(selesai)


Tahdzir Syaikh Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani

 

B

erkata Syaikh kami yang mulia, al-Muhaddits al-Ashr al-Mujaddid al-Faqih Muhammad Nashirudin al-Albani -Rahimahullah- di dalam kaset Silsilah al-Huda wan Nur ash-Shouthiyah no 784 side A, sebagai berikut :

Syuf (perhatikan) wahai saudaraku! Aku menasehatkanmu dan para pemuda lainnya yang berada di jalan munharif (menyeleweng) sebagaimana tampak pada kami, wallahu a’lam, untuk tidak membuang-buang waktumu untuk mencela satu dengan lainnya dan sibuk dengan mengatakan fulan begini dan fulan berkata begitu. Dikarenakan, pertama, hal ini tidaklah termasuk ilmu sama sekali, dan yang kedua, uslub (cara) ini akan merasuk ke dada dan menyebabkan kedengkian serta kebencian di dalam hati.

Wajib atasmu menuntut ilmu!!! Karena ilmulah yang akan menyingkapkan apakah perkataan ini yang mencela Zaid atau fulan dari manusia dikarenakan dirinya memiliki banyak kesalahan, apakah berhak bagi kita untuk menyebutkan shohibul bid’ah atau mubtadi’ ataukah tidak?? Apa yang harus kita lakukan dengan mendalami perkara ini?? Aku tidak menasehatkanmu untuk mendalami seluruh perkara ini dengan benar-benar, karena hakikatnya kita sekalian sedang mengeluhkan perpecahan ini yang terjadi di tengah-tengah orang-orang yang berintisab (menisbatkan diri) pada dakwah Al-Kitab dan As-Sunnah, atau sebagaimana kita menyebutnya, Dakwah Salafiyah.!!!

Perpecahan ini, wallahu a’lam, penyebab utamanya adalah dorongan jiwa yang memerintahkan kepada keburukan (an-Nafsul ammarah bis suu`) dan bukanlah perselisihan pada sebagian pemikiran. Inilah nasehatku. karena telah sering aku ditanya, ‘apa pendapatmu tentang fulan?’, dan aku langsung faham bahwa ia (penanya) orang yang memihak atau memusuhi. dan terkadang orang yang ditanyakan adalah diantara saudara-saudara kita terdahulu yang dikatakan dia menyimpang, maka kami bantah penanya tersebut, apa yang engkau inginkan terhadap fulan dan fulan??

Berlaku luruslah sebagaimana engkau diperintahkan! Tuntutlah ilmu! Dengan ilmu engkau akan dapat memilah-milah mana yang thalih dan mana yang shalih, mana yang bathil dan mana yang haq!!! Kemudian janganlah engkau ini mendengki terhadap saudara seislam dikarenakan ia jatuh kepada beberapa kesalahan. Kami tidak mengatakan salah, namun kami katakan ia menyimpang dalam satu, dua atau tiga perkara, dan perkara lainnya ia tidak menyimpang.

Kita dapati para Imam Ahli Hadits yang menerima haditsnya (orang yang menyimpang) dan disebutkan di dalam riwayatnya ia khariji atau murji`i atau lainnya. Ini semua adalah aib dan kesesatan, namun diperoleh pada timbangan tersebut yang mereka berpegang teguh padanya. Kita tidak menimbang beratnya keburukannya dari kebaikan-kebaikannya atau dua atau tiga keburukannya terhadap banyaknya kebaikannya, dan yang terbesar adalah syahadat Laa ilaaha illa Allah wa Muhammad Rasulullah.”

Syaikh juga berkata tentang definisi siapakah mubtadi’ itu di dalam kaset Silsilah Huda wa Nur ash-Shouthiyah no 785 side B, sebagai berikut :

Atsar Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu bermanfaat untuk menunjukkan contoh dari terjatuhnya seorang ‘alim kepada bid’ah tidaklah serta merta menjadikannya mubtadi’ dan jatuhnya seseorang kepada perbuatan haram, dengan pernyataan memperbolehkan apa-apa yang diharamkan secara ijtihad, tidak serta merta menjadikannya sebagai pelaku keharaman.

Saya katakan, atsar Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu ini menunjukkan bahwasanya ia dulu berdiri menasehati manusia pada hari Jum’at sebelum sholat, berfaidah untuk menunjukkan contoh yang shahih, bahwa bid’ah yang terkadang terjatuh kepada seorang ‘alim, tidaklah dengan demikian ia menjadi seorang mubtadi’.

Sebelum masuk ke jawaban yang lengkap, aku katakan, al-Mubtadi’ adalah berawal dari kebiasaannya mengada-adakan bid’ah di dalam agama, dan tidaklah orang yang mengada-adakan bid’ah, walaupun ia mengamalkannya bukan karena ijtihadnya, namun dari hawa nafsunya, tidak serta merta dikatakan dia mubtadi’!!

contoh terjelas yang paling dekat dengan perkara ini adalah, seorang hakim yang zh’alim yang terkadang berlaku adil pada sebagian hukum-hukumnya, tidaklah bisa disebut hakim adil, sebagaimana pula seorang hakim yang adil yang terkadang melakukan kezh’aliman di sebagian hukum-hukumnya, tidaklah dinamakan dirinya hakim zh’alim.

Hal ini berkaitan erat dengan kaidah fiqh islami yang menyatakan bahwasanya seorang manusia dilihat dari banyaknya kebaikan atau keburukannya. Jika kita telah mengetahui hakikat ini, maka kita dapat mengetahui siapakah mubtadi’ itu. maka, dengan demikian disyaratkan bagi mubtadi’ dua hal, yaitu pertama, dia bukanlah seorang mujtahid namun hanyalah pengikut hawa nafsu dan kedua, dia menjadikan bid’ahnya sebagai kebiasaan dan agamanya.”

(selesai)


Tahdzir Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

 

S

yaikh al-Imam Faqihuz Zaman, al-Allamah Muhammad bin Sholih al-Utsaimin -Rahimahullahu- berkata saat Liqo`ul Babil Maftuh (Pertemuan terbuka) no 1322, sebagai berikut :

Salafiyah adalah ittiba’ terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyah. Adapun menjadikan salafiyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menvonis sesat orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyah!!!

Kaum salaf seluruhnya menyeru kepada Islam dan bersatu di atas Sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, mereka tidak menvonis sesat orang-orang yang menyelisihinya karena perkara ta’wil/penafsiran yang berbeda, Allahumma, kecuali dalam perkara aqidah, dikarenakan mereka berpandangan bahwa siapa-siapa yang menyelisihinya dalam perkara aqidah, maka telah sesat.

Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan manhajnya dengan menvonis sesat setiap orang yang menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan hal ini sebagai manhaj hizbiyah sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam.

Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan. Dikatakan, ‘lihatlah kepada madzhab as-Salaf ash-Shalih, apa yang mereka perbuat di dalam jalan mereka dan kelapangan dada mereka pada perkara khilaf yang memang diperbolehkan ijtihad di dalamnya, sampai pada taraf mereka berselisih di dalam perkara aqidah dan ilmu.

Engkau dapati mereka, misalnya, mengingkari Rasul Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melihat Rabbnya dan sebagian lagi menetapkannya, ada lagi yang berpendapat yang ditimbang pada hari kiamat nanti adalah amal dan sebagiannya berpendapat lembaran-lembaran amal-lah yang ditimbang.

Engkau dapati pula mereka berselisih di dalam masalah fiqhiyah, baik dalam masalah nikah, faraidh, iddah, jual beli dan lain-lain. Walaupun demikian, mereka tidak saling menvonis sesatkan satu dengan lainnya.

Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membeda-bedakan dan menvonis sesat selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah yang ittiba’ terhadap manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan, perselisihan, persatuan, cinta kasih dan kasih sayang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam :

‘Permisalan kaum mu’minin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau ikut sakit.’ [Hadits Riwayat Muslim]

Maka inilah salafiyah yang hakiki!!!”

 


Tahdzir Syaikh Al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad

 

S

yaikh al-Allamah Abdul Muhsin al-Abbad -hafizhahullahu- ditanya saat pelajaran (durus) Sunan Abu Dawud, malam hari, 26 Shafar 1423 H., sebagai berikut :

 

Pertanyaan :

Jika seandainya ada seorang syaikh berbicara mengenai seseorang dan menganggapnya mubtadi’, apakah harus seorang pelajar (tholib) mengambil tabdi’ ini? Ataukah harus mengetahui sebab-sebab tabdi’ terlebih dahulu, dikarenakan terkadang tabdi’ ini dimutlakkan atas seseorang walaupun ia multazim dengan sunnah?

Jawaban :

Tidak setiap orang diterima perkataannya dalam perkara ini. Jika datang perkataan dari orang yang semisal Syaikh Ibnu Bazz atau Syaikh Ibnu Utsaimin, iya, mungkin untuk mempercayai ucapannya (mengambilnya, pent.). Adapun dari orang-orang yang ‘merangkak dan merayap’ (gemar menyebarkan desas-desus dan sembrono, pent.), maka tidak diambil perkatannya.

 

Pertanyaan :

Masalah lain, tentang menerima khobar (berita) tsiqoh (orang yang terpercaya), apakah diterima perkataannya secara mutlak tanpa tatsabut? Misalnya dikatakan, fulan tersebut mencela dan memaki shahabat, sebagai contoh, apakah wajib bagiku menerima perkataan ini (langsung) dan menghukuminya (sebagai pencela sahabat, pent.) ataukah aku harus tatsabut (cek dan ricek)?

Jawaban :

(Anda) harus tatsabut!!!

 

Pertanyaan :

Walaupun yang berkata demikian adalah salah seorang masyaikh?

Jawaban :

Harus tatsabut!!! Orang yang berkata jika ia menisbatkan kepada kitabnya dan kitabnya eksis (maujud), sehingga memungkinkan ummat untuk meruju’ kepada kitab ini.

Adapun perkataan belaka yang kosong dari pokok (asas) yang disebutkan tentangnya terutama jika orang-orang tersebut masih hidup. Adapun jika ia termasuk dari para pendahulu kita dan dia memang dikenal dengan kebid’ahannya atau termasuk penghulu bid’ah, maka hal ini semua orang telah mengetahuinya, yaitu seperti Jahm bin Shofwan, dan demikianlah tiap-tiap orang yang berkata ia mubtadi’, maka sesungguhnya perkataannya benar, yaitu mengatakannya mubtadi’. Adapun terhadap orang-orang yang melakukan kesalahan sedangkan dia memiliki kesungguhan yang luar biasa dalam berkhidmat terhadap agama, kemudian dia tergelincir, maka seharusnya ummat ini menghukumi terhadapnya pada kesalahannya saja.

 

Pertanyaan :

Jika didapatkan pada seorang ‘alim perkataan yang mujmal (global) di dalam suatu perkara, dan terkadang perkataan mujmal tersebut secara dhohirnya menunjukkan kepada suatu perkara yang salah, dan didapatkan lagi padanya perkataan yang lain yang mufashshol (terperinci) pada perkara yang sama tentang manhaj salaf, apakah dibawa perkataan seorang ‘alim yang mujmal tersebut kepada perkara yang mufashshol?

Jawaban :

Iya, dibawa kepada mufashshol, selama perkara tersebut adalah sesuatu yang masih samar, dan perkara yang jelas dan teranglah yang dianggap.

(selesai)
Tahdzir Syaikh Al-Allamah Sholih Fauzan al-Fauzan

A

sy-Syaikh al-Allamah Sholih Fauzan al-Fauzan -hafizhahullahu- berkata saat pengajian tentang Aqidah dan Dakwah (III/69) sebagai berikut :

“Diantara kerusakan-kerusakan perpecahan yang demikian ini adalah mengakibatkan perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin, disebabkan disibukkannya mereka satu dengan lainnya dengan mentajrih (mencela) dengan gelar-gelar yang buruk. Tiap-tiap mereka menghendaki memenangkan diri mereka dari yang lainnya dan merekapun menyibukkan kaum muslimin dengan perihal mereka. Yang mana hal ini menjadi melebihi mempelajari ilmu yang bermanfaat. Sesungguhnya banyak dan banyak dari para penuntut ilmu yang bertanya sampai kepada kami bahwa semangat dan kesibukan mereka hanyalah memperbincangkan manusia dan kehormatan mereka, baik di majelis-majelis maupun perkumpulan mereka, sembari menyalahkan ini dan membenarkan itu, memuji ini dan menyatakan itu sesat… Tidaklah mereka ini disibukkan melainkan hanya memperbincangkan manusia..”

 

Syaikh al-Allamah ditanya saat pengajian tentang Aqidah dan Dakwah (III/57) sebagai berikut :

Pertanyaan :

“Apa pendapat yang mulia tentang merebaknya celaan-celaan baik yang tertulis maupun yang didengar yang merebak di kalangan para ulama?? Tidakkah Anda memandang bahwa duduknya mereka untuk diskusi adalah lebih mulia?? Karena betapa banyak aturan-aturan islam yang rusak karena hal ini!!”

Jawaban :

“Para ulama yang mu’tabar (dikenal keilmuannya) tidak ada pada diri mereka sedikitpun dari apa yang disebutkan dalam pertanyaan. Mungkin hal ini terjadi diantara para penuntut ilmu dan pemuda yang bersemangat, kami memohon hidayah dan taufiq Allah untuk mereka. Kami menyeru mereka untuk meninggalkan perbuatan tercela ini dan supaya mereka saling bersaudara di atas kebajikan dan ketakwaan, serta mengembalikan kepada para ulama terhadap perkara-perkara yang mereka sulit menentukan kebenarannya, dan agar mereka -para ulama- menjelaskan kepada mereka mana yang benar, dan supaya mereka tidak memberikan pengaruh pada fikiran dengan syubuhat sehingga mereka berpaling dari manhaj yang benar. Namun, janganlah difahami dari hal ini, meninggalkan bantahan terhadap kesalahan dan penyimpangan yang terdapat di sebagian buku-buku termasuk bagian nasehat bagi ummat.”

 

Syaikh hafizhahullahu ditanya pula saat pengajian Aqidah dan Dakwah (III/332) sebagai berikut :

Pertanyaan :

Syaikh yang mulia, apakah nasehatmu bagi para pemuda yang meninggalkan menuntut ilmu syar’i dan berdakwah kepada Allah dengan menceburkan dirinya ke dalam masalah perselisihan diantara pada ulama tanpa ilmu dan bashirah??

Jawaban:

“Aku nasehatkan kepada seluruh saudara-saudaraku dan khususnya para pemuda penuntut ilmu agar mereka menyibukkan diri dengan menuntut ilmu yang benar, baik di Masjid, sekolah, ma’had maupun di perkuliahan. Agar mereka sibuk dengan pelajaran-pelajaran mereka dan apa-apa yang bermashlahat bagi mereka. Dan supaya mereka meninggalkan menceburkan diri kepada perkara ini -perselisihan ulama-, dikarenakan tidak ada kebaikannya dan tidak bermanfaat masuk ke dalamnya… hanya membuang-buang waktu saja dan merisaukan fikiran…

Hal ini termasuk penghalang amal shalih, termasuk mencela kehormatan dan menghasut kaum muslimin. Wajib bagi kaum muslimin umumnya dan para penuntut ilmu khususnya, supaya meninggalkan perkara ini dan agar mereka mengupayakan perdamaian (ishlah) semampu yang mereka bisa. Allah Ta’ala berfirman,

‘Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah kedua golongan saudara kalian tersebut, bertakwala’h kepada Allah semoga engkau dirahmati.” (al-Hujurat : 10).

Terhadap orang-orang yang anda lihat melakukan kesalahan, maka wajib bagi anda menasehatinya dan menjelaskan kesalahnnya secara empat mata, dan memohon kepadanya agar ia mau ruju’ (kembali) kepada kebenaran. Inilah yang dibutuhkan nasehat.

Syaikh Hafizhahullahu berkata saat pengajian Zhahiratut Tabdi’ wat Tafsiq wat takfir wa Dhawabithuha, sebagai berikut :

“Oleh karena itu, wajib bagi para pemuda Islam dan penuntut ilmu untuk mempelajari ilmu yang bermanfaat dari sumbernya dan dari ahlinya yang dikenal akan keilmuannya. Kemudian setelah itu, mereka akan tahu bagaimana berbicara dan bagaimana meletakkan sesuatu pada tempatnya, karena Ahlus Sunnah dulu maupun sekarang mampu menjaga lisannya dan mereka tidaklah berucap melainkan dengan ilmu..”


(selesai)


Tahdzir  Fadhilatus Syaikh Nashir Abdul Karim al-Aql

 

A

sy-Syaikh Nashir bin Abdul Karim al-Aql -hafizhahullahu- berkata saat pengajian Syarh Mujmal I’tiqod Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai berikut :

“Orang-orang beriman seluruhnya adalah wali Allah dan bagi seluruh mukmin diberikan wala’ (loyalitas) sebatas tingkat keimanannya, demikian pula sebaliknya (diberikan baro’ah (kebencian/berlepas diri) sebatas tingkat kemaksiatannya, pent.).

Orang-orang kafir, seluruhnya adalah wali Syaithan dan tidak ada wala’ sedikitpun bagi orang kafir. Akan tetapi, mukmin yang bermaksiat, diberikan baro’ah kepadanya menurut kadar kemaksiatannya, demikian pula para pelaku bid’ah dari kaum muslimin, diberikan baro’ah menurut tingkat kebid’ahannya, dan bagi mereka wala’ sebatas keimanannya. Oleh karena itu, sesungguhnya orang kafir tidak terkumpul padanya wala’ dan baro’ sekaligus.

Seorang mukmin yang kholish (murni) yang berjalan di atas As-Sunnah, baginya wala’ dan kecintaan yang sempurna. Jika ditemukan padanya kemaksiatan atau kebid’ahan maka terkumpul padanya dua perkara: yaitu kita berwala’ terhadap kebaikan dan iman yang dimilikinya dan kita membenci terhadap kemaksiatan dan kebid’ahannya. Dengan demikian, mayoritas kaum mu’minin pelaku kemaksiatan dan kebid’ahan yang tidak sampai mengeluarkan dari agama… mayoritas mereka… bahkan seluruhnya dari para pelaku kemaksiatan dan bid’ah yang kecil, bagi mereka kecintaan dan wala’ sebatas keimanan dan amal shalih yang ada pada mereka serta baro’ dan kebencian sebatas kemaksiatan dan kebid’ahan mereka.

Kaidah ini jarang dipegang oleh kebanyakan orang-orang yang lemah ilmunya dan dangkal pemahaman agamanya serta bodoh dengan manhaj salaf, sampai-sampai sebagian orang yang mengaku sebagai salafiy juga jatuh kepada hal ini, yaitu mereka memusuhi bid’ah dengan permusuhan yang kamil (sempurna), walaupun terkadang bid’ahnya tidak sampai tingkatan mengeluarkan pelakunya dari agama, dan terkadang pula kebid’ahan tersebut hanya sebagian kecil saja tidak menyeluruh pada seseorang. Sebagaimana pula mereka memusuhi kemaksiatan dengan permusuhan sempurna, atau memusuhi suatu penyelewengan dan kesalahan dengan permusuhan yang sempurna.

Sekarang kita perhatikan dampak dari penerapan perilaku ini, yang marak terjadi di tengah-tengah Ahlus Sunnah, yang menimbulkan keprihatinan dan percekcokan di dalam permasalahan agama, perkara Ijtihadiyah dan seputar dakwah kepada Allah. Kita dapatkan mereka saling berselisih tentang hal ini dan menerapkan kepada musuh dan lawan mereka sesama Ahlus Sunnah, baro’ah yang sempurna, sampai mereka membenci mereka, memperbolehkan menjelekkan mereka, menyebarkan aib mereka, mereka berniat karena Allah mendakwahi lawan mereka namun mereka menyebarkan aib mereka dan mentahdzir mereka.

Hal ini menyelisihi ushul (pokok) syariat. Iya memang, jika mereka melakukan kesalahan diperingatkan kesalahan-kesalahannya, namun tetap dengan mengakui keutamaan dan kemampuan yang mereka miliki. Ini adalah perkara dharuri (yang wajib dilakukan) atau jika tidak, akan timbul fitnah di tengah-tengah kaum muslimin.

Demikian pula seorang yang menyimpang, wajib diberitahukan padanya, bahwa dirimu selaras dengan kebenaran dalam perkara yang memang benar dan dirimu menyelisihi kebenaran dalam perkara yang memang menyelisihi kebenaran. Dan janganlah mengobarkan kebencian di dada-dada kaum muslimin satu dengan lainnya sebagaimana cara yang dilakukan oleh orang-orang bodoh tadi. Bahkan saya katakan, (hal ini) tidak terlarang, di sini aku contohkan sedikit… termasuk tabiat dan adab islami jika anda berselisih dengan salah seorang saudara anda dan anda memandang ia melakukan kesalahan atau kebid’ahan yang cukup besar, anda memberikannya udzur setelah anda tidak mampu lagi memuaskan dirinya (dengan dalil), dan senantiasa berwala’ seraya mengatakan ‘aku mencintaimu karena Allah terhadap kebaikan dan kelurusan yang anda miliki’… (hal ini) tidak terlarang!!!

saudara-saudaraku yang kucintai karena Allah, hingga sampai-sampai jika ditemukan padanya kesalahan… (maka tidak apa-apa melakukan sebagaimana contoh di di atas, pent.)… yang dengan cara ini akan mendamaikan hati dan menghilangkan kebencian dan kedengkian yang dimiliki kaum mu’minin satu dengan lainnya. Sampai-sampai orang-orang bodoh tadi melupakan baro’ kepada orang kafir dan pelaku bid’ah yang berat, dimana mereka palingkan nash-nash tentang baro’ kepada saudara-saudara mereka. Aku takut mereka akan ditimpa -jika mereka tidak mau taubat dan kembali kepada kebenaran dan manhaj yang lurus- sebagaimana yang disifatkan nabi kepada salah satu kelompok ahli bid’ah, ‘yang mereka ini memerangi ahlul islam dan membiarkan ahlul awtsan (penyembah berhala)’ yang datang dari hadits shahih ketika mensifatkan sebagian kelompok ahli bid’ah.

Tentu saja, baro’ yang kamil (sempurna) merupakan jalan kepada peperangan. Seorang manusia yang baro’ kepada saudaranya muslim dengan baro’ yang sempurna berimplikasi terhadap penghalalan darahnya. Walaupun tidak terjadi saat ini saat ini, namun wajib bagi kita untuk berhati-hati dari sikap yang dapat mengeruhkan keadaan ini.

Kita perlu tahu bahwa Ahlus Sunnah terkadang berselisih diantara mereka, terkadang ditemukan pada sebagian Ahlus Sunnah kesalahan pada manhajnya, akan tetapi tanpa maksud/kesengajaan -dikarenakan ijtihad-, terkadang pula ditemukan pada mereka ketergelinciran yang besar, akan tetapi tanpa kesengajaan yang tidak menyebabkan mereka berpecah belah, dan terkadang pula didapatkan pada sebagian Ahlus Sunnah suatu kebid’ahan, namun tidak banyak dan tidak termasuk bid’ah yang kategori berat.

Namun, tetap wajib bagi kita menyalahkan terhadap kesalahan yang ada pada mereka, namun kita harus tetap menganggap mereka, mencintai dan berwala’ terhadap mereka dari perkara-perkara yang benar jika mereka termasuk Ahlus Sunnah.

Wallahu a’lam. Semoga Sholawat senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabat-sahabatnya.”

 

 

Dipublikasikan oleh : ibnuramadan.wordpress.com

© Copyright http://dear.to/abusalma



[1] Isyarat terhadap hadits yang diriwayatkan Sayyidah Aisyah Radhiyallahu ‘anha ketika berkata, ‘Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jika menyampaikan sesuatu tentang seseorang beliau tidak berkata, ‘mengapa fulan berkata demikian’, namun beliau berkata, ‘mengapa ada kaum yang berkata demikian dan demikian?’.’ Hadits Shahih diriwayatkan Abu Dawud dalam bab al-Idznu wal Isti’dzan (izin dan meminta izin), lihat Silsilah ash-Shahihah no 2064.

 
Leave a comment

Posted by pada Desember 31, 2008 in HADDADIYAH, ZZ..BANTAHAN..ZZ

 

INILAH HADDADIYAH…!!! (bagian 3)

KARAKTERISTIK NEO HADDADIYAH

(Menyingkap Karakter Haddadiyah Yang Tersembunyi Pada Pengaku-ngaku Salafiyah Yang Hakikatnya Adalah Hizbiyah Yang Membinasakan)

Oleh : Ustadz Abu Salmah al-Atsari

diantara karakteristik mereka :

2. Bodoh terhadap Aqidah Salafiyah dan Manhaj Salaf

Ini adalah karakter yang menonjol dari mereka, yaitu bodoh terhadap aqidah salafiyah dan manhaj salaf, walaupun mereka mengaku dan mengklaim berada di atasnya. Pengaku-ngakuan mereka hanyalah isapan jempol belaka dan angan-angan melayang yang dibawa pergi seekor burung di angkasa. Diantara kebodohan mereka ini adalah :

a. Tidak bisa membedakan antara mentazkiyah dan menukil

Menurut mereka, menukil dari ahli bid’ah, atau yang mereka tuduh bid’ah, maka sama artinya mentazkiyah (memuji) ahli bid’ah. Apabila kita perhatikan tulisan-tulisan mereka yang dimuat di sebuah website antik, yang modalnya hanyalah makian, celaan, fitnah dan dusta, maka akan didapatkan ucapan-ucapan kebodohan mereka. Mereka menuduh Ustadz Arifin Baderi telah mentazkiyah Abduh Zulfidar Akaha hanya karena menukil buku yang ditulisnya bersama Hartono A. Jaiz (”Bila Kyai Dipertuhankan”), mereka juga menuduh al-Akh Abu Hannan hanya karena menukil tulisan M. Ihsan dalam masalah kasus Lebanon dan menukil dari Syaikh Abu Bakr Jabir al-Jazairi hafizhahullahu yang dituduh mereka ”Tablighi”, dan lainnya…

Ini menunjukkan bagaimana bodohnya orang-orang ini, padahal apabila mereka menelaah kitab-kitab para ulama, niscaya mereka akan mendapatkan nukilan-nulilan dari ulama-ulama yang bukan ahlus sunnah. Perhatikanlah ucapan Ma’ali Syaikh Sholih Alu Syaikh berikut ini :

وهذا منهج عام لإقامة الحجة وإيضاح المحجة في أبواب الدين كله؛ وهو أنه لا يلزم من نقل الناقل عن كتاب أنه يزكيه مطلقا، وقد ينقل عنه ما وافق فيه الحق تأييدا للحق، وإن كان خالف الحق في غير ذلك فلا يعاب على من نقل من كتاب اشتمل على حق وباطل إذا نقل ما اشتمل عليه من الحق. وأيضا تكثير النقول عن الناس على اختلاف مذاهبهم هذا يفيد في أن الحق ليس غامضا؛ بل هو كثير شائع بيِّن.

”Dan hal ini termasuk manhaj yang umum di dalam menegakkan hujjah dan menerangkan pusat sasaran di semua bab-bab permasalahan agama, yaitu bahwasanya tidaklah melazimkan seseorang yang menukil dari sebuah buku bahwa ini artinya ia mentazkiyahnya secara mutlak. Ia terkadang menukil darinya yang selaras dengan kebenaran dalam rangka menyokong kebenaran, walaupun (di dalam buku itu) ada yang menyelisihi kebenaran, namun tidaklah tercela bagi orang yang menukil dari buku yang mengandung kebenaran dan kebatilan apabila ia menukilkan bagian yang benar darinya. Dan juga, memperbanyak nukilan-nukilan dari manusia tentang perbedaan madzhab-madzhab mereka, hal ini membuahkan faidah bahwa kebenaran itu tidaklah samar, namun ia banyak tersebar luas dan terang.”[1]

Apakah mereka memahai qo’idah ’aamah (kaidah umum) ini?!! Padahal di dalam risalah di atas, penjelasan ini termasuk ke dalam qo’idah ’aamah yang seharusnya thullabul ’ilmi pemula memahaminya. Apabila kaidah umum seperti ini saja mereka tidak faham, lantas atas dasar apa mereka menulis bantahan-bantahan kejinya kepada para du’at dan thullabul ’ilmi ahlis sunnah?!! La haula wa laa quwwata illa billah.

b. Tidak faham bedanya mencari ilmu dengan menerima ilmu

Kaidah ini berhubungan dengan kaidah di atas, yaitu mereka benar-benar tidak faham bedanya antara mencari/menuntut ilmu dari ahli bid’ah dengan menerima kebenaran darinya. Menurut mereka, seakan-akan apa yang keluar hanya dari mereka saja itulah yang benar dan yang keluar dari selain mereka semuanya salah walaupun pada realitanya ucapan lawan mereka ini benar.

Mereka tidak segan-segan mencela dan mengumpat siapa saja dari kalangan salafiyin misalnya, yang menerima ucapan tokoh-tokoh hizbiyyin yang selaras dengan al-haq, karena menurut mereka ini sama saja dengan tazkiyah atau merekomendasi kaum hizbiyyin dan segala kesesatan mereka. Padahal hakikatnya tidak mutlak demikian, dan inilah letak kebodohan mereka.

Ma’ali Syaikh Shalih bin ’Abdil ’Aziz Alu Syaikh hafizhahullahu berkata :

فيقبل الحق ممن جاء به ولو كان كافرا، كما قبل الحق من الشيطان في قصة أبي هريرة مع الشيطان في صدقة الفطر المعروفة؛ حيث جاء يأخذ فمسكه أبو هريرة، ثم جاء يأخذ فمسكه، ثم جاء يأخذ فمسكه، ثم قال له: ألا أدلك على كلمة إذا قلتها كنت في أمان أو عصمتك ليلتك كلها اقرأ آية الكرسي كل ليلة فإنه لا يزال عليك من الله حافظ حتى تصبح. فأخبر النبي عليه الصلاة والسلام بذلك فقال عليه الصلاة والسلام «صدقك وهو كذوب» سلم بهذا التعليم وأخذ به مع أنه من الشيطان.

Kebenaran diterima dari mana saja datangnya walaupun dari seorang kafir, sebagaimana diterimanya kebenaran dari Syaithan di dalam kisah Abi Hurairoh bersama Syaithan di dalam kisah penjagaan gudang beras yang berisi beras fithri yang telah ma’ruf. Dimana Syaithan datang (hendak mencuri) namun Abu Hurairoh menangkapnya, ia datang lagi ditangkap lagi, kemudian ia datang lagi dan ditangkap lagi, kemudian Syaithan berkata kepadanya : “maukah engkau aku tunjukkan sebuah kalimat yang apabila engkau mengucapkannya maka engkau akan menjadi aman atau terjaga seluruh malammu, yaitu bacalah ayat kursi setiap malan karena sesungguhnya engkau akan senantiasa terjaga oleh penjagaan Alloh sampai datangnya waktu pagi.” Kemudian Abu Hurairoh mengabarkan hal ini kepada Nabi ‘alaihi Sholatu wa Salam, lalu Nabi ‘alaihi Sholatu wa Salam menukas : “Dia telah jujur padamu padahal dia adalah pendusta.” Beliau menerima pengajaran ini dan mengambilnya padahal pengajaran ini datang dari Syaithan.”[2]

Namun sayang, mereka yang mengaku-ngaku sebagai salafiy ahlus sunnah sejati ini tidak faham dan jahil akan kaidah seperti ini. Semoga hal ini bisa menjadi cambukan dan nasehat bagi mereka, agar mereka kembali kepada manhaj yang benar dan meninggalkan karakter ghuluw dan haddadiyahnya yang membinasakan. Allohul Muwafiq ila sawa’is sabiil.

c. Tidak memahami kaidah bahwa tidak setiap orang yang jatuh kepada kebid’ahan otomatis menjadi mubtadi’.

Ini adalah diantara kebodohan mereka yang kesekian kalinya, karena mereka bodoh terhadap kaidah dasar ahlus sunnah ini. Seringkali kita melihat, mendengar atau membaca tulisan-tulisan mereka yang penuh dengan makian, umpatan, cercaan dan hujatan, bahkan tidak segan-segan mereka memberikan label-label yang merupakan salah satu bentuk tabdi’ mu’ayan (vonis bid’ah secara spesifik) kepada orang-orang tertentu. Padahal tidak setiap orang yang jatuh kepada bid’ah maka oromatis menjadi ahli bid’ah, yang harus digempur dengan makian, cercaan, celaan dan umpatan keji lainnya.

Lihatlah bagaimana mereka menuduh Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jaza`iri sebagai Tablighiy, menuduh Syaikh Ahmad as-Surkati dengan beraneka tuduhan, mulai dari Aqlaniy, Mubtadi’, penyeru kesesatan Pan Islamisme sampai menuduh aqidah beliau dengan tuduhan antek Belanda. Wal’iyadzubillah. Belum lagi kepada para du’at salafiyyin, maka gelar al-Hizbi, as-Sururi, al-kadza wa kadza merupakan mainan mereka sehari-hari. Karena mereka telah termakan oleh manhaj Haddadiyah yang menyatakan bahwa “setiap orang jatuh kepada kebid’ahan maka otomatis menjadi ahli bid’ah”.

ingatlah ucapan al-Imam al-Albani rahimahullahu di dalam kaset Haqiqotul Kufr wal Bida’ :

ليس كل من وقع في البدعة وقعت البدعة عليه وليس من وقع في الكفر وقع الكفرعليه

“Tidak setiap orang yang jatuh ke dalam kebid’ahan maka otomatis dengan serta merta dia menjadi mubtadi’ dan tidak setiap orang yang jatuh ke dalam kekufuran maka dengan serta mertia menjadi menjadi kafir.”

Adakah mereka memahami kaidah dan prinsip dasar seperti ini?

Perhatikan pula ucapan Ma’ali Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullahu berikut ini :

من الذي يحكم بالبدعة : البدعة حكم شرعي, والحكم على من قامت به بأنه مبتدع هذا حكم شرعي غليظ, لأن الأحكام الشرعية تبع الأشخاص: الكافر, ويليه المبتدع, ويليه الفاسق. وكل واحدة من هذه إنما يكون الحكم بها لأهل العلم, لأنه لا تلازم بين الكفر والكافر, فليس كل من قام به كفر فهو كافر, ثنائية غير متلازمة, وليس كل من قامت به بدعة فهو مبتدع, وليس كل من فعل فسوقا فهو فاسق بنفس الامر

“Siapakah (yang layak) dihukumi dengan bid’ah? Bid’ah itu merupakan hukum syar’i, dan menghukumi orang yang mengamalkan suatu bid’ah merupakan hukum syar’i yang sangat berat. Karena hukum syar’i yang ditujukan kepada seseorang sebagai kafir, mubtadi’ dan fasiq, maka salah satu dari setiap hukum ini adalah haknya ahli ilmu (ulama). Karena tidaklah mesti kekufuran itu menyebabkan pelakunya kafir, dan tidaklah setiap orang yang melakukan kekafiran maka ia (dengan serta merta) menjadi kafir. Suatu tsana’iyah (pasangan) itu tidaklah saling mengharuskan. Tidaklah setiap orang yang melakukan kebid’ahan maka ia menjadi mubtadi’ dan tidaklah pula setiap orang yang melakukan kefasikan ia dengan serta merta menjadi fasiq.”[3]

Aduhai, orang-orang bodoh ini tidak faham kaidah mendasar seperti ini, lantas mengapa dengan begitu mudahnya mereka menvonis ini sesat, ini mubtadi’, ini sururi, ini… dan itu… Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

d. Gegabah di dalam tabdi’ (menvonis bid’ah) seseorang dan menempatkan diri sebagai ulama

Ini merupakan lanjutan dari kaidah sebelumnya. Dikarenakan mereka tidak faham kaidah bahwa tidak setiap orang yang jatuh kepada kebid’ahan tidak otomatis menjadikannya mubtadi’, maka mereka dengan mudahnya dan lancangnya menempatkan diri sebagai ulama bahkan seorang mufti yang berhak menvonis ini sesat dan itu bid’ah… mereka melompati kapasitas diri mereka yang dikatakan sebagai penuntut ilmu pemula saja belum bisa. Karena modal utama mereka bukanlah ilmu namun tahdzir sana sini dengan kejahilan dan kedustaan.

Perhatikan ucapan Syaikh Shalih Alu Syaikh nafa’allahu bihi ketika menjelaskan hak seseorang yang boleh melakukan vonis bid’ah (tabdi’). Beliau hafizhahullahu berkata :

فالحكم بالبدعة وبأنّ قائل هذا القول مبتدع و أنّ هذا القول بدعة ليس لآحد من عرف السنة, وإنما هو لأهل العلم, لأنه لا يحكم بذلك إلا بعد وجود الشرائط وانتفاء الموانع, وهذه المسألة راجعة إلى أهل الفتوى وأنّ اجتماع الشروط وانتفاء الموانع من صنعة المفتي.

“Menghukumi suatu bid’ah dimana orang yang berkata dengan perkataan ini (divonis sebagai) mubtadi’ atau perkataan itu sendiri sebagai suatu bid’ah bukanlah hak setiap orang yang mengetahui sunnah, namun sesungguhnya hal ini merupakan hak ahli ilmu (ulama). Dikarenakan (seseorang) tidak dihukumi dengan bid’ah melainkan setelah terwujudnya syarat-syarat dan dihilangkannya penghalang-penghalang (jatuhnya vonis bid’ah). Dan masalah ini dikembalikan kepada ahli Fatwa (mufti) yang mana mewujudkan syarat-syarat dan menghilangkan penghalang adalah termasuk tugas seorang mufti.”[4]

Namun karena berhubung mereka ini merasa sok alim, sok menjadi mufti dan sok ahli jarh wa ta’dil, maka mereka ambil peran dan tugas para ulama atau thullabatul ‘ilmi yang mutamakkin (mumpuni) dan mereka terapkan ke sana kemari secara serampangan dan asal-asalan. Dan akibatnya adalah, fitnah kesana kemari dan larinya manusia dari dakwah al-haq ini. Allohumaa.

e. Berprinsip : “Barangsiapa yang membela ahli bid’ah maka otomatis ia adalah mubtadi’”

Prinsip ini dilariskan oleh pembesar Haddadiyah zaman ini, Falih bin Nafi’ al-Harbi yang dulu mereka puja puji, yang mereka sebut dengan Mujahid, Ahli Jarh wa Ta’dil, manusia yang paling faham tentang kesesatan hizbiyah, dan pujian-pujian selangit lainnya. Bahkan, saya pernah berdiskusi dulu dengan salah satu pembebeknya –sebelum Syaikh Falih ditahdzir-, dan saya mengatakan padanya bahwa tidak setiap ucapan beliau ini harus diterima, karena banyak ulama lain yang berbeda pendapat dengannya di dalam menvonis seseorang. Namun, si pembebek ini dengan serta merta marah dan menuduh saya telah mencela kibarul ulama’.

Lalu saya bawakan padanya ucapan al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad dari sebuah mukalamah hatifiyah (percakapan via telepon) antara beliau dengan seorang da’i Eropa dari QSS (Qur’an Sunnah Society) atau Jum’iyah Ahlil Qur’an was Sunnah di Toronto Kanada, dimana ketika da’i ini bertanya pada Syaikh ‘Abdul Muhsin tentang Syaikh Falih al-Harbi, apakah ia termasuk kibarul ulama, maka Syaikh ‘Abdul Muhsin menjawab : “Abadan Abadan.” (sama sekali bukan! Sama sekali bukan!), saya juga membawakan ucapan Syaikh Muqbil bin Hadi yang telah berfirasat sebelum wafatnya akan perihal Syaikh Falih dengan mengatakan : “Falih ghoyru Falih” (Si Falih yang tidak beruntung). Namun, si ikhwan ini malah marah-marah dan memaki-maki saya dan menuduh saya sebagai hizbiy karena mencela ulama.

Namun, setelah buku al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullahu keluar, yang berjudul Al-Hatstsu ‘ala ittiba`is Sunnah keluar dan mentahdzir Falih dengan menyebutnya : “rangkingnya dia ketika masih kuliah dulu adalah 104 dari 119 siswa.”, beliau juga mengatakan : “wa huwa ghoyru ma’ruf bil isytighol bil ‘ilmi, wa laa a’rifu lahu duruusan ‘ilmiyyan musajjalatan, wa laa mu’allafan fil ‘ilmi shogiiron walaa kabiiron, wa jullu bidho’atihi at-Tajriih wat Tabdii’ wat Tahdziir min Katsiiriina min Ahlis Sunnah” (Orang ini tidak dikenal menyibukkan diri dengan ilmu, aku tidak mengetahui dia memiliki pelajaran ilmiah yang direkam, dia juga tidak memiliki tulisan-tulisan di dalam masalah ilmu baik kecil maupun besar, dan modal utamanya adalah mencela, menvonis bid’ah dan mentahdzir mayoritas ahlis sunnah…) [lih. Al-Hatstsu hal. 64], setelah tahdzir dari al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin ini maka mayoritas ulama ahlis sunnah turut mentahdzirnya juga, namun ikhwan ini tidak pernah menyatakan kesalahannya dulu atas pembelaan fanatiknya kepada Falih al-Harbi, namun ia mencuci tangan dengan turut mengkritiknya walaupun ia masih mengadopsi manhajnya. Allahul Musta’an.

Diskusi ini sebenarnya berawal ketika saya membawakan ucapan-ucapan Masyaikh Yordania raghmun unufihim, namun ia dengan serta merta membawakan ucapan Syaikh Falih yang mentahdzir masyaikh Yordania tersebut (masyaikh dari Markaz al-Imam al-Albani) dengan mengatakan : “manhaj mereka lemah setelah wafatnya al-Albani, dan mereka sekarang bergabung dengan hizbiyyun di dalam halaqoh dan dauroh-dauroh hizbiyyun, mereka sekarang berada di atas manhaj ha`ula’i hizbiyyin…” demikian nukilan yang diberikan oleh di ikhwan ini dari website berbahasa Inggris “salafitalk” yang menukilnya dari “sahab.net” (dulu sebelum mereka juga akhirnya mendepaknya keluar) dari percakapan telepon antara Falih al-Harbi dengan seorang dari al-Jaza`iri.

Falih al-Harbi berargumentasi : man dafa’a saqith fahuwa saqith (barangsiapa yang membela orang yang keliru maka ia juga keliru), lalu ia menyatakan pula : man dafa’a mubtadi’ fahuwa mubtadi’, man dafa’a hizbiy fahuwa hizbiy… dan inilah kaidah yang saya maksudkan, yaitu barangsiapa yang membela seorang yang tersalah maka ia juga tersalah. Perhatikanlah sekarang mereka yang terpengaruh oleh manhaj ini, mereka mengatakan bahwa membela Syaikh Ahmad Surkati di dalam perkara yang haq dari beliau, maka sama saja dengan membela kesesatan-kesesatan dan penyimpangan-penyimpangan beliau, oleh karena itu pembelanya layak disebut sebagai Surkatiyyun, Irsyadiyyun atau tuduhan-tuduhan semisal.

Ini jelas-jelas merupakan salah satu kebodohan mereka dan atsar (bekas) dari manhaj Haddadiyah yang ditinggalkan Ja’far Umar Thalib dan Falih al-Harbi beserta cs.-nya semisal Fauzi al-Bahraini kepada mereka, telah merasuk dan menancap sangat kuat hingga ke sanubari dan menjadikannya sebagai ciri khas manhaj mereka yang utama.

f. Menguji manusia dengan perseorangan

Ini merupakan bentuk bid’ah yang dimunculkan kembali hari ini yang telah diwanti-wanti oleh al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr hafizhahullahu di dalam buku beliau, al-Hatstsu ‘ala ittiba`is Sunnah, terutama pada bab Bid’atu imtihaani an-Naas bil Askhosh (Bid’ah menguji manusia dengan perseorangan).

Maksudnya adalah, ada beberapa oknum segolongan kecil atau fi`atun qoliilah –demikianlah sebutan yang diberikan oleh al-‘Allamah al-‘Abbad kepada mereka- yang menyibukkan diri dengan tattabu’ al-Aktho’ (mencari-cari kesalahan) dan tajassus (memata-matai) para du’at da ulama. Mereka setiap kali bertemu dengan orang, bertanya : “Bagaimana pandangan antum dengan Syaikh atau ustadz Fulan?” Apabila orang tersebut menjawab dengan jawaban yang sama, maka ia dipuji dan dijadikan sebagai sahabatnya. Namun, apabila orang tersebut menjawab yang berlainan dengannya, atau tawaqquf (berdiam diri) karena ketidaktahuannya akan hakikat sebenarnya, maka mereka akan memaksanya untuk berpendapat dengan pendapatnya, apabila tidak maka ia akan turut ditahdzir, dihajr (dikucilkan), dicela, dimaki dan dijelek-jelekkan.

Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr hafizhahullahu wa atholallohu umurahu berkata :

ومن البدع المنكرة ما حدث في هذا الزمان من امتحان بعض من أهل السنَّة بعضاً بأشخاص، سواء كان الباعث على الامتحان الجفاء في شخص يُمتحن به، أو كان الباعث عليه الإطراء لشخص آخر، وإذا كانت نتيجة الامتحان الموافقة لِمَا أراده الممتحِن ظفر بالترحيب والمدح والثناء، وإلاَّ كان حظّه التجريح والتبديع والهجر والتحذير

“Dan termasuk diantara bid’ah munkarah yang terjadi di zaman ini adalah menguji sebagian ahlis sunnah dengan ahlus sunnah lainnya dengan perseorangan tertentu. Sama saja, baik orang yang berkecimpung dalam pembahasan pengujian manusia ini adalah orang yang merendahkan orang yang diuji tersebut atau yang menyanjung-nyanjungnya individu lainnya. Apabila hasil pengujian ini selaras dengan yang dikehendaki oleh penguji maka akan membuahkan pujian dan sanjungan padanya, namun apabila tidak maka ia akan dijarh, ditabdi’, dihajr dan ditahdzir…”[5]

Pembahasan lebih lengkap silakan dirujuk langsung kepada kitab tersebut, insya Alloh banyak faidah yang bisa dipetik darinya, dan inilah nasihat emas yang mengalir dari ulama senior ahli hadits zaman ini yang seharusnya kita jadikan sebagai cambukan untuk muhasabah dan mengevaluasi diri kita atas kesesuaian kita dengan manhaj as-Salaf ash-Shalih.

g. Tidak berihtimam dengan ilmu namun lebih menyibukkan diri dengan tabdi’, tafsiq dan tadhlil.

Apabila para pembaca budiman membaca artikel dan uraian para pemuda yang terpengaruh manhaj Haddadiyah ini, mereka seringkali menyebut diri mereka sebagai “orang awam”, “orang yang bodoh”, “si miskin ini”, “bocah ingusan ini” dan ucapan-ucapan yang merendahkan diri lainnya. Alhamdulillah, dari sini sebenarnya mereka faham bahwa mereka ini adalah orang-orang bodoh yang miskin ilmu. Namun anehnya, ketika mereka menyadari hal ini, mereka bukannya menyibukkan diri dengan ilmu dan berihtimam dengannya namun malah menyibukkan diri dengan vonis-vonis yang bukanlah merupakan hak orang yang bodoh, miskin, bocah ingusan dan yang semisalnya seperti mereka.

Apabila ada diantara para pembaca budiman yang pernah membuka website gelap yang tak jelas pengelolanya, yang tidak jelas dimana alamat mereka, berapa nomor telepon yang bisa dihubungi atau siapa penanggung jawabnya yang dapat dikontak, maka akan mendapatkan tulisan-tulisan yang kesemuanya 100% adalah bantahan, tahdzir, tanfir, jarh, makian, umpatan, cacian dan semisalnya yang dibalut dengan kedustaan, fitnah, iftiro’, ikhtiro’ dan segala bentuk investigasi dan manipulasi lainnya, dan tidak akan menemukan artikel-artikel ilmiah lainnya yang ummat bisa lebih beristifadah dengannya, semisal masalah fiqh, aqidah, apalagi masalah adab dan akhlaq. Pun, di website-website lainnya yang ilmiah, tidak pernah kita dengar kontributor mereka semisal Abdul Ghafur misalnya, atau Abdul Hadi, atau Ibrahim, atau siapapun namanya, menuliskan artikel ilmiah seputar masalah fiqh misalnya, atau masalah aqidah misalnya, atau bantahan ilmiah terhadap para hizbiyun yang mencela dakwah salafiyyah, atau bahasan ilmiah lainnya. Seakan-akan menunjukkan bahwa jullu bithonatihim (modal utama mereka) adalah tajrih, tahdzir, tahjir dan yang semisalnya.

Hal ini semakin meyakinkan bahwa mereka memang jahil dan bukan seorang thullabul ‘ilmi, namun lebih tepatnya disebut thullabul fitan. Karena tidaklah keluar dari orang-orang semisal mereka melainkan hanya fitnah, kedustaan, sumpah serapah dan segala bentuk sampah-sampah lisan dan pemikiran mereka, wal’iyadzubillah. Aduhai, alangkah lebih baik apabila mereka juga menyibukkan diri dengan ilmu syar’i, bahasan ilmiah seputar fikih, aqidah ataupun manhaj, atau rudud-rudud ilmiyah kepada hizbiyun atau harokiyun yang mencela dan menuduh dakwah salafiyah dengan tuduhan-tuduhan dusta. Bukannya malah, membantu kaum hizbiyun untuk membenarkan tuduhan-tuduhan mereka, menyokong hizbiyun dengan menunjukkan bahwa dakwah salafiyyah ini adalah dakwahnya munaffirin (orang-orang yang melarikan manusia dari al-Haq), atau malah membenarkan tuduhan-tuduhan mereka sebagaimana tuduhan Halawi Makmun yang menuduh bahwa perbedaan salafiyin bukanlah dikarenakan perbedaan pendapat, namun lebih karena perbedaan PENDAPATAN. Dan tuduhan semisal ini bukannya malah dicounter oleh mereka, namun malah dibenarkan dan dijadikan sarana untuk menyerang sesama ahlis sunnah. Allohu Akbar!!

Apabila kita lihat lagi di forum-forum internet semisal di MyQuran, ketika salafiyyun dibantah oleh kaum hizbiyyun, mereka bukan malah mengcounternya, namun malah menbuka celah bagi hizbiyyun untuk lebih getol menyerang dakwah salafiyyah ini. Mereka nukil tulisan-tulisan sampah di sebuah website gelap tersebut lalu dipastekannya ke forum-forum di internet yang esensinya tidak ada bantahan ilmiah sama sekali di dalamnya, namun hanyalah investigasi-investigasi ala agen rahasia yang orang kafir pun mampu melakukannya. Mereka ini pada hakikatnya tidak faham dengan thoriqotus salafiyyah dan manhaj salaf, dan mereka menisbatkan apa-apa yang bukan dari manhaj salaf sebagai bagian dari manhaj salaf karena kebodohan semata.

Al-‘Allamah Syaikh DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan berkata :

فإذا أردت أن تتبع السلف لا بد أن تعرف طريقتهم ، فلا يمكن أن تتبع السلف إلا إذا عرفت طريقتهم وأتقنت منهجهم من أجل أن تسير عليه ، وأما مع الجهل فلا يمكن أن تسير على طريقتهم وأنت تجهلها ولا تعرفها ، أو تنسب إليهم ما لم يقولوه ولم يعتقدوه ، تقول : هذا مذهب السلف ، كما يحصل من بعض الجهال – الآن – الذين يسمون أنفسهم (سلفيين) ثم يخالفون السلف ،ويشتدون ويكفرون ، ويفسقون ويبدعون . السلف ما كانوا يبدعون ويكفرون ويفسقون إلا بدليل وبرهان ، ما هو بالهوى أو الجهل

“Apabila kamu telah tahu bahwa meneladani salaf itu mengharuskanmu untuk mengetahui jalan mereka, maka tidaklah mungkin kamu bisa meneladani salaf kecuali apabila kamu mengetahui jalan mereka dan memahami manhaj mereka supaya kamu dapat meniti di atas jalan itu. Adapun dengan kebodohan maka tidak mungkin kamu dapat meniti di atas jalan mereka sedangkan kamu bodoh terhadapnya dan tidak mengetahuinya, atau kamu menyandarkan kepada mereka apa-apa yang tidak mereka ucapkan dan yakini, lantas kamu berkata : “ini madzhab salaf”, sebagaimana yang tengah terjadi saat ini pada sebagian orang-orang bodoh, yang menamakan diri mereka dengan salafiyin, namun mereka menyelisihi salaf, mereka bersikap arogan dan mengkafirkan, menfasikkan dan membid’ahkan (siapa saja yang menyelisihi mereka). Para salaf, mereka tidak pernah membid’ahkan, mengkafirkan dan menfasikkan melainkan dengan dalil dan burhan (bukti yang terang), bukannya dengan hawa nafsu dan kebodohan.”[6]

h. Lebih senang menyerang sesama ahlus sunnah dan menyibukkan diri dengan mencela mereka

Ini merupakan karakter mereka yang sangat tampak sekali. Mereka lebih senang menyibukkan diri dengan sesama ahlus sunnah daripada membantah ahli bid’ah yang jelas-jelas akan kesesatan dan penyimpangannya. Mereka lebih terobsesi untuk menjelek-jelekkan sesama ahlis sunnah daripada selainnya. Perilaku inilah yang menyebabkan dakwah salafiyah semakin dijauhi dan dakwah hizbiyyah semakin digandrungi, kaum hizbiyun dan ahli bid’ah bertepuk tangan berbahagia melihat percekcokan diantara sesama ahlus sunnah ini, karena dengan sibuknya antara sesama ahlus sunnah, maka mereka kaum hizbiyyun akan selamat dari kritikan dan tahdzir ahlus sunnah kepada mereka.

Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad sendiri telah mewanti-wanti masalah ini, semenjak beliau menulis Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah hingga risalah beliau al-Hatstsu ‘ala ittiba`is Sunnah. Mereka para pemuda yang terpengaruh manhaj rusak haddadiyah ini, tidak sedikitpun mengambil ifadah dari nasehat-nasehat dari para ulama semisal Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad ini. Bahkan mereka mencela buku beliau ini dan melakukan penolakan besar-besaran. Padahal, mereka sendiri telah mengetahui latar belakang penulisan buku Rifqon Ahlas Sunnah ini.

Berikut ini adalah ulasan Syaikh di dalam Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah bab Fitnatut Tajrih wal Hajr min Ba’dhi Ahlis Sunnah fi Hadzal Ashr (Fitnah sikap saling mencela dan mengisolir diantara sebagian ahlus sunnah di zaman ini)

حصل في هذا الزمان انشغال بعض أهل السنة ببعض تجريحاً وتحذيراً، وترتب على ذلك التفرق والاختلاف والتهاجر، وكان اللائق بل المتعين التواد والتراحم بينهم، ووقوفهم صفاً واحداً في وجه أهل البدع والأهواء المخالفين لأهل السنة والجماعة

“Telah terjadi di zaman ini, sibuknya sebagian ahlus sunnah dengan sebagian lainnya dengan tajrih (saling mencela) dan tahdzir, dan implikasi dari hal ini menyebabkan terjadinya perpecahan, perselisihan dan saling mengisolir. Padahal sepantasnya bahkan seharusnya bagi mereka untuk saling mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama mereka, dan menyatukan barisan mereka di dalam menghadapi ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu yang menyelisihi ahlus sunnah wal jama’ah…”

Saya bertanya kepada mereka yang menolak risalah Rifqon Ahlas Sunnah ini, apakah ucapan Syaikh di atas tidak benar dan tidak ada waqi’ (realita)-nya? Apabila mereka mengatakan iya, maka fasubhanalloh, ini adalah celaan kepada Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad karena seakan-akan beliau ini bodoh dengan waqi’ ummat dan beliau menulisnya di atas kebodohan. Apabila mereka mengatakan tidak, dan fenomena yang disebutkan syaikh adalah benar, maka kepada siapakah syaikh memaksudkan ucapannya?! Apakah mereka tidak sadar akan karakter mereka yang mudah mencela, mentahdzir, memaki dan mengumpat orang lain sesama ahlis sunnah inilah yang dimaksud oleh Syaikh al-‘Abbad?!! Sehingga mereka tidak mau introspeksi dan menerima nasehat Syaikh hafizhahullahu?!! Jika benar demikian, maka begitu sombongnya mereka.

Bukankah mereka tahu bahwa Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad menuliskan nasehatnya tersebut di dalam Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah adalah untuk kalangan ahlus sunnah salafiyyin saja yang saat ini tengah terjadi percekcokan dan perselisihan di antara mereka?!! Sebagaimana klarifikasi beliau berikut :

و الكتاب الذي كتبتة أخيراَ….لا علاقة للذين ذكرتهم في مدارك النظر بهذا الذي هو :رفقاَ أهل السنة بأهل السنة لا يعني الإخوان المسلمين , ولا يعني المفتونين بسيد قطب و غيرهم من الحركيين, و لا يعني أيظاً المفتونين بفقه الواقع و النيل من الحكام و كذلك التزهيد في العلماء لا يعني هؤلاء لا من قريب و لا من بعيد و إنما يعني أهل السنة فقط حيث يحصل بينهم الإختلاف فينشغل بعضهم ببعض تجريحاَ و هجراَ و ذماً

“Buku yang aku tulis terakhir ini yaitu Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah tidaklah ada korelasinya dengan yang telah aku sebutkan di dalam Madarikun Nazhar. Risalahku Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah tidaklah dimaksudkan untuk Ikhwanul Muslimin tidak pula dimaksudkan untuk orang-orang yang terfitnah dengan Sayyid Quthb dan selainnya dari para harokiyyin. Tidak pula dimaksudkan untuk orang-orang yang terfitnah dengan fiqh waqi’, para pencela penguasa dan orang-orang yang merendahkan para ulama, tidak dimaksudkan untuk mereka baik yang dekat maupun jauh. Sesungguhnya, risalahku ini aku peruntukkan untuk Ahlus Sunnah saja!!! Mereka yang berada di atas jalan Ahlus Sunnah yang tengah terjadi di tengah mereka ini sekarang perselisihan dan sibuknya mereka antara satu dengan lainnya dengan tajrih, hajr (mengisolir) dan mencela.”[7]

Siapakah ahlus sunnah yang saat ini tengah terjadi perselisihan dan tersibukkannya mereka antara satu dengan lainnya dengan tajrih, hajr dan caci maki?!!

Ataukah mereka telah menvonis bahwa kami ini adalah hizbiyyun harokiyyun yang tidak layak risalah Rifqon beliau ditujukan kepada kami?! Jika demikian, aduhai benar sekali bahwa mereka ini telah dimakan oleh manhaj haddadiyah yang mudah mengeluarkan orang dari lingkaran ahlis sunnah tanpa ilmu dan bashiroh. Apakah mereka pernah melihat kami terfitnah oleh pemikiran Sayyid Quthb ataukah justeru kami mentahdzir darinya?!! Apakah pernah mereka melihat kami mencela penguasa kaum muslimin ataukah justeru kami yang menjelaskan bahwa mencela penguasa adalah diantara manhaj khowarij?! Bukankah dulu mereka yang terjatuh kepada pencelaan kepada penguasa, khuruj dari ketaatan dan melakukan muzhoharoh (demonstrasi) dan pengumpulan massa ala hizbiyyin?! Lantas mengapa begitu mudahnya mereka melupakannya, mencuci tangan dan menuduh kedustaan kepada orang lain yang mereka terbebas darinya. Allohumma sallimna!!!

i. Menerapkan Hajr secara serampangan

Ini adalah bentuk kebodohan mereka yang kesekian kalinya, mereka tidak faham apa itu hajr, bagaimana cara dan syarat-syaratnya, oleh karena itulah sering sekali para masyaikh ahlus sunnah menjelaskan masalah ini, diantaranya adalah Syaikh ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad di dalam Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah, lalu juga Syaikh Ibrahim ar-Ruhaili, Syaikh ‘Ali Hasan al-Halabi dan selain mereka hafizhahumullah di dalam dauroh-dauroh mereka.

Kepada setiap orang yang mereka nilai sesat dan menyimpang, maka dengan serta merta mereka menghajrnya, tidak mau salam dengannya, tidak mau duduk bermajlis dengannya walaupun dalam rangka mendakwahinya, tidak mau bermuka masam kepada kaum muslimin dan sikap-sikap buruk lainnya yang menyebabkan manusia semakin lari dari dakwah al-Haq ini, hanya karena disebabkan orang-orang juhala’ semisal mereka ini.

Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad berkata di dalam Rifqon Ahlus Sunnah bi Ahlis Sunnah (hal. 52-53) :

والهجر المفيد بين أهل السنة ما كان نافعاً للمهجور، كهجر الوالد ولده، والشيخ تلميذه، وكذا صدور الهجر ممن يكون له منزلة رفيعة ومكانة عالية، فإن هجر مثل هؤلاء يكون مفيداً للمهجور، وأما إذا صدر الهجر من بعض الطلبة لغيرهم، لا سيما إذا كان في أمور لا يسوغ الهجر بسببها، فذلك لا يفيد المهجور شيئاً، بل يترتب عليه وجود الوحشة والتدابر والتقاطع

Hajr yang bermanfa’at di kalangan Ahlus Sunnah adalah apa yang dapat memberikan manfaat bagi yang dihajr (dikucilkan), seperti orang tua mengucilkan anaknya, dan seorang Syeikh terhadap muridnya, dan begitu juga pengucilan yang datang dari seorang yang mempuyai kehormatan dan kedudukan yang tinggi, karena sesungguhnya pengucilan mereka sangat berfaedah bagi orang yang dikucilkan. Adapun apabila hal itu dilakukan oleh sebagian penuntut ilmu terhadap sebagian lainnya, apalagi bila disebabkan oleh persoalan yang tidak sepantasnya ada hal pengucilan dalam persoalan tersebut, maka yang demikian ini tidak akan membawa faedah bagi yang dikucilkan sedikitpun, bahkan akan berakibat terjadinya pertikaian, sikap saling membelakangi dan pemutusan hubungan.”

j. Memikulkan kesalahan seseorang kepada orang lain

Ini adalah kesesatan pemikiran mereka yang paling tampak nyata, mereka akan memikulkan kesalahan yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain yang tidak ada sangkut pautnya. Pemikiran ini seperti aqidah nashrani yang meyakini adanya dosa ’warisan’ dan dan shufiyah yang meyakini bahwa amal perbuatan seseorang bisa ditanggung oleh orang lain.

Sebagaimana apa yang mereka lakukan kepada para du’at ahlus sunnah berupa celaan dan makian, mereka mencela seorang Ustadz hanya karena ada ustadz kenalannya yang melakukan suatu kesalahan. Alkisah ada seorang ustadz yang melakukan kesalahan yang menurut mereka sangat fatal –padahal belum tentu demikian-, maka mereka dengan serta merta bergembira ria atas kesalahan ustadz ini, mereka luangkan waktu untuk mentranskrip ucapan ustadz ini yang dipandang salah, namun tidak berakhir sampai di sini, mereka generalisir kesalahan ustadz ini kepada ustadz-ustadz lainnya yang tidak berbuat, dan mereka timpakan kesalahan yang sama kepada ustadz-ustadz lainnya yang kebetulan hanyalah mengenal ustadz yang tersalah ini. Dan masih banyak lagi contoh kasus lainnya, sehingga dengan ”aqidah” sesat seperti inilah salah seorang dari mereka berani menyematkan label ”al-Kadzdzab” kepada salah seorang ustadz yang pernah memberikan ceramah di hadapan masyaikh dan thullabul ’ilmi di Markaz al-Imam al-Albani Yordania.

Alloh Ta’ala telah mengabarkan di dalam firman-Nya yang mulia :

أَلاَّ تَزِرُ وَازِرَةُ وِزْرَ أُخْرَى وَأَنَّ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى

Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tidak akan mendapatkan selain apa yang ia usahakan.” (QS an-Najm : 38)

Alloh Ta’ala juga berfirman di tempat yang lain :

وَلاَ تَزِرُ وَازِرَةُ وِزْرَ أُخْرَى

Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.” (QS al-Israa` : 15; lihat pula QS az-Zumar : 7, Fathir : 35 dan Al-An’am : 164)

Al-’Allamah Nashir as-Sa’di rahimahullahu ketika menafsirkan QS an-Najmi di atas dengan :

أي: كلّ عامل له عمله الحسن والسيئ فليس له من عمل عيره وسعيهم شيء ولا يحتمل أحد عم أحد ذنبا

”Setiap orang yang melakukan maka baginya sendiri amal baik atau buruknya, dan dia tidak memikul apa yang dilakukan oleh selainnya dan sedikitpun dari hasil usaha mereka, dan seseorang tidak memikul dosa orang selainnya.”[8]

Namun aduhai, sungguh amat disayangkan sekali. Seorang yang mengaku-ngaku sebagai ahlus sunnah, bisa terjatuh kepada kesalahan semisal ini. Apakah hanya karena kebencian yang telah mendarah daging sehingga mereka menghalalkan segala cara hanya untuk memenuhi ambisi dan obsesi menjatuhkan kehormatan seorang muslim?!!

k. Mencela para ulama ahlus sunnah yang jatuh kepada kesalahan atau yang tidak sefaham dengan pemahaman mereka

Apabila pengekor Falih al-Harbi dulu gencar mencela para ulama dan menuduh mereka bermacam-macam, seperti menuduh Syaikh ’Abdurrazaq al-’Abbad, Syaikh Sulaiman ar-Ruhaili dan selain mereka dengan tuduhan tamyi’, menuduh masyaikh Yordania sebagai hizbiyyun dan pembela hizbiyyun, Syaikh Bakr Abu Zaed sebagai takfiri quthbi, Syaikh Jibrin sebagai ikhwani dan semisalnya, mereka pun sekarang juga masih tetap meniru metode Falih yang merupakan dampak dari pemahaman haddadiyah bahwa setiap orang yang jatuh pada kebid’ahan maka otomatis ia menjadi bid’ah.

Masih segar di ingatan kita ucapan salah seorang jahil dari kalangan mereka yang mencela Syaikh Abu Bakr al-Jazairi sebagai tablighi, merajuk-rajuk kepada masyaikh Yordania dengan perkataan : ”wahai syaikh, anda salah hadir di pertemuan mereka…” yang intinya mengatakan bahwa masyaikh salah dan saya yang benar!!! Menuduh syaikh Ahmad Surkati sebagai Mu’tazili Aqlani, bahkan dikatakan sebagai mubtadi’, penyeru kesesatan, agen kuffar Belanda dan tuduhan-tuduhan keji lainnya.

Mereka tidak memahami bedanya ucapan : ”pada diri fulan ada pemahaman Asy’ariyah”, ”pada diri Alan ada pemahaman aqlaniyah”, ”Syaikh Fulan terjatuh pada kesalahan ini dan itu” atau ucapan-ucapan semisal yang tidak mengharuskan kesalahan-kesalahan mereka itu divonis bid’ah dan sesat. Mereka tidak cukup dengan metode seperti ini, karena hasrat dan ambisi mereka yang terbakar ghirah jahiliyah, hawa nafsu dan kedengkian yang membuncah, mengharuskan mereka untuk mencela dan menjatuhkan individu-individu dari para ulama tersebut.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam :

ليس منا من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه

Bukanlah termasuk golongan kami siapa saja yang tidak menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda dan mengenal hak orang alim kita.” (HR Ahmad dan Hakim, dihasankan oleh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 4319).

Imam Ibnu Asakir rahimahullahu berkata di dalam Tabyin Kadzibil Muftari :

واعلم يا أخي! وفقنا الله وأياك لمرضاته وجعلنا ممن يخشاه ويتقيه حق تقاته أنّ لحوم العلماء وحمة الله عليهم مسمومة وعادة الله في هتك أستار منتقصيهم معلومة.

“Ketahuilah saudaraku, semoga Allah menunjuki kami dan kalian kepada keridhaan-Nya dan semoga Dia menjadikan kita orang-orang yang takut kepada-Nya dan bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa, bahwasanya daging para ulama –rahmatullahu ‘alaihim- adalah beracun dan merupakan kebiasaan Allah (sunnatullah) merobek tabir kekurangan mereka pula.”

Imam adz-Dzahabi di dalam Siyaru A’laamin Nubala’ (XIV/33) berkata :

ولو أن كلما أخطأ إمام في اجتهاده في آحاد مسائل خطأ مغفورا له قمنا عليه وبدعناه وهجرناه منا سلم معنا لا ابن نصر ولا ابن منده ولا من هو أكبر منهما والله هو هادي الخلق إلى الحق وهو أرحم الراحمين فنعوذ بالله من الهوى والفظاظة

“Kalau seandainya setiap kali seorang imam bersalah di dalam ijtihadnya pada suatu masalah dengan kesalahan yang terampuni, kemudian kita menvonisnya bid’ah dan menghajrnya, maka tak ada seorangpun yang selamat dari kita, tidak Ibnu Nashr (al-Marwazi), tidak pula Ibnu Mandah, ataupun yang lebih senior dari mereka berdua. Dan Allohlah Dia yang memberi petunjuk hamba-Nya kepada kebenaran dan Dia adalah yang paling penyayang. Kita memohon perlindungan dari hawa nafsu.”

Oleh karena itu, seharusnya mereka menjaga lisan dan diri mereka dari berkata buruk kepada ulama, apalagi yang telah wafat mendahului mereka, yang mana amal para ulama ini –insya Alloh- jauh melebihi mereka, bahkan mungkin menjangkau mata kakinya saja mereka tidak sampai. Apabila seseorang melihat ada kesalahan pada mereka, maka seharusnya ia menjaga dirinya dari berburuk sangka kepadanya, menjaga lisannya dari mencela, mengumpat, menghujat apalagi sampai melaknat dan menvonisnya sebagai ahli bid’ah dan kesesatan tanpa disertai burhan dan bashirah, karena apabila mereka ini mau bermuhasabah (introspeksi) niscaya kesalahan mereka akan lebih banyak dan besar daripada mereka (para ulama ini).

l. Lebih memprioritaskan dan menyibukkan diri dengan tahdzir daripada masalah pembenahan aqidah ummat

Al-Imam al-Albani rahimahullahu memiliki sebuah risalah yang sangat indah, yang merupakan transkrip rekaman ceramah beliau yang berjudul Tauhid Awwalan ya Du’atal Islaam (Tauhid dulu wahai para da’i islam!), demikian pula dengan Syaikh al-Qor’awi yang memiliki risalah Tauhid awwalan lau kaanuu ya’lamuun (Tauhid lebih dulu apabila mereka mengetahuinya), dan masih banyak lagi para ulama yang menjelaskan akan keutamaan dan prioritas tauhid dibandingkan lainnya.

Saya yakin, mereka semua faham bahwa dakwah yang diserukan awal mula dan pertama kali oleh para Nabi dan Rasul adalah seruan tauhid dan aqidah. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam ketika mengutus Mu’adz, beliau memerintahkan agar Mu’adz menyeru kepada tauhid terlebih dahulu, baru menyerukan hukum-hukum Islam lainnya. Tidak ada yang mengingkari kewajiban pertama dan utama ummat Islam adalah memahami masalah aqidah dan tauhid ini.

Sekarang, apakah kaum muslimin di Indonesia ini, mayoritas mereka bertauhid dan beraqidah yang shahihah ataukah tidak?! Pasti kita semua mengetahui bahwa mayoritas ummat di Indonesia -dan negara lainnya- tidak faham aqidah yang benar dan makna tauhid yang shahih. Fenomena kesyirikan semisal tabarruk di kuburan, meminta dan berdo’a kepada mayyit, beritsighotsah kepada orang-orang yang telah meninggal, bertawassul dengan hak-hak wali dan orang mati, dan segala bentuk kesyirikan lainnya yang dipenuhi oleh takhayul, khurofat dan bid’ah.

Namun sungguh aneh, mengetahui fenomena semisal ini, mereka –para oknum juhala’ ini- lebih mementingkan dan mendahulukan tahdzir, tahdzir dan tahdzir. Bukannya tahdzir kepada kesyirikan, kekufuran dan kebid’ahan yang tengah melanda ummat, namun mereka mentahdzir para du’at ahlus sunnah yang mengerahkan tenaga dan waktunya untuk berdakwah dan menyerukan tauhid. Mereka larikan ummat ini dari kebenaran yang disampaikan sehingga seakan-akan kebenaran itu hanyalah milik sendiri yang tidak boleh orang lainnya mendapatkannya. Ma’adzallohu!!!

Apakah ini pengejawantahan dakwah salafiyah yang hakiki wahai ghulat?! Apakah gembor-gembor dan syiar anda yang berisi makian, cacian, umpatan, fitnah, celaan, kedustaan, manipulasi, kebodohan dan segala bentuk kejelekan lainnya sebagai salah satu bentuk dakwah salafiyyah?! Pembelaan atasnya dengan mengkambinghitamkan ilmu jarh wa ta’dil?!! Allohumma, alangkah rusaknya kalian ini…!!!

m. Menyibukkan diri dengan metode investigasi ala kuffar untuk mencari-cari kesalahan dan menyandarkannya sebagai bagian dari manhaj salaf

Mereka sibukkan diri dengan metode investigasi ala agen rahasia atau CIA atau semisalnya, mereka browsing ke internet mencari informasi yang bisa mereka jadikan sarana untuk menghantam saudara mereka, mereka ikuti berita-berita di media-media massa baik majalah dan selainnya, mereka ikuti kaset-kaset ceramah para du’at bukannya untuk beristifadah darinya namun untuk mencari-cari kesalahan. Informasi-informasi sepenggal-sepenggal yang terkadang ‘gak nyambung’ mereka satukan bagaikan anak kecil yang bermain ‘jigshaw puzzle’, menggabungkan potongan-potongan gambar teka-teki menjadi satu bagian utuh. Namun bedanya, para ‘pengangguran’ ini menyatukan potongan-potongan yang tidak utuh dengan imajinasi dan fantasi mereka sendiri.

Dari potongan-potongan informasi yang mereka dapatkan itu, mereka susun sebuah gambaran kacau yang disertai dengan imajiner dan manipulatif, lalu mereka gabung-gabungkan antara satu dengan lainnya, lalu mereka mengambil konklusi darinya. Dengan metode ini, mereka menghantam dan menghajar pada du’at yang kebanyakan tidak mengetahui apa yang mereka susun itu, lalu mereka saling silangkan, korelasikan dan generalisir kesalahan-kesalahan yang mereka dapatkan kepada orang yang tidak tahu apa-apa.

Mereka menyatakan, lihatlah website alirsyad.or.id yang memuat tulisan tentang Safar Hawali atau foto-foto atau… atau… lalu dengan enaknya dan mudahnya mereka timpakan pula kepada Ma’had Ali Al-Irsyad yang tidak tahu menahu tentang masalah ini, dengan alasan kesamaan nama. Aduhai, alangkah bodohnya pola pikir mereka, alangkah rusaknya metode berfikir mereka dan alangkah jauhnya tuduhan mereka dengan hakikat sebenarnya. Apabila mereka hendak mencari kejelasan, maka mereka haruslah mengambil yang muhkam dari pendapat orang atau ma’had yang mereka tuduh, bukannya menggambil yang samar dan tidak jelas.

Sebagai contoh, misalnya ada ustadz Fulan, dia menjelaskan sikapnya yang jelas kepada hizbiyyah, ia mentahdzir darinya, bahkan ia terangkan dengan sejelas-jelasnya, maka ucapan ustadz ini adalah ucapan yang muhkam, yang tafshil dan yang sharih yang harusnya dipegang. Bukannya malah mencari-cari celah yang samar, yang mana mereka bertakalluf untuk mencari-cari kesalahannya dengan bukti-bukti dan argumentasi yang samar, mujmal dan tidak terang. Seakan-akan mereka ini tidak senang apabila ada orang selain mereka yang melakukan kebenaran, dan mereka lebih menghendaki orang atau ustadz tersebut salah, agar mereka bisa melemparkan tuduhan-tuduhan keji dan fitnah-fitnahnya. Dan cara yang mereka gunakan adalah investigasi-investigasi informasi ala CIA atau semisalnya, yang mana orang kuffar atau ahli bid’ah pun bisa melakukan hal yang sama dengan mereka. Tidakkah mereka mengetahui artikel yang berjudul : “Indonesia Backgrounder : Why Salafism dan Terrorism mostly don’t mix” oleh ICG (International Crisis Group) yang metode pengumpulan beritanya dari internet dan mereka banyak sekali melakukan kesalahan di dalamnya. Kemudian metode para hizbiyyun pembenci dakwah salafiyyah yang menyusun bantahan-bantahan dengan penukilan-penukilan dan penghimpunan informasi dari internet yang sepatahg-sepatah dan sepotong-sepotong. Bahkan, apabila mereka melihat tulisan yang menyerang Syaikh Rabi’ bin Hadi, yang berjudul “Syaikh Rabi’ bin Hadi fil Mizan” maka metode mereka pada hakikatnya sama dengan mereka-mereka ini. Yaitu asmot (asal comot) dari sana sini kemudian ditambah dengan gosip (digosok semakin sip).

Dan ini bukanlah metode dan manhaj salaf, karena manhaj salaf di dalam menilai pemikiran seseorang dari ahlus sunnah adalah dengan tahqiq dan verifikasi yang jelas, menelusuri sumbernya secara jelas dan bertabayun dan tatsabut atas berita yang sampai, serta membawa ucapan-ucapan yang mujmal kepada yang tafshil, membawa perkataan yang samar kepada yang muhkam, dst. Apabila mereka mendapatkan kesalahan maka mereka nasehati dulu kesalahan tersebut, dan apabila mereka tidak mampu, maka mereka meminta tolong kepada yang mampu untuk menjelaskannya.

n. Bodoh terhadap implementasi al-Wala` wal Baro`

Ini merupakan salah satu kebodohan mereka yang sangat menonjol, mereka tidak memahami hakikat al-Wala` wal Baro` dan penerapannya. Semua yang menyimpang dari kaum muslimin, betatapun tingkatnya maka diperlakukan dengan baro` secara sempurna seakan-akan mensikapi orang kafir. Sikap seperti ini telah ditengarai oleh Fadhilatusy Syaikh DR. Nashir ‘Abdul Karim al-‘Aql hafizhahullahu yang mana beliau berkata :

“Orang-orang beriman seluruhnya adalah wali Allah dan bagi seluruh mukmin diberikan wala’ (loyalitas) sebatas tingkat keimanannya, demikian pula sebaliknya (diberikan baro’ah (kebencian/berlepas diri) sebatas tingkat kemaksiatannya, pent.). Orang-orang kafir, seluruhnya adalah wali Syaithan dan tidak ada wala’ sedikitpun bagi orang kafir. Akan tetapi, mukmin yang bermaksiat, diberikan baro’ah kepadanya menurut kadar kemaksiatannya, demikian pula para pelaku bid’ah dari kaum muslimin, diberikan baro’ah menurut tingkat kebid’ahannya, dan bagi mereka wala’ sebatas keimanannya. Oleh karena itu, sesungguhnya orang kafir tidak terkumpul padanya wala’ dan baro’ sekaligus.

Seorang mukmin yang kholish (murni) yang berjalan di atas as-Sunnah, baginya wala` dan kecintaan yang sempurna. Jika ditemukan padanya kemaksiatan atau kebid’ahan maka terkumpul padanya dua perkara: yaitu kita berwala’ terhadap kebaikan dan iman yang dimilikinya dan kita membenci terhadap kemaksiatan dan kebid’ahannya. Dengan demikian, mayoritas kaum mukminin pelaku kemaksiatan dan kebid’ahan yang tidak sampai mengeluarkan dari agama, mayoritas mereka, bahkan seluruhnya dari para pelaku kemaksiatan dan bid’ah yang kecil, bagi mereka kecintaan dan wala’ sebatas keimanan dan amal shalih yang ada pada mereka serta baro’ dan kebencian sebatas kemaksiatan dan kebid’ahan mereka.”

Lalu beliau hafizhahullah melanjutkan :

هذه القاعدة اختلت عند كثير من ضعيفي العلم وقليلي الفقه في الدين والجهلة بمذهب السلف, حتى يعض مدعي السلفية وقعوا في هذا, فإنهم يعادون على البدعة عداء كاملا, وقد تكون البدعة غير مخرجة من الملة وقد تكون بدعة جزعية ليست متكاثرة في الشخص. كما أنهم قد يعادون على المعصية عداء كاملا أو على المخالفة والخطأ عداء كاملا. وهذا خطأ يجب أن يحذروا غيرهم من أن يعلموا بهذه القاعدة. والآن نرى من نتائج تطبيق ذلك ما يحدث بين شباب أهل السنة مع الأسف من نزاعات في أمور حول الدين والاجتهاديات وحول الدعوة إلى الله عز و جل. نجد أنهم يتنازعون في هذا ويطبقون على خصومهم والمخالفين من أهل السنة البراء الكامل, يبغضونهم في ذلك ويستبيحون الكلام فيهم والتشهير بهم ويحتسبون عند الله الدعوة ضدهم والتشهير بهم والتحذير منهم. هذا الخلاف الأصل الشرعي, نعم ما فيهم من أخطاء ينبه عليهم مع الاعتراف بفضلهم وقدرهم بما فيهم من فضل وقد, هذا أمر ضروري وإلا تقع فتنة بين المؤمنين.

“Kaidah ini jarang dipegang oleh kebanyakan orang-orang yang lemah ilmunya dan dangkal pemahaman agamanya serta bodoh dengan manhaj salaf, sampai-sampai sebagian orang yang mengaku sebagai salafiy juga jatuh kepada hal ini, yaitu mereka memusuhi bid’ah dengan permusuhan yang kamil (sempurna), walaupun terkadang bid’ahnya tidak sampai tingkatan mengeluarkan pelakunya dari agama, dan terkadang pula kebid’ahan tersebut hanya sebagian kecil saja tidak menyeluruh pada seseorang. Sebagaimana pula mereka memusuhi kemaksiatan dengan permusuhan sempurna, atau memusuhi suatu penyelewengan dan kesalahan dengan permusuhan yang sempurna.

Sekarang kita perhatikan dampak dari penerapan perilaku ini, yang marak terjadi di tengah-tengah ahlus sunnah, yang menimbulkan keprihatinan dan percekcokan di dalam permasalahan agama, perkara Ijtihadiyah dan seputar dakwah kepada Allah. Kita dapatkan mereka saling berselisih tentang hal ini dan menerapkan kepada musuh dan lawan mereka sesama ahlus sunnah, baro’ah yang sempurna, sampai mereka membenci mereka, memperbolehkan menjelekkan mereka, menyebarkan aib mereka, mereka berniat karena Allah mendakwahi lawan mereka namun mereka menyebarkan aib mereka dan mentahdzir mereka.

Hal ini menyelisihi ushul (pokok) syariat. Iya memang, jika mereka melakukan kesalahan diperingatkan kesalahan-kesalahannya, namun tetap dengan mengakui keutamaan dan kadar yang mereka miliki. Ini adalah perkara dharuri (yang wajib dilakukan), atau jika tidak, maka akan timbul fitnah di tengah-tengah kaum muslimin.”[9]

Dan inilah salah satu bentuk kebodohan mereka, apabila mereka telah membenci kepada suatu kaum, maka kebencian mereka akan mereka terapkan secara sempurna, dan mereka halalkan kehormatan saudara-saudara mereka sesama ahlus sunnah, mereka makan daging-nya, mereka injak-injak kehormatannya, dan mereka tutup jalan-jalan ifadah kepada para du’at yang terzhalimi ini. Tidak ada sedikitpun rasa wala`, mahabbah ataupun pembelaan mereka kepada saudara mereka sesama ahlus sunnah, dan mereka terapkan kepada para du’at ini kebencian dan baro` yang sempurna yang seharusnya hanya diterapkan kepada kaum kuffar. Wal’iyadzubillah.

o. Tidak mau melakukan tabayyun (verifikasi) dan tatsabbut (cek ricek) terhadap berita yang sampai

Menurut mereka, selama berita itu datang dari kalangan mereka yang mereka nilai semuanya tsiqoh dan terpercaya beritanya, maka tidak ada perlunya melakukan tabayyun dan tatsabbut. Apalagi jika berita yang sampai pada mereka adalah kejelekan atau aib seseorang yang mereka musuhi atau benci, maka tidak ada perlunya melakukan tabayyun, selama ambisi dan obsesi mereka untuk mencaci maki lawannya dapat terpenuhi dengan mudah. Karena manhaj mereka telah terasuki oleh kaidah al-Ghoyah tubarrirul Wasiilah (tujuan itu menghalalkan segala cara). Dengan demikian, berita apapun yang sampai pada mereka, dengan cara apapun, entah dengan identifikasi dan penggalian informasi ala agen rahasia, ataukah tajassus dan mencari-cari kesalahan musuhnya dari kaset-kaset rekaman atau selainnya.

Al-’Allamah ’Abdul Muhsin al-’Abbad hafizhahullahu ditanya :

في قبول خبر الثقة, هل يقبل مطلقا دون التثبت؟ كان يقول: إن فلانا مثلا سبّ وطعن في الصحابة, هل يجب علي أن آخذ بهذا القول وأحكم به أم لا بدّ من التثبت؟

Dalam masalah menerima berita dari orang yang tsiqoh (terpercaya), apakah diterima perkataannya secara mutlak tanpa tatsabut? Orang itu berkata misalnya : sesungguhnya Fulan telah memaki dan mencela sahabat, apakah wajib bagiku menerima perkataan ini (langsung) dan menghukuminya (sebagai pencela sahabat, pent.) ataukah aku harus tatsabut?

Syaikh hafizhahullahu menjawab :

لا بدّ من التثبت!!!

“Harus tatsabbut!!!”

Syaikh hafizhahullahu ditanya kembali :

ولو كان القائل أحد المشائخ؟

“Walaupun yang berkata adalah salah seorang masyaikh?”

Syaikh hafizhahullahu menjawab :

لا بدّ من التثبت!!! القائل إذا عزاه إلى كتاب له والكتاب موجودو فمنكن للناس الرجوغ لهذا الكتاب, أما مجرد كلام من غير أن يذكر له أساس لاسيما إذا كان الشخص الموجودين. أما إذا كان من المتقدمين وهو معروف بالبدعة أو من أئمتها هذا كل يعرفه, يعني مثل جهم بن صفوان, وكذا كل من قال أنه مبتدع فإن كلامه صحيح, أي إنسان يقوله, وأما بعض الناس الذين يحصل عندهم خطأ وعندهم جهود عظيمة في خدمة الدين فيحصل منهم زلة, فبعض الناس يمكن أنه يقضي عليه بمجرد هذه الزلة.

“Tetap harus tatsabbut!!! Orang yang berkata jika ia menisbatkan kepada bukunya dan bukunya harus ada, sehingga memungkinkan ummat untuk merujuk kepada buku ini. Adapun perkataan belaka yang tidak ada dasarnya atas yang disebutkan olehnya terutama jika orang-orang tersebut masih hidup. Adapun jika ia termasuk dari orang terdahulu dan dia memang dikenal dengan kebid’ahannya atau termasuk pembesarnya, hal ini semua orang mengetahuinya, yaitu seperti misalnya Jahm bin Shofwan, maka setiap orang yang mengatakan ia mubtadi’, maka sesungguhnya perkataannya benar, yaitu orang yang menyatakannya demikian. Adapun terhadap orang-orang yang melakukan kesalahan sedangkan dia memiliki kesungguhan yang luar biasa dalam berkhidmat terhadap agama, kemudian dia tergelincir, maka sebagian orang memungkinkan untuk menghukuminya atas ketergelincirannya saja.”[10]

p. Tidak mau membawa ucapan yang mujmal kepada yang mufashshol

Apabila sampai kepada mereka ucapan dari para du’at ahlus sunnah yang mereka musuhi yang bersifat mujmal yang zhahirnya tampak mereka fahami sebagai suatu kebatilan, padahal yang dimaksud oleh pengucap tidaklah sebagaimana yang dimaksudkan oleh mereka para penghujat dan pencela ini. Mereka memahaminya secara bathil dikarenakan rusaknya pemahaman mereka yang dibakar oleh kebencian dan permusuhan belaka. Sungguh benar ucapan seorang penyair :

و كم من عائب قولا صحيحا و آفته من الفهم السقيم

Berapa banyak orang yang mencela ucapan yang benar ?

Oleh sebab pemahamannya yang sakit

Suatu waktu mereka mencela dengan caci maki yang bertubi, menuduh dan menggelari pada du’at salafiyyah dengan tuduhan dan gelar-gelar yang buruk, hanya karena mereka mendapatkan beberapa buku dari sebuah penerbit yang banyak menerbitkan terjemahan asatidzah dan du’at ahlis sunnah, mereka mendapatkan dua buku yang bercorak dengan pemahaman takfiri, yaitu buku “Thoghut” karya Abdul Mun’im Mustofa Halimah hadaahullahu seorang takfriy yang sekarang berdomisili di negeri Kafir, tepatnya di London Selatan, Inggris dan buku “Penjelasan Pembatal Keislaman” (terjemahan dari at-Tibyan fi Nawaqidhil Islam) karya Syaikh Sulaiman Nashir al-‘Ulwan saddadhullohu yang terpengaruh oleh pemahaman takfiriy.

Dengan girang dan gembiranya, mereka mendapatkan amunisi untuk menembakkan caci makinya kepada ustadz dan da’i yang terjemahan buku mereka banyak diterbitkan oleh penerbit tersebut. Mereka lemparkan celaan celaan kotor kepada para du’at ini sembari menggeneralisir umpatan dan makiannya kepada du’at lainnya yang tidak ada hubungannya dengan penerbitan ini. Parahnya, mereka berdusta dengan membuat opini bahwa seakan-akan para du’at salafiyyah ini ridha dan rela dengan diterbitkannya kedua buku bermasalah ini. Aduhai, sungguh murah sekali kedustaan itu di sini mereka, sebagaimana seorang penyair berkata :

فالبهت عندكم رخيص سعره حثوا بلا كيل ولا ميزان

Di sisi kalian dusta itu sangat murah harganya

Tanpa ditakar dan ditimbang mereka menghamburkannya

Padahal, apabila mereka mau bertabayyun dulu, atau bersikap sedikit tenang dan tidak mendahulukan hawa nafsu mereka yang membinasakan, niscaya mereka tidak akan jatuh kepada kedustaan dan fitnah-fitnah keji. Tidakkah mereka melihat, bahwa para du’at tersebut berlepas diri dari buku-buku bermasalah tersebut dan segala pemikiran yang menyimpang. Adakah mereka membaca bantahan terhadap buku “Thaghut” tersebut yang ditulis oleh saudara kami, Ali Hasan Bawazir dan dimuat di Majalah as-Sunnah dalam dua edisi, lalu pada edisi berikutnya disokong dan ditaqrizh oleh al-Ustadz Abu Ihsan?!! Adakah mereka membaca kritik dan bantahan terhadap buku Syaikh Sulaiman al-Ulwan tersebut di Majalah al-Furqon?! Juga bantahan-bantahan di kajian-kajian dan majelis ilmiah mereka?! Lantas mengapa mereka mereka lebih mendahulukan kejahatan hawa nafsu mereka dan ambisi serta obsesi mereka untuk bermusuhan dan mencaci maki yang disertai dengan kedustaan dan fitnah-fitnah?!! Aduhai, alangkah benarnya ucapan seorang penyair ini kepada mereka :

احذر لسانك أن يقول فتبتلى إن البلاء موكل بالمنطق

Jaga lidahmu untuk berujar dari petaka

Sebab petaka itu bergantung pada ucapan

Dan masih banyak lagi kejadian serupa, yang mana mereka lebih senang membawa suatu hal yang samar dan mujmal, namun mereka tidak mau mengembalikannya kepada yang muhkam dan mufashshol dari sikap para du’at dan asatidzah yang mereka cela dan maki itu.

Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullahu ditanya dengan pertanyaan berikut : “Jika didapatkan pada seorang alim perkataan yang mujmal (global) di dalam suatu perkara, dan terkadang perkataan mujmal tersebut secara zhohirnya menunjukkan kepada suatu perkara yang salah, dan didapatkan lagi padanya perkataan yang lain yang mufashshol (terperinci ) pada perkara yang sama tentang manhaj salaf, apakah dibawa perkataan seorang alim yang mujmal tersebut kepada perkara yang mufashshol?”

Syaikh hafizhahullahu menjawab :

نعم! يحمل على المفصل, ما دام هو شيئ موهم, فالشيئ الواضح الجلي هو المعتبر

“Iya, dibawa kepada yang mufashshol, selama perkara tersebut adalah sesuatu yang masih samar, sedangkan perkara yang jelas dan teranglah yang dianggap.”[11]

q. Mengimplentasikan dan mempermainkan ilmu Jarh wa Ta’dil sekehendak hati mereka

Aduhai, betapa bangganya mereka, dengan menyebut bahwa website mereka terdahulu sebagai website “Jarh wa Ta’dil”. Mereka senantiasa mengklaim bahwa upaya caci maki dan tindakan ghibah mereka yang haram sebagai upaya penjagaan terhadap agama, sebagai upaya pemeliharaan dan bagian dari ilmu Islam yang mulia, yaitu Jarh wa Ta’dil.

Mereka permainkan ilmu ini sekehendak hati mereka, dan mereka implementasikan dan aplikasikan menurut hawa nafsu mereka, mereka jarh dengan jarh yang tidak pernah dikenal oleh ulama salaf sebelumnya, dan mereka ta’dil siapa saja yang sepakat dan selaras dengan pendapat dan pemahaman mereka.

Ulama salaf dahulu, mereka sangat waro’ (berhati-hati) terhadap penggunaan ilmu ini. Mereka sangat berhati-hati sekali agar jarh mereka kepada seorang perawi bukanlah berangkat dari hawa nafsu, dari kedengkian, hasad, subyektifitas dan permusuhan. Namun mereka melakukannya dengan ketakwaan, kehati-hatian dan keikhlasan dalam rangka memelihara dan menjaga agama ini.

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullahu di dalam al-Muuqizhoh (hal. 82) mengatakan :

والكلام في الرواة يحتاج إلى ورع تام وبراءة من الهوى والميل

“Membicarakan para perawi memerlukan sifat waro’ yang sempurna dan terlepasnya diri dari hawa nafsu dan kecenderungan (subyektifitas)…”

Imam Ibnu Daqiqil ‘Ied rahimahullahu berkata di dalam al-Iqtiraah (hal. 302) :

أعراض المسلمين حفرة من حفر النار وقف على شقيرها طائفتان من الناس : المحدثون والحكام

Kehormatan kaum muslimin adalah sebuah jurang dari jurang-jurang neraka. Berdiri di tepi jurang tersebut dua kelompok manusia, yaitu para muhaddits (yang membicarakan para rawi) dan hukkam (penguasa)…”

Imam Ibnu Sholah berkata di dalam Ulumul Hadits (hal. 350-351) : “Wajib bagi orang yang berkecimpung dalam hal ini (Jarh wa Ta’dil) untuk bertakwa kepada Alloh, bertatsabbut (melakukan cek dan ricek) dan menjauhi sikap tasahul (sikap memudahkan) agar ia tidak melakukan jarh kepada seorang yang sebenarnya selamat (dari hal tersebut) dan tidak menyifati orang yang tidak bersalah dengan sifat yang buruk, kemudian sifat jelek tersebut akhirnya tertempel pada orang tersebut sampai hari kiamat…

Apa yang kami riwayatkan atau sampaikan, bahwa Yusuf bin al-Hasan ar-Razi ash-Shufi datang menemui Ibnu Abi Hatim yang dalam keadaan sedang membaca buku karyanya tentang al-Jarh wat Ta’dil. Yusuf berkata : “Berapa banyak dari mereka (yaitu orang yang tercantum di dalam buku al-Jarh wat Ta’dil tersebut) telah menempati tempat-tempat mereka di Surga sejak seratus atau dua ratus tahun yang lalu, sementara anda masih sibuk menyebut-nyebut mereka dan melakukan ghibah kepada mereka.” (Mendengar hal ini), ‘Abdurrahman (bin Abi Hatim) pun menangis. (karena dari sikap waro’ dan ketakwaan beliau).

Juga telah sampai kepada kami, bahwa ketika Ibnu Abi Hatim sedang membaca kitabnya al-Jarh wat Ta’dil kepada khayalak, maka disampaikan kepadanya kabar dari Yahya bin Ma’in bahwa beliau berkata : ”Sesungguhnya kita telah mencela orang-orang yang mungkin saja mereka telah menempati tempat-tempat mereka di surga sejak dua ratus tahun lebih.” (Mendengar hal ini), ’Abdurrahman (bin Abi Hatim) pun menangis, kedua tangannya gemetar sehingga jatuhlah kitab (yang sedang dibacanya) dari tangannya.”[12]

Subhanalloh, adakah mereka yang terobsesi dan mempermainkan ilmu yang mulia ini, yaitu ilmu al-Jarh wat Ta’dil memiliki ketakwaan, waro’, ilmu, sikap obyektivitas, kesabaran, sifat tatsabbut dan semisalnya?!! Ataukah mereka adalah orang-orang yang bersikap diluar dari ketakwaan, tidak memiliki sifat waro’, gegabah, tidak pernah tatsabbut, lancang dan gemar merusak kehormatan seorang muslim?!! Allohu Syaahid ’ala maa yashna’un

Bersambung ……

Dipublikasikan oleh ibnuramadan.wordpress.com

Disusun oleh Abu Salma al-Atsari

© Copyright bagi ummat Islam. Silakan menyebarkan risalah ini dalam bentuk apa saja selama menyebutkan sumber, tidak merubah content dan makna serta tidak untuk tujuan komersial.

Artikel ini didownload dari Markaz Download Abu Salma (http://dear.to/abusalma]


[1] Lihat : Masaa`il fil Hajri wa maa yata’allaqu bihi : Majmu’atu min ba’dhi asyrithoti Syaikh Shalih Alu Syaikh; Mufarroghoh (Dihimpun dari sebagian kaset Syaikh Shalih Alu Syaikh secara transkrip), didownload dari www.sahab.org

[2] Lihat : Masaa`il fil Hajri wa maa yata’allaqu bihi, op.cit.

[3] Lihat : Masa`il fil Hajr, op.cit, Nashihatu Lisy Syabab

[4] Lihat : Masa`il fil Hajr, op.cit, Nashihatu Lisy Syabab

[5] Lihat : al-Hatstsu ‘ala ittiba`is Sunnah wat Tahdziru minal Bida’ wa Bayanu Khatariha oleh al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad, bab Bid’atu Imtihani an-Naasi bil Asykhosh, cet. I, 1425, Maktabah Malik Fahd al-Wathoniyah, hal. 58.

[6] Lihat : Durus Syarh Aqidah ath-Thohawiyah, 1425 H, dinukil dari Kasyful Khola`iq, op.cit.

[7] Lihat Ithaaful ‘Ibaad bi Fawa`idi Duruusi asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbad oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Muhammad al-‘Umaisaan, Darul Imam Ahmad, 1426/2005, hal. 61.

[8] Lihat : Taysirul Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan karya al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, ditahqiq oleh Syaikh ’Abdurrahman bin Mu’alla al-Luwaihiq, cet. 1, 1422/2001, Mu`assasah ar-Risalah, Beirut, hal. 822, juz 27, surat 53, ayat 38

[9] Lihat : Aqwaalu wa Fatawa al-Ulama`i fit Tahdziiri min Jamaa’ati al-Hajri wat Tabdi’, dihimpun oleh Majmu’atu min Thullabatil ’Ilmi, cet. II, 1424, hal. 38-39

[10] Lihat : Aqwaalu wa Fatawa al-Ulama’, op.cit., hal. 33-34

[11] Lihat : Aqwaalu wa Fatawa al-Ulama’, op.cit., hal. 34

[12] Nukilan-nukilan di atas dinukil dari Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan, karya al-Ustadz Firanda bin Abidin as-Soronji, cet. I, 1427/2006, Pustaka Cahaya Islam, hal. 38-41; Bacalah buku ini karena banyak sekali faidah dan manfaat yang bisa dipetik darinya,hanya saja mereka yang dengki dan terbakar semangat permusuhan tidak menyukai buku semacam ini dan membuat tuduhan yang macam-macam terhadap penulisnya raghmun unufihi

 
Leave a comment

Posted by pada Desember 27, 2008 in HADDADIYAH

 

INILAH HADDADIYAH…!!! (bagian 2)

KARAKTERISTIK NEO HADDADIYAH

(Menyingkap Karakter Haddadiyah Yang Tersembunyi Pada Pengaku-ngaku Salafiyah Yang Hakikatnya Adalah Hizbiyah Yang Membinasakan)

Oleh : Ustadz Abu Salmah al-Atsari

Sebenarnya telah banyak para ulama yang memperingatkan akan bahaya dan kerusakan manhaj haddadiyah ini, terdepan di kalangan para ulama yang telah menjelaskan akan bahaya manhaj ini adalah :

1. Al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu dalam ceramah beliau yang berjudul Haqiqotul Bida’ wal Kufri, dan masih banyak lagi ceramah-ceramah beliau lainnya.

2. Al-Imam al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdilllah bin Baz rahimahullahu di dalam kaset-kaset rekaman ceramah dan tanya jawab beliau yang tersebar, diantaranya yang berjudul Kibarul ‘Ulama Yatakallamuuna ‘anid Du’at dan Majmu’ Fatawa wa Maqoolat Mutanawwi’ah juz XXVIII

3. Al-Imam al-Faqih Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahu di dalam Liqo’ Babil Maftuh no. 67, 98 dan selainnya.

4. Al-‘Allamah al-Muhaddits ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullahu dalam risalah Rifoqn Ahlas Sunnah dan al-Hatstsu ‘ala ittiba`is Sunnah, dan selainnnya dari ceramah-ceramah beliau.

5. Al-‘Allamah DR. Prof. Rabi’ bin Hadi al-Madkholi hafizhahullahu dalam artikel beliau yang berjudul Mumayyizat al-Haddadiyah dan selainnya.

6. Al-‘Allamah DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullahu dalam buku beliau Zhahiratut Takfir, at-Tabdi’ wat Tafsiq dan kumpulan ceramah beliau di dalam Silsilah Muhadhoroh fil Aqidah wad Da’wah.

7. Al-‘Allamah DR. Bakr Abu Zaid dalam buku beliau, Tashnifun Naas bayna azh-Zhonni wal Yaqin.

8. Masyaikh Yordania di dalam ceramah-ceramah mereka yang mereka sampaikan di dauroh-dauroh dan liqo’at mereka.

9. Syaikh Amru ‘Abdul Mun’im Salim dalam buku beliau yang bagus al-Ushul allati bana ‘alaihaa ghulaatu madzhabihim fit tabdi’.

10. dan ulama-ulama lainnya yang tidak terhitung yang semuanya mencela sikap ghuluw di dalam tabdi’ dan menvonis manusia.

Haddadiyah sendiri adalah sebuah penisbatan kepada Abu Muhammad al-Haddad, salah seorang mantan murid Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkholi yang memiliki penyimpangan-penyimpangan pemikiran yang berbahaya, yang berangkat dari sikap ghuluw-nya di dalam beragama, yang mencela semua pemahaman selain pemahamannya, bahkan termasuk pencelaan kepada para ulama semisal Imam Abu Hanifah, al-Hafizh Ibnu Hajar, Imam Nawawi dan selain mereka yang terjatuh kepada kesalahan.

Pemikiran ini hidup kembali dan bangkit menyusup ke barisan para pemuda mutamassikin pada awalnya, lalu berubah menjadi ghulat haddadiyah gaya baru yang dikenal akan karakter keras, bengis, mudah menvonis dan sangat arogan serta sombong. Berikut ini adalah diantara karakteristik mereka :

1- Menjadikan Salafiyyah Sebagai Hizbiyyah

Diantara karakteristik penting Haddadiyah adalah menjadikan manhajnya sebagai manhaj hizbiyyah dengan beraneka ragam bentuknya, diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Gegabah dan Mudah menvonis bid’ah, fasiq dan sesat.

Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu memperingatkan dari hizbiyah yang menyebut diri mereka sebagai salafiyyun namun mereka mudah menvonis sesat, bid’ah dan fasiq datu dengan lainnya, beliau rahimahullahu berkata :

ولا شك أن الواجب على جميع المسلمين أن يكون مذهبهم مذهب السلف لا الانتماء إلى حزب معين يسمى السلفيين. والواجب أن تكون الأمة الإسلامية مذهبها مذهب السلف الصالح لا التحزب إلى ما يسمى (السلفيون) فهناك طريق السلف وهناك حزب يسمى ( السلفيون) والمطلوب اتباع السلف, إلا أن الإخوة السلفيين هم أقرب الفرق إلى الصواب ولكن مشكلتهم كغيرهم أن بعض هذه الفرق يضلل بعضا ويبدعه ويفسفه ونحن لا ننكر هذا إذا كانوا مستحقين, لكننا ننكر معالجة هذه البدع بهذه الطريقة…

“Tidak ragu lagi, bahwa wajib bagi seluruh kaum muslimin agar menjadikan madzhab mereka dengan madzhab salaf, bukannya berintima’ (condong) kepada kelompok spesifik yang disebut dengan “salafiyyin”. Wajib untuk menjadi umat yang satu yaitu yang madzhabnya adalah madzhab as-Salaf ash-Shalih dan tidak malah bertahazzub (berkelompok-kelompok) kepada kelompok yang disebut dengan “salafiyyin”. Ada thoriq (metode) salaf dan adapula kelompok yang disebut dengan “salafiyyin” sedangkan yang dituju adalah ittiba’ (menauladani) salaf. Hanya saja, ikhwah (saudara-saudara) kita salafiyyin, mereka ini adalah kelompok yang paling dekat dengan kebenaran, namun problematika mereka adalah sama dengan kelompok-kelompok lainnya, yaitu sebagian oknum dari kelompok ini, mereka mudah menvonis sesat, menvonis bid’ah dan fasiq. Kami tidak mengingkari hal ini apabila mereka memang orang yang berhak untuk melakukannya (menvonis), namun yang kami ingkari adalah sikap memperbaiki kebid’ahan ini dengan metode yang seperti ini…” [1]

Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu juga berkata:

السلفية هي اتباء منهج النبي صلى الله عليه و سلم وأصحبه لأنه مَن سلفنا تقدموا علينا, فاتباعهم هو السلفية. وأما اتخاذ السلفية كمنهج خاص ينفرد به الإنسان ويضلّل من خالفه من المسلمين ولو كانوا على حقّ فلا شك أن هذا خلاف السلفية. لكن بعض من انتهج السلفية في عصرنا هذا صار يضلل كل من خالفه ولو كان الحق معه واتخاذها بعضهم منهجا حزبيا كمنهج الأحزاب الأخرى التي تنتسب إلى الإسلام وهذا هو الذي ينكر ولا يمكن إقراره. فالسلفية بمعنى أن تكون حزبا خاصا له مميزاته و يضلل أفراده سواهم فهؤلاء ليسوا من السلفية شيء. وأما السلفية التي هي اتباع منهج السلف عقيدة وقولا وعملا واختلافا واتفاقا وتراحما وتوادا كما قال النبي صلى الله عليه و سلم ((مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم كمثل الجسد الواحد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر)). فهذه هي السلفية الحقة.

“Salafiyyah adalah ittiba’(penauladanan) terhadap manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, dikarenakan mereka adalah salaf kita yang telah mendahului kita. Maka, ittiba’ terhadap mereka adalah salafiyyah. Adapun menjadikan salafiyyah sebagai manhaj khusus yang tersendiri dengan menvonis sesat orang-orang yang menyelisihinya walaupun mereka berada di atas kebenaran, maka tidak diragukan lagi bahwa hal ini menyelisihi salafiyyah!!! Akan tetapi, sebagian orang yang meniti manhaj salaf pada zaman ini, menjadikan (manhajnya) dengan menvonis sesat setiap orang yang menyelisihinya walaupun kebenaran besertanya. Dan sebagian mereka menjadikan manhajnya seperti manhaj hizbiyah atau sebagaimana manhaj-manhaj hizbi lainnya yang memecah belah Islam. Hal ini adalah perkara yang harus ditolak dan tidak boleh ditetapkan. Jadi, salafiyah yang bermakna sebagai suatu kelompok khusus, yang mana di dalamnya mereka membedakan diri (selalu ingin tampil beda) dan menvonis sesat selain mereka, maka mereka bukanlah termasuk salafiyah sedikitpun!!! Dan adapun salafiyah yang ittiba’ terhadap manhaj salaf baik dalam hal aqidah, ucapan, amalan, perselisihan, persatuan, cinta kasih dan kasih sayang sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Permisalan kaum mukminin satu dengan lainnya dalam hal kasih sayang, tolong menolong dan kecintaan, bagaikan tubuh yang satu, jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh tubuh akan merasa demam atau terjaga.” Maka inilah salafiyah yang hakiki!!!”[2]

Dan masih banyak ucapan-ucapan yang semisal dari Imam Ibnu ‘Utsaimin dan selain beliau dari ulama ahlus sunnah –rahimallohu mayyitahum wa hafizha lil ummah hayyahum-.

Namun, adakah dari mereka yang mengambil ibrah darinya?! Ataukah merasa bahwa nasehat para ulama ini tidak penting?! Atau menganggap nasehat ini bukanlah untuk mereka namun bagi mereka yang ghuluw, aduhai betapa banyak orang yang ghuluw namun tidak merasa bahwa mereka berada di atasnya! Inilah karakter pertama dan utama mereka, yaitu mudah dan serampangan di dalam menvonis sesat, bid’ah atapun fasik, yang mana karakter ini merupakan bagian dari sikap hizbiyyah.

b. Sibuk dengan Tashnif (menggelar-gelari dan mengkotak-kotakkan) manusia secara gegabah dan serampangan tanpa ilmu

Berkata al-‘Allamah Bakr Abu Zaid hafizhahullahu:

وفي عصرنا الحاضر يأخذ الدور في هذه الفتنة دورته في مسلاخ من المنتسبين إلى السنة، متلفعين بمرط ينسبونه إلى السلفية ظلماً لها ، فنصبوا أنفسهم لرمي الدعاة بالتهم الفاجرة المبنية على الحجج الواهية ، واشتغلوا بضلالة التصنيف

“Di zaman kita sekarang ini, turut mengambil andil di dalam peredaran fitnah yang perputarannya berada di dalam kulit orang-orang yang menisbatkan diri kepada sunnah yang ditutupi dengan balutan dengan kain wool, mereka menyandarkan hal ini kepada salafiyyah untuk menzhalimi dakwah salafiyah ini, mereka tegakkan diri mereka dengan melemparkan tuduhan keji yang dibangun di atas hujjah-hujjah yang lemah, dan mereka sibukkan diri dengan kesesatan tashnif[3]

Beliau hafizhahullahu juga berkata :

وهذا الانشقاق في صف أهل السنة لأول مرة ، حسبما نعلم يوجد في المنتسبين إليهم من يشاقهم ، ويجند نفسه لمثافنتهم ويتوسد ذراع الهم لإطفاء جذوتهم, والوقوف في طريق دعوتهم ، وإطلاق العنان للسان يفري في أعراض الدعاة ، ويلقي في طريقهم العوائق في عصبية طائشة

“Perseteruan yang terjadi di barisan ahlus sunnah pada awal mulanya, sebagaimana kita ketahui, ditemukan pada orang-orang yang menyandarkan diri padanya ada orang yang memusuhinya, dia kerahkan dirinya untuk menemani mereka dan berbantal sejengkal keinginan untuk memadamkan bara apinya, berhenti di jalan dakwah mereka, dan melepaskan kendali lisan untuk membuat kedustaan terhadap kehormatan pada da’i, dan didapatkan di dalam jalan mereka adanya fanatisme yang menyedihkan (gegabah)…[4]

Iya, sungguh benar Syaikh Bakr Abu Zaid, memang ada sebagian oknum yang berpakaian dengan pakaian salafiyyah, mengaku-ngaku darinya, namun keinginannya adalah ingin merusak barisan salafiyyah dengan melemparkan tashnif dan tuduhan-tuduhan dusta. Seringkali terucap dari lisan keji mereka : ”sururi”, ”turotsi”, ”irsyadi”, ”hizbi”, ”al-kadzdzab” dan tuduhan-tuduhan lainnya yang bahkan istilah-istilah baru mereka adakan untuk melariskan tashnif mereka kepada manusia, dengan sebutan ”salafi pramuki”, ”salafi sana sini”, ”salafi wisma erni” dan segala macam lainnya. Allohumma na’udzubika minal fizhozhoh.

c. Fanatik dengan pendapat ulama tertentu dan menerapkan wala dan baro` dengannya

Ini adalah salah satu bentuk hizbiyah mereka, yaitu apabila tidak berpendapat dengan pendapat syaikh atau ustadz mereka, maka mereka akan terapkan sikap permusuhan dan baro’ mereka kepada yang menolak pendapat syaikh atau gurunya. Padahal, masalah yang diperselisihkan di sini adalah masalah ijithadiyah yang debatable. Bahkan mereka yang menolak pendapat mereka didukung oleh ulama ahlus sunnah pula. Namun karena tidak sama dengan pendapat para ghulat ini –dan mungkin juga karena dibakar sikap dengki, iri dan hasad- maka mereka menerapkan sikap permusuhan yang keras dan melontarkan makian, celaan dan hujatan keji kepada fihak yang berbeda dengannya.

Mereka mengatakan, ”Syaikh Fulan adalah ulama ahli Jarh wa Ta’dil”, atau ”Syaikh Fulan adalah lebih ’alim” atau ucapan semisal. Maka dengan demikian, yang wajib semua orang untuk menerimanya, tak terkecuali siapapun. Adapun ulama ahlus sunnah lain yang berbeda dengan ulama yang mereka pegang pendapatnya, maka mereka mengatakan, ”Syaikh tersebut tidak faham keadaan sebenarnya”, atau ’Syaikh tersebut ditipu oleh hizbiyyin” dan ucapan-ucapan semisalnya yang merendahkan dan merupakan tha’n kepada masyaikh tersebut.

Padahal Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu berkata :

وليس لأحد أن ينصب للأمة شخصاً يدعو إلى طريقته، ويوالي ويعادي عليها غير النبي صلى الله عليه وسلم، ولا ينصب لهم كلاماً يوالي عليه ويعادي غير كلام الله ورسوله وما اجتمعت عليه الأمة، بل هذا من فعل أهل البدع الذين ينصبون لهم شخصاً أو كلاماً يفرقون به بين الأمة، يوالون به على ذلك الكلام أو تلك النسبة ويعادون

Tidak seorangpun berhak menentukan untuk umat ini seorang figur yang diseru untuk mengikuti jalannya, yang menjadi tolok ukur dalam menentukan wala’ dan bara’ selain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam, begitu juga tidak seorangpun yang berhak menentukan suatu perkataan yang menjadi tolok ukur dalam berwala’ dan baro’ selain perkataan Allah dan Rasul-Nya serta apa yang menjadi kesepakatan umat, tetapi perbuatan ini adalah kebiasaan Ahli bid’ah, mereka menentukan untuk seorang figur atau suatu pendapat tertentu, melalui itu mereka memecah belah umat, mereka menjadikan pendapat tersebut atau nisbat tersebut sebagai tolok ukur dalam berwala’ dan baro’.”[5]

Sekiranya mereka berpijak pada metodologi ilmiah, maka mujadalah dan manozhoroh ilmiah yang berangkat dari keinginan tulus untuk munashohah (saling menasehati) dan meluruskan kesalahan, saling mengingkari dengan adab dan ushlub yang baik, tanpa diiringi tahjir (menghajr/memboikot), tajrih (menjarh/mencacat kredibilitas seseorang), tabdi’, tafsiq hingga tadhlil (menvonis sesat) fihak lawannya-lah yang seharusnya mereka terapkan dan aplikasikan. Namun, sebagian mereka yang jahil, sok nyalaf dan sok ahli jarh wa ta’dil, merusak tatanan ilmiah ini dan menghalalkan bid’ah hizbiyah semisal ini di dalam manhaj salaf yang mulia ini dengan perilaku seperti ini. Wallohul Musta’an.

d. Menggunakan Kaidah Rusak : Apabila tidak sepakat denganku maka menjadi musuhku

Inilah kaidah dan syiar mereka, yaitu :

إن لم يكن معنا فعلينا… إذا لم تكن معي فأنت ضدي

“Jika tidak beserta kami maka musuh kami… Jika kamu tidak setuju denganku maka kamu musuhku…” dan ucapan semisal…

Inilah kaidah rusak mereka yang sangat kentara sekali. “…Jika kamu tidak mau menuduh Syaikh Surkati hizbiy, mubtadi’, aqlaniy atau antek belanda, maka kamu adalah Surkatiyyun, Irsyadiyyun… atau tuduhan semisalnya yang keji dan berangkat dari kejahilan yang rangkap (jahil murokkab). Jika kamu tidak mau menolak kerjasama dengan Ihya’ut Turats maka kamu adalah Turotsi, hizbi, pembela dan anak buah Abdurrahman Abdul Khaliq, gila dinar Kuwait, mengais fulus, dan ucapan-ucapan kotor lainnya…

Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata :

فمن الناس من يتحزب إلى طائفة معينة ، يقرر منهجها ، ويستدل عليه بالأدلة التي قد تكون دليلاً عليه ، وقد تكون دليلاً له ، ويحامي دونها ويضلل من سواها ، وإن كانوا أقرب إلى الحق منها يضلل، ويأخذ بمبدأ ( من ليس معي فهو عليّ ) وهذا مبدأ خبيث

”Diantara manusia ada yang bertahazzub kepada suatu kelompok tertentu, menetapkan manhajnya, beristidlal (menggunakan dalil) dengan dalil-dalil yang seringkali merupakan dalil yang membantah dirinya sendiri dan terkadang dalil yang menyokongnya. Dia hinakan selain kelompoknya dan dia vonis sesat, walaupun mereka ini adalah (kelompok) yang lebih dekat kepada kebenaran namun diantara mereka (ada oknum) yang gemar menvonis bid’ah dan mengambil mabda’ (landasan) ”Barangsiapa yang tidak sepakat denganku maka ia musuhku”, dan ini adalah mabda’ yang khabits (buruk).”[6]

Mabda’ ini merupakan ciri khas yang paling tampak pada mereka, dan hal ini sangat terlihat jelas pada sebagian oknum yang mengatasnamakan diri sebagai salafiyyah, bahkan mengklaim sebagai satu-satunya salafiy sejati yang kebal manhajnya, yang doyan menuduh sana sini dengan kebodohan dan kedengkian, dengan hawa nafsu dan ambisi pribadi, hanya untuk memenuhi obsesi sebagai ahli cela mencela dan tukang hujat yang produktif, yang terbakar oleh semangat jahiliyah yang membara, untuk membela manhajnya yang rusak dan buruk. Nas’alulloha as-Salamah min hadzihil Juhalaa’ al-Khubatsa’.

Bersambung ……

Dipublikasikan oleh ibnuramadan.wordpress.com

Disusun oleh Abu Salma al-Atsari

© Copyright bagi ummat Islam. Silakan menyebarkan risalah ini dalam bentuk apa saja selama menyebutkan sumber, tidak merubah content dan makna serta tidak untuk tujuan komersial.

Artikel ini didownload dari Markaz Download Abu Salma (http://dear.to/abusalma]


[1] lihat : Syarh al-Arbaain an-Nawawiyyah, oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin, Cet. I, 1424/2003, Darun Nasyr Lits Tsuroya, Riyadh, hal. 272, hadits no. 28, fawaid ke-16

[2] Lihat : Liqo’ul Babil Maftuuh, pertanyaan no. 1322 oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin; dinukil dari Aqwaalu wa Fataawa al-Ulama’ fit Tahdziri min Jama’atil Hajr wat Tabdi’, penghimpun : Kumpulan Para Penuntut Ilmu, cet. II, 1423/2003.

[3] Lihat : Tashnifun Naas Bayna azh-Zhonni wal Yaqin, karya : DR. Bakr Abu Zaed, cet. I, 1414/1995, Darul Ashimah, hal. 28-29

[4] Lihat : Tashnifun Naas Bayna azh-Zhonni wal Yaqin, op.cit., hal. 40

[5] Lihat : Majmu’ Fatawa XX:164 melalui perantaraan Rifqon Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah oleh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Abdul Muhsin al-Abbad

[6] Lihat : Kasyful Haqo`iq al-Khofiyyah ’inda al-Mudda’i as-Salafiyyah oleh Mat’ab al-Ushoimi, didownload dari www.tarafen.com

 
Leave a comment

Posted by pada Desember 27, 2008 in HADDADIYAH

 

INILAH HADDADIYAH…!!! (bagian 1)

body { background-color:transparent;} P { MARGIN: 0px } SPAN.mark { BACKGROUND: url(http://l.yimg.com/a/i/us/pim/dclient/k2/img/md5/a51eb8816cab04037869ab545ddcac7d_1.gif) repeat-x 50% bottom } SPAN.unmark { }

(Menyingkap Karakter Haddadiyah Yang Tersembunyi Pada Pengaku-ngaku Salafiyah Yang Hakikatnya Adalah Hizbiyah Yang Membinasakan)

Oleh : Ustadz Abu Salmah al-Atsari

MUQODDIMAH

الحمد لله الذي جعل في كل زمان فترة من الرسل بقايا من أهل العلم ، يدعون من ضل إلى الهدى ، ويصبرون منهم على الأذى ، يُحيون بكتاب الله الموتى ، ويُبصرون بنور الله أهل العمى ، فكم من قتيل لإبليس قد أحيوه ، وكم من ضال تائه قد هدوه ، فما أحسن أثرهم على الناس ، وأقبح أثر الناس عليهم ، ينفون عن كتاب الله تحريف الغالين ، وانتحال المبطلين ، وتأويل الجاهلين الذين عقدوا ألوية البدع ، وأطلقوا عقال الفتنة ، ويتكلمون بالمتشابه من الكلام ويخدعون جهال الناس بما يشبهون عليهم ، فنعوذ بالله من فتن الضالين.

وأشهد أن لا إله إلا الله القائل في كتابه : } يا أيها الذين آمنوا اجتنبوا كثيراً من الظن إن بعض الظن إثم و لا تجسسوا و لا يغتب بعضكم بعضاً ….{ وأشهد أن محمداً عبده ورسوله ، وصفيه وخليله ، وخيرته من خلقه ، بلغ الرسالة وأدى الأمانة، ونصح الأمة وجاهد في الله حق جهاده ، فصلى الله عليه وعلى آله وأصحابه الطيبين الطاهرين، وعلى من تبعهم بإحسان واقتفى أثرهم إلى يوم الدين ، وعنا معهم برحمتك يا أرحم الراحمين. أما بعد ….

Segala puji hanyalah milik Alloh yang telah menjadikan kekosongan zaman dari para Rasul dengan tetap eksisnya para ulama, yang mengajak orang yang tersesat kepada petunjuk, yang sangat sabar di dalam menghadapi aral rintangan yang menghadang. Mereka hidupkan orang yang mati (hatinya) dengan Kitabullah, dan menerangi orang-orang yang buta (mata hatinya) dengan cahaya Alloh. Betapa banyak korban sembelihan iblis yang telah mereka hidupkan, dan betapa banyak orang bingung yang tersesat mereka beri petunjuk. Aduhai, betapa besar jasa mereka kepada manusia, namun betapa buruk balasan manusia kepada mereka. Mereka tepis penyimpangan (tahrif) terhadap Kitabullah dari orang-orang yang ekstrim (ghuluw), kedustaan para pembuat kebatilan dan penyelewengan (penakwilan) orang-orang yang bodoh, yang mana mereka semua ini adalah pengibar kebid’ahan, penyebar virus fitnah, mereka berbicara dengan syubuhat (kesamar-samaran) dan menipu manusia dengan syubhat-syubhat yang mereka sebarkan. Kita berlindung kepada Alloh dari fitnah orang-orang yang sesat ini.

Saya bersaksi bahwa tiada ilah (sesembahan) yang haq untuk disembah kecuali Alloh yang berfirman : ”Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), Karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain...” (QS al-Hujurat : 12), dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya, kesayangan dan kecintaan-Nya, dan sebaik-baik makluk-Nya, yang ditugaskan untuk menyampaikan risalah dan memenuhi amanah, menasehati ummat dan berjihad di jalan Alloh dengan sebenar-benarnya jihad. Semoga Alloh memberikan Sholawat (dan Salam) kepada beliau, kepada keluarga beliau dan kepada para sahabat beliau yang baik lagi suci, serta kepada siapa saja yang menauladani mereka dengan lebih baik dan meniti jejak mereka hingga datangnya hari kiamat, dan semoga kami bersama mereka dengan kemurahan-Mu wahai Dzat yang maha paling penyayang… Setelah itu :

Alloh Azza wa Jalla berfirman :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (an-Nahl : 125)

Al-Imam al-‘Allamah Ibnu Baz rahimahullahu berkata di dalam Ad-Da’watu ilallohi wa Akhlaaqud Du’aat menjelaskan ayat di atas :

فأوضح سبحانه الكيفية التي ينبغي أن يتصف بها الداعية ويسلكها، يبدأ أولا بالحكمة، والمراد بها: الأدلة المقنعة الواضحة الكاشفة للحق، والداحضة للباطل؛ ولهذا قال بعض المفسرين: المعنى: بالقرآن؛ لأنه الحكمة العظيمة؛ لأن فيه البيان والإيضاح للحق بأكمل وجه، وقال بعضهم: معناه: بالأدلة من الكتاب والسنة.

“Alloh Yang Maha Suci menjelaskan bagaimana cara/kaifiat yang sepatutnya bagi seorang da’i di dalam mengkarakteristiki cara dakwahnya dan menitinya, yaitu hendaklah dimulai pertama kali dengan hikmah, dan yang dimaksud dengan hikmah adalah dalil-dalil argumentasi yang tegas lagi terang yang dapat menyingkap kebenaran dan menolak kebatilan. Dengan demikian sebagian ulama ahli tafsir menafsirkan al-Hikmah dengan Al-Qur’an, dikarenakan Al-Qur’an merupakan hikmah yang paling agung, dan juga di dalam al-Qur’an terdapat penjelas dan penerang kebenaran dengan bentuk yang paling sempurna. Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa maknanya adalah dengan dalil-dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah.” [1]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda:

الدين النصيحة, قيل: لمن يا رسولله؟ قال: لله ولكتابه ولرسوله ولإئمة المسلمين وعامتهم

Agama itu nasehat”, beliau ditanya : “bagi siapa wahai Rasulullah?”, Rasulullah menjawab : “Bagi Alloh, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan masyarakat umum.” (HR Muslim dari Tamim ad-Dari).

Imam Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullahu berkata :

كيف ينجيني عملي وأنا بين حسنة وسيئة فسيئاتي لاحسنة فيها وحسناتي مخلوطة بالسيئات وأنت لا تقبل إلا الإخلاص من العمل فما بقي بعد هذا إلا جودك.

“Bagaimana mungkin aku diselamatkan oleh amal perbuatanku sedangkan aku berada di antara kebaikan dan kejelekan? Perbuatan jelekku tiada kebaikan padanya sedangkan perbuatan baikku tercemar oleh kejelekan dan Engkau (Ya Alloh) tidaklah menerima kecuali amal yang murni yang hanya dipersembahkan untuk-Mu. Tiada harapan setelah ini melainkan hanyalah kemurahan-Mu.” (Diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam asy-Syu’bah no. 824.)[2]

Akhir-akhir ini, mulai tampak fitnah yang membutakan dan kejahilan yang menyedihkan, yang mulai disebarkan oleh para pemuda yang lurus –insya Alloh-, yang terbakar oleh semangat dan ghirah keislaman untuk membela sunnah nabawiyah dan manhajus salaf, namun tanpa diimbangi oleh ilmu dan arahan yang terarah. Mereka sibukkan diri mereka dengan hal yang tidak seharusnya mereka berkecimpung di dalamnya, mereka masuk ke dalam perkara besar yang tidaklah seharusnya mereka masuk ke dalamnya, mereka lemparkan tuduhan-tuduhan, celaan-celaan, makian-makian, umpatan-umpatan, ghibah (gunjingan), namimah (adu domba) dan segala keburukan lainnya ke tengah-tengah umat. Bahkan mereka menempatkan diri mereka layaknya mufti atau ulama yang umat harus mendengar dan mematuhi mereka, mereka melayangkan tabdi’, tafsiq bahkan takfir secara serampangan, mereka permainkan ilmu jarh wa ta’dil hanya untuk memenuhi ambisi dan obsesi mereka, mereka terapkan hajr (boikot) dan muqotho’ah (isolir) ala hawa nafsu mereka, akhirnya mereka menjadi munaffirin, orang-orang yang menjauhkan umat dari dakwah mubarokah ini, mereka ciptakan fobia di tengan umat, dan mereka telah menjadi hizbiyah gaya baru dengan menyempitkan bahwa salafiyah hanyalah untuk mereka sendiri, tidak untuk selainnya. Wal’iyadzubillah.

Namun aneh dan ajaibnya, mereka merasa bahwa mereka adalah ahlul haq, satu-satunya pemilik manhaj yang selamat, mereka mengklaim bahwa manhaj mereka telah kebal sebagaimana jiwa mereka telah kebal dari nasehat. Selama nasehat tersebut tidak datang dari kalangan mereka maka ditolak, dan apabila datang dari mereka walaupun bathil maka diterima. Tidak lah keluar dari lisan ataupun tulisan mereka melainkan hanyalah kata-kata kotor, umpatan, makian, celaan, cercaan dan kejelekan-kejelekan lainnya. Sedangkan selain mereka apabila mencerca atas sikap mereka, maka mereka mulai bersembunyi mempertanyakan, “mana dakwah bijaksana itu?”… “Mana dakwah hikmah itu?”… Ya, mereka inilah orang yang gemar memukul orang lain namun tidak mau dipukul balik. Mereka senantiasa menyakiti saudara seiman namun tidak mau disakiti balik. Allohul Musta’an.

Tashnif (Menggelar-gelari atau mengkotak-kotakkan) manusia adalah ciri khas mereka, maka tidak heran apabila datang dari mereka istilah-istilah muhdats semisal : “Salafy Pramuka”, “Salafy Wisma Erni”, dan salafy-salafy lainnya. Tidak sampai di situ saja, penuntut ilmu pemula kalangan mereka yang masih jahil saja sudah berani mengatakan, “Fulan Sururiyah”, “Fulan Hizbiyah”, “Fulan kadza wa kadza.” Lebih dahsyat dari itu, juhala’ mereka sudah berani menjuluki para du’at sunnahroghmun unufihim- dengan sebutan “al-Kadzdzab”, “ad-Dajjal”, “al-kadza wa kadza”, dan sebutan-sebutan buruk lainnya semisal : “Ahmas mengais fulus”, “Abdul Hakim Abjat” (maksudnya ism tafdhil dari bejat –yang merupakan Bahasa Indonesia- dengan artinya paling bejat atau lebih bejat, na’udzubillah) dan ucapan-capan kotor lainnya yang tidaklah seharusnya seorang ahlus sunnah atau salafiy melakukannya.

Namun, fenomena ini telah biasa di kalangan mereka. Karena tanpa makian dan umpatan muharam (yang haram) semisal ini, kurang afdhal rasanya. Semisal makanan, apabila tidak ada bumbu dan garamnya, maka rasanya tidak enak. Maka oleh karena itulah sebagai “bumbu penyedap”, tajrih berbalut fitnah, dusta dan umpatan keji adalah seasoning (bumbu penyedap) wajib yang harus ada biar flaviour (rasa dan aroma)-nya semakin mantap. Aduhai, apabila Islam adalah sebagaimana Islam mereka yang seperti ini, betapa banyak umat yang akan lari darinya, kecuali mereka-mereka yang berperangai kasar dan buruk, semisal preman, pembegal, perampok dan penjagal saja yang mau bergabung dengan dakwah ala mereka ini.


Tanbih/Peringatan!!!

Risalah ini tidak ditujukan kepada du’at dan asatidzah yang istiqomah di jalan dakwah salafiyah, yang tetap mengkarakteristiki dakwahnya dengan ilmu dan amal shalih, dengan cara yang hikmah, liyn, rifq dan ta`anni. Yang menyibukkan diri dengan menyebarkan ilmu yang bermanfaat di tengah umat, berdakwah dan mengajak manusia kepada jalan al-Haq dan manhaj as-Salaf ash-Shalih ini. Yang bermujadalah (berdiskusi) dan munazhoroh (dialog) secara ilmiah dengan lawan atau orang yang berseberangan dengannya, yang hasrat dan keinginannya adalah memberikan nasehat agar lawannya menerima al-Haq dan ruju’ kepada kebenaran.

Adapun mereka yang menyibukkan diri dengan fitnah dan sibuk dengan mencari-cari kesalahan, sibuk dengan mencela, mengumpat, mencerca, menfitnah, berdusta dan perbuatan buruk lainnya, sedangkan mereka ini hakikatnya orang-orang yang masih jahil (juhala’) namun sok menjadi ulama ahli jarh wa ta’dil (baca : ahli jarh wa tanfir), menyebarkan syubuhat dan fobia ke tengah umat akan dakwah salafiyah ini, maka mereka inilah yang dimaksudkan dengan risalah ini, dan mereka adalah khubatsa’ (orang-orang busuk pemikiran dan pemahamannya), munaffirin (orang yang membuat umat lari dari kebenaran), hizbiyyun berpakaian dengan pakaian salafiyyah, Ghulat (orang-orang yang ghuluw) dan Haddadiyah jadidah.

Risalah ini adalah sebagai nasehat dan pertolongan semata, nasehat bagi diri sendiri, ummat dan mereka yang terpengaruh oleh manhaj yang rusak ini, dan pertolongan bagi saudara kita yang mazhlum (orang yang dianiaya) dan orang zhalim (menganiaya). Semoga Alloh subhanahu wa Ta’ala menjadikan risalah ini bermanfaat bagi islam dan muslimin, terutama saudara-saudara sesama ahlus sunnah yang tengah bertikai dan berselisih saat ini.

Risalah ini adalah sebagai peringatan, agar kita tidak terjatuh ke dalamnya, bukan untuk sarana mencela dan menghujat balik. Apabila ada kata-kata yang terkesan kasar di sini, maka ini merupakan peringatan umum bagi mereka-mereka yang merasa tertuju isi risalah ini padanya, agar mereka sadar dan kembali ke manhaj yang benar, dan menanggalkan serta melepaskan belenggu hizbiyyah dan manhaj haddadiyah yang membinasakan ini.

وأسأل الله عز وجل أن يوفق الجميع لما فيه تحصيل العلم النافع والعمل به والدعوة إليه على بصيرة، وأن يجمعهم على الحق والهدى، ويسلمهم من الفتن ما ظهر منها وما بطن، إنه ولي ذلك والقادر عليه، وصلى الله وسلم وبارك على عبده ورسوله نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.

Saya memohon pada Allah ‘Azza wa Jalla semoga memberikan Taufiq-Nya kepada (kita) seluruhnya untuk mendapatkan ilmu yang bermanfa’at dan beramal dengannya serta berda’wah kepadanya di atas hujjah yang nyata, dan semoga Ia mengumpulkan kita semuanya di atas kebenaran dan petunjuk dan menyelamatkan kita semuanya dari berbagai fitnah baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya Allah Maha penolong atas segala hal dan Dia Maha kuasa atasnya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam serta keberkahan kepada hamba-Nya dan Rasul-Nya Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga serta para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kemudian


KARAKTERISTIK NEO HADDADIYAH

Sebenarnya telah banyak para ulama yang memperingatkan akan bahaya dan kerusakan manhaj haddadiyah ini, terdepan di kalangan para ulama yang telah menjelaskan akan bahaya manhaj ini adalah :

1. Al-Imam al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullahu dalam ceramah beliau yang berjudul Haqiqotul Bida’ wal Kufri, dan masih banyak lagi ceramah-ceramah beliau lainnya.

2. Al-Imam al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdilllah bin Baz rahimahullahu di dalam kaset-kaset rekaman ceramah dan tanya jawab beliau yang tersebar, diantaranya yang berjudul Kibarul ‘Ulama Yatakallamuuna ‘anid Du’at dan Majmu’ Fatawa wa Maqoolat Mutanawwi’ah juz XXVIII

3. Al-Imam al-Faqih Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullahu di dalam Liqo’ Babil Maftuh no. 67, 98 dan selainnya.

4. Al-‘Allamah al-Muhaddits ‘Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullahu dalam risalah Rifoqn Ahlas Sunnah dan al-Hatstsu ‘ala ittiba`is Sunnah, dan selainnnya dari ceramah-ceramah beliau.

5. Al-‘Allamah DR. Prof. Rabi’ bin Hadi al-Madkholi hafizhahullahu dalam artikel beliau yang berjudul Mumayyizat al-Haddadiyah dan selainnya.

6. Al-‘Allamah DR. Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullahu dalam buku beliau Zhahiratut Takfir, at-Tabdi’ wat Tafsiq dan kumpulan ceramah beliau di dalam Silsilah Muhadhoroh fil Aqidah wad Da’wah.

7. Al-‘Allamah DR. Bakr Abu Zaid dalam buku beliau, Tashnifun Naas bayna azh-Zhonni wal Yaqin.

8. Masyaikh Yordania di dalam ceramah-ceramah mereka yang mereka sampaikan di dauroh-dauroh dan liqo’at mereka.

9. Syaikh Amru ‘Abdul Mun’im Salim dalam buku beliau yang bagus al-Ushul allati bana ‘alaihaa ghulaatu madzhabihim fit tabdi’.

10. dan ulama-ulama lainnya yang tidak terhitung yang semuanya mencela sikap ghuluw di dalam tabdi’ dan menvonis manusia.

Haddadiyah sendiri adalah sebuah penisbatan kepada Abu Muhammad al-Haddad, salah seorang mantan murid Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkholi yang memiliki penyimpangan-penyimpangan pemikiran yang berbahaya, yang berangkat dari sikap ghuluw-nya di dalam beragama, yang mencela semua pemahaman selain pemahamannya, bahkan termasuk pencelaan kepada para ulama semisal Imam Abu Hanifah, al-Hafizh Ibnu Hajar, Imam Nawawi dan selain mereka yang terjatuh kepada kesalahan.

Pemikiran ini hidup kembali dan bangkit menyusup ke barisan para pemuda mutamassikin pada awalnya, lalu berubah menjadi ghulat haddadiyah gaya baru yang dikenal akan karakter keras, bengis, mudah menvonis dan sangat arogan serta sombong. Berikut ini adalah diantara karakteristik mereka :

Bersambung ……

Dipublikasikan oleh ibnuramadan.wordpress.com

Disusun oleh Abu Salma al-Atsari

© Copyright bagi ummat Islam. Silakan menyebarkan risalah ini dalam bentuk apa saja selama menyebutkan sumber, tidak merubah content dan makna serta tidak untuk tujuan komersial.

Artikel ini didownload dari Markaz Download Abu Salma (http://dear.to/abusalma]


[1] Lihat : Ad-Da’watu ilalloh wa Akhlaq ad-Du’aat oleh Imam Ibnu Baz rahimahullahu, download dari Maktabah Sahab as-Salafiyah : www.sahab.org.

[2] Dinukil melalui perantaraan Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar, karya Fadhilatus Syaikh ‘Abdul Malik Ramadhani al-Jaza`iri, Maktabah al-Furqon, cet. VI, 1422/2001, hal. 41. Lihat pula terjemahannya yang berjudul “6 Pilar Utama Dakwah Salafiyah” oleh Fadilatul Ustadz Abu Abdillah Mubarok Bamu’allim, Lc., Pustaka Imam Syafi’I, Cet. I, Muharam 1425/Maret 2004, hal. 88.

 
Leave a comment

Posted by pada Desember 27, 2008 in HADDADIYAH

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 91 pengikut lainnya.