RSS

Arsip Kategori: SALAFIYAH

KEWAJIBAN MENGIKUTI PEMAHAMAN SALAFUSH SHALIH

Oleh Ustadz Muslim Al Atsari

Salaf, artinya adalah orang-orang terdahulu. Adapun yang dimaksud dengan Salafush Shalih, dalam istilah ulama adalah orang-orang terdahulu yang shalih, dari generasi sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dari generasi tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para ulama Ahlus Sunnah Wal Jama’ah setelah mereka.

Salafush Shalih adalah generasi terbaik umat Islam. Oleh karenanya, merupakan kewajiban bagi kita untuk mengikuti pemahaman mereka dalam beragama. Sehingga berbagai macam bid’ah, perpecahan dan kesesatan dapat dijauhi. Karena adanya berbagai macam bid’ah, perpecahan, dan kesesatan tersebut, berawal dari menyelisihi pemahaman Salafush Shalih. Menjadi keniscayaan, jika seluruh umat Islam, dari yayasan atau organisasi atau lembaga apapun, wajib mengikuti pemahaman Salafush Shalih dalam beragama.

Banyak dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah yang menunjukkan kewajiban mengikuti pemahaman Salafush Shalih. Para ulama telah banyak menulis masalah besar ini di dalam karya-karya mereka.

Imam Ibnul Qoyyim di dalam kitab I’lamul Muwaqqi’in, menyebutkan 46 dalil tentang kewajiban mengikuti sahabat [1]. Syaikh Salim Al Hilali menulis kitab yang sangat bernilai tentang kewajiban mengikuti manhaj Salaf ini di dalam kitab beliau yang berjudul Limadza Ikhtartu Manhaj As Salafi?, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Iindonesia.

Sekedar untuk memudahkan pemahaman bagi saudara-saudara seiman, secara ringkas kami ingin menyampaikan sebagian dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban mengikuti sahabat dalam beragama.
Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 31, 2011 in SALAFIYAH

 

MENGIKUTI MANHAJ SALAF DALAM SEMUA HAL

Oleh Ustadz Abu Nida` Chomsaha Shofwan

Dalam memahami Islam, dalam bentuk apapun, baik masalah ibadah, syari’ah, mu’amalah; terutama masalah aqidah, harus mengikuti sebagaimana ulama-ulama Salaf memahaminya. Sebagai contoh dalam memahami al Qur`an dan al Hadits, kita tidak boleh lepas dari pemahaman ulama-ulama Salaf. Mengapa harus mengikuti para salaf?

Karena para sahabat, tabi’in, tabi’ut-tabi’in, mereka adalah yang paling memahami tentang Islam seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Begitu pula kita harus mengikuti imam-imam Ahlus Sunnah, karena mereka sangat memahami tentang Islam. Apa yang difatwakan mereka adalah untuk kebaikan bagi kaum Muslimin. Memang, para imam-imam tersebut tidak ma’shum, tetapi, mereka itu adalah mujtahid. Sedangkan ciri Ahlus Sunnah, di antaranya ialah mengikuti para ulama dalam memahami dalil, terutama masalah fitnah yang dimunculkan oleh firqah-firqah. Sebagai contoh, yaitu Khawarij dan Syi’ah.

Khawarij, mereka salah dalam memahami ayat :

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-oang yang kafir. [al Maidah/5 : 44].

Kelompok Khawarij tidak rela terhadap apa yang dilakukan oleh Khalifah Ali Radhiyallahu ‘anhu kepada Mu’awiyah Radhiyallahu ‘anhu, dan akhirnya mereka mengkafirkan Ali Radhiyallahu ‘anhu. Setelah itu, muncullah kelompok yang mengatasnamakan pendukung Ali Radhiyallahu ‘anhu yang dipimpin oleh ‘Abdullah bin Saba`, seorang Yahudi yang kemudian menyatakan masuk Islam, dan pada akhirnya nanti sebagai bibit pertama munculnya Syi’ah. Tokoh ini sangat berlebihan dalam mencintai Ali Radhiyallahu ‘anhu. Dia menyatakan, bahwa berdasarkan wasiat dari Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, katanya, Ali Radhiyallahu ‘anhu lebih berhak menjadi khalifah. Bahkan Syi’ah sampai mengangkat Ali sebagai ilah (sesembahan). Kedua firqah ini muncul pada zaman Khalifah Ali Radhiyallahu ‘anhu.

Firqah lain yang juga muncul, yaitu Qadariyah dan Murjiah. Firqah Qadariyah sendiri telah ada sejak zaman Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 30, 2011 in SALAFIYAH

 

Studi Kritis Atas Buku Sesat “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi”

Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi

Telah sampai kepada kami beberapa usulan pembaca agar kami mengkritik sebuah buku yang beredar akhir-akhir ini yang dipublikasikan secara gencar dan mendapatkan sanjungan serta kata pengantar dari para tokoh. Oleh karenanya, untuk menunaikan kewajiban kami dalam menasihati umat, kami ingin memberikan studi kritis terhadap buku ini, sekalipun secara global saja sebab tidak mungkin kita mengomentari seluruh isi buku rang penuh dengan syubhat tersebut dalam majalah kita yang terbatas ini. Semoga Alloh menampakkan kebenaran bagi kita dan melapangkan hati kita untuk menerimanya.

JUDUL BUKU DAN PENULISNYA

Judul buku ini adalah Sejarah Berdarah Sekfe Salafi Wahabi, ditulis oleh Syaikh Idahram, penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta, cetakan pertama, 2011. Buku ini mendapatkan rekomendasi tiga tokoh agama yang populer namanva yaitu KH. Dr. Said Agil Siraj, KH. Dr. Ma’ruf Amin, dan Muhammad Arifin Ilham.

AQIDAH WAHABI ADALAH TAJSIM?

Pada hlm. 234 penulis mengatakan:

Akidah Salafi Wahabi adalah aqidah Tajsim dan tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk) yang sama persis dengan akidah orang-orang Yahudi. Dalil-dalil mereka begitu rapuhnya, hanya mengandalkan hadits-hadits ahad dalam hal akidah.

Jawaban:

Ini adalah tuduhan dusta, sebab aqidah mereka dalam asrna’ wa shifat sangat jelas mengimani nama dan sifat Alloh yang telah disebutkan al-Qur’an dan hadits yang shohih tanpa tahrif (pengubahan), ta’thil (pengingkaran), takyif (menanyakan hal/kaifiat), maupun tamtsil (penyerupaan).[1] Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah firman Alloh:

“Tidak ada yang serupa dengan Dia. Dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.” (QS. asy-Syuro [42]: 11)

Inilah aqidah ulama-ulama salaf, di antaranya al-Imam asy-Syafi’i, beliau pernah berkata:

“Kita menetapkan sifat-sifat ini yang disebutkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah dan kita juga meniadakan penyerupaan sebagaimana Alloh meniadakan penyerupaun tersebut dari diri Nya dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.’ (QS. Asy-Syuro [42 : 11).[2]

Namun, jangan merasa aneh dengan tuduhan ini, karena demikianlah perilaku ahli ahwa’ semenjak dulu. Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr berkata, “Seluruh Ahlus Sunnah telah bersepakat untuk menetapkan sifat-sifat yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah serta mengartikannya secara zhohirnya. Akan tetapi, mereka tidak rnenggambarkan bagaimananya/bentuknya sifat¬sifat tersebut. Adapun Jahmiyyah, Mu’tazilah, dan Khowarij mengingkari sifat-sifat Alloh dan tidak mengartikannya secara zhohirnya. Lucunya, mereka menyangka bahwa orang yang menetapkannya termasuk Musyabbih (kaum yang menyerupakan Alloh dengan makhluk).”[3]

Semoga Alloh merahmati al-Imam Abu Hatim ar-Rozi yang telah mengatakan, “Tanda ahli bid’ah adalah mencela ahli atsar. Dan tanda Jahmiyyah adalah menggelari Ahli Sunnah dengan Musyabbihah.”[4]

lshaq bin Rohawaih mengatakan, “Tanda Jahm dan pengikutnya adalah menuduh Ahli Sunnah dengan penuh kebohongan dengan gelar Musyabbihah padahal merekalah sebenarnya Mu’aththilah (menidakan/mengingkari sifat bagi Alloh).”[5]
Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 27, 2011 in SALAFIYAH

 

Demokrasi Antara Salafi dengan Takfiri

Oleh Ustadz Aris Munandar

قال : يرى التكفيريون أن الديمقراطية كفر وردة , وخروج عن الملة !!

Syaikh Ali al Halabi mengatakan, “Takfiri berkeyakinan bahwa demokrasi [baca: voting] adalah kekafiran dan kemurtadan serta keluar dari Islam tanpa memberi rincian.

بينما يرى السلفيون التوضيح والبيان والتفصيل :

Sedangkan salafi berkeyakinan bahwa status hukum hukum untuk demokrasi itu perlu mendapatkan penjelasan dan rincian.

فإذا كان مقصود الديمقراطية : ترتيب شؤون الناس الإدارية , والمعيشية والخدماتية –وما إلى ذلك- بما لا يخالف الشرع –أو يتعارض معه- ؛ فهذا من المباحات التي لا حرج فيها .

Jika dimaksud dengan demokrasi [baca: voting] adalah voting untuk membuat berbagai kebijakan yang tidak menyelisihi dan tidak bertentangan dengan aturan syariat yang menjadi sebab teraturnya berbagai urusan dan penghidupan serta pelayanan kepada masyarakat dan seterusnya hukumnya mubah alias tidak ada masalah.

وإذا كان المقصود من الديمقراطية : تنزيل أحكام الدين (القطعية) على مائدة التصويت –قبولا أو ردا- ؛ فلا شك أن هذا من المحادة لله ورسوله

Sedangkan jika dimaksud dengan demokrasi [baca: voting] adalah menentukan diterima atau tidaknya hukum-hukum agama yang sudah pasti dengan jumlah suara yang setuju ataukah tidak maka tidaklah diragukan bahwa sikap ini adalah sikap menentang Allah dan rasul-Nya.

مع التفريق بين ترك الحكم الشرعي –معصية ومخالفه- وتركه –إعتقادا أو جحودا أو استهزاء , أو … –بحسب أنواع الكفر

Namun patut dibedakan antara meninggalkan hukum syariat yang berstatus maksiat dan penyimpangan dengan meninggalkan hukum syariat karena keyakinan, penolakan atau merendahkannya dll sebagaimana macam-macam kekafiran besar.

بينما يطلق غير السلفييين -من أولئك الأدعياء- على الديمقراطية أنها (كفر أكبر)-جملة-!!!

Adapun takfiri yang mengaku-aku salafi secara general memberi vonis bahwa demokrasi [baca: voting] adalah kekafiran besar” [As Salafiyyah Dakwah Imanin Amnin wa Amanin hal 109-110].

Sumber:

http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?p=125296#post125296

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada September 8, 2011 in SALAFIYAH

 

Beda Salafi dengan Takfiri

Oleh Ustadz Aris Munandar

Mengingat kemunculan Khawarij itu bersifat terus menerus hingga kemunculan Dajjal dan hakikat senyatanya dari diri mereka di berbagai masa dan daerah tidaklah diketahui oleh sebagian kaum muslimin sehingga sebagian orang Islam beranggapan bahwa Khawarij itu berada di atas kebenaran. Sebagaimana sebagian orang yang hidup di masa salaf tidak mengetahui hakikat mereka yang senyatanya. Karena itu suatu hal yang vital adalah upaya membedakan antara mereka para Khawarij dengan para pengikut Salaf Shalih. Terlebih lagi opini yang dibuat media massa yang memiliki berbagai pandangan, tendensi dan pengetahuan sangat mempengaruhi banyak orang. Kita saksikan bahwa media tidak bisa membedakan antara salafi dengan takfiri [baca: khariji] yang ini tentu saja sangat merusak citra dakwah salafiyyah. Akibatnya takfiri khariji yang menyimpang dari dakwah salafiyyah dinilai sebagai salafi. Pemikiran dan tindakan takfiri khariji pun dinilai sebagai bagian dari dakwah salafiyyah. Kondisi ini menuntut kita untuk menegaskan perbedaan antara dakwah salafiyyah dengan dakwah yang diusung oleh Khawarij yang main vonis kafir seenaknya.

Pertama, ulama kontemporer yang dijadikan sebagai rujukan. Terdapat perbedaan yang nyata antara salafi dengan takfiri dalam masalah ini. Rujukan salafi dalam memahami al Qur’an dan sunnah Nabi di samping berbagai riwayat dari ulama salaf dan pemahaman ulama terdahulu adalah penjelasan para ulama besar di zaman ini semisal Ibnu Baz, Al Albani, Ibnu Utsaimin, Lajnah Daimah KSA, Syaikh Abdul Muhsin al Abbad dan para ulama lain yang meniti jejak para ulama tersebut.

Sedangkan takfiri tokoh kontemporer yang mereka jadikan sebagai rujukan adalah Sayyid Qutb, Muhammad Qutb, Abu Muhammad al Maqdisi, Abu Qatadah al Falistini, Abu Bashir ath Thurthusi dan orang-orang yang sejalan dan satu pemikiran dengan mereka-mereka.
Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada September 7, 2011 in SALAFIYAH, TAKFIR

 

Partai Politik Menurut Salafi

Oleh Ustadz Aris Munandar

Seorang yang dengan penuh kesungguhan mengumpulkan dan mengkaji perkataan para ulama besar salafi mengenai membentuk partai politik akan mengetahui bahwa mereka tidaklah melarang pembentukan partai politik secara mutlak. Akan tetapi fatwa yang diberikan oleh para ulama salafi mengenai masalah ini berbeda-beda tergantung negeri dan perbedaan kondisi penduduknya. Uraian lebih detailnya adalah sebagai berikut:

Pertama, para ulama salafi membolehkan kaum muslimin yang tinggal di negara kafir untuk membentuk partai politik dalam kerangka tolong menolong dalam kebaikan dan takwa sebagaimana fatwa Lajnah Daimah yang membolehkan pembentukan partai politik ketika Lajnah Daimah memberikan jawaban untuk pertanyaan yang terdapat dalam fatwa Lajnah Daimah no 5651 23/407-408 yang ditandatangani oleh Syaikh Abdullah bin Qaud, Syaikh Abdullah bin Ghadayan, Syaikh Abdurrazzaq Afifi, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Fatwa beliau-beliau itu terkait teks pertanyaan berikut ini:

“سؤال : هل يجوز إقامة أحزاب إسلامية في دولة علمانية وتكون الأحزاب رسمية ضمن القانون، ولكن غايتها غير ذلك، وعملها الدعوي سري؟

Pertanyaan, “Apakah diperbolehkan membentuk partai Islam di sebuah negara yang murni sekuler dan partai tersebut legal sebagaimana UU kepartaian yang ada? Akan tetapi tujuan dibentuknya partai tidaklah semata-mata partai. Tujuan dakwah dari partai ini disembunyikan”.

الجواب : يشرع للمسلمين المبتلين بالإقامة في دولة كافرة أن يتجمعوا ويترابطوا ويتعاونوا فيما بينهم سواء كان ذلك باسم أحزاب إسلامية أو جمعيات إسلامية؛ لما في ذلك من التعاون على البر والتقوى”.

Jawaban Lajnah Daimah, “Dibenarkan bagi kaum muslimin yang tinggal di negara kafir untuk berkumpul, menjalin hubungan dan tolong-menolong di antara sesama mereka baik dengan nama partai politik Islam ataupun ormas Islam. Dikarenakan hal tersebut adalah bagian dari tolong menolong dalam kebaikan dan takwa”.

Sekali lagi kami tegaskan bahwa hendaknya keberadaan partai tersebut adalah bagian dari tolong menolong dalam kebaikan dan takwa.
Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada September 7, 2011 in SALAFIYAH

 

Al-Qoul Al-Adli Al-Amin fi Mubahatsati As-Syaikh Robi Fi Jalsatihi Ma’a Al-Filasthiniyyin

(Perkataan yang adil dan terpercaya tentang diskusi Syaikh Robi dengan orang-orang Falestina di majlisnya ).

Penulis : Ali Hasan Al-Halabi

.. (Aku Tidak akan memusihimu sebagaimana orang lain memusuhimu, antara diriku dan dirimu adalah ilmu) ..
Ini adalah kata – kata terakhir yang saya ucapkan kepada Syaikh Rabi Bin Hadi – semoga Allah melindunginya – sebelum saya mengucapkan kata salam dan perpisahan – di waktu terakhir saya bertemu dengannya di rumahnya di Mekah, di pertengahan bulan Ramadan tahun (1429), dan hal ini adalah sesuatu yang saya sangat menjaganya sampai saat ini – dan saya meminta kepada Alloh untuk membantu saya dalam hal ini.

Saya telah menyebutkan di artikel sebelumnya « Berlemah lembutlah kepada Syaikh Robi – semoga Allah memberkati Anda ! -» apa yang wajib bagi kita – sebagai salafi – terhadap Syaikh Rabi – semoga Allah melindunginya -, dan yang wajib bagi kita adalah berlemah lembut dan bersikap halus kepadanya walaupun hal itu dalam membantah perkataannya yang kita anggap salah – semoga Allah memberkatinya – karena dia adalah manusia « Membantah dan dibantah ».

Mungkin ini adalah yang pertama kali saya akan menjelaskan di dalamnya – dengan penuh rasa hormat dan penghargaan – dalam menyanggahnya dan menjelaskan kebenaran beserta dalil dan bukti – yang secara jelas mengungkapkan – sebagian dari apa yang dikatakan oleh beliau kepada saya atau koreksiannya kepada saya dan hal itu berdasarkan dari apa yang disebutkan dalam ( Majlis Mahasiswa Falestina ), dan saya berusaha dengan sepenuh kekuatan untuk menjaga pena saya dengan adab ilmu, dan kekuatan argumen – secara bersamaan -.

Dan ini semua – bagi setiap orang yang arif – adalah hak yang syari’ yang kuat. Dan barangsiapa yang menyangka bahwa kekuatan argumen dan kebenaran bertentangan dengan adab ilmu atau penghormatan terhadap ulama maka hendaklah dia menangisi dirinya sendiri, seperti orang yang sesat dan jelek yang mensifatiku dengan zindik hanya karena aku menulis artikel yang telah lalu ( Berlemah lembutlah kepada Syaikh Robi ! ).

Dan saya mengira bahwa syaikh – Semoga Alloh memberikannya taufiq – akan bergembira dengan diskusi yang penuh kecintaan ini, karena hal ini akan membuahkan bagi syaikh – insya Alloh – pembetulan pemahaman yang keliru dan pembetulan kenyataan-kenyataan dan ilmu.

… Dan Allah – Yang Maha Kuasa – berfirman : ( Dan di atas yang mengetahui ada Dzat Yang Maha Mengetahui ) …
Dan aku akan membahas ucapan – ucapan syaikh – semoga Allah melindunginya – dan perkataannya yang membicarakanku, kata demi kata dalam majlis tersebut, dan saya akan menyebutkan kebenaran yang sesuai dengan kenyataan, baik kebenaran itu bagi saya atau bagi syaikh, dan Allah adalah Penolong orang – orang yang benar.
Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Mei 24, 2011 in SALAFIYAH

 

ULAMA–ULAMA PEMBELA DA’WAH SALAFIYAH DAHULU HINGGA SEKARANG

Oleh : Syeikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Al Atsari

Sesungguhnya segala puji milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kami memohon pertolongan, ampunan, dan perlindungan kepada Allah Azza wa Jalla dari keburukan–keburukan diri kami dan kejelekan – kejelekan amal perbuatan kami. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tidak ada seorangpun yang bisa menyesatkannya dan barang siapa disesatkan oleh Allah, maka tidak ada seorangpun yang bisa memberi petunjuk kepadanya Subhanahu wa Ta’ala.

Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad hamba dan utusan-Nya.

Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah kalamullah; sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seburuk–buruk perkara adalah perkara-perkara baru (tidak ada dasarnya di dalam agama). Setiap perkara baru adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.
Amma ba’du :

Sesungguhnya keistimewaan terbesar yang dimiliki da’wah salafiyah yang penuh berkah ini adalah tegaknya da’wah tersebut di atas sunnah yang shahih. Dakwah ini tidak bersandar kepada hadits–hadits lemah dan palsu. Pada keadaan seperti itu, para penutut ilmu syar’i juga telah mengetahui secara jelas tentang pengertian hadits shahih dan syaratnya. Termasuk syaratnya terbesar adalah bersambungnya sanad dengan para perawi yang terpercaya. Ada juga syarat–syarat lain, yang sekarang kami tidak membicarakannya dan menyebutkannya. Karena termasuk syarat hadits shahih adalah bersambungnya sanad dengan para perawi yang terpercaya, maka syarat orang yang menisbatkan dirinya ke dalam da’wah salafiyah, dakwah yang berdiri tegak di atas hadits yang shahih, harus memiliki silsilah da’wah itu sendiri. Artinya dia harus mengambil manhajnya dari para masyayikh dan ulamanya yang terpercaya. Para masyayikhnya juga, adalah para ulama yang mengambil manhajnya dari para masyayikhnya. Dan begitu seterusnya. Orang yang datang kemudian mengambil dari orang yang sebelumnya. Seorang murid mengambil dari syaikhnya, anak mengambil dari ayah, cucu mengambil dari kakek, dengan sanad yang bersambung dengan orang-orang yang terpercaya dari kalangan para ulama besar dan tinggi. Meskipun bukan termasuk syarat majlis kita ini, membahas secara panjang lebar masalah ini hingga keluar dari topik pembicaraan majlis.

Hanya saja, di sini saya akan menyebutkan suatu hal yang penting, berkaitan dengan sekelompok orang yang masuk dari sana–sini, mengaku–aku bermanhaj salaf dan mengaku–aku menjalankan sunnah. Tetapi bila kamu periksa, perhatikan, dan teliti, kamu tidak mendapatkan silsilah yang shahih dari ahlul ilmi, yang dari mereka diambil masalah–masalah manhaj dan perkara–perkara aqidahnya. Di samping sanad mereka munqathi’ (terputus), bahkan mu’dhal ( terputus dua orang atau lebih secara berturut-turut), bahkan kadang–kadang mu’allaq mukhalkhal (terputus dari awal sanad seorang atau lebih).

Mengetahui masalah ini saja, sudah cukup untuk merobohkan pengakuan–pengakuan mereka, sudah cukup untuk menolak perbuatan mereka, serta menghancurkan persangkaan–persangkaan dan pemikiran–pemikiran mereka. Kita tidak perlu lagi banyak berdebat dan bicara. Saya berharap kepada saudara–saudaraku supaya memperhatikan masalah ini, merenungkan dengan seksama, dan memahami dengan sebaik–baiknya.

Memang da’wah kita berdiri di atas silsilah (mata-rantai) para ulama yang terpercaya, ulama yang datang kemudian mengambil dari ulama yang sebelumnya, dan ulama muta’akhir (belakang) mengambil dari ulama mutaqaddim (dahulu). Ini adalah bukti kebenaran sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits yang dishahihkan oleh Imam besar Ahmad bin Hambal dan lain-lainnya bahwa nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يَنْفَوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِّيْنَ وَ انْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وَ تِأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ

“Ilmu ini akan dibawa oleh orang – orang yang adil dari setiap generasi, mereka itu meniadakan perobahan orang-orang yang melampui batas, kedustaan orang – orang yang berbuat kebatilan, dan penta’wilan orang – orang bodoh”.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَِ ; يَحْمِلُ adalah fi’il mudhari’ (kata kerja yang menunjukkan waktu sedang dan akan), memberikan faidah terus–menerus dan berkesinambungan. Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : من كل خلف artinya من كل جيل ( dari setiap generasi ). Sifat keseluruhan ini sesuai dengan maknanya secara sempurna. Maka, baik di zaman ini atau sebelumnya, pada setiap generasi umat ini, sejak dahulu dan sesudahnya, tidak pernah kosong dari orang yang menegakkan hujjah untuk Allah, orang yang menolong Allah k dengan bayyinah (keterangan), meninggikan tauhid dengan burhan (bukti). Maka tegaklah prinsip ini di atas pondasinya, tegak di atas hujjahnya, dan dikuatkan oleh sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

لَا يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ وَ لَا مَن خَذَلَهُمْ اِلَى أَنْ تَقُوْمُ السّاََعَةُ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ

“Senantiasa ada segolongan dari umatku yang menegakkan kebenaran tidak mebahayakan mereka orang – orang yang menyelisihinya dan tidak pula orang –orang yang menghinakannya sampai terjadi kiyamat dan mereka tetap dalam keadaan demikian”.

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : لَا يَزَالُ ( Senantiasa ) juga memberi faidah terus – menerus. Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اِلَى أَنْ تَقُوْمُ السّاََعَةُ

(sampai terjadi kiyamat ) menguatkan kepada faidah tersebut.

Di sini ada catatan, bahwa kata tha’ifah kadang – kadang diucapkan dengan makna jama’ah (sekelompok orang) dan kadang – kadang diucapkan dengan makna satu orang. Maka jumlah paling sedikit untuk tegaknya kebenaran yang agung, yaitu kebenaran yang dida’wahkan oleh ulama – ulama kita dan ditegakkan oleh pembesar – pembesar kita di dalam da’wahnya, adalah tidak kosongnya zaman dari satu orang ulama yang meninggikan kalimah Allah dan menegakkan kebenaran.

Wahai saudara – saudaraku fillah….
Sebagaimana dikatakan, ini adalah mukadimah yang harus ada, agar persoalannya dapat tercakup. Yang demikian itu seperti jalan yang sudah diratakan untuk kita masuki dengan suatu hal sedikit demi sedikit, berupa sebutan baik dan agung untuk ulama –ulama besar kita pada zaman dahulu hingga sekarang.

Andaikata kita mau menyebutkan secara tuntas, kita pasti memerlukan majlis yang panjang, bahkan beberapa majlis, bahkan berhari – hari, berbulan – bulan, dan bertahun – tahun. Tetapi, mukaddimah di atas adalah petikan yang kami harapkan bisa memberikan penerangan. Walaupun saya tidak bisa mengatakan sudah cukup dan tidak pula mengatakan sudah terpenuhi. Hal itu agar dapat menerangi pikiran, sehingga kita terpacu membahas dan memperhatikan riwayat hidup para ulama yang akan kita pilih sebagiannya untuk dibicarakan. Sebab kalau tidak demikian, bila kita menghendaki untuk menyebutkan secara keseluruhan, pasti hal itu akan menjadi luas tidak terbatas dan menjadi banyak tidak terhitung. Tetapi kita akan membicarakankan dalam waktu yang pendek ini beberapa petikan singkat yang berkaitan dengan ulama – ulama da’wah salafiyah semenjak dahulu hingga sekarang atau beberapa ulamanya yang memiliki posisi dan pengaruh di dalam da’wah yang penuh berkah ini.

Kita tidak ingin memulai dari kalangan sahabat, karena mereka pondasi pertama dalam da’wah tersebut. Tetapi kami ingin memulai dengan ulama yang mengalami pertentangan pada masanya, dan kebenaran tidak diketahui kecuali dengan lawannya sebagaimana yang dikatakan oleh pensyair:

الضِّدُ يُظْهِرُ حُسْنَهُ ضِدُّهُ – وَبِضِدِّهَا تَتَمَيّزُ الْأَشْيَاءُ
Sesuatu itu dinampakkan kebaikannya oleh lawannya
Dengan lawan sesuatu akan menjadi jelas
Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada April 14, 2011 in SALAFIYAH

 

MELURUSKAN PEMAHAMAN TENTANG AHLUSSUNAH WAL JAMA’AH DAN AL-SALAFIYAH

Oleh : Al-Ustadz al-Fadhil Abu Nida Chomsaha Shofwan, Lc

 

Ahlussunnah maupun Salafiya biasa digunakan oleh ulama ahlul hadits untuk menyebut orang-orang yang diselamatkan Allah dari Neraka. Karena itu disebut juga al-Firqotun Najiyah “Kelompok yang Selamat”. Nama-nama itu memang berbeda dan secara bahasa mempunyai arti yang tidak sama.

 

Yang jelas setiap istilah mempunyai dalil, dan hakikatnya adalah satu yaitu :

“Orang yang mengikuti kami dan sahabat kami.”

 

Terkenal ungkapan yang mereka usung: kembali kepada al-Qur’an dan al-Hadits/al-Sunnah sesuai pemahaman para Sahabat/generasi Salaf. Mengapa tidak cukup berdasarkan al-Quran dan al-Hadits saja ? Karena bila tidak berdasarkan pemahaman sahabat bisa terjadi kesalahan dalam memahaminya. Al-Quran dan al-Hadits memang sebagai dasar pijakan umat islam. Lantas apakah setiap orang boleh memahami sekehendaknya ? Kalau ini terjadi tentu setiap orang akan mempunyai pemahaman masing-masing, sebanyak kepala orang.

  Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Juni 6, 2009 in SALAFIYAH

 

MENGAPA RAGU MENGIKUTI MANHAJ SALAF ?

Oleh Al-Ustadz Abdullah Taslim, Lc

Manhaj salaf adalah satu-satunya manhaj (metode pemahaman) yang diakui kebenarnnya oleh Allah dan Rasul-Nya. Manhaj ini mengajarkan pemahaman dan pengamalan Islam secara lengkap dan menyeluruh, dengan tetap menitikberatkan pada masalah tauhid dan pokok-pokok keimanan.

Berpegang pada manhaj salaf dengan perintah Alah dan Rasul-Nya. Allah berfirman, ”Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) dari (kalangan) orang-orang muhajirin dan anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)

Dalam ayat lain, Allah memuji keimanan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam firman-Nya,

” dan jika mereka beriman seperti kemimanan kalian, maka sungguh mereka telah mendapatkan petunjuk (ke jalan yang benar) dan jika mereka berpaling, Sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu)….” (al-Baqarah: 137).

Dalam hadits sahih tentang perpecahan umat menjadi 73 golongn, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda: ”Semua golongan tersebut akan masuk neraka, kecuali satu golongan, yaitu Al Jama’ah”. Dalam riwayat lain: ”Mereka (yang selamat) adalah orang-orang yang mengikuti petunjukku  dan petunjuk pada sahabatku”. [1]

 Dari itu, mengikuti manhaj salaf adalah satu-satunya cara untuk meraih keselamatan di dunia dan akhirat. Hanya dengan mengikuti manhaj inilah bisa diraih semua keutamaan dan kebaikan yang Allah janjikan dalam agamaNya. Hal ini seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

”Sebaik-baik umatku adalah generasi yang aku diutus di masa mereka (para sahabat), kemudia generasi yang datang setelah mereka, kemudian generasi yang datang setelah mereka”. [2]

  Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Mei 7, 2009 in SALAFIYAH

 

PANDANGAN MUI JAKARTA UTARA TENTANG SALAF/SALAFI

mui

File pdf klik disini: fatwa-mui1

scan0001

scan0002

scan0003

scan0004

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada April 21, 2009 in SALAFIYAH

 

ISTILAH SALAFIYAH, BID’AH?

Oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat) adalah satu dari tujuh puluh tiga firqah (golongan) umat Islam, [1] sebagaimana telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam di dalam sabdanya:

Demi(Allah) yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, satu golongan masuk surga dan tujuh puluh dua golongan masuk neraka.

Beliau ditanya: Wahai Rasulullah, siapakah mereka (satu golongan itu)?

Beliau menjawab: Al-Jama`ah. [2]

Dalam riwayat yang lain:

Para sahabat bertanya: Siapakah (satu golongan yang selamat) itu wahai Rasulullah?

Beliau menjawab: Ia adalah siapa yang mengikuti jalanku dan para sahabatku. (Hadits Hasan, riwayat at-Tirmidzi dari `Abdullah bin `Amr bin `Ash)

Selain nama Firqah an-Najiyah, golongan ini juga mempunyai nama-nama yang lain, diantaranya: [3] Ahlus Sunnah, Al-Jama`ah, Ahlus Sunnah wal Jama`ah, Ahlul Atsar, Ahlul Ittiba`, Ahlul Hadits, Ahlur Rahman, Thaifah al-Manshurah, Salafiyah.

Tetapi ada sebagian orang yang menanggapi bahwa penamaan Salafiyah (dan/ atau nama-nama yang lain) adalah bid`ah, dan bahwa cukuplah menggunakan nama Islam, Muslim atau Muslimin sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta`ala:

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian Muslimin dari dulu dan (begitu pula) dalam (al-Qur`an) ini. (Al-Hajj:78)

Benarkah demikian?

Disini kami nukilkan tulisan Syaikh Salim bin `Ied al-Hilali hafizhahullah dalam masalah ini:

SYUBHAT DAN KOREKSINYA

1. Apakah penamaan Salafiyah adalah bid`ah? Sebagian orang mengatakan: Sesungguhnya penamaan Salafiyah adalah bid`ah, karena di zaman Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam para sahabaat tidak menggunakan nama itu.

Jawab:

Kata/Istilah Salafiyah tidak digunakan di zaman Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya, karena memang tidak ada kebutuhan di saat itu. Kaum muslimin yang pertama kali, berada di atas Islam yang shahih (benar), sehingga tidak ada kebutuhan terhadap kata/istilah Salafiyah, karena memang mereka berada di atasnya (salafiyah) secara tabi`at dan fithrah (naluri). Sebagaimana mereka berbicara bahasa Arab yang fasih tanpa kekeliruan dan kesalahan. Tidaklah ada ilmu nahwu, sharaf, dan balaghah sampai kesalahan dalam berbicara muncul. Kemudian muncullah ilmu ini yang memperbaiki kebengkokan/kesalahan lisan. Demikian pula tatkala keanehan dan penyimpangan dari Jama`atul Muslimin muncul, mulailah muncul kata/istilah salafiyah pada kenyataan. Walaupun Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam telah mengingatkan atas maknanya di dalam hadits iftiraq (perpecahan umat) dengan sabda beliau: Siapa yang mengikuti jalanku dan para sahabatku pada hari ini.

Tatkala banyak firqah-firqah (golongan-golongan) bermunculan, dan semuanya mengaku berjalan berdasarkan al-Kitab dan as-Sunnah, maka para ulama ummat bangkit umtuk membedakannya dengan gamblang, mereka mengatakan: Ahlul Hadits dan Salaf.

Oleh karena itulah salafiyah terbedakan dari seluruh golongan-golongan (ummat) Islam yang lain dengan penisbatannya kepada perkara yang menjamin mereka untuk berjalan berdasarkan Islam yang shahih, yaitu: berpegang teguh dengan apa-apa yang dijalani oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, mereka itulah para generasi yang mendapatkan persaksian kebaikan (dari Allah dan Rasul-Nya-pen)

Dikatakan: Kenapa kita menisbatkan diri kita kepada Salaf, padahal Allah berfirman:

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian Muslimin dari dulu. (Al-Hajj: 78)

Kami (Syaikh Salim) akan memaparkan sebuah diskusi yang lembut antara Syaikh kami (Muhammad Nashiruddin Al-Albani) hafizhahullah (sekarang beliau telah wafat, rahimahullah) dengan Ustadz Abdul Halim Abu Syuqqah, penulis kitab Tahrirul Mar`ah fi `Ash-rir Risalah (Telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia-pen)

Syaikh Al-Albani berkata: Jika engkau ditanya, apakah madzabmu (keyakinanmu; jalanmu di dalam beragama), maka apa yang engkau katakan?

Dia (Ustadz Abdul Halim) berkata: Muslim.

Syaikh berkata: Itu tidak cukup!

Dia berkata: Allah telah menamai kita Muslimin, Kemudian Dia membaca firman Allah Ta`ala: Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian Muslimin dari dulu. (Al-Hajj: 78)

Syaikh berkata: Jawabanmu itu benar seandainya kita berada di zaman yang pertama sebelum tersebarnya firqah-firqah (golongan-golongan). Seandainya sekarang kita bertanya kepada seorang muslim mana saja dari firqah-firqah itu, yang kita berselisih secara prinsip di dalam aqidah terhadap firqah-firqah tersebut, maka semunya –baik orang tersebut Syi`ah Rafidhah, Khawarij, Duruz, Nushairiyah al-`Alawiyah- [4] akan menjawab: Saya Muslim. Kalau demikian, di zaman ini jawaban tersebut tidak cukup.

Dia berkata: Kalau begitu aku akan mengatakan: Saya Muslim berdasarkan al-Kitab dan Sunnah.

Syaikh berkata: Jawaban itu juga tidak cukup.

Dia berkata: Kenapa?

Syaikh berkata: Apakah engkau mendapati seorangpun dari mereka –firqah-firqah tadi- yang telah kita buat contoh, yang mengatakan: Saya seorang Muslim, tidak berdasarkan al-Kitab dan Sunnah? Kalau begitu, siapakah orang yang akan mengatakan: Saya tidak berdasarkan al-Kitab dan as-Sunnah.

Kemudian Syaikh Al-Albani rahimahullah menerangkan kepadanya urgensi/arti penting ikutan yang sedang kita angkat ini, yaitu: al-Kitab dan Sunnah dengan pemahaman Salaf kita yang shalih.

Dia (Ustadz Abdul Halim) berkata: Saya seorang muslim berdasarkan al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih.

Syaikh berkata: Apabila ada orang yang bertanya kepadamu tentang madzabmu, maka apakah engkau akan mengatakan itu kepadanya?

Dia berkata: Ya.

Syaikh berkata: Bagaimana pendapatmu jika kita ringkaskan bahasanya, karena sebaik-baik perkataan adalah yang sedikit dan jelas, maka kita mengatakan: Salafi.

Dia berkata: Saya telah berbasa-basi kepada Anda, dan sekarang saya mengatakan kepada Anda: Ya, akan tetapi keyakinanku adalah apa yang telah terdahulu. Karena tatkala seseorang mendengar bahwa Anda adalah Salafi, pertama kali fikirannya melayang kepada perkara yang bermacam-macam, yang berupa tindakan-tindakan yang keras bahkan kasar, yang sering terjadi dari Salafiyin.

Syaikh berkata: Taruhlah perkataanmu benar, tetapi apabila engkau mengatakan: Muslim, tidaklah dia (orang yang mendengarmu, fikirannya –pent) akan melayang kepada orang Syi`ah Rafidhah, Duruz, Isma`iliyah … dan lainnya? [5]

Dia berkata: Mungkin juga, tetapi saya telah mengikuti ayat yang mulia:

Dia (Allah) telah manamai kamu sekalian Muslimin. (Al-Hajj:78)

Syaikh berkata: Tidak wahai Saudaraku! Sesungguhnya engkau tidak mengikuti ayat tersebut, karena yang dimaksud ayat tersebut adalah (Muslim dengan –pen) Islam yang shahih, sepatutnya manusia itu diajak bicara sesuai dengan ukuran akal mereka. Apakah ada seorangpun yang memahamimu bahwa engkau adalah seorang Muslim dengan arti yang dimaksudkan di dalam ayat itu?

Sedangkan kekhawatiran-kekhawatiran yang telah engkau sebutkan tadi bisa jadi benar atau tidak benar. Karena perkataanmu tadi (bahwa ada tindakan-tindakan keras) , bisa jadi ada pada sebagian individu-individu dan bukan sebagai manhaj aqidah ilmiyah (jalan yang diyakini yang menjadi ilmu). Maka tinggalkanlah orang-perorang, karena kita sedang membicarakan manhaj (jalan; metode yang harus ditempuh). Karena sesungguhnya apabila kita mengatakan: Orang syi`ah, orang Duruz, orang Khawarij, orang Sufi, atau orang Mu`tazilah (tentu) akan ada juga kekhawatiran-kekhawatiran yang telah engkau sebutkan tadi.

Kalau begitu, itu bukanlah topik pembicaraan kita. Tetapi kita sedang membahas tentang nama yang menunjukkan madzab seseorang yang dia beragama kepada Allah dengan madzab itu.

Kemudian Syaikh bertanya: Bukankah para sahabat semunya muslim?

Dia berkata: Tentu.

Syaikh berkata: Akan tetapi di kalangan mereka ada yang mencuri dan berzina. Tetapi hal ini tidak membolehkan seorangpun mengatakan: Saya bukan seorang Muslim, bahkan dia adalah seorang Muslim dan Mukmin kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai manhaj (jalan yang ditempuh), akan tetapi terkadang dia menyelisihi manhajnya, karena memang dia tidak maksum (terjaga dari kesalahan).

Oleh karena itu, kita sekarang –mudah-mudahan Allah memberkatimu- sedang membicarakan satu kata yang menunjukkan aqidah kita, pemikiran kita, dan tempat berpijak kita di dalam kehidupan kita yang berkaitan dengan perkara-perkara agama kita yang dengannya kita beribadah kepada Allah. ADapun si Fulan berlebih-lebihan atau dia meremehkan, maka itu urusan lain.

Kemudian Syaikh berkata: Saya menginginkan supaya Engkau berfikit tentang kata yang ringkas ini, sehingga engkau tidak terus-menerus (mencukupkan) dengan kata Muslim (saja), sedangkan engkau mengetahui bahwa tidak akan didapatkan seorangpun yang memahami apa yang engkau kehendaki selama-lamanya. Kalau demikian maka ajaklah bicara orang-orang itu sesuai dengan ukuran akal mereka. Mudah-mudahan Allah memberkatimu atas sambutanmu. (Sekian nukilan dari Syaikh Salim al-Hilali –pen) (Limaadza Ikhtartu al-Manhaj as-Salafi, hal.36-38 oleh: Syaikh Salim bin Ied al-Hilali, penerbit: Markas ad-Dirasat al-Manhajiyah as-Salafiyah, cet: I/1420 H – 1999 M)

Kemudian bahwa bid`ah itu mencakup semua yang di ada-adakan di dalam agama dan tidak mempunyai dasar di dalam syari`at yang menunjukkannya. Adapun perkara yang mempunyai dasar di dalam syari`at yang menunjukkannya, maka itu bukanlah bid`ah menurut syari`at, walaupun dinamakan bid`ah menurut bahasa. [6]

Sedangkan istilah Salafiyah, maka dasarnya dari syari`at sangat gamblang, baik dari al-Kitab ataupun Sunnah.

Dengan demikian, sama sekali tidak ada aib menisbatkan diri kepada Salafush Shalih jika diiringi dengan usaha untuk mencocoki mereka secara lahir dan batin. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: Tidak ada aib atas orang yang menampakkan madzab Salaf dan menisbatkan diri kepadanya serta mengikatkan diri dengannya, bahkan hal itu wajib untuk diterima dari orang tersebut. Karena sesungguhnya madzab Salaf adalah kebenaran itu sendiri. Jika orang tersebut mencocoki Salaf secara lahir dan batin maka kedudukannya sama dengan seorang mukmin yang berada di atas al-haq secara lahir dan batin. Jika orang tersebut mencocoki Salaf di dalam lahiriyah saja –batinnya tidak- maka kedudukannya sama dengan seorang Munafik, sehingga lahiriyah diterima sedangkan isi hatinya diserahkan kepada Allah. Karena sesungguhnya kita tidak diperintahkan untuk menyelidiki hati manusia dan membedah perut mereka. (Majmu` Fatawa IV/149)

Syaikh Ali bin Hasan berkata: Sesungguhnya menisbatkan diri kepada Salaf; menyatakan dengan terang-terangan ketinggiannya di atas setiap wadah-wadah dan pandangan-pandangan (lain) yang menyelisihi al-haq; dan berterus terang bahwa dakwah satu-satunya yang haq adalah dakwah Salafiyah; semua itu tidak ada cela padanya, dan tidak ada bahaya terhadap orang yang mengatakannya, karena Salafiyah adalah nisbat kepada Salaf, dan itu adalah nisbat yang tidak pernah terpisah sekejappun dari umat Islam semenjak terbentuknya di atas minhaj nubuwah (jalan kenabian), sehingga (Salafiyah) itu memuat seluruh kaum muslimin dari generasi yang pertama disusul orang-orang yang meneladani mereka di dalam menerima ilmu, jalan memahaminya, dan tabi`at mendakwahkannya. Dengan demikian Salafiyah itu tidak dimasudkan terbatas pada tahap sejarah tertentu, bahkan wajib untuk dipahami bahwa kandungannya itu terus-menerus selama berlangsungnya kehidupan. [7] (Ru`yah Waqi`iyah fi Manahiji ad-Da`awiyah:25, oleh Syaikh Ali Hasan)

_____________________________________________________________

Dipublikasikan oleh : ibnuramadan.wordpress.com

*) Dinukil dari: Majalah As-Sunnah Edisi 06/Th.IV/1420-2000, hal 20-23

© Copyright © Copyright salafyoon.net

Catatan kaki :

[1] Perlu diketahui bahwa hadits-hadits yang memberitakan tentang perpecahan umat Islam menjadi 73 golongan, 72 masuk neraka dan satu masuk surga kurang lebih ada 15 hadits, yang diriwayatkan oleh lebih dari 10 ahli hadits dari 14 sahabat Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam. Yang kebanyakan hadits-hadits itu berderajat shahih. Sehingga tidak ada peluang untuk meragukannya. Lihat majalah As-Sunnah edisi 08/th.I/1415-1994

[2] Hadits Hasan; riwayat Ibnu Majah no:3992, Ibnu Abi Ashim no:36 dan al-Laalikai di dalam Syarh Ushulil I`tiqad Ahlus Sunnah wal Jama`ah, dari `Auf bin Malik.

[3] Lebih luas lihat majalah As-Sunnah edisi 08/I/1415-1994

[4] Syi`ah Rafidhah: Syi`ah yang ghuluw (melewati batas) pada diri sahabat Ali dan sebagian anggota keluarga beliau, mencela sahabat, bahkan mengkafirkan mereka.

-Khawarij: Kelompok yang mengkafirkan pelaku dosa besar dari kalangan kaum muslimin.

-Duruz: Termasuk kelompok Syi`ah Isma`iliyah, pengikut Muhammad bin Isma`il ad-Duruzi yang menuhankan al-Hakim biamrillah al-`Ubaidi. Mereka sekarang ada di Libanon dan lainnya.

-Nushairiyyah al-`Alawiyah: Termasuk kelompok Syi`ah Rafidhah yang ekstrim, pengikut Muhammad bin Nushair an-Numairi. Mereka menuhankan Ali bin Abi Thalib. Mereka sekarang ada di Suria, Turki, Kurdistan dan lainnya. (Lihat al-Mujaz fil Adyan wal Madzahib al-Mu`ashirah, oleh Dr. Nashir bin Abdullah al-Qafari dan Dr. Nashir bin Abdul Karim al-`Aql) –pen.

[5] Isma`iliyah: Termasuk kelompok Syi`ah, yang menisbatkan kepada Isma`il bin Ja`far ash-Shadiq dan meyakini keimamannya. Mereka sekarang ada di jazirah Arab bagian selatan, Afrika bagian selatan dan tengah, Syam, Pakistan, India dan lainnya –pen.

[6] Al-Bid`ah Dhawabithuha wa Atsaruha as-Sayyi` fil Ummah, hal:13, oleh Dr. Ali bin Muhammad Nashir al-Faqihi

[7] Hukmul Intima`:31

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 27, 2008 in SALAFIYAH, ZZ..BANTAHAN..ZZ

 

TANYA JAWAB: Bermuamalah dengan Para Hizbiyin dalam Berdakwah?

TANYA JAWAB: Bermuamalah dengan Para Hizbiyin dalam Berdakwah?

Oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halaby

Pertanyaan :

Sebagian saudara-saudara kita dituduh Sururiyun dengan sebab mereka bermuamalah dengan para Hizbiyin dalam berdakwah. Bagaimana menurut pendapat Syaikh tentang masalah ini?

Jawaban :

Syaikh Ali bin Hasan berkata:

Solusinya mudah sekali! Kalian jangan bermuamalah dengan para Hizbiyin! Dengan demikian kalian bisa menyangkal orang yang menuduh kalian Sururiyun!

Karena bermuamalah dengan Hizbiyin, berarti bermuamalah dengan orang-orang yang berpenyakit menular! Tidak ada orang yang selamat dari penyakit yang mereka bawa tatkala bermuamalah dengan mereka! Minimalnya, penyakit pertama yang akan ia dapatkan adalah tuduhan-tuduhan ini! Oleh karena itu, selamatkanlah dirimu… selamatkanlah dirimu!

Seorang Salafi sejati, tentu tidak akan bermuamalah dengan Hizbiyin, kecuali dalam rangka mendakwahinya saja!

Adapun bermuamalah dan bekerjasama dengan mereka, maka ini adalah pintu fitnah yang wajib ditutup!

(( Tanya Jawab ketika kajian umum bersama Syaikh Ali Hasan & Syaikh Salim hafizhohumallah, di Jakarta Islamic Center (JIC) – Jakarta. Ahad, 11 Februari 2007. Diterjemahkan oleh Ustadzuna Arief Budiman, Lc. hafizhohullah. Dipublikasikan oleh : ibnuramadan.wordpress.com

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 1, 2008 in SALAFIYAH

 

Salafiyah Bukan Organisasi (Bantahan terhadap Ormas An-Najat & Wahdah Islamiyah)

Salafiyah Bukan Organisasi (Bantahan terhadap Ormas An-Najat & Wahdah Islamiyah)

Oleh : Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid

Banyak orang yang mengira apabila mereka mendengar kata Salafiyah atau Salafiyyin bahwa itu adalah sebuah organisasi atau hizb (partai). Apakah benar demikian? Sama sekali tidak. Bahkan bayangan itu tidak ada sama sekali pada pikiran pembawa-pembawnya dan dai-dainya.

As-Salafiyah sebenarnya Islam itu sendiri, yang benar dan mencakup seluruh apa yang diturunkan Allah dan Rasul-Nya Muhammmad shallallahualai wa sallam. Salafiyah bukanlah nama untuk suatu kelompok tertentu karena penisbatannya adalah kepada generasi salaf yang telah dipuji baik dalam Al-Quran maupun As-Sunnah. bahkan setiap orang yang memahami Dien sesuai dengan apa yang dipahamai generasi salafus shalih (yang terdahulu) dari umat in, maka dia disebut Salafy. Tidak peduli apakah dia menyebutnya terang-terangan ataupun secara sembunyi-sembunyi.

Jadi Salafiyah tidak dimiliki oleh suatu hizb(partai) dan tidak pula nama suatu organisasi atau harakah (gerakan dakwah ) tertentu. Ia mencakup seluruh kaum muslimin baik sendiri maupun berkelompok (tentunya yang bermanhaj salaf) karena dakwah Salafiyah adalah dakwah Isalam itu sendiri yang berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafus Shalih radhiallahuanhum. Oleh sebab itu, wajib bagi umat setelah melihat realita ini menyesuaikan pemikiran, amalan dan pandangannya dengan manhaj Salaf dalam menjalankan Dien yang mulia ini.

Penyebutan Salafiyah dan keyakinan penisbatannya kepada salafus shalih berguna untuk menutup jalan bagi orang-orang yang menginginkan dalam penerapan dakwah dan gerakan mereka kebebasan berijtihad dalam pemikiran Islam tanpa adanya batasan-batasan dan kaidah-kaidah, kecuali (tentu saja) hasil-hasil pandangan dan pikiran mereka sendiri (Saya penulis artikel ini -telah membahasnya secara rinci dalam kirab Al-Aqlaniyyun). Padahal pikiran-pikiran mereka sudah terbelenggu dengan pemikiran barat sehingga hasilnya nash-nash (baik Al-Quran dan maupun As-Sunnah) harus tunduk mengikuti mereka.

Lantas, bagaimana jika ada orang yang berkata bahwa penamaan ini bisa membuka kepada pintu hizbiyyah yang taashub (pengelompokan yang fanatik)? Jawabanya tentu saja tidak. Alasannya ada 2 hal:

1. Karena salafiyyah bernasab kepada sesuatu hal yang mulia, yaitu kepada orang-orang yang dimuliakan karena pemahaman dan pandangan mereka yang lurus. Salafiyyah tiadak mengacu pada suatu nama kelompok tertentu yang bersifat hizbiyyah atau memiliki pandangan-pandangan hizbiyyah.

2.Pembedaan orang-orang yang ada di atas kebenaran (ahlul haq) dengan kebenaran(al-haq/manhaj salaf) yang mereka pegang tidaklah menjadikan mereka ikut bersama orang-orang yang menyeleweng dari manhaj yang benar, atau menyerupai mereka yang menyimpang dari jalan yang lurus.

Bukanlah suatu kekurangan ( hal yang buruk ) apabila orang menasabkan dirinya dengan salaf lewat ucapan, ciri-ciri, manhaj dan amal-amalnya di tengah maraknya fitnah (bencana), yaitu bermunculannya banyak orang yang mengaku berada di atas al-haq dan juga dai-dai yang mengaku dirinya menyampaikan al-haq. Orang-orang yang mengukuti manhaj yang haq(menyesuaikan dengan haq dan tidak menyelisihinya) harus dibedakan agar hancur rujukan orang-orang yang memalsu kebenaran. Ilmu orang yang berpegang dengan manhaj ini sesuai dengan khabar atau riwayat (hadist shahih) sehingga pada akhirnya merekalah para dai yang menegakkan al-haq.

Pendapat ini juga ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah-semoga Allah merahmati beliau-. Beliau berkata:

Tidak ada aib atas orang-orang yang menonjolkan manhaj salaf, menisbatkan dan menasabkan kepadanya, bahkan wajib menerima yang demikian itu dengan kesepakatan (para ulama), karena sesungguhnya tidak ada pada madzhab salaf kecuali kebenaran (Majmu Fatawa Jilid 4 hal 129)

Dengan demikian penyebaran cahaya manhaj ini dan syiarnya pada seluruh umat manusia sangat didambakan oleh jiwa, hati, dan pikiran ini, dan (tentunya hanya) orang -orang yang ikhlas yang akan berusaha mewujudkanya.

Apabila ini terjadi (dengan pertolongan Allah walaupun dalam waktu yang sangat lama)-yaitu meratanya al-haq dan hilangnya suara-suara yang menyelisihi manhaj ini, serta umat benar-benar dalam suasana Islam yang benar, bersih dari bidah dan hawa nafsu sebagaimana generasi awal dari salafus shalih- tentu akan hilang pembedaan nama ini, karena tidak ada yang melawannya( menentangnya) ( Hukum Intima hal 32 oleh Fadhilatus Syaikh Bakar Abu Zaid)

Oleh karena sebab itu para dai yang berada di atas manhaj ini, hendaklah bergembira dangan yang ditinggikan mereka dari seluruh organisasi hizb yang ada. Juga hendaknya mereka merasa nikmat dengan kesempurnaan dakwah mereka yang meliputi pemilik fitrah yang bersih dari kaum muslimin, yang belum diwarnai kejelekan. Disamping itu mereka harusnya berbahagia menjadi orang yang fanatik(terhadap manhaj ini) dan menjadikannya sebagai barometer kehidupan, karena tidak ada sesuatupun yang bisa menyaingi dan mengunggulinya.

Semoga Allah menunjukan kita kepada jalan-Nya yang lurus.
(Al-Asholah 2/ Fathu Rahman Abu Zaki),

Dipublikasikan oleh : ibnuramadan.wordpress.com

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Oktober 9, 2008 in SALAFIYAH, ZZ..BANTAHAN..ZZ

 

APAKAH DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB MERUPAKAN DAKWAH ISLAMIYAH YANG BERSIFAT PARTAI (HIZBIYAH) ?

APAKAH DAKWAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB MERUPAKAN DAKWAH ISLAMIYAH YANG BERSIFAT PARTAI (HIZBIYAH) ?

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

Pertanyaan
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Apakah dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab merupakan dakwah Islamiyah yang bersifat partai (hizbiyah) seperti Ikhwanul Muslimin dan Tabligh ? Apa nasihat anda kepada orang yang mengatakan hal demikian dan menyebarkannya dalam kitab-kitabnya ?

Jawaban
Saya katakan, “Sesungguhnya dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah di atas manhaj salaf. Baik dalam usul (pokok-pokok) maupun furu’ (cabang-cabang) [1]

Adapun jama’ah Ikhwanul Muslimin dan Tabligh dan jama’ah-jama’ah yang sama [2], saya serukan kepada mereka, supaya mengembalikan manhaj-manhaj mereka kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam –dan kepada petunjuk dan pemahaman salafus ash-shalih supaya manhaj-manhaj itu ditimbang di atas itu semua sehingga apabila mencocoki alhamdulillah, sedangkan apabila menyelisihi, maka haruslah diluruskan dengan jalan-jalan tersebut. Inilah seruan kami kepada mereka.
_________
Foote Note
[1]. Inilah tulisan-tulisan beliau rahimahullah yang ada, yakni berisi tentang akidah yang shahih, dan menjelaskan tauhid yang menjadi hak Allah atas hambanya serta menjelaskan syirik yang menjadi lawan tauhid. Sejarahnya yang harum dalam menyeru manusia untuk beribadah kepada Allah saja dan mencabut tuhan selain Dia. Inilah dakwah Rasul seluruhnya –Shalatullah wa Salamuhu ‘Alaihim-.

Maka kami (Abu Abdillah) berkata: “Inilah dakwah Imam Mujaddid, yang lantarannya Allah hidupkan hamba-hamba dan negara ini. Dan alhamdulillah, kita terus hidup di bawah naungan dakwah yang berkah”.

[2]. Adapun dakwah Ikhwanul Muslimin, kami bertanya, “Apakah pendirinya telah menulis sebuah kitab yang berisi tauhid, dan menjelaskan akidah yang benar kepada pengikutnya sampai saat kita sekarang ? Apakah Hasan Al-Banna menyeru manusia agar meluruskan ibadah hanya untuk Allah semata, dan mencabut kesyirikan dengan berbagai macam jenisnya ? Apakah dia telah memberantas kubah-kubah? Apakah di telah meratakan kuburan-kuburan yang tinggi bangunannya dan melarang thawaf kepada kuburan-kuburan orang-orang yang shalih dan para wali ? sebagaimana yang mereka duga ? Apakah dia telah menegakkan sunnah ?

Semua pertanyaan ini tidak ada jawabannya, bahkan jawaban itu terdapat pada orang yang telah mengenal akidah salafiyah dan terpengaruh dengan dakwah Ikhwanul Muslimin. Yang mengikuti pendiriannya dan membaca kitab-kitabnya. Bahwasanya dia tidak mempunyai dakwah yang jelas dan sungguh-sungguh dalam memerangi syirik dan bid’ah.

Dalam kitabnya yang berjudul Mudzakkiratu Ad-Da’wah Wada’iyah, Hasan Al-Banna berkata : “Saya bersama saudara thariqah Hishafiyah di Damanhur, dan saya tetap mengkaji di masjid At-Taubah setiap malam” (hal. 24), cetakan Darut Tauzi. Kemudian dia berkata : “Sayyid Abdul Wahhab datang seorang pemberi izin di thariqat Hisyfiyah saya menerima thariqat Hishafiyah As-Syadzliyah dari dia. Dan dia telah memberi izin kepadaku untuk mengikuti gerakan-gerakan dan tugas-tugas dalam thariqat tersebut” (hal.24). Katanya juga, “Hari-hari di Damanhur .. yang dihabiskan dengan segala perasaan dalam amalan tasawuf dan ibadah … sepanjang waktu dihabiskan untuk peribadahan dan gerakan-gerakan tasawuf”. (hal. 28). Di tempat lain dia berkata : “Saya sebutkan bahwa bagian dari adat kami adalah kami keluar pada waktu peringatan Maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan arak-arakan sambil mendendangkan qashidh-qashidah (sya’ir) yang sudah biasa dibaca pada saat-saat seperti itu, dengan kesenangan dan kegembiraan yang sempurna”. Al-Mudzakkirat (hal.52). Diantara sya’ir yang dibaca adalah : “Kekasih ini bersama kekasih-kekasih lain yang hadir semua saling memaafkan terhadap kesalahan-kesalahan yang telah lalu dan telah terjadi”.

Dalam Majmu’ Rasa’il Hasan Al-Banna, pada bagian Risalah Tentang Ta’lim dibawah judul Al-Ushulul ‘Isrun, dia menyatakan dalam pokok (ushul) kelima belas : “Berdo’a kepada Allah disertai tawassul dengan seorang makhluknya adalah perselsiihan dalam masalah akidah” (hal. 392).

Dalam Risalah aqa’id dari kitab itu juga, dia berkata : “Pembahasan dalam masalah ini –asma wa shifat- meskipun dibicarakan panjang lebar tidak akan sampai kepada titik penyelesaian, kecuali hasil yang satu yakni menyerahkan (tafwidh) maknanya kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala”. Tulisan ini dibawah judul Madzhab Salaf wa Al-Khalaf Fi Al-Asma wa Shifat” (hal. 452).

Aku (Abu Abdillah) berkata : “Saya menemukan pembicaraan ulama Salaf yang sangat berharga, yakni Syaikh Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang menjelaskan perihal orang-orang yang menyerahkan ilmu tentang makna asma wa shifat kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, bahwa mereka adalah ahlu bid’ah yang sangat jahat. Hal itu terdapat dalam Dar’u Ta’arudhi Al-Aql wa An-Naql, juz pertama bagian ke 16 (hal. 201-205). Beliau berkata : “Adapun masalah tafwidh (penyerahan makna kepada Allah), sesungguhnya telah diketahui bahwa Allah Ta’ala memerintahkan untuk memahami Al-Qur’an dan mendorong kita untuk memikirkan dan memahaminya. Maka bagaimana kita dibolehkan berpaling dari mengenal, memahami dan memikirkannya?” Sampai beliau rahimahullah mengatakan tentang ketercelaan orang-orang tercela yang menyerahkan asma wa shifat kepada Allah (Al-Muwafidah) : “Maka jelas bahwa ahlu tafwidh yang menyangka bahwa dirinya mengikuti As-Sunnah dan As-Salaf, adalah mereka seburuk-buruk perkataan ahlul bid’ah dan ‘Ilhad (menyimpang)”.

[Disalin dari kitab Al-Ajwibatu Al-Mufidah ‘An-As-ilah Al-Manahij Al-Jadidah, Edisi Indonesia Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, Penulis (Pengumpul Risalah) Abu Abdullah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Penerjemah Muhaimin, Penerbit Yayasan Al-Madinah, Judul Artikel oleh Admin almanhaj]

© copyleft almanhaj.or.id

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Mei 13, 2008 in SALAFIYAH

 

Nasehat Untuk Salafiyun dan Anshurussunah al-Muhammadiyah

SURAT BUAT KELOMPOK-KELOMPOK DAKWAH1

Oleh : Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu

Agama Adalah Nasehat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Agama adalah nasehat, kami (para sahabat) bertanya : Untuk siapa wahai Rasulullah ? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Untuk Allah, Kitab-Naya, Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin dan orang-orang muslim”. (HR.Muslim).

Sabagai aplikasi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas, maka saya ingin menyampaikan nasehat kepada seluruh kelompok dakwah islam, agar senantiasa berpegang teguh dengan al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih berdasarkan pemahaman para ulama salaf, seperti : para sahabat, tabi’in, pata imam mujtahidin dan orang-orang yang senantiasa meniti jejak mereka.

Kepada Salafiyun dan Ansharussunah al_Muhammadiyah

1. Wasiat saya kepada mereka agar senantiasa konsisten dalam berdakwah kepada tauhid, berhukum dengan apa yang Allah turunkan, dan perkara-perkara penting lainnya.

2. Hendaklah mereka bersikap lemah lembut dalam berdakwah, bagaimanapun lawan yang dihadapinya. Sebagaimana perwujudan firman Allah : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl:125). Dan firman Allah kepada Nabi Musa dan Harun : “Pergilah kamu berdua kepada Fir ‘aun sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS.Toha :43-44). Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Barang siapa yang tercegah dari sifat lemah lembut, niscaya ia tercegah dari segala kebaikan”. (HR.Musliam).

3. Hendaklah mereka sabar terhadap gangguan yang menimpa mereka, karena Allah selalu menyertai mereka dengan pertolongan dengan memberikan kekuatan kepada mereka. Allah ta’ala berfirman : “Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan per tolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka, dan jangan kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipudayakan. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertawakal dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl : 127-128). Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan sabar atas gangguan mereka lebih utama dari pada orang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak sabar atas gangguan mereka.” (Hadits shahih riwayat Imam Ahmad dll).

4. Orang-orang salafi jangan sampai beranggapan bahwa jumlah orang-orang yang menyelisihi mereka sedikit. Karena Allah ta’ala berfirman : “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS.Saba’ : 13). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Beruntunglah bagi orang-orang yang asing. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya siapa mereka ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : Mereka adalah orang-orang shaleh yang sedikit di tengah-tengah manusia yang rusak lagi banyak, yang bermaksiat kepada mereka lebih banayak dari pada yang taat kepada mereka”. (HR.Imam Ahmad dan Ibnul Mubarak:.

Nasihat umum kepada seluruh kelompok

Saya sekarang sudah tua renta, umur saya sekarang telah mencapai 70 tahun, dan saya mengharapkan kebaikan bagi semua kelompok, oleh karena itu untuk mengamalkan hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Agama itu nasehat”, saya ingin menyampaikan bebrapa nasehat ini :

1. Agar semua kelompok berpegang teguh dengan al-Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai bentuk ketaatan terhadap firman Allah : “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan jangan kamu bercerai-berai..”(QS.Ali Imran : 103). Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Telah saya tinggalkan kepada kalian dua perkara, selama kalian berpegang teguh dengan kedudukannya, maka tidak akan tersesat, yaitu (kitabullah al-Qur’an dan sunnah Nabinya Shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (HR.Malik dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami).

2. Apabila jama’ah-jama’ah yang ada berselisih, hendaknya mereka kembali kepada al-Qur’an fan hadits serta amalan para sahabat, Allah ta’ala berfirman : “Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kemu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya,”(QS.An-Nisa : 59). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Wajib bagi kalian untuk berpegang dengan sunnahku dan sunnahnya para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, berpegang teguhlah dengannya.” (Hadits shohih riwayat Imam Ahmad).

3. Hendaklah mereka memperhatikan dakwah tauhid yang menjadi prioritas dan pusat perhatian al-Qur’an. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya kepada tauhid dan memerintahkan para sahabatnya agar memulai dengannya.

4. Sesungguhnya saya telah masuk dan bergaul dengan kelompok-kelompok dakwah islam, dan saya lihat bahwa dakwah salafiyahlah yang konsisten dengan al-Qur’an dan sunnah menurut pemahaman salafus shaleh, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam para sahabatnya dan para tabiin. Dengan sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberi isyarat tentang kelompok tang satu ini dalam sabdanya : “Ketahuilah bahwasanya orang-orang sebelum kamu dari ahlikitab berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan umat ini akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua di dalam neraka dan yang satu di surga yaitu al-Jama’ah.” (HR.Ahmad dan dinyatakan holeh al-Hafidz Ibnu Hajar). “Semua di dalam neraka kecuali satu yaitu apa yang saya dan para sahabatku ada diatasnya.” (HR.Tirmidzi dan dihasankan oleh al-Albani). Dalam hadits diatas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada kita, bahwasanya orang yahudi dan nasrani berpecah belah menjadi lebih banyak dari mereka, dan kelompok-kelompok yang banyak ini terancap masuk neraka, karena menyimpangnya dan jatuhnya dari kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya. Dan bawasanya hanya satu kelompok yang selamat dari neraka dan masuk surga, yaitu al-Jama’ah (kelompok yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan sunnah serta amalan para sahabat). Keistimewaan dakwah salafiyah adalah dakwah kepada tauhid, memerangi syirik, mengetahui hadits-hadits yang shahih dan memperingatkan umat dari hadits yang dha’if (lemah) dan maudhu’ (palsu), serta memahami hokum-hukum syariat dengan dalil-dalilnya. Dan ini sungguh sangat penting bagi setiap muslim. Oleh karena itu, saya menasehati seluruh saudara-saudaraku kaum muslimin, agar senantiasa konsisten dengan dakwah salafiyah, karena dakwah tersebut adalah dakwah yang selamat dan kelompok yang mendapat pertolongan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Akan senantiasa ada dari umatku satu kelompok yang tanpak diatas kebenaran, tidak memudharatkan mereka orang yang menghinakan mereka sampai dating urusan Allah.” (HR.Muslim). Midah-midahan Allah menjadikan kit ate rmasuk kelompok yang selamat dan mendapat pertolongan.

____________________

Note:

1. Dialihbahasakan oleh Abdurrahman Hadi Lc. Dari kitab “Kaifa Ihtadaitu ila at-Tauhid wa ash-Shiratil Mustaqim”

[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Vol.6 No.6 Edisi 38 - 1429H]

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Mei 12, 2008 in SALAFIYAH

 

ARTI NASEHAT KEPADA PARA PEMIMPIM KAUM MUSLIMIN

Penyusun
Ustadz Fariq Bin Gasim Anuz

Al-Imam Ibnu Nashr Al-Marwazi rahimahullah berkata.
“Sedangkan nasehat kepada para pemimpin kaum muslimin dengan cinta akan ketaatan mereka kepada Allah, cinta akan kelurusan dan keadilan mereka, dan cinta bersatunya umat di bawah pengayoman mereka, dan benci kepada perpecahan umat dengan melawan mereka, dan mengimani bahwa dengan taat kepada mereka dalam rangka taat kepada Allah dan benci kepada orang yang keluar dari ketataatan kepada mereka (yaitu dengan tidak mengakui kekuasaan mereka dan menganggap halal darah mereka, pent). Dan cinta akan kejayaan mereka dalam taat kepada Allah.” [1]

Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi rahimahullah berkata
“(Dan nasehat kepada para pemimpin kaum muslimin), yaitu kepada para penguasa mereka, maka dia menerima perintah mereka, mendengar dan taat kepada mereka dalam hal yang bukan maksiat dikarenakan tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Al-Khaliq [2] dan tidak memerangi mereka selama mereka belum kafir, dan dia berusaha untuk memperbaiki keadaan mereka dan membersihkan kerusakan mereka dan memerintahkan mereka kepada kebaikan dan melarang mereka dari kemungkaran dan mendoakan agar mereka mendapatkan kebaikan dikarenakan dalam kebaikan mereka berarti kebaikan bagi rakyat, dan dalam kerusakan mereka berarti kerusakan bagi rakyat.”[3]

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah (wafat tahun 677 H) berkata.
“Sedangkan nasehat kepada pemimpin kaum muslimin adalah dengan menolong mereka di atas kebenaran dan taat kepada mereka dalam hal kebenaran, dan mengajak, memperingatkan dan mengingatkan mereka dengan lemah lembut kepada kebenaran dan memberi tahu mereka akan kelalaian mereka, dan barangkali belum sampai berita kepada mereka akan kelalaian mereka yang berkenaan dengan hak-hak kaum muslimin, dan tidak keluar dari ketaatan kepada mereka dan melunakkan hati-hati manusia untuk taat kepada mereka.

Al-Khaththabi rahimahullah berkata.
“Dan termasuk dari menasehati kepada mereka adalah dengan shalat di belakang mereka dan berjihad bersama mereka (ketika penguasa berperang dengan orang-orang kafir untuk meninggikan kalimat Allah, pent.), dan menunaikan zakat kepada mereka (ditampung dalam baitul mal kaum muslimin, pent.), dan tidak keluar mengangkat senjata melawan mereka, meskipun mereka berbuat zalim, dan agar tidak menipu mereka (sekaligus menipu umat, pent) dengan puji-pujian yang penuh kedustaan, dan dengan mendoakan mereka agar mendapatkan kebaikan, dan ini semua menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan para pemimpin kaum muslimin adalah para khalifah dan selain mereka dari para penguasa yang bertugas mengurusi urusan kaum muslimin, dan makna ini yang masyhur.” Al-Khaththabi setelah menyebutkan hal ini, kemudian beliau berkata, “Dan mungkin pula untuk ditafsirkan dengan makna para ulama dien, dan nasehat kepada mereka, yaitu dengan menerima apa yang mereka riwayatkan dan mengikuti mereka dalam masalah syariat dan berprasangka baik kepada mereka.”[4]

Setelah kita membaca penjelasan dari para ulama tentang arti nasehat kepada para penguasa muslim, timbul pertanyaan, “Apakah para penguasa kaum muslimin di belahan bumi yang tidak berhukum dengan apa-apa yang telah Allah turunkan telah kafir keluar dari Islam? Apabila mereka telah kafir keluar dari Islam, apakah boleh kita mengangkat senjata melawan mereka sekarang ini?”

Permasalahan ini penting untuk diketahui, maka kita tidak boleh ceroboh dalam membuat kesimpulan, kita tidak boleh memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemikiran dan hawa nafsu kita, tetapi harus memahaminya dengan pemahaman para shahabat, kita tidak boleh mengutamakan emosi dan perasaan di atas mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah.

Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid mengatakan.
“Kenyataan yang menyakitkan yang sedang kita hadapi pada hari ini, telah mendorong sebagian dari orang-orang yang menaruh perhatian besar kepada permasalahan-permasalahan umat dan mempunyai kecemburuan yang tinggi terhadap dien Allah ini kepada perbuatan ghuluw (belebih-lebihan) dalam dien ini tanpa adanya pembahasan yang teliti terhadap apa-apa yang mereka yang lakukan, atau tanpa penelitian yang mendalam terhadap apa-apa yang mereka katakan! Tidak ragu lagi bahwa ini semua jauh dari metode yang adil sebagaimana yang telah Allah karuniakan kepada Ahli Sunnah dan para juru da’wah kepada tauhid.”[5]

Marilah kita menyimak nasehat yang sangat berharga dari seorang ulama rabbani, yaitu Syaikh Muhammad Nahiruddin Al-Albani rahimahullah setelah beliau menjelaskan tentang keharusan berpegang teguh dengan manhaj salaf, kemudian beliau menjelaskan tafsir Ibnu Abas radliyallahu’anhuma sampai beliau memberi kesimpulan.

“Bahwasanya kekufuran, kefasikan dan kezaliman dibagi menjadi 2 macam.

[a]. Yang mengeluarkan seseorang dari Islam, yang demikiandisebabkan adanya penghalalan dari hati.

[b]. Dan selain itu, kembalinya kepada penghalalan secara amaliah, maka seluruh pelaku maksiat dan khususnya maksiat yang tersebar luas di zaman ini adalah berupa penghalalan secara amaliah seperti riba, zina, minuman keras dan lain-lainnya, semuanya itu adalah kufur amali, maka tidak boleh bagi kita untuk mengkafirkan pelaku maksiat semata-mata dikarenakan perbuatan maksiat mereka dan penghalalan kepada maksiat secara amali, kecuali apabila jelas bagi kita dari mereka bukti-bukti yang menyingkapkan tabir bagi kita tentang apa yang ada di hati-hati mereka bahwasanya mereka menghalalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya secara aqidah, apabila kita tahu bahwa penyimpangan mereka itu adalah penyimpangan hati, baru saat itu kita dapat menghukumi bahwa mereka telah kafir, kufur murtad. Sedangkan apabila kita belum mengetahui yang demikian, maka tidak ada jalan bagi kita untuk menghukumi mereka dengan kekafiran (murtad, pent), karena kita takut terjerumus ke dalam ancaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, yang artinya.

“Apabila seseorang mengatakan kepada saudaranya, ‘Wahai kafir,’ maka ucapan tersebut kembali kepada salah seorang dari keduanya.”

Dan hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak sekali.”

Sampai beliau (Syaikh Al-Albani) berkata.

“Kemudian saya selalu mengatakan kepada mereka yang selalu menggembar-gemborkan pengkafiran para penguasa kaum muslimin: Taruh bahwa mereka itu orang-orang kafir, kufur murtad, dan bahwasanya mereka kalau seandainya terdapat hakim tertinggi (khalifah) di antara mereka dan dia mendapatkan bukti bahwa para penguasa negeri-negeri Islam telah kafir kufur murtad, maka wajib atas hakim tertinggi untuk melaksanakan hukum had dengan membunuh mereka. Maka sekarang faedah apa yang kalian dapati dari segi tindakan, seandainya kami menerima bahwa semua para penguasa mereka adalah orang-orang kafir kufur murtad? Apa yang mungkin kalian lakukan? Mereka, oang-orang kafir, telah menguasai negeri-negeri Islam, dan kami di sini dengan sangat memilukan mendapatkan musibah berupa penjajahan Yahudi terhadap Palestina. Maka, apa yang bisa kami lakukan, kami dan kalian menghadapi orang-orang Yahudi, bahkan apa yang bisa kalian lakukan menghadapi para penguasa yang kalian sangka bahwa mereka itu adalah orang-orang kafir?

Bukankah seharusnya kalian mengesampingkan masalah ini terlebih dahulu dan kalian memulai membuat fondasi yang di atasnya tegak tonggak-tonggak pemerintahan Islam, dan yang demikian itu dengan cara mengikuti jejak Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang telah berhasil mendidik para shahabat berdasarkan petunjuk beliau tersebut, dan beliau telah menumbuhkan mereka atas peraturan dan asas dari sunnah beliau, dan yang demikian itu seperti apa yang sering kami sampaikan dalam banyak kesempatan bahwasanya harus bagi setiap jama’ah muslimah yang bekerja dengan benar untuk mengembalikan hukum Islam, bukan saja di dunia Islam bahkan harus diterapkan di seluruh dunia sebagai realisasi firman Allah Subhana wa Ta’ala.

“Dialah Yang telah mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk (Al-Qur’an) dan dien yang benar agar Dia memenangkannya atas segala dien, walaupun orang-orang musyrik benci.” [At-Taubah 33]

Dan terdapat dalam beberapa hadits yang shahih menyatakan bahwa ayat di atas akan terealisasi di masa yang akan datang, maka agar kaum muslimin mendapatkan realisasi dari nash Al-Qur’an ini, apakah dengan jalan mengumumkan revolusi terhadap para penguasa yang mereka sangka bahwa kekufuran mereka adalah kufur murtad, kemudian bersama persangkaan mereka yang salah ini mereka tidak mampu berbuat apa-apa. Kalau begitu dengan menggunakan metode apa? Mana jalannya? Tidak ragu lagi bahwa jalan yang harus ditempuh adalah apa yang selalu dikumandangkan oleh beliau shalallahu ‘alaihi wasallam dalam setiap mengingatkan para shahabatnya di setiap khutbah “Dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam,” maka kepada seluruh kaum muslimin dan khususnya di antara mereka yang mempunyai perhatian untuk mengembalikan hukum Islam agar tegak di muka bumi, agar memulai sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memulainya, yaitu apa yang biasa kami sebutkan dengan dua kata yang ringan: Tashfiyyah dan Tarbiyyah (yang artinya “pemurnian dan pendidikan”, pent), yang demikian itu dikarenakan kami mengetahui hakekat yang dilalaikan oleh mereka orang-orang ekstrem tersebut atau lebih tepat mereka yang pura-pura lalai, mereka tersebut tidak memiliki apa-apa, kecuali mengumumkan pengkafiran kepada para penguasa, kemudian setelah itu tidak ada apa-apanya, dan mereka akan tetap mengumumkan pengkafiran kepada para penguasa, kemudian yang keluar dari mereka hanyalah kekacauan-kekacauan, dan kenyataannya dalam tahun-tahun belakangan ini sebagaimana kalian mengetahui semuanya, dimulai dari fitnah di Masjidil Haram Makkah, kemudian fitnah Mesir dan pembunuhan terhadap (Anwar) Sadat dan melayangnya nyawa dari kebanyakan kaum muslimin yang tidak bersalah disebabkan fitnah ini, kemudian di Suriah, kemudian di Mesir lagi dan Aljazair, sangat menyedihkan sekali… dan seterusnya. Semuanya itu disebabkan mereka telah banyak menyimpang dari nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan yang terpenting adalah firman Allah :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan ) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah.” [Al-Ahzab : 21]

Apabila kita hendak menegakkan hukum Allah di muka bumi ini, apakah kita memulainya dengan memerangi para penguasa padahal kita tidak dapat memerangi mereka? Ataukah kita memulai dengan apa-apa yang dimulai oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam? Tidak ragu lagi bahwa jawabannya adalah ayat yang baru saja kami sebutkan. Dengan apa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memulai? Kalian tahu bahwasanya beliau memulai da’wahnya dengan mengajak individu-individu yang beliau perkirakan bahwa mereka siap untuk menerima kebenaran, kemudian dipenuhilah da’wahnya oleh orang-orang yang menerima sebagaimana hal ini ma’ruf dalam sirah nabawiyah. Kemudian siksaan dan kesukaran yang dialami oleh kaum muslimin di Makkah, kemudian perintah untuk berhijrah yang pertama dan yang kedua, sampai akhirnya Allah mengokohkan Islam di Madinah Nabawiyyah, dan mulailah terjadi pergulatan serta pertempuraan antara kaum muslimin dan orang-orang musyrikin di satu sisi, kemudian antara kaum muslimin dan orang-orang Yahudi di sisi yang lain dan begitu seterusnya. Kalau begitu kita harus memulai dengan mengajarkan kepada manusia ajaran Islam sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memulai, tetapi kita sekarang tidak terbatas kepada pengajaran, karena telah masuk kepada Islam ajaran yang bukan dari Islam datangnya dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam, ajaran-ajaran bid’ah ini merupakan penyebab runtuhnya bangunan Islam, maka dari itu merupakan kewajiban di atas pundak para juru da’wah agar mereka memulai dengan tashfiyyah, memurnikan ajaran Islam dari apa-apa yang bercampur kedalamnya. Yang kedua, tashfiyyah ini harus dibarengi dengan tarbiyyah, mendidik para pemuda muslim yang tumbuh atas ajaran Islam yang murni. Dan apabila kita pelajari jama’ah-jama’ah Islam yang ada sekarang ini sejak sekitar hampir satu abad, maka kita dapatkan kebanyakan dari mereka belum mengambil faedah sama sekali, meskipun mereka berteriak dan membuat gaduh bahwa mereka menginginkan pemerintahan Islam dan telah menelan korban kebanyakan orang-orang yang tak bersalah dengan alasan tadi, tanpa mereka mengambil faedah sedikit pun, masih saja kita mendengar dari mereka yang memiliki aqidah menyalahi Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan amalan-amalan yang bertolak belakang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan dalam kesempatan ini kami mengatakan: Ada sebuah ucapan yang telah dilontarkan oleh salah seorang da’i, saya tadinya berharap agar para pengikutnya berpegang teguh dan merealisasikannya, yaitu ucapan yang berbunyi, “Tegakkanlah daulah Islam di hati-hati kalian, niscaya akan tegak di bumi kalian,” karena seorang muslim apabila ia memperbaiki aqidahnya sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka tidak ragu lagi hasilnya adalah akan baik pula ibadah, akhlak, dan budi pekertinya, … dan seterusnya. Tetapi ucapan yang baik ini sangat disayangkan sekali tidak diamalkan oleh mereka, tetap saja mereka berteriak-teriak menginginkan daulah Islam tanpa hasil apa-apa. Maka benarlah ucapan seorang penyair tentang mereka:

“Engkau berharap keselamatan akan tetapi engkau tidak berjalan dijalurnya Sesungguhnya kapal itu tidak bisa berjalan di atas tanah yang kering.”[6]

ARTI NASEHAT KEPADA KAUM MUSLIMIN PADA UMUMNYA

Al-Imam Ibnu Nashr Al-Marwazi rahimahullah berkata.
“Sedangkan nasehat kepada kaum muslimin, maka ia mencintai untuk mereka apa-apa yang ia cintai untuk diri sendiri, dan membenci sesuatu agar tidak menimpa mereka apa-apa yang ia benci untuk dirinya, memikirkan urusan-urusan mereka, sayang kepada yang lebih muda di antara mereka serta menghormati orang yang lebih tua darinya, ia sedih apabila mereka sedih dan bergembira apabila mereka bergembira, meskipun hal tersebut sampai merugikan dia dalam urusan dunia, seperti menjual barang kepada mereka dengan harga yang relatif murah sehingga ia mendapat keuntungan yang tidak banyak dalam perdagangannya, dan begitu pula ia selalu berupaya agar mereka tidak mendapatkan kerugian dalam bentuk apapun, dan ia sangat mengharapkan kebaikan mereka, kelembutan mereka, dan kelanggengan nikmat atas mereka, dan menolong mereka melawan musuh mereka, serta membela mereka dari setiap gangguan dan kesulitan”.[7]

Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi rahimahullah berkata.
“Dan nasehat kepada kaum muslimin pada umumnya dengan menolong mereka dalam hal kebaikan, dan melarang mereka berbuat keburukan, dan membimbing mereka kepada petunjuk dan mencegah mereka dengan sekuat tenaga dari kesesatan, dan mencintai kebaikan untuk mereka sebagaimana ia mencintainya untuk diri sendiri, dikarenakan mereka itu semua adalah hamba-hamba Allah, maka haruslah bagi seorang hamba untuk memandang mereka dengan kacamata yang satu yaitu kacamata kebenaran.”[8]

[Disalin dari buku Fikih Nasehat, Penyusun Fariq Bin Gasim Anuz, Cetakan Pertama, Sya'ban 1420H/November 1999. Penerbit Pustaka Azzam Jakarta. PO BOX 7819 CC JKTM]
__________
Foote Note
[1]. Ta’dzimu Qadri As-Shalat, Juz 2 hal. 693-694
[2]. Berdasarkan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, “Tidak ada ketaatan kepada seseorang dalam hal maksiat kepada Allah.” [H.R. Ahmad, 5/66, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shahihah no. 179, juga hadits lain yang semakna disebutkan oleh Syaikh Al-Albani, no. 180. Riwayat Ahmad 4/426, 427, 436 dan At-Toyalisi, 850 dan no. 181 (Riwayat Bukhari, Muslim dan lainnya)]
[3]. Syarah Al-Arbain, hal. 41
[4]. Syarah Shahih Muslim. Juz 2 hal. 33-34
[5]. Dinukil dari buku Al-Qaulul Ma’mun fi Takhrij Ma’ Warada ‘an Ibni Abbas fi Tafsir Waman Lam Yahkum Bima Anzalallah Faulaaika Humul Kafirun, hal. 7-8
[6]. Disarikan dari buku At-Tahdzir min Fitnati At-Takfir, hal.70-84
[7]. Ta’dzimu Qadri As-Shalat, Juz 2 hal. 694
[8]. Syarah Al-Arbain, hal. 48

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 17, 2007 in SALAFIYAH

 

MENGAPA HARUS SALAFI?

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah ditanya : “Mengapa perlu menamakan diri dengan Salafiyah, apakah itu termasuk dakwah Hizbiyyah, golongan, madzhab atau kelompok baru dalam Islam ..?”

Jawaban.
Sesungguhnya kata “As-Salaf” sudah lazim dalam terminologi bahasa Arab maupun syariat Islam. Adapun yang menjadi bahasan kita kali ini adalah aspek syari’atnya. Dalam riwayat yang shahih, ketika menjelang wafat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Sayidah Fatimah radyillahu ‘anha :

“Artinya : Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, sebaik-baik “As-Salaf” bagimu adalah Aku”.

Dalam kenyataannya di kalangan para ulama sering menggunakan istilah “As-Salaf”. Satu contoh penggunaan “As-Salaf” yang biasa mereka pakai dalam bentuk syair untuk menumpas bid’ah :

“Dan setiap kebaikan itu terdapat dalam mengikuti orang-orang Salaf”.

“Dan setiap kejelekan itu terdapat dalam perkara baru yang diada-adakan orang Khalaf”.

Namun ada sebagian orang yang mengaku berilmu, mengingkari nisbat (penyandaran diri) pada istillah Salaf karena mereka menyangka bahwa hal tersebut tidak ada asalnya. Mereka berkata : “Seorang muslim tidak boleh mengatakan “saya seorang Salafi”. Secara tidak langsung mereka beranggapan bahwa seorang muslim tidak boleh mengikuti Salafus Shalih baik dalam hal aqidah, ibadah ataupun ahlaq”.

Tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran mereka ini, (kalau begitu maksudnya) membawa konsekwensi untuk berlepas diri dari Islam yang benar yang dipegang para Salafus Shalih yang dipimpin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Artinya : Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya”. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim).

Maka tidak boleh seorang muslim berlepas diri (bara’) dari penyandaran kepada Salafus Shalih. Sedangkan kalau seorang muslim melepaskan diri dari penyandaran apapun selain Salafus Shalih, tidak akan mungkin seorang ahli ilmupun menisbatkannya kepada kekafiran atau kefasikan.

Orang yang mengingkari istilah ini, bukankah dia juga menyandarkan diri pada suatu madzhab, baik secara akidah atau fikih ..?. Bisa jadi ia seorang Asy’ari, Maturidi, Ahli Hadits, Hanafi, Syafi’i, Maliki atau Hambali semata yang masih masuk dalam sebutan Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

Padahal orang-orang yang bersandar kepada madzhab Asy’ari dan pengikut madzhab yang empat adalah bersandar kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum. Walau ada juga ulama di kalangan mereka yang benar. Mengapa penisbatan-penisbatan kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum ini tidak diingkari ..?

Adapun orang yang berintisab kepada Salafus Shalih, dia menyandarkan diri kepada ishmah (kemaksuman/terjaga dari kesalahan) secara umum. Rasul telah mendiskripsikan tanda-tanda Firqah Najiah yaitu komitmennya dalam memegang sunnah Nabi dan para sahabatnya. Dengan demikian siapa yang berpegang dengan manhaj Salafus Shalih maka yakinlah dia berada atas petunjuk Allah ‘Azza wa Jalla.

Salafiyah merupakan predikat yang akan memuliakan dan memudahkan jalan menuju “Firqah Najiyah”. Dan hal itu tidak akan didapatkan bagi orang yang menisbatkan kepada nisbat apapun selainnya. Sebab nisbat kepada selain Salafiyah tidak akan terlepas dari dua perkara :

Pertama.
Menisbatkan diri kepada pribadi yang tidak maksum.

Kedua.
Menisbatkan diri kepada orang-orang yang mengikuti manhaj pribadi yang tidak maksum.

Jadi tidak terjaga dari kesalahan, dan ini berbeda dengan Ishmah para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan supaya kita berpegang teguh terhadap sunnahnya dan sunnah para sahabat setelahnya.

Kita tetap terus dan senantiasa menyerukan agar pemahaman kita terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah selaras dengan manhaj para sahabat, sehingga tetap dalam naungan Ishmah (terjaga dari kesalahan) dan tidak melenceng maupun menyimpang dengan pemahaman tertentu yang tanpa pondasi dari Al-Kitab dan As-Sunnah.

Mengapa sandaran terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah belum cukup ..?

Sebabnya kembali kepada dua hal, yaitu hubungannya dengan dalil syar’i dan fenomena Jama’ah Islamiyah yang ada.

Berkenan Dengan Sebab Pertama :

Kita dapati dalam nash-nash yang berupa perintah untuk menta’ati hal lain disamping Al-Kitab dan As-Sunnah sebagaimana dalam firman Allah :

“Artinya : Dan taatilah Allah, taatilah Rasul dan Ulil Amri diantara kalian”.
[An-Nisaa : 59].

Jika ada Waliyul Amri yang dibaiat kaum Muslimin maka menjadi wajib ditaati seperti keharusan taat terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah. Walau terkadang muncul kesalahan dari dirinya dan bawahannya. Taat kepadanya tetap wajib untuk menepis akibat buruk dari perbedaan pendapat dengan menjunjung tinggi syarat yang sudah dikenal yaitu :

“Artinya : Tidak ada ketaatan kepada mahluk di dalam bemaksiat kepada Al-Khalik”. [Lihat As-Shahihah No. 179]

“Artinya : Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan mereka berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannan dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. [An-Nisaa : 115]

Allah Maha Tinggi dan jauh dari main-main. Tidak disangkal lagi, penyebutan Sabilil Mu’minin (Jalan kaum mukminin) pasti mengandung hikmah dan manfa’at yang besar. Ayat itu membuktikan adanya kewajiban penting yaitu agar ittiba’ kita terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah harus sesuai dengan pemahaman generasi Islam yang pertama (generasi sahabat). Inilah yang diserukan dan ditekankan oleh dakwah Salafiyah di dalam inti dakwah dan manhaj tarbiyahnya.

Sesungguhnya Dakwah Salafiyah benar-benar akan menyatukan umat. Sedangkan dakwah lainnya hanya akan mencabik-cabiknya. Allah berfirman :

“Artinya : Dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang benar”. [At-Taubah : 119]

Siapa saja yang memisahkan antara Al-Kitab dan As-Sunnah dengan As-Salafus Shalih bukanlah seorang yang benar selama-lamanya.

Adapun Berkenan Dengan Sebab Kedua :

Bahwa kelompok-kelompok dan golongan-golongan (umat Islam) sekarang ini sama sekali tidak memperhatikan untuk mengikuti jalan kaum mukminin yang telah disinggung ayat di atas dan dipertegas oleh beberapa hadits.

Diantaranya hadits tentang firqah yang berjumlah tujuh puluh tiga golongan, semua masuk neraka kecuali satu. Rasul mendeskripsikannya sebagai :

“Dia (golongan itu) adalah yang berada di atas pijakanku dan para sahabatku hari ini”.

Hadits ini senada dengan ayat yang menyitir tentang jalan kaum mukminin. Di antara hadits yang juga senada maknanya adalah, hadits Irbadl bin Sariyah, yang di dalamnya memuat :

“Artinya : Pegangilah sunnahku dan sunnah Khulafair Rasyidin sepeninggalku”.

Jadi di sana ada dua sunnah yang harus di ikuti : sunnah Rasul dan sunnah Khulafaur Rasyidin.

Menjadi keharusan atas kita -generasi mutaakhirin- untuk merujuk kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dan jalan kaum mukminin. Kita tidak boleh berkata : “Kami mandiri dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa petunjuk Salafus As-Shalih”.

Demikian juga kita harus memiliki nama yang membedakan antara yang haq dan batil di jaman ini. Belum cukup kalau kita hanya mengucapkan :”Saya seorang muslim (saja) atau bermadzhab Islam. Sebab semua firqah juga mengaku demikian baik Syiah, Ibadhiyyah (salah satu firqah dalam Khawarij), Ahmadiyyah dan yang lain. Apa yang membedakan kita dengan mereka ..?

Kalau kita berkata : Saya seorang muslim yang memegangi Al-Kitab dan As-Sunnah. ini juga belum memadai. Karena firqah-firqah sesat juga mengklaim ittiba’ terhadap keduanya.

Tidak syak lagi, nama yang jelas, terang dan membedakan dari kelompok sempalan adalah ungkapan : “Saya seorang muslim yang konsisten dengan Al-Kitab dan As-Sunnah serta bermanhaj Salaf”, atau disingkat “Saya Salafi”.

Kita harus yakin, bersandar kepada Al-Kitab dan As-Sunnah saja, tanpa manhaj Salaf yang berperan sebagai penjelas dalam masalah metode pemahaman, pemikiran, ilmu, amal, dakwah, dan jihad, belumlah cukup.

Kita paham para sahabat tidak berta’ashub terhadap madzhab atau individu tertentu. Tidak ada dari mereka yang disebut-sebut sebagai Bakri, Umari, Utsmani atau Alawi (pengikut Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali). Bahkan bila seorang di antara mereka bisa bertanya kepada Abu Bakar, Umar atau Abu Hurairah maka bertanyalah ia. Sebab mereka meyakini bahwa tidak boleh memurnikan ittiba’ kecuali kepada satu orang saja yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang tidak berkata dengan kemauan nafsunya, ucapannya tiada lain wahyu yang diwahyukan.

Taruhlah misalnya kita terima bantahan para pengkritik itu, yaitu kita hanya menyebut diri sebagai muslimin saja tanpa penyandaran kepada manhaj Salaf ; padahal manhaj Salaf merupakan nisbat yang mulia dan benar. Lalu apakah mereka (pengkritik) akan terbebas dari penamaan diri dengan nama-nama golongan madzhab atau nama-nama tarekat mereka .? Padahal sebutan itu tidak syar’i dan salah ..!?.

Allah adalah Dzat Maha pemberi petunjuk menuju jalan lurus. Wallahu al-Musta’in.

Demikianlah jawaban kami. Istilah Salaf bukan menunjukkan sikap fanatik atau ta’assub pada kelompok tertentu, tetapi menunjukkan pada komitmennya untuk mengikuti Manhaj Salafus Shalih dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Wallahu Waliyyut-Taufiq.

[Disalin dari Majalah Al-Ashalah edisi 9/Th.II/15 Sya'ban 1414H, Majalah As-Sunnah Edisi 09/Th III/1419H-1999M, Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo Purwodadi Km 8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183] copyleft almanhaj.or.id

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 10, 2007 in SALAFIYAH

 

KEWAJIBAN ITTIBA’ (MENGIKUTI) JEJAK SALAFUSH SHALIH DAN MENETAPKAN MANHAJNYA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
Bagian Pertamar dari Tiga Tulisan

Mengikuti manhaj/jalan Salafush Shalih (yaitu para Shahabat) adalah kewajiban bagi setiap individu Muslim. Adapun dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut:

A. DALIL-DALIL DARI AL-QUR-AN
Allah berfirman:

“Artinya : Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dia-lah Yang Mahamendengar lagi Maha-mengetahui.” [Al-Baqarah: 137]

Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah (wafat tahun 751 H) berkata: “Pada ayat ini Allah menjadikan iman para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai timbangan (tolak ukur) untuk membedakan antara petunjuk dan kesesatan, antara kebenaran dan kebatilan. Apabila Ahlul Kitab beriman sebagaimana berimannya para Shahabat, maka sungguh mereka mendapat hidayah (petunjuk) yang mutlak dan sempurna. Jika mereka (Ahlul Kitab) berpaling (tidak beriman), sebagaimana imannya para Shahabat, maka mereka jatuh ke dalam perpecahan, perselisihan, dan kesesatan yang sangat jauh…”

Kemudian beliau rahimahullah melanjutkan: “Memohon hidayah dan iman adalah sebesar-besar kewajiban, menjauhkan perselisihan dan kesesatan adalah wajib. Jadi, mengikuti (manhaj) Shahabat Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kewajiban yang paling wajib.” [1]

“Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” [Al-An’aam: 153]

Ayat ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa jalan itu hanya satu, sedangkan jalan selainnya adalah jalan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu dan jalannya ahlul bid’ah.

Hal ini sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh Imam Mujahid ketika menafsirkan ayat ini. Jalan yang satu ini adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya radhiyallahu ‘anhum. Jalan ini adalah ash-Shirath al-Mustaqiim yang wajib atas setiap muslim menempuhnya dan jalan inilah yang akan mengantarkan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa jalan yang mengantarkan seseorang kepada Allah hanya SATU… Tidak ada seorang pun yang dapat sampai kepada Allah, kecuali melalui jalan yang satu ini.[2]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahan-nam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” [An-Nisaa’: 115]

Ayat ini menunjukkan bahwa menyalahi jalannya kaum mukminin sebagai sebab seseorang akan terjatuh ke dalam jalan-jalan kesesatan dan diancam dengan ma-suk Neraka Jahannam.

Ayat ini juga menunjukkan bahwasanya mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebesar-besar prinsip dalam Islam yang mempunyai konsekuensi wajibnya ummat Islam untuk mengikuti jalannya kaum mukminin dan jalannya kaum Mukminin adalah perkataan dan perbuatan para Shahabat ridhwanullahu ‘alaihim ajma’iin. Karena, ketika turunnya wahyu tidak ada orang yang beriman kecuali para Shahabat, sebagaimana firman Allah jalla wa’ala:

“Artinya : Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beri-man.” [Al-Baqarah: 285]

Orang Mukmin ketika itu hanyalah para Shahabat radhiyallahu ‘anhum tidak ada yang lain. Ayat di atas menunjukkan bahwa mengikuti jalan para Shahabat dalam memahami syari’at adalah wajib dan menyalahinya adalah kesesesatan. [3]

“Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalam-nya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keme-angan yang besar.” [At-Taubah: 100]

Ayat tersebut sebagai hujjah bahwa manhaj para Shahabat ridhwanullahu ‘alaihim jami’an adalah benar. Dan orang yang mengikuti mereka akan mendapatkan keridhaan dari Allah Jalla wa ’Ala dan disediakan bagi mereka Surga. Mengikuti manhaj mereka adalah wajib atas setiap Mukmin. Kalau mereka tidak mau mengikuti, maka mereka akan mendapatkan hukuman dan tidak mendapatkan keridhaan Allah Jalla wa ’Ala dan ini harus diperhatikan. [4]

“Artinya : Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” [Ali Imraan: 110]

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah Jalla wa ’Ala telah menetapkan keutamaan atas sekalian ummat-ummat yang ada dan hal ini menunjukkan keistiqamahan para Shahabat dalam setiap keadaan, karena mereka tidak menyimpang dari syari’at yang terang benderang, sehingga Allah Jalla wa ’Ala mempersaksikan bahwa mereka memerin-tahkan setiap kema’rufan (kebaikan) dan mencegah setiap kemungkaran. Hal tersebut menunjukkan dengan pasti bahwa pemahaman mereka (Shahabat) adalah hujjah atas orang-orang setelah mereka, sampai Allah Jalla wa ’Ala mewariskan bumi dan seisinya.[5]

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
_________
Foote Note
[1]. Bashaa-iru Dzaawi Syaraf bi Syarah Marwiyati Manhajis Salaf (hal. 53), oleh Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly.
[2]. Tafsir al-Qayyim oleh Ibnul Qayyim (hal. 14-15).
[3]. Lihat Bashaa-iru Dzawisy Syaraf bi Syarah Marwiyati Manhajis Salaf (hal. 54), oleh Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly.
[4]. Bashaa-iru Dzawisy Syaraf bi Syarah Marwiyati Manhajis Salaf, hal. 43, 53-54.
[5]. Lihat Limadza Ikhtartu Manhajas Salafy (hal. 86) oleh Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly.

B. DALIL-DALIL DARI AS-SUNNAH
‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Artinya : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda: ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaitan yang menyeru kepadanya.’ Selanjutnya beliau membaca firman Allah Jalla wa ’Ala: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.’” [Al-An’aam: 153] [1]

“Artinya : Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” [2]

Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan tentang kebaikan mereka, yang merupakan sebaik-baik manusia serta keutamaannya. Sedangkan perkataan ‘sebaik-baik manusia’ yaitu tentang ‘aqidahnya, manhajnya, akhlaqnya, dakwahnya dan lain-lainnya. Oleh karena itu, mereka dikatakan sebaik-baik manusia [3]. Dan dalam riwayat lain disebutkan dengan kata “khaiyrukum” (sebaik-baik kalian) dan dalam riwayat yang lain disebutkan “khaiyru ummatiy” (sebaik-baik ummatku.’)

Kata Shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

“Artinya : Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hambaNya dan Allah mendapati hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik hati manusia, maka Allah pilih Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusanNya. Allah memberikan risalah kepadanya, kemudian Allah melihat dari seluruh hati hambah-hamba-Nya setelah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka didapati bahwa hati para Shahabat merupakan hati yang paling baik sesudahnya, maka Allah jadikan mereka sebagai pendamping NabiNya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka berperang atas agamaNya. Apa yang dipandang kaum Muslimin (para Shahabat Rasul) itu baik, maka itu baik pula di sisi Allah dan apa yang mereka (para Shahabat Rasul) pandang jelek, maka jelak di sisi Allah” [4]

Dan dalam hadits lain pun disebutkan tentang kewajiban kita mengikuti manhaj Salafush Shalih (para Shahabat), yaitu hadits yang terkenal dengan hadits ‘Irbadh bin Sariyah, hadits ini terdapat pula dalam al-Arbain an-Nawawiyah no. 28:

Artinya : “Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu [5]: ‘Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kamu adalah seorang budak Habasiyyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.’” [6]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang akan terjadinya perpecahan dan perselisihan pada ummat-nya, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mem-berikan jalan keluar untuk selamat dunia dan akhirat, yaitu dengan mengikuti Sunnahnya dan sunnah para Shahabatnya ridhwanullaahu ‘alaihim jami’an. Hal ini menunjukkan tentang wajibnya mengikuti Sunnahnya (Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan sunnah para Shahabatnya ridhwanullahu ‘alaihim jami’an.

Kemudian dalam hadits yang lain, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tentang hadits iftiraq (akan terpecahnya ummat ini menjadi 73 golongan):

“Artinya : Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahlul Kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga, yaitu al-Jama’ah.” [7]

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Artinya : Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para Shahabatku berjalan di atasnya.” [8]

Hadits iftiraq tersebut juga menunjukkan bahwa ummat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan, semua binasa kecuali satu golongan yaitu yang mengikuti apa yang dilaksanakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya ridhwanullahu ‘alaihim jami’an. Jadi jalan selamat itu hanya satu, yaitu mengikuti al-Qur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman Salafus Shalih (para Shahabat).

Hadits di atas menunjukkan bahwa, setiap orang yang mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya adalah termasuk ke dalam al-Firqatun Najiyah (golongan yang selamat). Sedangkan yang menyelisihi (tidak mengikuti) para Shahabat, maka mereka adalah golongan yang binasa dan akan mendapat ancaman de-ngan masuk ke dalam Neraka.

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
_________
Foote Note
[1]. Hadits shahih riwayat Ahmad (I/435, 465), ad-Darimy (I/67-68), al-Hakim (II/318), Syarhus Sunnah oleh Imam al-Baghawy (no. 97), di-hasan-kan oleh Syaikh al-Albany dalam as-Sunnah libni Abi ‘Ashim (no. 17), Tafsir an-Nasaa-i (no. 194). Adapun tambahan (mutafarriqatun) diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/435).
[2]. Muttafaq ‘alaih, al-Bukhari (no. 2652, 3651, 6429, 6658) dan Muslim (no. 2533 (211)) dan lainnya dari Shahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini mutawatir, sebagaimana telah ditegaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Ishabah (I/12), al-Munawy dalam Faidhul Qadir (III/478) serta disetujui oleh al-Kattaany dalam kitab Nadhmul Mutanatsir (hal 127). Lihat Limadza Ikhtartu al-Manhajas Salafy (hal. 87).
[3]. Limadza Ikhtartu al-Manhajas Salafy (hal. 86-87).
[4]. HR. Ahmad (I/379), dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir (no. 3600). Lihat Majma’-uz Zawaa-id (I/177-178).
[5]. Perawi hadits adalah Irbadh bin Sariyah Abu Najih as-Salimi, beliau termasuk ahli Suffah, tinggal di Himsha setelah penaklukan Makkah, tentang wafatnya ahli sejarah berbeda pendapat, ada yang mengatakan tatkala peristiwa Ibnu Zubair, adapula yang mengatakan tahun 75 H. Lihat al-Ishabah (II/473 no. 5501).
[6]. HR. Ahmad (IV/126-127), Abu Dawud (no. 4607) dan at-Tirmidzi (no. 2676), ad-Darimy (I/44), al-Baghawy dalam kitabnya Syarhus Sunnah (I/205), al-Hakim (I/95), dishahihkan dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi, dan Syaikh al-Albany menshahihkan juga hadits ini
[7]. HR. Abu Dawud (no. 4597), Ahmad (IV/102), al-Hakim (I/128), ad-Darimy (II/241), al-Aajury dalam asy-Asyari’ah, al-Laalikaa’iy dalam as-Sunnah (I/113 no.150). Dishahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan hadits ini shahih masyhur. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albany. Lihat Silsilatul Ahaadits Shahihah (no. 203 dan 204).
[8]. HR. At-Tirmidzi (no. 2641) dari Shahabat ‘Abdullah bin Amr, dan di-hasan-kan oleh Syaikh al-Albany dalam Shahihul Jami’ (no. 5343). Lihat Dar-ul Irtiyaab ‘an Hadits Ma Ana ‘Alaihi wa Ash-habii oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaaly, cet. Daarul Raayah, 1410 H, sebagaimana juga telah saya terangkan panjang lebar mengenai hadits Iftiraqul Ummah sebelum ini, walhamdulillah.

C. DALIL-DALIL DARI PENJELASAN SALAFUSH SHALIH
“Artinya : Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Hendaklah kalian mengikuti dan janganlah kalian ber-buat bid’ah. Sungguh kalian telah dicukupi dengan Islam ini.” [1]

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan:

“ Artinya : Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [2]

Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan:

“Artinya : “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [3]

Beliau rahimahullah juga berkata:

“Artinya : Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [4]

Muhammad bin Sirin rahimahullah (wafat th. 110 H) berkata:

“Artinya :Mereka mengatakan: ‘Jika ada seseorang berada di atas atsar (sunnah), maka sesungguhnya ia berada di atas jalan yang lurus.” [5]

Imam Ahmad rahimahullah (wafat th. 241 H) berkata:
Ãõ
“Artinya : Prinsip Ahlus Sunnah adalah berpegang dengan apa yang dilaksanakan oleh para Shahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in dan mengikuti jejak mereka, meninggalkan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.” [6]

Jadi, dari penjelasan tersebut di atas dapat dikatakan bahwa Ahlus Sunnah meyakini bahwa kema’shuman dan keselamatan hanya ada pada manhaj Salaf. Dan bahwasanya seluruh manhaj yang tidak berlandaskan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah MENURUT PEMAHAMAN SALAFUS SHALIH adalah menyimpang dari ash Shirath al-Mustaqiim, penyimpangan itu sesuai dengan kadar jauhnya mereka dari manhaj Salaf. Dan kebenaran yang ada pada mereka juga sesuai dengan kadar kedekatan mereka dengan manhaj Salaf. Sekiranya para pengikut manhaj-manhaj menyimpang itu mengikuti pedoman manhaj mereka niscaya mereka tidak akan dapat mewujudkan hakekat penghambaan diri kepada Allah Jalla wa ’Ala sebagaimana mestinya selama mereka jauh dari manhaj Salaf. Sekiranya mereka berhasil meraih tampuk ke-kuasaan tidak berdasarkan pada manhaj yang lurus ini, maka janganlah terpedaya dengan hasil yang mereka peroleh itu. Karena kekuasaan hakiki yang dijanjikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanyalah bagi orang-orang yang berada di atas manhaj Salaf ini.

Janganlah kita merasa terasing karena sedikitnya orang-orang yang mengikuti kebenaran dan jangan pula kita terpedaya karena banyaknya orang-orang yang tersesat.

Ahlus Sunnah meyakini bahwa generasi akhir ummat ini hanya akan menjadi baik dengan apa yang menjadi-kan baik generasi awalnya. Alangkah meruginya orang-orang yang terpedaya dengan manhaj (metode) baru yang menyelisihi syari’at dan melupakan jerih payah Salafush Shalih. Manhaj (metode) baru itu semestinya dilihat de-ngan kacamata syari’at bukan sebaliknya.

Fudhail bin ‘Iyad rahimahullah berkata:

“Artinya : Ikutilah jalan-jalan petunjuk (Sunnah), tidak membahayakanmu sedikitnya orang yang menempuh jalan tersebut. Jauhkan dirimu dari jalan-jalan kesesatan dan janganlah engkau tertipu dengan banyaknya orang yang menempuh jalan kebi-nasaan.” [7]

PERHATIAN PARA ULAMA TENTANG ‘AQIDAH SALAFUSH SHALIH
Sesungguhnya para ulama mempunyai perhatian yang sangat besar terhadap ‘aqidah Salafush Shalih. Mereka menulis kitab-kitab yang banyak sekali untuk menjelaskan dan menerangkan ‘aqidah Salaf ini, serta membantah orang-orang yang menentang dan menyalahi ‘aqidah ini dari berbagai macam firqah dan golongan yang sesat. Karena sesungguhnya ‘aqidah dan manhaj Salaf ini dikenal dengan riwayat bersambung yang sampai kepada imam-imam Ahlus Sunnah dan ditulis dengan penjelasan yang benar dan akurat.

Adapun untuk mengetahui ‘aqidah dan manhaj Salaf ini, maka kita bisa melihat:

Pertama.
penyebutan lafazh-lafazh tentang ‘aqidah dan manhaj salaf yang diriwayatkan oleh para Imam Ahlul Hadits dengan sanad-sanad yang sah.

Kedua
Yang meriwayatkan ‘aqidah dan manhaj Salaf adalah seluruh ulama kaum Muslimin dari berbagai macam disiplin ilmu: Ahlul Ushul, Ahlul Fiqh, Ahlul Hadits, Ahlut Tafsir, dan yang lainnya.

Sehingga ‘aqidah dan manhaj salaf ini diriwayatkan oleh para ulama dari berbagai disiplin ilmu secara mutawatir.

Penulisan dan pembukuan ‘aqidah dan manhaj salaf (seiring) bersamaan dengan penulisan dan pembukuan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pentingnya ‘aqidah salaf ini di antara ‘aqidah-’aqidah yang lainnya, yaitu antara lain:

[1]. Bahwa dengan ‘aqidah salaf ini seorang muslim akan mengagungkan al-Qur’an dan as-Sunnah, adapun ‘aqidah yang lain karena mashdarnya (sumbernya) hawa nafsu, maka mereka akan mempermainkan dalil, sedang dalil dan tafsirnya mengikuti hawa nafsu.

[2]. Bahwa dengan ‘aqidah salaf ini akan mengikat seorang Muslim dengan generasi yang pertama, yaitu para Shahabat ridhwanullahi ‘alaihim jamii’an yang mereka itu adalah sebaik-baik manusia dan ummat.

[3]. Bahwa dengan ‘aqidah salaf ini, kaum Muslimin dan da’i-da’inya akan bersatu sehingga dapat mencapai kemuliaan serta menjadi sebaik-baik ummat. Hal ini karena ‘aqidah salaf ini berdasarkan al-Qur-’n dan as-Sunnah menurut pemahaman para Shahabat. Adapun ‘aqidah selain ‘aqidah salaf ini, maka dengannya tidak akan tercapai persatuan bahkan yang akan terjadi adalah perpecahan dan kehancuran. Imam Malik berkata:

“Artinya : “Tidak akan baik akhir ummat ini melainkan apabila mereka mengikuti baiknya generasi yang pertama ummat ini (Shahabat).” [8]

[4]. Aqidah salaf ini jelas, mudah dan jauh dari ta’wil, ta’thil, dan tasybih. Oleh karena itu dengan kemudahan ini setiap muslim akan mengagungkan Allah Jalla wa ’Ala dan akan merasa tenang dengan qadha’ dan qadar Allah Jalla wa ’Ala serta akan mengagungkan-Nya.

[5]. ‘Aqidah salaf ini adalah ‘aqidah yang selamat, karena as-Salafush Shalih lebih selamat, tahu dan bijaksana (aslam, a’lam, ahkam). Dan dengan ‘aqidah salaf ini akan membawa kepada keselamatan di dunia dan akhirat, oleh karena itu berpegang pada ‘aqidah salaf ini hu-kumnya wajib.

[Disalin dari kitab Ar-Rasaail Jilid-1, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Pertama Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]
_________
Foote Note
[1]. Diriwayatkan oleh ad-Darimi I/69, Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah I/96 no. 104, oleh al-Laalikaa’iy, ath-Thabrany dalam al-Kabir, sebagaimana kata al-Haitsamy dalam Majma’uz Zawaaid I/181.
[2]. Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy.
[3]. Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315
[4]. Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, dishahihkan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120.
[5]. HR. Ad-Darimy I/54, Ibnu Baththah dalam al-Ibanah ‘an Syari’atil Firqatin Najiyah I/356 no. 242. Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh al-Laalikaa-iy I/98 no. 109.
[6]Syarah Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah oleh al-Laalikaa’iy I/175-185 no. 317.
[7]. Lihat al-I’tisham I/112
[8]. Lihat Ighatsatul Lahfaan min Mashaayidhis Syaitan hal. 313, oleh Ibnul Qayyim, tahqiq Khalid Abdul Latiif as-Sab’il ‘Alamiy, cet. Daarul Kitab ‘Araby, 1422 H. Sittu Durar min Ushuli Ahli Atsar hal. 73 oleh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhany.
______________________
MARAJI’
1. Bashaa-iru Dzaawi Syaraf bi Syarah Marwiyati Manhajis Salaf, oleh Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly, cet. Maktabah al-Furqaan, th. 1421 H.
2. Tafsiir al-Qayyim, oleh Syaikhul Islam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyyah th. 1398 H.
3. Limadza Ikhtartu Manhajas Salafy, oleh Syaikh Salim bin Ied al-Hilaly, cet. Markaz ad-Diraasah al-Manhajiyyah as-Salafiyyah, th. 1420 H.
4. Musnad Imam Ahmad, Imam Ahmad bin Hanbal, cet. Daarul Fikr, th. 1398 H.
5. Sunan ad-Darimy, Imam ad-Darimy, cet. Daarul Fikr, th. 1398 H.
6. Al-Mustadrak, Imam al-Hakim, cet. Daarul Fikr, th. 1398 H.
7. Syarhus Sunnah, oleh Imam al-Baghawy, tahqiq: Syu’aib al-Arnauth dan Muhammad Zuhair asy-Syawaisy, cet. Al-Maktab al-Islamy, th. 1403 H.
8. As-Sunnah libni Abi ‘Ashim, takhrij Syaikh al-Albany.
9. Tafsiir an-Nasaa-i, Imam an-Nasa-i, tahqiq: Shabri bin ‘Abdul Khaliq asy-Syafi’i dan Sayyid bin ‘Abbas al-Jalimy, cet. Maktabah as-Sunnah, th. 1410 H.
10. Shahih al-Bukhary.
11. Shahih Muslim.
12. Al-Ishaabah fii Tamyiiz ash-Shahaabah, Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalany.
13. Fa-idhul Qadir, Imam al-Munawy.
14. Nadhmul Mutanatsir, oleh al-Kattany.
15. Majma’-uz Zawaa-id, oleh al-Hafizh al-Haitsamy, cet. Daarul Kitab al-‘Araby-Beirut, th. 1402 H.
16. Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, tahqiq: Ahmad Mu-hammad Syakir, cet. Daarul Hadits, th. 1416 H.
17. Sunan at-Tirmidzi.
18. Sunan Abi Dawud.
19. Syarah Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah, oleh Imam al-Lalikaa’iy, cet. Daar Thayyibah, th. 1418 H.
20. Silsilatul Ahaadits ash-Shahiihah, oleh Imam Muham-mad Nashirudin al-Albany.
21. Shahihul Jaami’ ash-Shaghir, oleh Imam Muhammad Nashirudin al-Albany.
22. Dar-ul Irtiyaab ‘an Hadits Ma Ana ‘alaihi wa Ash-habii, oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, cet. Daarul Raayah, 1410 H.
23. Al-Mu’jamul Kabiir, oleh Imam ath-Thabrany, tahqiq: Hamdi ‘Abdul Majid as-Salafy, cet. Daar Ihyaa’ al-Turats al-‘Araby, th. 1404 H.
24. Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih, oleh Imam Ibnu ‘Abdil Baar, tahqiq: Abul Asybal Samir az-Zuhairy, cet. Daar Ibnul Jauzy, th. 1416 H.
25. Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby, tahqiq: Imam Muhammad Nashiruddin al-Albany, cet. Maktab al-Islamy, th. 1424 H.
26. Siyar A’lamin Nubalaa’, oleh Imam adz-Dzahaby.
27. Al-I’tishaam, oleh Imam asy-Syathiby, tahqiq: Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly, cet. Daar Ibni ‘Affan, tahun 1412 H.
28. Ighatsatul Lahfaan min Mashaayidhisy Syaitan, oleh Ibnul Qayyim, tahqiq: Khalid Abdul Latiif as-Sab’il ‘Alamiy, cetakan Daarul Kitab ‘Araby, th. 1422 H.
29. Sittu Durar min Ushuli Ahlil Atsar, oleh ‘Abdul Malik bin Ahmad Ramadhany, cet. Maktabah al-‘Umarain al-‘Ilmiyyah, th. 1420 H.  copyleft almanhaj.or.id

 
1 Komentar

Posted by pada Desember 10, 2007 in SALAFIYAH

 

MEMULAI DAKWAH APAKAH DIAWALI DENGAN TAUHID ATAU DENGAN MENTAHDZIR TERLEBIH DAHULU ?

Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilaly
Syaikh Abu Ubaidah Masyhurah bin Hasan Salman

Pertanyaan.
Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilaly ditanya : Bagaiamana salaf memulai dakwahnya, apakah dimulai dengan tauhid atau dimulai dengan menjelaskan kepada para mad’u ; kelompok-kelompok yang sesat walaupun orang yang didakwahi tersebut sebenarnya belum paham tauhid?

Jawaban
Penjelasan mengenai kelompok-kelompok yang menyimpang dan sesat pada hakikatnya adalah dakwah kepada tauhid, sebab maksud dari dakwah tauhid sendiri adalah menyeru kepada tauhid dan meninggalkan syirik, dan sesuatu tidak akan diketahui kecuali dengan mengetahui lawannya ; dakwah untuk mengikuti jalan orang-orang beriman termasuk didalamnya dakwah untuk meninggalkankan jalan orang-orang yang mujrim, dakwah kepada sunnah mencakup dakwah menjauhi bid’ah, amar ma’ruf harus sejalan dengan nahi mungkar. Oleh karena itu dakwah dengan menjelaskan dan mentahdzir manusia dari kelompok-kelompok yang menyimpang ; yang memalingkan orang dari dakwah kepada tauhid dan manhaj yang benar merupakan essensi dari dakwah kepada tauhid. Penjelasan mengenai bahayanya dampak kelompok Jahmiyyah, Murjiah dan Khawarij dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan berbagai nama-nama yang diperbaharui dizaman ini adalah inti dari dakwah kepada tauhid.

Namun kesalahan fatal yang terjadi dalam hal ini terdapat dalam dua poin :

Pertama.
Kesalahan dengan melebihkan takaran dakwah kepada satu sisi saja dengan meninggalkan sisi lainnya tanpa ada kebutuhan. Contohnya seluruh materi dakwah yang disampaikan hanya mengungkap kelompok-kelompok sesat semata, tidak pernah disentuh materi mengenai iman, mengenai taqdir, mengenai masalah sifat dan permasalahan lainnya. Oleh karena itu jangan sampai kita lupakan masalah tauhid dan bagian-bagiannya. Adapun mengangkat satu sisi dalam berdakwah dan meninggalkan sisi lainnya akan berdampak negatif dan berbahaya bagi orang-orang yang diseru.

Kedua.
Kesalahan atau bahaya kedua yaitu tampilnya orang-orang yang menerangkan dan mentahzir kelompok-kelompok maupun jamaah yang sesat sementara dia sendiri tidak memahami manhaj mereka dan tidak paham manhaj salaf yang sebenarnya. Orang seperti ini memiliki peluang besar untuk memasukkan orang-orang yang benar ahlu al-haq kedalam gerombolan orang-orang yang sesat, tanpa basirah/ilmu dan tanpa ada rasa takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala . Intinya orang yang berkompeten dalam masalah ini hendaklah dari kalangan ulama ar-Rasikhin ar-Rabbaniyyin yang paham memposisikan sisi mana yang lebih dibutuhkan orang-orang yang didakwahinya. Sebagai contoh jika penyembahan kepada kuburan tersebar dinegeri itu maka hendaklah dia memprioritaskan dakwah kepada tauhid dengan segala bagiannya, dengan mengkonsentrasikan dakwahnya mengenai bahayanya ibadah kepada kubur, jika kekurangan didalam para mad’unya mengenai masalah sifat maka da’i harus benar-benar mendahulukan dakwahnya kepada masalah sifat.

APA YANG HARUS DIDAHULUKAN TASFIYAH ATAU TARBIYAH ?

Oleh
Syaikh Abu Ubaidah Masyhurah bin Hasan Salman

Pertanyaan
Syaikh Abu Ubaidah Masyhurah bin Hasan Salman ditanya : Mana yang lebih didahulukan apakah tasfiyah baru tarbiyah atau tidak masalah untuk mendahulukan salah satu dari keduanya ?

Jawaban
Prinsipnya tasfiyah dan tarbiyah harus berjalan seiring, dalam syair dikatakan :”Seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya akan di azab sebelum para penyembah berhala”. Sebab pada dasarnya orang yang belajar adalah untuk dapat diamalkan, barang siapa yang bertambah ilmunya dan tidak bertambah taqwanya maka hendaklah curiga dengan ilmunya. Manusia tidak sanggup untuk belajar dan menambah sesuatu ilmu kecuali jika Allah telah melimpahkan kepadanya sifat as-sidqu (kejujuran) dan amal sholeh, berkah dan beratambahnya ilmu seseorang itu jika dia berusaha
mengamalkan ilmu yang didapatnya.

Adapun yang membagi hidupnya kepada periode tertentu, periode tasfiyah dahulu baru tarbiyah atau sebaliknya, atau mengatakan : “aku sekarang dalam periode tazkiah maka aku tidak akan beramal hingga aku paham agama ini secara keseluruhan”. Ini adalah keliru. Wajib bagi setiap orang setelah belajar langsung bersegera mengamalkannya mengejar ridho Allah subhanahu wa Ta’ala.

[Seri Soal Jawab DaurAh Syar'iyah Surabaya 17-21 Maret 2002. Dengan Masyayaikh Murid-murid Syaikh Muhammad Nashirudiin Al-Albani Hafidzahumullahu diterjemahkan oleh Ustadz Ahmad Ridwan , Lc] copyleft almanhaj.or.id

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 10, 2007 in SALAFIYAH

 

MENGAPA MANHAJ SALAF ?

Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilali

Sesungguhnya tasfiyah (membersihkan) ajaran Islam dari ajaran-ajaran yang bukan bersumber dari Islam, (baik dalam masalah) aqidah, hukum dan akhlak, merupakan sebuah kewajiban. Agar Islam kembali bersinar, jernih, bersih dan murni sebagaimana yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian mentarbiyah (mendidik kembali) generasi muslim di atas agama Islam yang bersih ini dengan tarbiyah (pembinaan) keimanan yang dalam pengaruhnya, semua itu merupakan : Manhaj Dakwah Salafiyah yang selamat, dan kelompok yang mendapat pertolongan Allah dalam (mengadakan) perubahan.

Pertama : Mengapa Manhaj Salaf ?

Sudah semestinya setiap muslim (yang menghendaki keselamatan, merindukan kehidupan yang mulia, di dunia dan di akhirat), untuk memahami Kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih dengan pemahaman sebaik-baik manusia yaitu para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

Karena sekali-kali tidak akan tergambar oleh pemikiran, adanya sebuah pemahaman, atau suatu manhaj (metode) yang lebih benar dan lebih lurus dari pemahaman Salafus Shalih dan manhaj mereka, karena tidak akan menjadi baik urusan umat ini melainkan dengan cara yang dilakukan oleh umat yang pertama.

Dan dari membaca dalil-dalil dari Kitab, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas akan didapati kewajiban memahami Kitab dan Sunnah dalam naungan pemahaman Salafus Shalih, karena manhaj Salafus Shalih disepakati kebenarannya dalam setiap masa. Oleh karena itu, tidak diperbolehkan bagi seorang setinggi apapun kedudukannya untuk memahami (agama) dengan pemahaman selain pemahaman Salafus Shalih. Barangsiapa yang membenci manhaj Salafus Shalih dan cenderung kepada perbuatan bid’ah kaum khalaf, (yang terlingkupi dengan bahaya-bahaya dan tidak aman dari pengaruh bid’ah, serta akibatnya yang tidak dapat diingkari yaitu memecah belah kaum muslimin) maka ia adalah manusia yang membangun bangunannya di tepi jurang neraka.

Kepada pembaca kami jelaskan dengan dalil dan bukti.

[1]. Sesungguhnya Salafus Shalih (Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala) meridhai mereka) telah dipersaksikan kebaikannya, berdasar nash (dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah) maupun istinbath (pengambilan hukum).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” [At-Taubah : 100]

Pengertian ayat ini : Bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji orang-orang yang mengikuti Khiarul Bariyyah (sebaik-baik manusia). Maka dari sini diketahui bahwa apabila khairul bariyyah mengatakan suatu perkataan kemudian diikuti oleh seseorang, maka orang yang mengikuti itu berhak mendapatkan pujian dan keridhaan. Jika mengikuti “khairul bariyyah” tidak mendapatkan suatu keistimewaan, tentu orang yang mengikuti “khairul bariyah” tidak berhak mendapatkan pujian dan keridhaan. Dan khairul bariyyah adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih mereka itu adalah khairul bariyyah (sebaik-baik manusia)” [Al-Bayyinnah : 7]

[2]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk menusia menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah” [Ali Imran : 110]

Pengertian ayat ini : Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan keutamaan para sahabat atas seluruh umat, ketetapan itu mengharuskan keistiqomahan mereka dalam segala hal, karena mereka tidak akan menyimpang dari jalan yang lurus. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan persaksian, bahwa mereka menyuruh segala hal yang ma’ruf dan melarang dari segala yang mungkar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Persaksian ini mengharuskan bahwa pemahaman mereka menjadi hujjah bagi orang-orang yang sesudah mereka, hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mewariskan bumi dan apa saja yang ada di atasnya. Kalau tidak demikian halnya, berarti perbuatan mereka dalam menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran tidak benar, maka renungkanlah ..!

Jika ada perkataan : Ayat ini umum tidak khusus pada generasi sahabat saja.

Maka aku (Syaikh Salim Al-Hilali) berkata :

Ayat ini pertama kali ditujukan kepada para sahabat, dan tidak termasuk dalam ayat ini orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, kecuali jika (ayat ini) diqiyaskan atau diterangkan dengan dalil lain, sebagaimana dalil yang pertama.

Dan juga atas dasar keumuman ayat tersebut, (dan inilah yang benar). Sesungguhnya sahabat adalah mereka yang dimaksudkan dalam ayat itu, karena merekalah manusia yang pertama kali menerima ilmu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa perantara, merekalah manusia yang “menyentuh” wahyu.

Merekalah manusia yang lebih utama (untuk ditujukan ayat itu) daripada yang selain mereka. Dimana sifat-sifat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam ayat itu tidak akan tersifatkan secara sempurna kecuali jika diberikan kepada para sahabat. Maka kesesuaian sifat itu bukti bahwa mereka lebih berhak dari selain mereka dalam mendapatkan pujian.

[3]. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Artinya : Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku, kemudian masa berikutnya, kemudian masa berikutnya. Kemudian akan datang suatu kaum yang persaksiannya mendahului sumpahnya dan sumpahnya (mendahului) persaksiannya” [Hadits Mutawatir sebagaimana dicantumkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam “Al-Isabah” 1/12, dan disepakati oleh Suyuthi, Al-Manawi, Al-Kinani]

Apakah kebaikan yang ditetapkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat itu dikarenakan warna kulit mereka? Bentuk tubuh mereka? Harta mereka? Tempat tinggal mereka ? atau …?

Tidak diragukan lagi bagi (orang berakal) yang memahami Al-Kitab dan As-Sunnah yang shahih, bahwa semua itu bukanlah yang dimaksudkan dalam hadits diatas, karena sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dalam hadits yang lain).

“Artinya : Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk tubuh dan harta kalian, tetapi Allah melihat pada hati dan amal-amal kalian” [Hadist Riwayat Muslim]

Karena kebaikan dalam Islam ukurannya adalah ketaqwaan hati dan amal shalih, hal ini sesuai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah yang paling bertaqwa diantara kamu” [Al-Hujurat : 13]

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah melihat hati para sahabat (semoga Allah meridhai mereka) maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mendapati hati mereka adalah sebaik-baik hati manusia sesudah hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat hati para hamba, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala dapati hati Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik hati-hati hamba, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala memilih untuk diriNya, dan mengutusnya (untuk membawa) risalahNya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala melihat hati para hamba sesudah hati Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala dapati hati para sahabat adalah sebaik-baik hati para hamba, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan mereka pembantu-pembantu NabiNya, (dimana) mereka berperang diatas agamaNya” [Atsar mauquf, isnadnya hasan dikeluarkan oleh Imam Ahmad I/374 dan lainnya]

Para sahabat diberikan pemahaman dan ilmu yang tidak diberikan kepada manusia sesudah mereka, dari Abu Juhaifah ia berkata : “Saya berkata kepada Ali : ‘Apakah ada pada kalian kitab ? Ali berkata : ‘Tidak, (yang ada pada kami) hanyalah Al-Qur’an dan pemahaman yang diberikan kepada seorang muslim, atau keterangan-keterangan yang ada pada lembaran-lembaran ini ….” [Dikeluarkan oleh Imam Bukhari I/204, Fathul Bari]

Dengan demikian kita mendapat keterangan bahwa kebaikan yang terpuji dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diatas (yaitu hadits : “Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku ….), adalah kebaikan pemahaman dan manhaj.

Dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (dapat dimengerti) bahwa pemahaman sahabat terhadap kitab dan sunnah adalah hujjah bagi orang-orang sesudah mereka, hingga akhir umat ini.

[4]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul menjadi saksi atas perbuatan kamu” [Al-Baqarah : 143]

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan para sahabat umat pilihan dan adil

Mereka umat yang paling utama, paling adil dalam perkataan dan kehendak-kehendak mereka. Oleh karena itu mereka berhak menjadi saksi atas umat manusia. Dengan sebab ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut mereka, mengangkat penyebutan mereka, memuji dan menerima mereka dengan penerimaan yang baik.

Seorang saksi yang diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah seorang yang bersaksi berdasarkan ilmu dan kejujuran, kemudian ia mengkhabarkan yang benar berdasarkan kepada ilmunya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Kecuali orang yang mengakui yang hak dan mereka yang mengetahuinya” [Az-Zukhruf : 86]

Maka jika persaksian mereka diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak dapat diragukan lagi bahwa pemahaman mereka dalam agama adalah hujjah bagi manusia sesudah mereka, dan kalau tidak demikian halnya (tentulah) persaksian mereka tidak dapat ditegakkan, sedangkan ayat Al-Qur’an telah menetapkan dalil itu secara mutlak.

Dan umat ini tidak menganggap suatu generasi itu adil secara mutlak, kecuali generasi para sahabat, karena Ahlus Sunnah wal Jama’ah dari kalangan Salaf Ahlul Hadits telah menganggap adil generasi sahabat secara mutlak dan umum. Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengambil dari mereka riwayat dan ilmu tanpa pengecualian. Berbeda dengan generasi selain para sahabat, Ahlu Sunnah wal Jama’ah tidak menganggap adil (seseorang) kecuali yang telah dibenarkan kepemimpinannya, dan ditetapkan keadilannya. Dan dua sifat tersebut tidak diberikan kepada seseorang kecuali jika ia mengikuti jejak para sahabat Radhiyallahu ‘anhum.

[5]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku” [Luqman : 15]

Setiap sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka diberi petunjuk kepada perkataan baik dan amal shalih. Dalilnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Mereka itu yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya, mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” [Az-Zumar : 18]

Maka wajib mengikuti sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memahami agama Allah (Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Oleh karena itulah Allah mengancam (seseorang yang mengikuti suatu jalan yang bukan jalan para sahabat) dengan neraka jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. (sebagaimana tersebut pada point no 6 berikut).

[6]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

“Artinya : Dan barangsiapa yang menentang rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali” [An-Nisa : 115]

Pengertian ayat ini adalah : Bahwa Allah mengancam orang yang mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman, maka hal ini menunjukkan bahwa mengikuti jalan orang-orang yang beriman (para sahabat) dalam memahami syariat ini adalah wajib, dan menyelisihinya adalah kesesatan.

[7]. Dari Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu

Kita shalat Maghrib bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kami berkata : Sebaiknya kita duduk hingga shalat Isya’ bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kami duduk, lalu Rasulullah keluar kepada kami, kemudian beliau bersabda : “Kalian masih berada disini?”. Kami berkata : Wahai Rasulullah kami shalat bersamamu, kemudian kami berkata : Sebaiknya kita duduk hingga shalat Isya bersama Engkau. Beliau bersabda : “Kalian baik dan benar”. Berkata Abu Musa Al-Asy’ari Radhiyallahu ‘anhu ; Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepalanya ke langit (dan beliau sering menatap langit) seraya berkata :

“Artinya : Bintang-bintang adalah penjaga langit maka apabila bintang-bintang lenyap datanglah kiamat, dan aku adalah penjaga bagi sahabat-sahabatku, apabila aku telah tiada datanglah kepada sahabat-sahabatku apa yang diancamkan pada mereka dan sahabat-sahabatku adalah penjaga bagi umatku, maka apabila sahabat-sahabatku lenyap, datanglah kepada umatku apa yang diancamkan kepada mereka” [HR Muslim]

Sungguh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan kedudukan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam umat ini sebagaimana kedudukan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada sahabatnya, dan sebagaimana kedudukan bintang-bintang (sebagai penjaga) langit.

Dan suatu yang sudah diketahui bahwa penyerupaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits diatas memberikan (pemahaman) tentang wajibnya mengikuti pemahaman para sahabat dalam agama, sebagaimana wajibnya umat kembali kepada Nabinya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang demikian itu karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang menerangkan Al-Qur’an, dan sahabat-shabat beliau menukil keterangan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk umat ini.

Demikian juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah berbicara dari hawa nafsunya dan hanyalah yang beliau ucapkan bimbingan dan petunjuk (yang bersumber dari Allah. Sedangkan sahabat-sahabat beliau adalah (manusia-manusia) yang adil, tidaklah berbicara kecuali dengan perkataan yang benar, dan tidaklah beramal kecuali dengan yang haq.

Demikian juga bintang-bintang (di langit) Allah jadikan sebagai alat pelempar syaithan tatkala mencuri pembicaraan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Sesungguhnya kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang. Dan telah memeliharanya dari syaithan-syaithan yang durhaka. Syaithan-syaithan itu tidak dapat memperdengar-dengarkan (pembicaraan) para malaikat, dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa (diantara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan) maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang” [Ash-Saffaat : 6-10]

Dan firmanNya.

“Artinya : Sesungguhnya kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan kami jadikan bintang-bintang itu sebagai alat pelempar syaithan, dan kami sediakan bagi mereka siksa yang menyala-nyala” [Al-Mulk : 5]

Demikian juga para sahabat, mereka adalah penghias umat ini, dengan pemahaman, ilmu dan amal mereka. Para sahabat adalah alat pengintai (pelempar) bagi penakwilan orang-orang bodoh, dakwah ahlul batil dan penyelewengan orang-orang yang menyimpang.

Demikian pula bintang-bintang adalah petunjuk jalan bagi penduduk bumi dalam kegelapan di darat dan di lautan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan (Dia ciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan) dan dengan bintang-bintang itulah mereka mendapat petunjuk” [An-Nahl : 16]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan Dia-lah yang menjadikan bintang-bintang bagimu, agar kamu menjadikan petunjuk dalam kegelapan darat dan laut” [Al-An’am : 97]
Demikian juga para sahabat, mereka diikuti agar selamat dari kegelapan syahwat dan subhat. Barangsiapa berpaling dari pemahaman mereka maka ia tersesat jauh dalam kegelapan yang berlapis-lapis, jika ia mengeluarkan tangannya, hampir-hampir tidak melihatnya.

Dan dengan pemahaman sahabat kita menjaga Al-Qur’an dan Sunnah dari bid’ah-bid’ah syaithan-syaithan manusia dan jin, yang mereka menginginkan fitnah dan takwil terhadap Al-Qur’an, untuk merusak makna-makna ayat Al-Qur’an yang sesuai dengan apa yang Allah kehendaki, dan merusak makna-makna hadits yang sesuai dengan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kehendaki. Oleh karena itu pemahaman sahabat adalah pemelihara dari kejahatan dan penyebab-penyebabnya. Dan kalau seandainya pemahaman mereka bukan hujjah, tentulah pemahaman orang-orang sesudah mereka sebagai hujjah dan pemelihara bagi sahabat, dan hal ini adalah mustahil.

Dan kalau pengkhususan dan pembatasan ini ditolak (yaitu wajibnya memahami Kitab dan Sunnah yang shahih dengan pemahaman sahabat) tentulah seseorang muslim akan menyimpang dari jalan Allah yang lurus, dan menjadi “binatang buruan” bagi firqoh-firqoh dan golongan-golongan yang menyimpang dari jalan yang lurus, (karena Al-Qur’an dan As-Sunnah menentang pemahaman Mu’tazilah, Murji’ah, Jahmiyah, Syi’ah, Sufi, Khawarij, Bathiniyyah dan lainnya), maka diharuskan adanya pembeda (pengkhususan dan pembatasan).

Jika ada perkataan : Tidak diragukan lagi bahwa pemahaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat adalah manhaj (metode) yang tidak terdapat kebathilan, akan tetapi apa dalil bahwa manhaj Salaf adalah pemahaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat-sahabatnya ?

Aku (Syaikh Salim Al-Hilali) berkata :

Jawabannya dari dua sisi
[1]. Sesungguhnya pemahaman yang disebut di atas (Mu’tazilah, Murji’ah, Jahmiyah, Syi’ah, Sufi, Khawarij, Bathiniyah dan lainnya) adanya pada masa akhir setelah masa kenabian dan Khulafaur Rasyidin, dan tidaklah yang paling awal disandarkan pada yang kemudian, bahkan sebaliknya (yang disandarkan pada yang awal). Maka jelaslah bahwa kelompok yang tidak menempuh dan tidak mengikuti jalan-jalan (Mu’tazilah, Murji’ah, Jahmiyah, Syiah, Sufi Khawarij) adalah kelompok yang tetap di atas dasar/pokok.
[2]. Kita tidak dapati dalam kelompok-kelompok pada umat ini yang sesuai dengan para sahabat kecuali Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan pengikut Salafush Shalih dan ahlul hadits, dan bukan firqoh-firqoh yang lain.

Adapaun Mu’tazilah, maka bagaimana mereka mencocoki para sahabat, padahal pemimpin-pemimpin mereka telah “menusuk” sahabat-sahabat yang mulia, menjatuhkan dan tidak mengakui keadilan mereka, serta menggolongkan para sahabat dalam kesesatan, seperti Washil bin Atha’ (tokoh Mu’tazilah) berkata : Kalau Ali bin Abi Thalib, Thalhah dan Zubeir bin Awwam di atas seikat sayur, tidaklah saya berhukum dengan persaksian mereka” [Lihat Al-Farqu Bainal Firaq, hal. 119-120]

Adapun Syi’ah, mereka menyangka bahwa para sahabat telah murtad sesudah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kecuali 3 orang saja. Dan tidaklah terdapat pada sahabat yang kafir itu uswah (contoh), qudwah (panutan), dan karomah. [Lihat Al-Kafi oleh Al-Kalini hal.115]

Adapun Khawarij, mereka telah keluar dari agama, dan menyendiri dari jama’ah kaum muslimin. Dari hal-hal yang berbahaya yang terdapat pada madzhab mereka, yaitu mereka mengkafirkan Ali dan dua putranya, Ibnu Abbas, Utsman, Thalhah, ‘Aisyah dan Mu’awiyyah. Dan tidaklah diatas perilaku para sahabat seseorang yang menjadikan paras sahabat sebagai sasaran pengkafiran mereka.

Adapun Sufiyah, mereka menghinakan warisan para nabi, dan menjatuhan para sahabat yang telah memindahkan ilmu Al-Qur’an dan Sunnah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat dan mensifati mereka dengan orang-orang mati. Berkata pemuka mereka : Kalian (yang dimaksud adalah kita Ahlus Sunnah wal Jama’ah,-pent) mengambil ilmu melalui orang-orang yang sudah meninggal, dan kita mengambil ilmu kami, (dengan cara) : Telah bercerita hatiku dari Rabbku”.

Adapun Murji’ah, mereka menyangka bahwa iman orang-orang yang munafiq seperti imannya orang-orang yang terdahulu.

Dan secara global, maka kelompok-kelompok ini ingin membatalkan persaksian kita atas Al-Qur’an dan Sunnah dan mencela para sahabat. Maka kelompok-kelompok itulah yang lebih pantas mendapat celaan, oleh karena itu jelaslah bahwa : Pemahaman Salaf adalah Manhaj Firqotun Najiah (kelompok yang selamat) dan Thoifah Manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan) dalam memahami dan mengambil ilmu serta dalil.

[Majalah Al-Ashalah edisi I hal. 17]

[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, Edisi 02 Dzulqo’dah 1423H/ Januari 2003. Diterbitkan oleh Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya. Jl Sultan Iskandar Muda 46 Surab

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 10, 2007 in SALAFIYAH

 

APAKAH ORANG YANG DINAMAKAN SALAFI DIANGGAP SEBAGAI ORANG YANG MEMBENTUK GOLONGAN (MUTAHAZZIB)?

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

Pertanyaan
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Apakah orang yang dinamakan salafi dianggap sebagai orang yang membentuk golongan/mutahazzib?

Jawaban
Penamaan salafi, bila sebenarnya (bukan sekedar nama belaka) adalah tidak mengapa[1]. Yang tidak boleh bila hanya dakwaan saja … Oleh karenanya tidak boleh memakai nama salafiyah, bila tidak diatas manhaj salaf. Sebagaimana contoh, Al-Asy’ariyah (pengikut manhaj Al-Asy’ari), mereka mengatakan kami Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Bagi mereka, penamaan (klaim) semacam itu tidak bisa, sebab mereka tidak diatas manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Begitu juga dengan yang selainnya.

Ibarat syair:

Semua mengaku ada hubungan (cinta) dengan Laila.
Namun Laila tidak mengakui ada hubungan (cinta) dengan mereka

Orang-orang yang mengaku bahwa dirinya di atas manhaj Ahlu Sunnah wal Jama’ah, haruslah mengikuti jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan meninggalkan orang-orang yang menyelisihinya. Sungguh hal yang tidak mungkin seseorang menyatukan antara biawak dan ikan paus, atau antara binatang melata yang ada di padang luas dengan binatang melata yang ada di laut, atau antara api dengan air dalam satu wadah. Yang jelas orang yang mengaku di atas manhaj salaf harus membedakan dirinya dengan yang lain.

[Disalin dari kitab Al-Ajwibatu Al-Mufiah ‘An-As-ilah Al-Manahij Al-Jadidah, edisi Indonesia Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah, Pengumpul Risalah Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Penerjemah Muhaimin, Penerbit Yayasan Al-Madinah]
_________
Foote Note
[1]. Berkata Syaikh Islam Ibnu Taimiyah dalam Al-Fatawa (4/140) :
Tidak ada aib atas orang menampakkan madzhab salaf, menghubungkan dan serta menisbatkan diri kepadanya. Bahkan wajib menerima yang demikian itu berdasarkan ittifaq (kesepakatan). Sesungguhnya madzhab salaf adalah madzhab yang benar.

Saya (Abu Abdillah) berkata : Perhatikan saudaraku pembaca, perkataan Syaikh Al-Islam yang beliau ucapkan sekitar abad 8 hijriyah seakan-akan beliau membantah sebagian orang pada saat ini, yang menisbatkan dirinya seagai ahli ilmu yang berkata: ‘Barangsiapa yang mewajibkan seseorang -dengan kewajiban yang sebenarnya- bahwa dia harus menjadi ikhwani (pengikut IM), atau Salafi, atau Sururi, atau Tablighi (pengikut Jama’ah Tabligh), sesunguhnya dia diperintah untuk bertaubat (dari sikapnya). Jika tidak bertaubat maka dibunuh!’. Dia katakan dalam kaset ketika berdialog dengan para pemuda.

Saya (Abu Abdillah) berkata : ‘Subhanahallah ! Bagaimana dia membolehkan dirinya menggabungkan antara manhaj salaf yang benar dengan manhaj-manhaj dan kelompok-kelompok bid’ah yang sesat dan bathil ! Pertanyaan kami untuk orang yang hidup di negeri tauhid ini dan mempunyai karya untuk meraih gelas Magister : ‘Jika bukan manhaj salaf, lalu harus manhaj apa ..?’

Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz –mufti Saudi- ketika ditanya : ‘Apa yang anda katakan terhadap orang yang menamakan dirinya Salafi atau Atsari, apakah itu merupakan penyucian ?

Maka beliau hafizhahullah menjawab : Apabila benar dia itu pengikut atsar atau pengikut manhaj salaf, tidak apa-apa. Seperti yang ada pada salaf dikatakan : Fulan Salafi, Fulan Atsari, merupakan pembersihan atas dirinya dari penyimpangan-penyimpangan. Maka pembersihan itu adalah wajib. [Dinukil dari rekaman ceramah beliau dengan judul “Hak Seorang Muslim” pada tanggal 16/1/1413H di Thaif.]

Syaikh Bakar Abu Zaid berkata : ‘Apabila dikatakan As-Salaf atau As-Salafiyun atau As-Salafiyah, ini menisbatkan kepada Salaf As-Shalih, yakni seluruh sahabat Radhiyallahu ‘anhum dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan tanpa condong kepada hawa nafsuinya… Dan orang-orang yang tetap diatas manhaj Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka dinisbatkan kepada Salaf Ash-Shalih. Kepada mereka ditakan As-Salaf, As-Salafiyun. Yang menisbatkan kepada mereka dinamakan Salafi, dan itu wajib baginya. Karena sesungguhnya lafazh Salaf adalah Salafu Ash-Shalih. Lafazh ini secara mutlak, yakni setiap orang yang berteladan kepada sahabat Radhiyallahu ‘anhum. Walaupun dia hidup pada zaman kita ini, harus seperti ini, inilah kalimat ahlu ilmi, Itulah penisbatan dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Bukan merupakan formalitas dan tidak terpisah sedikitpun dari generasi yang pertama, bahkan itu penisbatan dari mereka dan kembali kepada mereka. Sedangkan orang yang menyelisihi As-Salaf, hanya berdasarkan nama atau formalitas belaka, maka jangan. Walaupun mereka hidup sezaman dengan para Salafu Al-Ummah dan setelah mereka’. [Dinukil dari Hukmu Al-Intima hal. 36]

Saya (Abu Abdillah) berkata ; ‘Penisbatan ini terdapat dalam kitab-kitab biografi dan sejarah. Imam Adz-Dzahabi berkata tentang biografi Muhammad bin Muhammad Al-Bahrani, ‘Dia mempunyai dien yang baik yang salafi’. Lihat Mu’jam Asy-Syuyukh (2/280). Beliau juga berkata tentang biografi Ahmad bin Ahmad bin Nu’man Al-Maqdisi, ‘Dia di atas akidah Salaf’. Lihat Mu’jam Asy-Syuyukh (1/34).

Jadi penisbatan kepada Salaf adalah penisbatan yang harus, sehingga jelaslah bagi Salafi (pengikut salaf) terhadap al-haq dari perkara yang tersembunyi di belakang mereka. Oleh karena itu tidak terjadi kesamaran bagi orang yang ingin berteladan dan tumbuh di atas manhaj mereka.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 10, 2007 in SALAFIYAH, ZZ..BANTAHAN..ZZ

 

APAKAH MUNGKIN PERSATUAN ITU (AKAN TERWUJUD) BERSAMAAN DENGAN BERBEDA-BEDANYA MANHAJ DAN AQIDAH?

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

Pertanyaan
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Apakah mungkin persatuan itu (akan terwujud) bersamaan dengan berbeda-bedanya Manhaj dan Akidah ?

Jawaban.
Persatuan tidak akan terwujud bersamaan dengan (adanya berbagai kelompok) yang memiliki bermacam-macam manhaj dan akidah, sebaik-baik bukti akan hal itu adalah: Keadaan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam, di mana mereka saat itu berpecah-belah dan saling bertengkar, maka setelah mereka masuk Islam dan berada di bawah bendera tauhid, akidah dan manhajnya menjadi, maka bersatulah mereka, dan berdiri tegaklah daulahnya.

Sungguh Allah Ta’ala mengingatkan tentang hal itu dengan firman-Nya.

“Artinya : Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.”[Ali Imran:103]

Dan Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam.

“Artinya : Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak bisa mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah akan mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Anfal: 63]

Allah Ta’ala selama-lamanya tidak akan menyatukan antara hati orang-orang kafir, murtad dan firqah-firqah (kelompok-kelompok) sesat [1], Allah hanya menyatukan hati orang-orang mukmin yang bertauhid. Allah Ta’ala berfirman mengenai orang-orang kafir dan munafik yang menyelisihi manhaj Islam dan akidahnya.

“Artinya : Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah-pelah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak mengerti.” [Al-Hasyr : 14]

Dan firman-Nya.

“Artinya : Dan mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu.” [Hud : 118]

“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat Rabbmu”, mereka itu ialah orang-orang yang memiliki akidah yang benar dan manhaj yang benar, maka mereka itulah orang-orang yang selamat dari perselisihan dan perpecahan.

Adapun orang-orang yang berusaha menyatukan umat, padahal akidahnya masih rusak, manhajnya bermacam-macam dan berbeda-beda, maka itu adalah (upaya) yang mustahil terwujud, karena sesungguhnya menyatukan dua hal yang berlawanan itu adalah hal yang mustahil.

Karena tidak bisa menyatukan hati dan menyatukan umat ini, kecuali kalimat tauhid [2], yang dimengerti makna-maknanya, diamalkan kandungannya secara lahir dan batin, bukan hanya sekedar mengucapkannya, sedang pada sisi yang lain masih mau menyelisihi apa yang menjadi tuntutannya. Maka sesungguhnya ketika itu kalimat tauhid ini tidak akan ada manfaatnya.

[Disalin dari kitab Al-Ajwibatu Al-Mufiah ?An-As-ilah Al-Manahij Al-Jadidah, edisi Indonesia Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah II, Pengumpul Risalah Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Penerjemah Muhaimin, Penerbit Yayasan Al-Madinah]
_________
Foote Note
[1]. Keadaan firqah-firqah dan hizb-hizb (golongan-golongan yang menyimpang) yang ada di muka bumi saat ini -sebagaimana dikatakan adalah merupakan saksi dan menjadi bukti yang paling nyata, karena mereka berbeda-beda dalam memahami Al-Kitab (Al-Qur’an), dan berbeda-beda dalam mengamalkannya, serta mereka menyelisihi Al-Kitab. Apabila hati manusia itu sepakat dan saling mengenal maka akan menyatu, dan demikian pula sebaliknya.

Sebagaimana Rasulullah menyebutkannya dalam hadits shahih bahwa beliau bersabda.

“Artinya : Ruh-ruh adalah pasukan tentara maka yang saling mengenal akan bergabung dan yang saling mengingkari akan berselisih.” [HR. Al-Bukhari: 3158]
[2]. Orang-orang yang berusaha menyatukan umat manusia bersamaan dengan rusaknya akidah dan manhaj (berbagai kelompok) yang berbeda-beda itu -sebagai contoh saja bukan hanya terbatas pada contoh ini- pada jaman kita ini adalah firqah Ikhwanul Muslimin (IM) di mana mereka berusaha menyatukan barisan-barisannya yang terdiri dari Rafidhah, Jahmiyyah, Asy’ariyah, Khawarij, Mu’tazilah. Bahkan orang-orang Nasrani pun bisa masuk pada barisan mereka, maka janganlah engkau lupakan perkara yang sangat nyata ini. Wahai para pembaca yang budiman, telah kita lewati ucapan-ucapan beberapa ahli ilmu (ulama) mengenai mereka ini dalam sela-sela kitab ini. Yang kesimpulannya merka (IM) tidak mementingkan dakwah tauhid dan tidak berhati-hati dan memperingatkan kesyirikan. Dan ini adalah meruapan sifat (ciri-ciri) khusus yang dimiliki oleh ‘firqah tabligh’ pula. Karena Ikhwanul Muslimin, Quthbiyyah (pengikut Sayyid Quthub) tidaklah jauh berbeda dari firqah tablih ini.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 10, 2007 in SALAFIYAH

 

APAKAH MUNGKIN PERSATUAN ITU (AKAN TERWUJUD) BERSAMAAN DENGAN BERBEDA-BEDANYA MANHAJ DAN AQIDAH?

APAKAH MUNGKIN PERSATUAN ITU (AKAN TERWUJUD) BERSAMAAN DENGAN BERBEDA-BEDANYA MANHAJ DAN AQIDAH?

Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

Pertanyaan
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan ditanya : Apakah mungkin persatuan itu (akan terwujud) bersamaan dengan berbeda-bedanya Manhaj dan Akidah ?

Jawaban.
Persatuan tidak akan terwujud bersamaan dengan (adanya berbagai kelompok) yang memiliki bermacam-macam manhaj dan akidah, sebaik-baik bukti akan hal itu adalah: Keadaan bangsa Arab sebelum diutusnya Rasul shalallahu ‘alaihi wasallam, di mana mereka saat itu berpecah-belah dan saling bertengkar, maka setelah mereka masuk Islam dan berada di bawah bendera tauhid, akidah dan manhajnya menjadi, maka bersatulah mereka, dan berdiri tegaklah daulahnya.

Sungguh Allah Ta’ala mengingatkan tentang hal itu dengan firman-Nya.

“Artinya : Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.”[Ali Imran:103]

Dan Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam.

“Artinya : Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak bisa mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah akan mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Anfal: 63]

Allah Ta’ala selama-lamanya tidak akan menyatukan antara hati orang-orang kafir, murtad dan firqah-firqah (kelompok-kelompok) sesat [1], Allah hanya menyatukan hati orang-orang mukmin yang bertauhid. Allah Ta’ala berfirman mengenai orang-orang kafir dan munafik yang menyelisihi manhaj Islam dan akidahnya.

“Artinya : Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah-pelah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak mengerti.” [Al-Hasyr : 14]

Dan firman-Nya.

“Artinya : Dan mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu.” [Hud : 118]

“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat Rabbmu”, mereka itu ialah orang-orang yang memiliki akidah yang benar dan manhaj yang benar, maka mereka itulah orang-orang yang selamat dari perselisihan dan perpecahan.

Adapun orang-orang yang berusaha menyatukan umat, padahal akidahnya masih rusak, manhajnya bermacam-macam dan berbeda-beda, maka itu adalah (upaya) yang mustahil terwujud, karena sesungguhnya menyatukan dua hal yang berlawanan itu adalah hal yang mustahil.

Karena tidak bisa menyatukan hati dan menyatukan umat ini, kecuali kalimat tauhid [2], yang dimengerti makna-maknanya, diamalkan kandungannya secara lahir dan batin, bukan hanya sekedar mengucapkannya, sedang pada sisi yang lain masih mau menyelisihi apa yang menjadi tuntutannya. Maka sesungguhnya ketika itu kalimat tauhid ini tidak akan ada manfaatnya.

[Disalin dari kitab Al-Ajwibatu Al-Mufiah ?An-As-ilah Al-Manahij Al-Jadidah, edisi Indonesia Menepis Penyimpangan Manhaj Dakwah II, Pengumpul Risalah Abu Abdillah Jamal bin Farihan Al-Haritsi, Penerjemah Muhaimin, Penerbit Yayasan Al-Madinah]
_________
Foote Note
[1]. Keadaan firqah-firqah dan hizb-hizb (golongan-golongan yang menyimpang) yang ada di muka bumi saat ini -sebagaimana dikatakan adalah merupakan saksi dan menjadi bukti yang paling nyata, karena mereka berbeda-beda dalam memahami Al-Kitab (Al-Qur’an), dan berbeda-beda dalam mengamalkannya, serta mereka menyelisihi Al-Kitab. Apabila hati manusia itu sepakat dan saling mengenal maka akan menyatu, dan demikian pula sebaliknya.

Sebagaimana Rasulullah menyebutkannya dalam hadits shahih bahwa beliau bersabda.

“Artinya : Ruh-ruh adalah pasukan tentara maka yang saling mengenal akan bergabung dan yang saling mengingkari akan berselisih.” [HR. Al-Bukhari: 3158]
[2]. Orang-orang yang berusaha menyatukan umat manusia bersamaan dengan rusaknya akidah dan manhaj (berbagai kelompok) yang berbeda-beda itu -sebagai contoh saja bukan hanya terbatas pada contoh ini- pada jaman kita ini adalah firqah Ikhwanul Muslimin (IM) di mana mereka berusaha menyatukan barisan-barisannya yang terdiri dari Rafidhah, Jahmiyyah, Asy’ariyah, Khawarij, Mu’tazilah. Bahkan orang-orang Nasrani pun bisa masuk pada barisan mereka, maka janganlah engkau lupakan perkara yang sangat nyata ini. Wahai para pembaca yang budiman, telah kita lewati ucapan-ucapan beberapa ahli ilmu (ulama) mengenai mereka ini dalam sela-sela kitab ini. Yang kesimpulannya merka (IM) tidak mementingkan dakwah tauhid dan tidak berhati-hati dan memperingatkan kesyirikan. Dan ini adalah meruapan sifat (ciri-ciri) khusus yang dimiliki oleh ‘firqah tabligh’ pula. Karena Ikhwanul Muslimin, Quthbiyyah (pengikut Sayyid Quthub) tidaklah jauh berbeda dari firqah tablih ini.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 10, 2007 in SALAFIYAH

 

KONSISTEN DIATAS MANHAJ SALAF

Oleh
Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah ; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya)” [Al-Ahzab : 23]

Ayat diatas mecakup sifat-sifat dan karakter-karakter ahli tsabat (mereka yang konsisten diatas kebenaran). Tidak ada yang mereka inginkan/harapkan kecuali keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala ; tidak akan menggerakkan mereka perkataan atau isyarat kecuali bersumber dari syarat-syarat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan wahyuNya.

Sekalipun ayat ini mengkisahkan kepahlawanan sebagian Salafus Shalih, seperti Anas bin Nudhair Radhiyallahu ‘anhu serta para salaf lainnya, serta kesetiaan dan kebenaran mereka dalam menetapi janji kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, hanya saja ibrah/pelajaran itu diambil dari keumuman lafadz, dan bukan dari sebab nuzulnya sebagaimana hal ini ditetapkan oleh para ulama.

Dari sinilah ; sesungguhnya ayat ini umum, untuk setiap orang yang ikhlas, yang benar, yang teguh diatas kebenaran bagaimanapun jua rintangan menghalanginya. Hati kecil merka berkata : “Jika Engkau tidak murka kepadaku ya Allah, aku tidak akan peduli”.

Maka seorang mu’min yang benar, tidak ada yang diinginkannya dalam kehidupan dunia ini melainkan beramal untuk mendapatkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi kemurkaanNya, melaksanakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi bid’ah serta hal-hal yang mendekatkan kepadanya, melaksnakan janjinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah di atas manhaj Salafus Shalih, baik aqidah, syari’at, ilmu, amal dan akhlak.

Sifat dan karakter orang-orang yang konsisten diatas kebenaran adalah.

[1]. Orang-Orang Yang Beriman

Yaitu orang-orang yang benar dalam keimanan mereka, bukan orang yang plin-plan. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam mensifati orang-orang munafik.

“Artinya : Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir) ; tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir). Barangsiapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya” [An-Nisa : 143]

Orang yang plin-plan itu wajah dan keadaan mereka tidak diketahui, seperti seekor kambing yang kebingungan ; terkadang berjalan ke arah sini dan terkadang pergi dari sini.

Maka seorang mu’min yang benar, tidak mengenal sikap plin-plan dan tidak merubah sikapnya hanya karena dunia telah berubah. Karena :

“Kebenaran itu jelas dan kebatilan itu samar”

Sikap konsekwen (tidak plin-plan) membutuhkan petunjuk dan bimbingan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan tidak dapat dicapai hanya dengan angan-angan.

“Artinya : Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami” [Al-Ankabut : 69]

[2]. Berpendirian Teguh

Yaitu mereka yang mempunyai kemauan kuat serta keteguhan hati. Teguh dalam berbagai keadaan seperti keteguhan gunung yang kokoh. Sungguh Alah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji sikap ini dalam kitabNya dan sunah RasulNya [1]

[3]. Mereka Benar Dalam Menepati Janji.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Diantara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah”.

Mereka telah berjanji kepada Allah untuk teguh hingga mendapatkan kemenangan dan mati syahid. Demikian pula ahli ilmu/para ulama, mereka tetap teguh di medan ilmu dan dakwah ; mereka tidak mundur dari aqidah, keimanan serta medan jihad, sekalipun banyak yang memusuhi serta sedikit yang menolong.

Termasuk sebagian dari tanda-tanda kematian yang jelek –kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari hal ini- adalah seseorang yang hidup dalam kebenaran selama 60 tahun kemudian terjerumus dalam kebatilan di akhir hayatnya. Kalaulah ia bersabar dan ditakdirkan baginya petunjuk tentulah ia akan sampai pada tujuannya, dan tidak akan terputus sebelum ajalnya tiba, serta tidak terputus sebelum (ia) memetik hasilnya.

[4]. Mereka Orang-Orang Yang Sabar

Diantara manusia ada yang belum meninggal dalam keadaan syahid di medan ilmu, atau di medan (jihad), tapi ia tetap teguh dengan janjinya dan nazarnya, sekalipun angin “fitnah” berhembus keras. Lalu bagaimana seorang yang teguh/kokoh dalam (manhaj) Salaf dan tidak mengganti dengan benih-benih khalaf (mereka yang tidak berpegang teguh pada manhaj Salaf) dituduh lari dari manhaj Salaf ? Ia dituduh berada diatas jalan yang salah, sedangkan ia tidak menjauh dari kebenaran [2] yang ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitabNya, melalui lisan NabiNya, (tidak menjauh dari) jalan yang telah ditempuh oleh para Salaf, ulama dan imam-imam mereka, baik yang masih hidup saat ini ataupun yang telah tiada ; sekalipun godaan-godaan materi dan dunia (menggoda mereka) !!

Ya ; kami bersama Salaf –yang mereka itu benar dalam menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala- baik masalah aqidah, manhaj, iman, ilmu dan amal.

Kami bersama para Salaf pada zaman ini : Ibnu Baz, Al-Albani, Ibnul Utsaimin, Muqbil Al-Wadi’i [3], yang menghabiskan umur mereka dalam tauhid, iman dan manhaj. Mereka tidak merubah, tidak mengganti, tidak plin-plan. Kami bersama mereka, karena mereka adalah “ Aimmatul Huda” (para pemimpin yang memberi petunjuk). Kami tidak akan mengganti atau berganti –insya Allah-, walaupun ada seseorang yang marah terhadap kami. Dan sekali-kali kami tidak meridhai seseorang berada dalam kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala selamanya. Dan akibat yang baik adalah bagi orang bertaqwa.

[Majalah Al-Ashalah, edisi 34, hal.7]

[Disalin dari Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah, Edisi 16 Th III Ramadhan 1426H/ Oktober 2005M. Konsisten Diatas Manhaj Salaf oleh Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr diterjemahkan oleh Abu Hasan Arif, Diterbitkan oleh Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya]
_________
Foote Note
[1]. Hendaknya anda melihat makalah saya (syaikh Musa Nashr) “Ar-Rujuluh Fil Kitab was Sunnah” (Keteguhan Dalam Prespektif Al-Qur’an dan Sunnah). (makalah ini belum kami terjemahkan, pent)
[2]. Ini adalah kata-kata (tuduhan) yang menyakitkan dan melukai, yang dilontarkan oleh salah seorang syaikh yang termasuk generasi terdahulu di kalangan kami (yang dimaksud adalah syaikh Ibrahim Syuqrah murid syaikh Al-Albani yang menyimpang dari manhj salaf sepeninggal beliau. Diantara penyimpangannya adalah pujiannya terhadap Sayyid Quthub dan tuduhannya terhadap syaikh Al-Albani bahwa beliau seorang yang berpemahaman murji’ah. Lihat makalah syaikh Ali Hasan yang berjudul Haqqu Kalimati Al-Imam Al-Albani Fi Sayyid Quthub, -pent). Dahulu kami memuliakannya sebelum ia berubah/mengganti (manhajnya). Semoga Allah memberi petunjuk kami dan dia dan mengembalikannya kepada kebenaran.
[3]. Syaikh bin Baaz dan Syaikh Utsaimin adalah ulama Salaf yang menetap di Saudi Arabia. Adapun Syaikh Al-Albani dan Syaikh Muqbil bin Hadi adalah ulama yang tinggal di Jordania dan Yaman, keempat ulama tersebut telah meninggal dunia, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmati mereka dam menempatkan mereka dalam surgaNya yang luas, amin (-pent)

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 10, 2007 in SALAFIYAH

 

MENGENAL SABILUL MUJRIMIN ADALAH KEWAJIBAN SYAR’I

Oleh
Syaikh Abu Usamah Salim bin ‘Ied Al-Hilali

Hadits Hudzaifah Radhiyallahu ‘anhu:
“Artinya : Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu Anhu berkata : Manusia bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir jangan-jangan menimpaku. Maka aku bertanya ; Wahai Rasulullah, sebelumnya kita berada di zaman Jahiliyah dan keburukan, kemudian Allah mendatangkan kebaikan ini. Apakah setelah ini ada keburukan ? Beliau bersabda : ‘Ada’. Aku bertanya : Apakah setelah keburukan itu akan datang kebaikan ?. Beliau bersabda : Ya, akan tetapi didalamnya ada dakhanun. Aku bertanya : Apakah dakhanun itu ?. Beliau menjawab : Suatu kaum yang mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku. Jika engkau menemui mereka maka ingkarilah. Aku bertanya : Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan ?. Beliau bersabda : Ya, da’i – da’i yang mengajak ke pintu Jahannam. Barangsiapa yang mengijabahinya, maka akan dilemparkan ke dalamnya. Aku bertanya : Wahai Rasulullah, berikan ciri-ciri mereka kepadaku. Beliau bersabda : Mereka mempunyai kulit seperti kita dan berbahasa dengan bahasa kita. Aku bertanya : Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku menemuinya ?. Beliau bersabda : Berpegang teguhlah pada Jama’ah Muslimin dan imamnya. Aku bertanya : Bagaimana jika tidak ada jama’ah maupun imamnya ? Beliau bersabda : Hindarilah semua firqah itu, walaupun dengan menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu”. [Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399].

Makna Hadits
[1]. Mengenali Sabilul Mujrimin Adalah Kewajiban Syar’i.
Perlu diketahui bahwa Manhaj Rabbani yang abadi yang tertuang dalam uslub Qur’ani yang diturunkan ke hati Penutup Para Nabi tersebut tidak hanya mengajarkan yang haq saja untuk mengikuti jejak orang-orang beriman (sabilul Mu’minin). Akan tetapi juga membuka kedok kebathilan dan menyingkap kekejiannya supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa (sabilul Mujrimin) Allah berfirman.

“Artinya :Dan demikianlah, kami jelaskan ayat-ayat, supaya jelas jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa”. [Al-An'am : 55].

Yang demikian itu karena istibanah (kejelasan) jalannya orang-orang yang suka berbuat dosa (sabilul Mujrimin) secara langsung berakibat pada jelasnya pula sabilul mu’minin. Oleh karena itu istibanah (kejelasan) sabilul Mujrimin merupakan salah satu sasaran dari beberapa sasaran penjelasan ayat-ayat Rabbani. Karena ketidakjelasan sabilul Mujrimin akan berakibat langsung pada keraguan dan ketidakjelasan sabilul Muminin. Oleh karena itu, menyingkap rahasia kekufuran dan kekejian adalah suatu kebutuhan yang sangat mendesak untuk menjelaskan keimanan, kebaikan dan kemaslahatan.

Ada sebagian cendikiawan syair menyatakan.

“Aku kenali keburukan tidak untuk berbuat buruk, akan tetapi untuk menjaga diri”.

“Barangsiapa yang tidak dapat membedakan antara kebaikan dan keburukan, maka akan terjerumus ke dalamnya”.

Hakikat inilah yang dimengerti oleh generasi pertama umat ini -Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu ‘anhu. Maka ia berkata : “Manusia bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya tentang keburukan, karena khawatir akan terjebak di dalamnya”.

[2]. Kekokohan Kita Dihancurkan Dari Dalam
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda berkenan dengan keinginan kaum kafir untuk membinasakan kaum muslimin dan Islam, seperti yang dinyatakan dalam hadits Tsaubah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang : Apakah karena sedikitnya kami waktu itu ? Beliau bersabda : Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan didalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya : Wahai Rasulullah, apakah wahn itu ? Beliau bersabda : Mencintai dunia dan takut mati”. [Riwayat Abu Dawud no. 4297. Ahmad V/278. Abu Na'im dalam Al-Hailah].

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa :
[1]. Kaum kafir saling menghasung untuk menjajah Islam, negeri-negerinya serta penduduknya.
[2]. Negeri-negeri muslimin adalah negeri-negeri sumber kebaikan dan barakah yang mengundang air liur kaum kafir untuk menjajahnya.
[3]. Kaum kafir mengambil potensi alam negeri muslimin tanpa rintangan dan halangan sedikitpun.
[4]. Kaum kafir tidak lagi gentar terhadap kaum Muslimin karena rasa takut mereka kepada kaum Muslimin sudah dicabut Allah dari dalam hati mereka.

Padahal pada mulanya Allah menjanjikan kepada kaum Muslimin dalam firman-Nya :

“Artinya : Akan kami jangkitkan di dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah, dimana Allah belum pernah menurunkan satu alasanpun tentangnya”. [ Ali-Imran : 151].

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda :

“Artinya : Aku diberi lima perkara yang belum pernah diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku : Aku ditolong dengan rasa ketakutan dengan jarak satu bulan perjalanan ; dan dijadikan bumi untukmu sebagai tempat sujud ; …. dan seterusnya “. [Riwayat Bukhari, lihat Fathul Bari I/436. Muslim dalam Nawawi V/3-4 dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu 'anhu].

Akan tetapi kekhususan tersebut dibatasi oleh sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Tsauban yang lalu, yang menyatakan : “Allah akan mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian …”.

Dari hadits ini mengertilah kita bahwa kekuatan umat Islam bukanlah terletak pada jumlah dan perbekalannya, atau pada artileri dan logistiknya. Akan tetapi kekuatannya terletak pada aqidahnya. Seperti yang kita saksikan ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab pertanyaan yang berkenan dengan jumlah, maka beliau jawab : “Bahkan ketika itu kalian banyak sekali, akan tetapi kalian seperti buih di atas aliran air”.

Kemudian apa yang menjadikan “pohon yang akarnya menghujam ke bumi dan cabangnya menjulang ke langit” itu seperti buih yang mengambang di atas air ?

Sesungguhnya racun yang meluruhkan kekuatan kaum muslimin dan melemahkan gerakannya serta merenggut barakahnya bukanlah senjata dan pedang kaum kafir yang bersatu untuk membuat makar terhadap Islam, para pemeluknya dan negeri-negerinya. Akan tetapi adalah racun yang sangat keji yang mengalir dalam jasad kaum muslimin yang disebut oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai “Dakhanun” Ibnu Hajar dalam Fathul Bari XIII/36 mengartikannya dengan “hiqd (kedengkian), atau daghal (penghianatan dan makar), atau fasadul qalb (kerusakan hati). Semua itu mengisyaratkan bahwa kebaikan yang datang setelah keburukan tersebut tidak murni, akan tetapi keruh. Dan Imam Nawawi dalam syarh Shahih Muslim XII/236-237, mengutip perkataan Abu ‘Ubaid yang menyatakan bahwa arti dakhanun adalah seperti yang disebut dalam hadits lain.

“Artinya : Tidak kembalinya hati pada fungsi aslinya” [Riwayat Abu Dawud no. 4247].

Sedangkan makna aslinya adalah apabila warna kulit binatang itu keruh/suram. Maka seakan-akan mengisyaratkan bahwa hati mereka tidak bening dan tidak mampu membersihkan antara yang satu dengan yang lain. Kemudian berkata Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah XV/15 : Bahwa sabda beliau : “Dan didalamnya ada Dakhanun, yakni tidak ada kebaikan murni, akan tetapi didalamnya ada kekeruhan dan kegelapan”. Adapun Al ‘Adzimul Abadi dalam ‘ Aunil Ma’bud XI/316 menukil perkataan Al-Qari yang berkata : “Asal kata dakhanun adalah kadurah (kekeruhan) dan warna yang mendekati hitam. Maka hal ini mengisyaratkan bahwa kebaikan tersebut tercemar oleh kerusakan (fasad)”.

Dan sesungguhnya penanam racun yang keji dan menjalar di kalangan umat ini tidak lain adalah oknum-oknum dari dalam sendiri. Seperti yang dinyatakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Mereka adalah dari kalangan bangsa kita dan berbahasa dengan bahasa kita”. Berkata Ibnu Hajar Rahimahullah dalam Fathul Bari XIII/36 : “Yakni dari kaum kita, berbahasa seperti kita dan beragama dengan agama kita. Ini mengisyaratkan bahwa mereka adalah bangsa Arab”. Sedangkan Al-Qabisi menyatakan -seperti dinukil oleh Ibnu Hajar- secara lahir maknanya adalah bahwa mereka adalah pemeluk dien (agama) kita, akan tetapi batinnya menyelisihi. Dan kulit sesuatu adalah lahirnya, yang pada hakikatnya berarti penutup badan”. Mereka mempunyai sifat seperti yang dikatakan dalam hadits riwayat Muslim.

“Artinya : Akan ada dikalangan mereka orang yang berhati iblis dengan jasad manusia” [Riwayat Muslim].

Yakni mereka memberikan harapan-harapan kepada manusia berupa mashalih (pembangunan), siyadah (kepemimpinan) dan istiqlal (kemerdekaan dan kebebasan) .. dan umat merasa suka dengan propaganda mereka. Untuk itu mereka mengadakan pertemuan-pertemuan, muktamar-muktamar dan diskusi-diskusi. Oleh sebab itu mereka diberi predikat sebagai da’i atau du’at -dengan dlamah pada huruf dal- merupakan bentuk jama’ dari da’a yang berarti sekumpulan orang yang melazimi suatu perkara dan mengajak serta menghasung manusia untuk menerimanya. [Lihat 'Aunil Ma'bud XI/317].

[3]. Jama’ah Minal Muslimin Dan Bukan Jama’ah Muslimin/’Umm.
Kalau kita mengamati kenyataan, maka kita akan melihat bahwa faham hizbiyah (kelompok) telah mengalir di dalam otak sebagian besar kelompok yang menekuni medan da’wah ilallah, dimana seolah-olah tidak ada kelompok lain kecuali kelompoknya, dan menafikan kelompok lain di sekitarnya. Persoalan ini terus berkembang, sehingga ada sebagian yang menda’wahkan bahwa merekalah Jama’ah Muslimin/Jama’ah ‘Umm (Jama’ah Induk) dan pendirinya adalah imam bagi seluruh kaum muslimin, serta mewajibkan berba’iat kepadanya. Selain itu mereka mengkafirkan sawadul a’dzam (sebagian besar) muslimin, dan mewajibkan kelompok lain untuk bergabung dengan mereka serta berlindung di bawah naungan bendera mereka.

Kebanyakan mereka lupa, bahwa mereka bekerja untuk mengembalikan kejayaan Jama’atul Muslimin. Kalaulah Jama’atul Muslimin dan imam-nya itu masih ada, maka tidaklah akan terjadi ikhtilaf dan perpecahan ini dimana Allah tidak menurunkan sedikit pun keterangan tentangnya.

Sebenarnya para pengamal untuk Islam itu adalah Jama’ah minal muslimin (kumpulan sebagian dari muslimin) dan bukan Jama’atul Muslimin atau Jama’atul ‘Umm (Jama’ah Induk). karena kaum muslimin sekarang ini tidak mempunyai Jama’ah ataupun Imam.

Ketahuilah wahai kaum muslimin, bahwa yang disebut Jama’ah Muslimin adalah yang tergabung didalamnya seluruh kaum muslimin yang mempunyai imam yang melaksanakan hukum-hukum Allah. Adapun jama’ah yang bekerja untuk mengembalikan daulah khilafah , mereka adalah jama’ah minal muslimin yang wajib saling tolong menolong dalam urusannya dan menghilangkan perselisihan yang ada diantara individu supaya ada kesepakatan di bawah kalimat yang lurus dalam naungan kalimat tauhid.

Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimaullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari Rahimahullah yang menyatakan : “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa Jama’ah adalah Sawadul A’dzam. Kemudian diceritakan dari Ibnu Sirin dari Abi Mas’ud, bahwa beliau mewasiatkan kepada orang yang bertanya kepadanya ketika ‘Utsman dibunuh, untuk berpegang teguh pada Jama’ah, karena Allah tidak akan mengumpulkan umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kesesatan. Dan dalam hadits dinyatakan bahwa ketika manusia tidak mempunyai imam, dan manusia berpecah belah menjadi kelompok-kelompok maka janganlah mengikuti salah sati firqah. Hindarilah semua firqah itu jika kalian mampu untuk menghindari terjatuh ke dalam keburukan”.

[4]. Mejauhi Semua Firqah
Dinyatakan dalam hadits Hudzaifah tersebut supaya menjauhi semua firqah jika kaum muslimin tidak mempunyai jama’ah dan tidak pula imam pada hari terjadi keburukan dan fitnah. Semua firqah tersebut pada dasarnya akan menjerumuskan ke dalam kesesatan, karena mereka berkumpul di atas perkataan/teori mungkar (mungkari minal qaul) atau perbuatan mungkar, atau hawa nafsu. Baik yang mendakwakan mashalih (pembangunan) atau mathami’ (ketamakan) dan mathamih (utopia). Atau yang berkumpul diatas asa pemikiran kafir, seperti ; sosialisme, komunisme, kapitalisme, dan demokrasisme. Atau yang berkumpul di atas asas kedaerahan, kesukuan, keturunan, kemadzhaban, atau yang lainnya. Sebab mereka semua itu akan menjerumuskan ke dalam neraka Jahannam, dikarenakan membawa misi selain Islam atau Islam yang sudah dirubah …!

[5]. Jalan Penyelesaiannya
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada Hudzaifah untuk menjauhi semua firqah yang menyeru dan menjerumuskan ke neraka Jahannam, dan supaya memegang erat-erat pokok pohon (ashlu syajarah) hingga ajal menjemputnya sedangkan ia tetap dalam keadaan seperti itu.

Dari pernyataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

Pertama.
Bahwa pernyataan itu mengandung perintah untuk melazimi Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salafuna Shalih. Hal ini seperti yang diisyaratkan dalam hadits riwayat ‘Irbadh Ibnu Sariyah.

“Artinya : Barangsiapa yang masih hidup diantara kalian maka akan melihat perselisihan yang banyak. Dan waspadalah terhadap perkara-perkara yang diada-adakan karena hal itu sesat. Dan barangsiapa yang menemui yang demikian itu, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin. Gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian”. [Riwayat Abu Dawud no. 4607, Tirmidzi no. 2676, Ibnu Majah no. 440 dan yang lainnya].

Jika kita menggabungkan kedua hadits tersebut, yakni hadits Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu ‘anhu yang berisi perintah untuk memegang pokok-pokok pohon (ashlu syajarah) dengan hadits ‘Irbadh ini, maka terlihat makna yang sangat dalam. Yaitu perintah untuk ber-iltizam pada As-Sunnah An-Nabawiyah dengan pemahaman Salafuna As-Shalih Ridlwanalahu Ta’ala ‘alaihim manakala muncul firqah-firqah sesat dan hilangnya Jama’ah Muslimin serta Imamnya.

Kedua.
Di sini ditunjukkan pula bahwa lafadz (an ta’adhdha bi ashli syajarah) dalam hadits Hudzaifah tersebut tidak dapat diartikan secara dzahir hadits. Tetapi maknanya adalah perintah untuk berpegang teguh, dan bersabar dalam memegang Al-Haq serta menjauhi firqah-firqah sesat yang menyaingi Al-Haq. Atau bermakna bahwa pohon Islam yang rimbun tersebut akan ditiup badai topan hingga mematahkan cabang-cabangnya dan tidak tinggal kecuali pokok pohonnya saja yang kokoh. Oleh karena itu maka wajib setiap muslim untuk berada di bawah asuhan pokok pohon ini walaupun harus ditebus dengan jiwa dan harta. Karena badai topan itu akan datang lagi lebih dahsyat.

Ketiga.
Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk mengulurkan tangannya kepada kelompok (firqah) yang berpegang teguh dengan pokok pohon itu untuk menghadapi kembalinya fitnah dan bahaya bala. Kelompok ini seperti disabdakan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan selalu ada dan akan selalu muncul untuk menyokong kebenaran hingga yang terakhir dibunuh dajjal.

[Disadur dan diringkas dari kutaib yang berjudul "Qaulul Mubin fi Jama'atil Muslimin" karangan Salim bin 'Ied Al-Hilali, Penerbit Maktab Islamy Riyadh]

[Disalin dari Majalah As-Sunnahedisi 07/1/1414-1993 hal. 8-13, Dengan Judul Hadits Hudzaifah Radliyallahu Ta'ala Anhu, Penerbit Istiqomah Grup Surakarta, Alamat Redaksi Gedung Umat Islam Lt II Kartopuran No 241A Surakarta 57152]
______
Maraji’
[1]. Al Ilzamat wa at Tatabu oleh Ad-Daruquthni
[2]. Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, oleh Ibnu Katsir
[3]. Al Jami’ As Shahih, oleh Bukhari dengan Fathul Bari
[4]. Haliyatul Auliya’ oleh Abu Na’im Al- Ashbahani.
[5]. Silsilah Al-Hadits As-Shahihah, oleh Muhammad Nashiruddien Al-Albani
[6]. As-Sunnan, oleh Ibnu Majah
[7]. As-Sunnan, oleh Abu Dawud
[8]. As-Sunnan, oleh Tirmidzi
[9]. Syiar A’lam An-Nubala, oleh Adz-Dzahabi
[10]. Syarhu Sunnah, oleh Baghawi
[11]. As-Shahih, oleh Muslim bin Al-Hujjaj
[12]. ‘Aunil Ma’bud, oleh Syamsul Al-Abadi
[13]. Al-Kaasyif, oleh Dzahabi
[14]. Al-Mustadrak, oleh Hakim
[15]. Al-Musnad, oleh Ahmad bin Hambal

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 10, 2007 in SALAFIYAH

 

KETENTUAN DASAR DAKWAH SALAFIYAH

Oleh
Syaikh DR. Muhammad bin Musa Alu Nashr

Sesungguhnya dakwah Salafiyah telah mengakar kokoh dalam sejarah. Dia bukanlah dakwah yang baru lahir kemarin. Telah ada sejak zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan sejak zaman para nabi sebelumnya. Oleh karena itu, ushul dan kaidah dakwah Salafiyah tidak diambil dari akal dan ijtihad serta istihsan (anggapan baik) manusia, akan tetapi diambil dari sumbernya yang suci yaitu Al-Kitab dan As-Sunnah dengan pemahaman Salaful Umat ini.

Diantara ma’alim ushul (ketentuan dasar) dakwah Salafiyah yang terpenting adalah.

[1]. Dakwah Salafiyah menyeru kepada asal dan rukun yang paling mendasar, yaitu kepada Tauhid dan memperingatkan dari kesyirikan, karena dakwah Salafiyah merupakan lanjutan dari dakwah para nabi.

Semua dakwah yang tidak dibangun diatas asal dan rukun ini akan gagal. Ibarat membangun atap sebelum tiangnya, sehingga atapnya akan menimpa kepada penghuninya.

Umat Islam telah menuai bencana dan malapetaka dari dakwah yang tidak bersandar kepada asal dan tidak mengikuti manhaj dakwah para nabi, yaitu memulai dakwah (seruan) kepada tauhid dan pengesaan Allah dalam ibadah. Seluruh nabi datang untuk menyampaikan kepada kaum mereka satu perkataan yaitu.

“Artinya : Hai kamumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Ilah bagimu selainNya” [Al-A’raaf ; 65]

Oleh karena itu dakwah Salafiyah mencintai orang karena tauhid, dan membenci orang yang menyelisihi tauhid.

[2]. Dakwah Salafiyah menyeru kepada ittiba (mengikuti) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saja secara lahir dan batin.

Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menggantungkan kesuksesan dan keselamatan pada ittiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman.

“Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min. Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali” [An-Nisa’ : 115]

FirmanNya.

“Artinya : Dan jika kamu ta’at kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk” [An-Nur : 54]

Dan firmanNya.

“Artinya : Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan diitimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa adzab yang pedih” [An-Nur : 63]

Maksudnya ditimpa fitnah dengan kesesatan dan kesyirikan. Semoga Allah melindungi kita darinya. Bahkan Allah menyatakan bahwa syarat untuk mencintai dan supaya dicintai Allah adalah ittiba’ (mengikuti) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah berfirman.

“Artinya : Katakanlah :’Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah dakan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Penguasa lagi Maha Penyayang” [Ali-Imran : 31]

Barangsiapa yang ingin dimasukkan ke dalam golongan orang yang Allah cintai, maka dia harus mengikuti jalan Rasulullah dan merasa cukup dengan atsar (hadits) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, syia’ar dakwah Salafiyah adalah “firman Allah, sabda Rasulullah yang shahih serta manhaj dan pemahaman salaful umat”.

Termasuk ketentuan dasar dakwah Salafiyah adalah berbeda dengan kelompok jamaah lainnya baik yang kuno atau yang modern, bersandar kepada pemahaman Salaf secara ilmu dan amal. Maka Salafi (orang-orang yang mengikuti Salaf) tidak akan mengatakan : “Kami satu generasi setara dengan mereka”. Akan tetapi Salafi akan mengatakan : “Kami satu generasi yang mengikuti mereka, yang telah dipuji Allah dalam firmanNya.

“Artinya : Orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual belia dari mengingat Allah” [An-Nur : 37]

Dan firman Allah.

“Artinya : Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Allah menyukai orang-orang yang bersih” [At-Taubah : 108]

Kami mengikuti mereka, karena mereka telah ridho dari Allah, Allah merodhoi mereka dan mereka meridhoi Allah.

[3]. Dakwah Salafiyah melakukan Tasfiyah (pemurnian) terhadap Islam dari semua kebid’ahan, khurafat, kerancuan, pemikiran sesat dan falsafah yang tidak diterangkan Allah.

Dakwah Salafiyah melakukan tazkiyah (pensucian) terhadap jiwa kaum muslimin agar mereka beruntung. Allah berfirman.

“Artinya : Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” [Asy-Syams : 9-10]

Dakwah Salafiyah mengambil ilmu yang murni, dari sumber yang murni dan menyampaikannya (ilmu) dalam keadaan murni. Karena jika ilmu tercampuri hadits-hadits dho’if (lemah) dan palsu, aqidah yang menyimpang lagi bathil, falsafah’ kerancuan dan sampah pemikiran manusia, maka ilmu itu akan menjadi racun yang mematikan aqidah, pemikiran dan manhaj mereka. Akan memutuskan jalan mereka mencapai ridho Allah.

Tasfiyah (pemurnian) dan tazkiyah (penyucian jiwa) merupakan keistimewaan dan sendi-sendi dakwah ini. Madrasah Al-Imam Mujadid zaman ini Al-Albany telah melaksanakan peran yang cukup baik. Sebagai lanjutan dari madrasah Salafiyah pertama sejak zaman Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya hingga zaman ini dan sampai hari kiamat nanti.

[4]. Dakwah Salafiyah memperhatikan ilmu dan ulama, karena asas perbaikan agama hanya bisa tegak dengan ilmu.

Lima ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak beliau berilmu dan memerintahkan beliau membaca. Allah berfirman.

“Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” [Al-Alaq : 1-5]

Qalam (alat tulis) merupakan asas dalam memperoleh ilmu, Allah pergunakannya ia untuk bersumpah karena kemuliaannya dan kemuliaan ilmu yang bisa dicapai, Allah berfirman.

“Artinya : Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis” [Al-Qalam : 1]

Kemudian Allah menjadikannya sebagai makhluk pertama karena kemuliaan dan kemulian ilmu dan pengetahuan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Makhluk pertama yang Allah ciptakan adalah qalam kemudian Dia berfirman : “Tulislah!” Qalam menjawab : “Apa yang saya tulis?” Allah berfirman : “Tulislah apa yang terjadi dan akan terjadi”. Lalu qalam menulis segala sesuatu sampai hari kiamat”.

Dakwah Salafiyah memuliakan ulama, tetapi tidak ekstrim terhadap mereka. Karena tahu bahwa mereka adalah manusia biasa yang bisa salah dan benar. Mereka diikuti kebenarannya. Kesalahannya. Kesalahan mereka sama sekali tidak menurunkan kedudukan dan martabat mereka di dalam dakwah ini. Dakwah Salafiyah juga tidak mencela ulama rabbani yang telah menegakkan kebenaran dan berbuat adil. Ulama dakwah ini adalah mereka yang telah diakui oleh semua orang karena keimanan mereka dalam agama dan kedalaman ilmu mereka serta menjadi penerang petunjuk.

Kami telah melihat, alangkah susahnya orang awam atau orang yang berilmu setelah wafatnya imam kita yang tiga : Ibnu Baaz, Al-Albani dan Ibnu Utsaimin. Mereka dan yang sekelas dengan mereka serta murid-murid mereka adalah penjaga umat ini dari kekacauan dan kesesata, karena ulama adalah pewaris para nabi sepanjang masa.

[5]. Dakwah Salafiyah mengajak kaum muslimin yang mengikuti contoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bekerjasama (ta’awun) dalam kebaikan dan taqwa, tidak mengajak para ahli bid’ah dan hizbiy (orang partai).

Hizbiy telah memecah belah umat dan membuat mereka tidak akan berpendapat kecuali dengan pendapat partai, sehingga kehizbiyahan mengakar dalam hati mereka. Mereka mencintai partai atau kelompok sebagaimana Bani Israil mencintai anak sapi, wal iyadzu billah.

Mereka (orang partai) mengobarkan slogan : “Ini dari kelompok saya dan dia dari kelompok musuh saya”, lalu bergabung dengan semua hizbiy dan menjauhi semua sunniy (orang yang mengikuti sunnah) walaupun sunniy tersebut orang paling benar di zamannya.

[6]. Dakwah Salafiyah yang penuh barakah ini memperingatkan dan mencela fanatik golongan serta sangat membenci perpecahan.

Juga mencela dan memperingatkan pelakunya, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela orang yang berpecah belah dan fanatik golongan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Artinya : Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka” [Ar-Ruum : 31-32]

Sebagaimana dakwah Salafiyah (berkat hidayah Allah) berada di tengah-tengah antara orang yang ghuluw (ekstrim) dan orang yang taqshir (orang yang meremehkan). Mereka adalah kelompok yang adil dan tengah-tengah.

Semoga Allah merahmati Al-Hasan Al-Bashri, ketika berkata : “Agama kalian yang telah diturunkan kepada Nabi kalian di antara ghuluw yaitu ekstrim dan jaafi (orang yang suka meremehkan urusan)”

Demikianlah Allah memberikan kesitimewaan kepada umat ini berupa keadilan dan kesederhanaan.

Allah berfirman.

“Artinya : Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu” [Al-Baqarah : 143]

Manhaj Salaf mengajak kepada sikap netral dan adil dalam setiap sisi kehidupan, dalam aqidah, pemikiran, perkara dunia dan juga urusan akhirat, sesuai dengan menhaj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya. Hal ini telah dijelaskan dan dikuatkan oleh hadits-hadits dan atsar yang banyak sekali. Dan sekarang tidak mungkin saya menjelaskan lebih dari itu.

[7]. Dakwah Salafiyah, berdakwah kepada Allah berdasarkan ilmu dan keyakinan

Dan berdakwah secara secara jelas dengan hujjah serta membenci kesamaran dan ketidak jelasan, slogan mereka alah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Saya bawakan kepada kalian agama yang terang benderang ; malamnya seperti siangnya”

Oleh karena itu beliau meninggalkan umat ini di atas agama yang terang benderang dan jalan yang lurus. Mereka yang bergerak sembunyi-sembunyi dan takut bergerak pada siang hari, menebar syubhat dan keraguan ke dalam jiwa kaum muslimin. Sehingga kaum muslimin tetap waspada terhadap mereka. Kita tidak pernah tahu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bergerak di kegelapan, akan tetapi beliau bergerak di terangnya siang hari. Maka dakwah Salafiyah terang benderang, malamnya seperti siangnya dan tidaklah tergelincir darinya kecuali orang yang binasa.

[8]. Dakwah Salafiyah beramar ma’ruf dan mencegah kemungkaran serta menegakkan kebenaran.

Tidak takut celaan orang yang mencela sambil tetap memperhatikan ketentuan hikmah, nasehat yang baik dan kelemah lembutan. Karena jika kelembutan masuk pada sesuatu, akan menghiasinya dan bila hilang dari sesuatu maka akan merusaknya, serta memperhatikan maslahat dan mafsadat termasuk dalam fiqih dakwah. Tidak mendapat taufiq dalam hal ini kecuali orang yang dikehendaki baik oleh Allah. Ini kaidah baku, kaidah ushul yang telah ditetapkan para ulama, yaitu menghindari mafsadat (kerusakan) lebih didahulukan dari mengambil maslahat (kebaikan). Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Aisyah.

“Artinya : Wahai Aisyah, seandainya bukan karena kaummu yang baru saja meninggalkan kejahiliyahan, sungguh saya akan hancurkan ka’bah dan saya jadikan sesuai dengna pondasi dasar Ibrohim”.

Beliau tidak melakukannya karena takut mafsadat (kerusakan). Seorang alim, pelajar dan da’i manhaj salaf seharusnya melihat segala sesuatu dengan cahaya Allah dan bashirah sehingga dapat mengenal dan membedakan mana maslahat dan mafsadat.

[9]. Dakwah Salafiyah adalah orang yang paling mengenal kebenaran dan paling sayang kepada makhluk.

Dia tidak tertipu dengan banyaknya orang dan tidak merasa kecil hati dengan sedikitnya orang yang mengikutinya, tidak tertipu dengan banyaknya orang yang celaka.

Lihatlah disana ada seorang nabi yang bersamanya seorang, sekelompok dan ada nabi yang tidak memiliki pengikut seorangpun, ini membuat mereka tidak mundur dan terhalang dari kebenaran dan dakwah yang benar. Pada setiap masa pengikut dakwah yang benar itu sedikit, dalam hadits dijelaskan.

“Artinya : Senantiasa ada sekelompok dari umatku yang menegakkan kebenaran, tidak merugikan mereka orang yang menyelisihinya atau menghinanya sampai datang hari kiamat”.

Lihatlah wahai muslim, wahai hamba Allah kepada kebenaran yang dibawa dakwah ini dan janganlah melihat kepada banyaknya orang.

Allah berfirman.

“Artinya : Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih” [Saba’ : 13]

Sebagai penutup, dakwah salafiyah beramal dengan dalil dan mengedepankan dalil atas semua pendapat orang. Menghukumi perkataan orang kepada dalil, manhaj, aqidah dan ketentuan dasar dakwah Salafiyah dan tidak menghukumi ketentuan dasar dalwah Salafiyah kepada pendapat orang.

Seandainya kebenaran diukur dengan pendapat orang, maka sungguh mengusap bagian bawah khuf (sepatu) lebih utama dari atasnya padahal yang benar berdasarkan dalil adalah mengusap bagian atas sepatu.

Saya sampaikan perkataan saya ini dan saya memohon kepada Allah supaya kita semua diberikan kemantapan di atas manhaj Salaf dan aqidah Salaf sampai mati dan semoga Allah menjadikan kita semua orang yang pantas bernisbat kepadanya. Sesungguhnya Allah yang menguasainya dan mampu untuk menunaikannya.

[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VI/1423H/2002M Rubrik Liputan Khusus yang diangkat dari ceramah Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr Tanggal 3-6 Muharram 1423H di Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya]

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 10, 2007 in SALAFIYAH

 

MENISBATKAN DIRI KEPADA SALAF DAN MEMAKAI GELAR SALAFIYAH

Oleh
Syaikh Dr. Abdussalam bin Salim As-Suhaimi

Telah dimaklumi bersama bahwa seruan untuk mengikuti salaf atau dakwah kepada salafiyah tidak lain merupakan dakwah kepada Islam yang benar. Dan kembali kepada sunnah yang murni merupakan seruan untuk kembali kepada Islam seperti yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diajarkan kepada para sahabat yang mulia Radhiyallahu ‘anhum. Maka tidaklah ragu bahwa dakwah ini adalah dakwah yang benar sehingga menisbatkan diri kepadanya adalah benar.

Sungguh para imam kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah memiliki pengaruh yang besar dalam berdakwah kepada sunnah, kembali ke jalan salaf, kembali kepada manhaj mereka dan mencontoh mereka. Di antara para imam tersebut adalah imam-imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah : Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishak bin Khuzaimah, Imam Abu Bakar Muhammad bin Al-Husain Al-Ajuri, Imam Abu Abdillah bin Baththah Al-Ukbari dan Imam Abul Qasim Isma’il bin Muhammad Al-Ashbahani.

Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu Qayyim, dan Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab serta para Imam dakwah sesudah beliau. Mereka memberi andil dalam memunculkan manhaj salaf seiring dengan perjalanan waktu, menyirami pondasi agama dan aqidahnya dengan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta perjalanan hidup Salafush Shalih dan tabi’in. mereka seluruhnya tegak membantah kebid’ahan yang menyimpang dari pondasi ini.

Jika hal itu diketahui, maka kita kembali kepada judul pasal ini, “Boleh Menisbatkan Diri Kepada Salaf dan Memakai Gelar Salafiyah”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan.:
“Tidak tercela orang yang menunjukkan madzhab salaf, menisbatkan dan menyandarkan diri kepadanya, bahkan wajib menerima hal itu darinya, karena madzhab salaf tidak lain adalah kebenaran” [Al-Fatawa 4/149]

Imam As-Sam’ani berkata dalam Al-Ansaab 3/273 : As-Salafi –dengan huruf sin dan lam yang berharakat fathah dan huruf akhirnya fa’- merupakan penisbatan kepada salaf dan menempuh madzhab mereka menurut apa yang telah engkau dengar dari mereka”.

Ibnu Asir mengomentari setelah ucapan As-Sam’ani tersebut dengan mengatakan. “Dan dengannya jama’ah dapat dikenal”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan gelar salafiyah pada sebagian tulisannya kepada mereka yang berpendapat seperti pendapat salaf dalam masalah fauqiyah (keyakinan Allah berada di atas) [1]

Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata dalam As-Siyar 12/380. “Maka yang dibutuhkan oleh seorang hafizh hendaknya dia bertakwa, cerdas… dan seorang salafi”.

Beliau mengungkapkan dalam As-Siyar 16/457 tentang Ad-Daruquthni rahimahullahu. “Orang ini tidak pernah sama sekali masuk ke dalam ilmu kalam, tidak pula ilmu jidal, tidak pula mendalaminya bahkan dia adalah seorang salafi”.

Penulis berkata : Dan pada zaman sekarang ini penisbatan dan gelaran ini digunakan juga oleh para ulama yang mulia yang dikenal dengan komitmen dan pembelaannya terhadap sunnah seperti Syaikh Abdurrahman Al-Muallimi rahimahullahu (wafat 1386H) dalam kitabnya Al-Qa’id il Tashhihil Aqa’id dan Syaikh Imam Al-Alim Al-Qudwah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu dalam risalahnya berjudul Tanbihat Haamah ‘ala Maa Katabahu Muhammad Ali Ash-Shabuni fi Shifatillahi Azza wa Jalla”.

Syaikh bin Baz rahimahullahu pernah ditanya : Apa pendapat engkau tentang orang yang menamakan dengan salafi atau atsari, apakah itu merupakan tazkiyah (pujian terhadap diri sendiri)?

Beliau menjawab : Jika benar orang tersebut sebagai pengikut atsar dan pengikut salaf maka tidak mengapa. Sama halnya para ulama salaf mengatakan: fulan salafi atau fulan atsari adalah sebagai tazkiyah di sini adalah wajib.[2]

Kemudian Syaikh Al-Alim Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu dalam Mukhtashar Al-Uluw dan muqaddimah bagi Syarh AlAqidah Ath-Thawaiyah serta kitabnya At-Tawassul.

Juga Syaikh Al-Allamah Shalih Fauzan Al-Fauzan sebagaimana dalam kitab Ajwibah Al-Mufidah (hal: 103) beliau ditanya apa itu Salafiyah? Apakah wajib menempuh manhajnya dan berpegang dengannya?

Beliau menjawab : “As-Salafiyah adalah menempuh manhaj salaf dari kalangan sahabat, tabi’in dan generasi yang utama dalam sisi aqidah, pemahaman dan akhlaq, dan wajib bagi setiap muslim untuk menempuh manhaj ini”.

Juga di antaranya Syaikh Al-Fadhil Ali bin Nashir Al-Faqihi dalam Fathul Mubin Birradi ‘ala Naqdi Abdillah Al-Ghumari li Kitabil Arbain.

Mereka adalah orang-orang yang mulia dari kalangan ahli ilmu dan yang lainnya membolehkan penggunaan gelar “salafi atau salafiyah atau salafiyin” dan yang dimaksud adalah orang yang menempuh manhaj salaf dan jalan mereka.
Sebagian penulis kontemporer yang menulis tentang madzhab-madzhab Islam menganggap “salafiyin sebagai pengikut para pendahulu mereka dari kalangan para imam”. Mereka menganggap salafiyin sebagai kelompok dengan karaktersitik khusus yang dikenal dengan sebutan tersebut, diantaranya adalah Muhammad Abi Zahrah, Musthafa Asy-Syik’ah, Muhammad bin Sa’id Al-Buthi dan yang lainnya. Mereka menganggap salafiyin sebagai kelompok dengan karakteristik khusus yang dikenal dengan nama tersebut.

Mereka megisyaratkan kepada perkembangan sejarah perjalanan kelompok ini yang merupakan kelanjutan dari madrasah Ahmad bin Hanbal, lalu diperbaharui pada masa Ibnu Taimiyah dan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, dan mereka menganggap bahwa salafiyin adalah orang-orang yang menggunakan gelar ini untuk dirinya.

Di antara mereka ada yang menganggap madzhab salafi adalah marhalah (fase) waktu dan bukan madzhab Islam, seperti Doktor Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi.

Sama halnya para du’at (juru dakwah) yang mengajak kembali kepada madzhab salaf yang menyebutkan gelar ini untuk diri mereka sendiri atau orang lain yang menggelari mereka seperti itu, kemudian dikenal dengannya. Sesungguhnya tidak pernah diketahui baik dari para imam terdahulu kalangan Ahlus Sunnah, atau orang yang mengikuti manhaj mereka sampai zaman kita sekarang ini ada yang mengingkari mereka dalam hal itu atau menentang penyebutan gelar ini untuk mereka. Minimal, penggunaan gelar tersebut dan penisbatan diri kepadanya hanyalah merupakan sebuah istilah, dan tidak ada yang perlu diperselisihkan dari sebuah istilah. [3]

Kemudian, sebuah penilaian dilihat dari hakikat, makna dan bukan dari lafazh-lafazh kosong. Telah disebutkan dahulu makna-makna yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan istilah salaf ini adalah orang yang berjalan di atas manhaj salafush shalih, dan mengikuti jalan mereka. Tidak ada perbedaan sedikitpun antara menggunakan nama salafiyah ataupun Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana telah lalu.

[Disalin dari kitab Kun Salafiyyan Alal Jaadah, Penulis Abdussalam bin Salim As-Suhaimi, Edisi Indonesia Jadilah Salafi Sejati, Penerjemah Heri Iman Santoso, Penerbit Pustaka At-Tazkia]
__________
Foote Note
[1]. Sebagaimana beliau menyebutkannya bagi sejumlah ulama, lihat Bayanu Talbis Al-Jahmiyah 1/122 dan Da’ru Ta’arudhil Aqli Wan Naqli 7/134, 7/207
[2]. Dari ceramah beliau yang berjudul Haqqul Muslim yang disampaikan di Thaif.
[3]. Lihat Wasathiyah Ahlis Sunnah wal Jama’ah Binal Firaq hal. 111 dengan sedikit perubahan.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 10, 2007 in SALAFIYAH

 

BOLEH MENISBATKAN DIRI KEPADA SALAF DAN MEMAKAI GELAR SALAFIYAH

Oleh
Syaikh Dr. Abdussalam bin Salim As-Suhaimi

Telah dimaklumi bersama bahwa seruan untuk mengikuti salaf atau dakwah kepada salafiyah tidak lain merupakan dakwah kepada Islam yang benar. Dan kembali kepada sunnah yang murni merupakan seruan untuk kembali kepada Islam seperti yang diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diajarkan kepada para sahabat yang mulia Radhiyallahu ‘anhum. Maka tidaklah ragu bahwa dakwah ini adalah dakwah yang benar sehingga menisbatkan diri kepadanya adalah benar.

Sungguh para imam kaum muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah memiliki pengaruh yang besar dalam berdakwah kepada sunnah, kembali ke jalan salaf, kembali kepada manhaj mereka dan mencontoh mereka. Di antara para imam tersebut adalah imam-imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah : Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishak bin Khuzaimah, Imam Abu Bakar Muhammad bin Al-Husain Al-Ajuri, Imam Abu Abdillah bin Baththah Al-Ukbari dan Imam Abul Qasim Isma’il bin Muhammad Al-Ashbahani.

Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Ibnu Qayyim, dan Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab serta para Imam dakwah sesudah beliau. Mereka memberi andil dalam memunculkan manhaj salaf seiring dengan perjalanan waktu, menyirami pondasi agama dan aqidahnya dengan Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta perjalanan hidup Salafush Shalih dan tabi’in. mereka seluruhnya tegak membantah kebid’ahan yang menyimpang dari pondasi ini.

Jika hal itu diketahui, maka kita kembali kepada judul pasal ini, “Boleh Menisbatkan Diri Kepada Salaf dan Memakai Gelar Salafiyah”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan.:
“Tidak tercela orang yang menunjukkan madzhab salaf, menisbatkan dan menyandarkan diri kepadanya, bahkan wajib menerima hal itu darinya, karena madzhab salaf tidak lain adalah kebenaran” [Al-Fatawa 4/149]

Imam As-Sam’ani berkata dalam Al-Ansaab 3/273 : As-Salafi –dengan huruf sin dan lam yang berharakat fathah dan huruf akhirnya fa’- merupakan penisbatan kepada salaf dan menempuh madzhab mereka menurut apa yang telah engkau dengar dari mereka”.

Ibnu Asir mengomentari setelah ucapan As-Sam’ani tersebut dengan mengatakan. “Dan dengannya jama’ah dapat dikenal”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan gelar salafiyah pada sebagian tulisannya kepada mereka yang berpendapat seperti pendapat salaf dalam masalah fauqiyah (keyakinan Allah berada di atas) [1]

Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu berkata dalam As-Siyar 12/380. “Maka yang dibutuhkan oleh seorang hafizh hendaknya dia bertakwa, cerdas… dan seorang salafi”.

Beliau mengungkapkan dalam As-Siyar 16/457 tentang Ad-Daruquthni rahimahullahu. “Orang ini tidak pernah sama sekali masuk ke dalam ilmu kalam, tidak pula ilmu jidal, tidak pula mendalaminya bahkan dia adalah seorang salafi”.

Penulis berkata : Dan pada zaman sekarang ini penisbatan dan gelaran ini digunakan juga oleh para ulama yang mulia yang dikenal dengan komitmen dan pembelaannya terhadap sunnah seperti Syaikh Abdurrahman Al-Muallimi rahimahullahu (wafat 1386H) dalam kitabnya Al-Qa’id il Tashhihil Aqa’id dan Syaikh Imam Al-Alim Al-Qudwah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu dalam risalahnya berjudul Tanbihat Haamah ‘ala Maa Katabahu Muhammad Ali Ash-Shabuni fi Shifatillahi Azza wa Jalla”.

Syaikh bin Baz rahimahullahu pernah ditanya : Apa pendapat engkau tentang orang yang menamakan dengan salafi atau atsari, apakah itu merupakan tazkiyah (pujian terhadap diri sendiri)?

Beliau menjawab : Jika benar orang tersebut sebagai pengikut atsar dan pengikut salaf maka tidak mengapa. Sama halnya para ulama salaf mengatakan: fulan salafi atau fulan atsari adalah sebagai tazkiyah di sini adalah wajib.[2]

Kemudian Syaikh Al-Alim Al-Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu dalam Mukhtashar Al-Uluw dan muqaddimah bagi Syarh AlAqidah Ath-Thawaiyah serta kitabnya At-Tawassul.

Juga Syaikh Al-Allamah Shalih Fauzan Al-Fauzan sebagaimana dalam kitab Ajwibah Al-Mufidah (hal: 103) beliau ditanya apa itu Salafiyah? Apakah wajib menempuh manhajnya dan berpegang dengannya?

Beliau menjawab : “As-Salafiyah adalah menempuh manhaj salaf dari kalangan sahabat, tabi’in dan generasi yang utama dalam sisi aqidah, pemahaman dan akhlaq, dan wajib bagi setiap muslim untuk menempuh manhaj ini”.

Juga di antaranya Syaikh Al-Fadhil Ali bin Nashir Al-Faqihi dalam Fathul Mubin Birradi ‘ala Naqdi Abdillah Al-Ghumari li Kitabil Arbain.

Mereka adalah orang-orang yang mulia dari kalangan ahli ilmu dan yang lainnya membolehkan penggunaan gelar “salafi atau salafiyah atau salafiyin” dan yang dimaksud adalah orang yang menempuh manhaj salaf dan jalan mereka.
Sebagian penulis kontemporer yang menulis tentang madzhab-madzhab Islam menganggap “salafiyin sebagai pengikut para pendahulu mereka dari kalangan para imam”. Mereka menganggap salafiyin sebagai kelompok dengan karaktersitik khusus yang dikenal dengan sebutan tersebut, diantaranya adalah Muhammad Abi Zahrah, Musthafa Asy-Syik’ah, Muhammad bin Sa’id Al-Buthi dan yang lainnya. Mereka menganggap salafiyin sebagai kelompok dengan karakteristik khusus yang dikenal dengan nama tersebut.

Mereka megisyaratkan kepada perkembangan sejarah perjalanan kelompok ini yang merupakan kelanjutan dari madrasah Ahmad bin Hanbal, lalu diperbaharui pada masa Ibnu Taimiyah dan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, dan mereka menganggap bahwa salafiyin adalah orang-orang yang menggunakan gelar ini untuk dirinya.

Di antara mereka ada yang menganggap madzhab salafi adalah marhalah (fase) waktu dan bukan madzhab Islam, seperti Doktor Muhammad Sa’id Ramadhan Al-Buthi.

Sama halnya para du’at (juru dakwah) yang mengajak kembali kepada madzhab salaf yang menyebutkan gelar ini untuk diri mereka sendiri atau orang lain yang menggelari mereka seperti itu, kemudian dikenal dengannya. Sesungguhnya tidak pernah diketahui baik dari para imam terdahulu kalangan Ahlus Sunnah, atau orang yang mengikuti manhaj mereka sampai zaman kita sekarang ini ada yang mengingkari mereka dalam hal itu atau menentang penyebutan gelar ini untuk mereka. Minimal, penggunaan gelar tersebut dan penisbatan diri kepadanya hanyalah merupakan sebuah istilah, dan tidak ada yang perlu diperselisihkan dari sebuah istilah. [3]

Kemudian, sebuah penilaian dilihat dari hakikat, makna dan bukan dari lafazh-lafazh kosong. Telah disebutkan dahulu makna-makna yang menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan istilah salaf ini adalah orang yang berjalan di atas manhaj salafush shalih, dan mengikuti jalan mereka. Tidak ada perbedaan sedikitpun antara menggunakan nama salafiyah ataupun Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagaimana telah lalu.

[Disalin dari kitab Kun Salafiyyan Alal Jaadah, Penulis Abdussalam bin Salim As-Suhaimi, Edisi Indonesia Jadilah Salafi Sejati, Penerjemah Heri Iman Santoso, Penerbit Pustaka At-Tazkia]
__________
Foote Note
[1]. Sebagaimana beliau menyebutkannya bagi sejumlah ulama, lihat Bayanu Talbis Al-Jahmiyah 1/122 dan Da’ru Ta’arudhil Aqli Wan Naqli 7/134, 7/207
[2]. Dari ceramah beliau yang berjudul Haqqul Muslim yang disampaikan di Thaif.
[3]. Lihat Wasathiyah Ahlis Sunnah wal Jama’ah Binal Firaq hal. 111 dengan sedikit perubahan.

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 10, 2007 in SALAFIYAH

 

POKOK-POKOK MANHAJ SALAF

Oleh
Khalid bin Abdur Rahman al-’Ik
Bagian pertama dari enam tulisan [1/6]

PENDAHULUAN.
Sesuatu yang pasti dan tidak mengandung keraguan sedikitpun ialah bahwasanya manhaj salaf adalah manhaj yang bisa diterima oleh setiap generasi dari masa ke masa. Begitulah kenyataannya di sepanjang sejarah dan kehidupan. Hal itu disebabkan keistimewaan manhaj salaf yang senantiasa secara benar dan mengakar dalam menggali masalah, akuratnya penggunaan dalil (istidlal) berdasarkan petunjuk-petunjuk Qur’aniyah serta kemampuannya menggugah kesadaran, dengan mudah bisa dicapai hingga peringkat ilmu serta keyakinan tertinggi, disamping adanya jaminan keselamatan untuk tidak terjatuh pada kesia-sian, khayalan, atau pada ruwetnya tali temali salah kaprah serta benang-kusutnya ilmu kalam, filsafat dan analogi-analogi logika.

Sesungguhnya manhaj salaf adalah manhaj yang selaras dengan fitrah manusia, sebab ia merupakan manhaj Qur’ani nabawi, Manhaj yang bukan hasil kreasi manusia. Oleh karenanya manhaj ini senantiasa mampu menarik kembali individu-individu umat Islam yang telah lari meninggalkan petunjuk agamanya dalam waktu relatif singkat dan dengan usaha sederhana, apabila dalam hal ini tidak ada orang-orang yang sengaja menghambat dan melakukan perusakan supaya manhaj yang agung ini tidak sampai kepada anggota-anggota masyarakat dan kelompok-kelomok umat.

Untuk itulah kita dapati manhaj salaf selalu cocok dengan zaman dan senantiasa up to date bagi setiap generasi ; itulah “jalannya kaum salaf radhiayallahu ‘alaihim”. Inilah manhaj yang pernah di tempuh oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya. Di atas manhaj inilah para imam mujtahid, para imam hafizh dan para imam ahli hadits terbentuk. Dengan manhaj inipula orang-orang (dahulu) diseru untuk kembali kepada dienullah, hingga dengan segera mereka menyambut dan menerimanya serta masuk kedalam dienul Islam secara berbondong-bondong.

Seperti halnya manhaj ini dahulu telah mampu menciptakan “umat agung” yang menjadi khaira ummatin ukhrijat lin-naas, sebaik-baik umat yang ditampilkan untuk manusia, maka iapun akan senantiasa mampu berbuat demikian dalam setiap masa. Buktinya .? itu bisa terwujud setiap saat, jika penghambat-penghambat yang sengaja diciptakan untuk mengacaukan kehidupan manusia hingga kehilangan fitrah lurusnya dihilangkan.

Tentu tidak diragukan lagi, bahwa ajakan untuk mengikuti jejak as-salafu ash-shalih harus menjadi ajakan (dakwah) yang terus menerus dilakukan. Dakwah ini secara pasti akan tetap selaras dengan kehidupan modern, sebab merupakan ajakan yang hendak mengikat seorang mukmin dengan sumber-sumber yang murni dan melepaskan diri dari berbagai belengu taklid yang membuat fanatik terhadap ra’yu (pendapat), kemudian mengembalikannya kepada Kitabullah serta sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Katakanlah : ‘Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul ; dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. [An-Nuur : 54].

Jadi dakwah salafiyah selamanya bisa selaras bagi pelaku tiap-tiap zaman, karena dakwah salafiyah datang ketengah manusia dengan membawa sumber-sumber minuman rohani yang paling lezat dan murni. Dakwah salafiyah datang dengan membawa sesuatu yang bisa memenuhi kekosongan jiwa dan bisa menerangi relung-relung hati yang paling dalam. Maka dakwah salafiyah ini tidak akan membiarkan jiwa terkuasai oleh ambisi-ambisi hawa nafsu melainkan pasti dibersihkannya, dan tidak akan membiarkan hati tertimpa oleh lintasan kebimbangan sedikitpun kecuali pasti disucikannya, sebab dakwah salafiyah ini tegak berdasarkan i’tisham (berpegang teguh) pada kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesuai dengan apa yang dipahami oleh as-salafu-as-shalih.

Tiap pendapat orang, bisa diambil atau bisa ditolak kecuali apa yang telah dibawakan kepada kita oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka apa yang dibawa oleh beliau harus diambil dan tidak boleh ditolak, sebab itu ma’shum berasal dari Allah Ta’ala.

“Artinya : Dan tiadalah yang diucapkannya itu, menurutkan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang di wahyukan (kepadanya) “. [An-Najm : 3-4].

Dengan manhaj yang lurus ini, kaum mukminin akan terbebas dari tunggangan-tunggangan hawa nafsu yang telah bertumpuk-tumpuk menunggangi generasi demi generasi.

Manhaj salaf telah secara jelas memasang petunjuk bagi setiap dakwah yang betul-betul ikhlas bertujuan memperbaharui perkara umat yang telah menjadi amburadul, hingga dengannya bisa betul-betul mampu memperbaharui perkara agama ini dalam kehidupannya dan mampu mengencangkan ikatan iman umat berdasarkan dua sumber :”Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya” ditambah dengan kaidah yang sama sekali tidak bisa dikesampingkan, yaitu ” Sesuai dengan apa yang dipahami oleh as-salafu ash-shalih”.

Setiap dakwah yang dengan dalih apapun berusaha memperlonggar persoalan “ikatan temali yang kokoh” di atas, berarti ia hanyalah dakwah yang terwarnai oleh syubhat-syubhat kesesatan dan ternodai oleh penyimpangan.

Sesungguhnya tauhidul-ibadah yang murni betul-betul untuk Allah Ta’ala, tergantung pada rujukannya kepada Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala befirman :

“Artinya : Dan taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang”. [At-Taghaabun : 12].

Dalam ayat lain Allah berfirman :

“Artinya : Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan”. [An-Nisaa' : 65].

Pada ayat di atas Allah Ta’ala bersumpah dengan Diri-Nya yang Maha Suci bahwasanya tidaklah seseorang beriman sebelum ia menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hakim dalam semua urusan.

Apa saja yang diputuskan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti merupakan kebenaran yang wajib untuk dipatuhi secara lahir maupun batin.

Oleh sebab itulah Allah memerintahkan untuk menyerah (taslim) pada putusan Rasul pada firman Allah berikutnya :

“Artinya : Kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu (Muhammad) berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. [An-Nisaa' : 65].

Dengan demikian, tidak boleh ada sikap enggan, sikap menolak atau sikap menantang terhadap segala yang disunnahkan atau diputuskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala memperingatkan dalam firman-Nya.

“Artinya : Dan barangsiapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya”. [Al-Anfaal : 13].

Lalu, apa lagi yang lebih dikehendaki oleh orang-orang modern dewasa ini dibandingkan dengan kemerdekaan aqidah, kemerdekaan jiwa, kemerdekaan individu dan kemerdekaan jama’i (bersama-sama) yang ditumbuhkan oleh sikap mentauhidkan Allah, baik secara rububiyah maupun uluhiyah, kemerdekaan yang ditimbulkan oleh tauhidul-hidayah dan manunggalnya ketaatan serta kepatuhan hanya kepada perintah Pencipta Alam dan perintah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam ?.

Dengan tauhid yang shahih inilah, kaum mukminin akan terbebaskan (merdeka) dari sikap mengekor terhadap setiap orang yang mempunyai kekuatan, dari setiap belengu hawa nafsu dan dari setiap kesempitan taklid yang memenjarakan akal dan mempersempit cara berpikir.

Karena keistimewaan-keistimewaan langka inilah, maka manhaj salaf akan senantiasa selaras dengan tuntutan segala zaman dan akan bisa diterima oleh setiap generasi.

KAIDAH SERTA POKOK-POKOK MANHAJ SALAF.
Kaidah-kaidah berikut ini menggambarkan tentang prinsip-prinsip manhaj talaqi (sistem mempelajari, mengkaji dan memahami) aqidah islamiyah, dan tentang pokok-pokok bantahan terhadap aqidah selain Islam melalui dalil-dalil Al-Qur’an serta petunjuk-petunjuk nabawi.

Ketika firqah-firqah mulai bermunculan di tengah barisan kaum muslimin dengan segala pemikirannya yang berbeda-beda dan saling berlawanan, maka masing-masing pelakunya berupaya melakukan pengadaan dalil-dalil serta argumentasi-argumentasi, -yang sebenarnya hanya membebani kebanyakan mereka saja- untuk mempertahankan teori-teori filsafat hasil temuan mereka masing-masing yang mereka yakini kebenarannya. Diantara sejumlah dalil yang mereka kemukakan ialah : mengaku-ngaku sebagai pengikut as-salafu ash-shalih.

Oleh karena itu seyogyanyalah diadakan penjelasan mengenai kaidah-kaidah manhaj salaf, supaya dibedakan antara orang-orang yang sekedar mengaku-ngaku salafi dengan orang-orang yang sebenar-benarnya pengikut as-salafu ash-shalih.

[Disalin dari majalah As-Salafiyah, edisi I, tahun I, 1415H diterjemahkan oleh Ahmas Faiz Asifuddin dan dimuat di majalah As-Sunnah edisi 13/Th II/1416H - 1995M]

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Desember 10, 2007 in SALAFIYAH

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 126 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: