RSS

Salafiyyun Para Penjilat Pemerintah?

13 Okt

Salafiyyun Para Penjilat Pemerintah?

Oleh : Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi al-Atsari hafizhahullahu

Syubhat pertama, dari sekian banyak syubhat dan tuduhan mereka adalah, mereka menyangka -dan seburuk-buruk bekal dan modal seseorang adalah prasangka-, bahwa as-Salafiyyun adalah orang-orang yang paling dekat dengan pemerintah dan penguasa! Ini syubhat yang dusta!

As-Salafiyyun bukanlah orang-orang yang dekat dengan pemerintah dan penguasa. Bahkan mayoritas Salafiyyun tidak memiliki profesi atau pekerjaan resmi (dari pemerintah, Red). Mereka juga bukan orang-orang yang berkedudukan dan berpangkat tinggi. Seandainya pun ada di antara as-Salafiyyun yang memiliki profesi atau pekerjaan resmi, atau berkedudukan dan berpangkat tinggi, maka sesungguhnya orang-orang yang menuduh Salafiyyun dengan tuduhan seperti itu tidak tepat dengan tuduhan mereka. orang-orang itu pun keliru dalam syubhat mereka sendiri!

Mungkin yang ingin mereka tuduhkan adalah, bahwa Salafiyyun tidak memusuhi pemerintah atau penguasa. Maka, kita katakan: Ya! Kita memang tidak memusuhi pemerintah, kita juga tidak memerangi mereka. Akan tetapi, kita berlepas diri kepada Allah, dari hal-hal yang menyelisihi syari’at Allah.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ

“Artinya : Sesungguhnya ketaatan hanya dalam hal yang baik”[1]

Dan bersabda:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ . …

“Artinya : Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada Pencipta (Allah Subhanahu wa Ta’ala )[2]

Dan lebih khusus lagi para pemimpin atau penguasa.

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya oleh para sahabat tentang para pemimpin yang berhukum dan menyelisihi hukum tersebut, mereka berkata:

يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَفَلاَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟

Wahai Rasulullah, tidakkah kita tentang mereka dengan pedang?

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ، مَا أَقَامُوْا فِيْكُمُ الصَّلاَةَ

“Artinya : Tidak, selama mereka menegakkan shalat pada kalian”.[3]

Jadi, tidaklah kita memusuhi para pemimpin atau penguasa, tidaklah kita memerangi mereka, dan tidaklah kita memberontak mereka, melainkan karena kita senantiasa bertolak dan berangkat dari dalil-dalil syar’i. Kita tidak bertindak berdasarkan hawa nafsu. Bahkan kita selalu bertolak dari al haq, dan tidak pernah bertolak dari kesesatan dan prasangka!

Dalam hadits lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا، عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ

“Artinya : …Kecuali jika kalian melihat kekafiran yang jelas dan nyata, yang kalian memiliki bukti padanya dari Allah”[4]

Karenanya, merupakan sesuatu yang mustahil jika ada yang mengatakan bahwa kita bertindak dengan tanpa hujjah dan bukti yang haq.

Kemudian, sesungguhnya para pelontar syubhat dan para penuduh ini -ternyata mayoritas mereka- tatkala bertindak demikian, justru pada saat itu mereka mempropagandakan dan menyatakan pengkafiran kepada para pemerintah atau penguasa. Kalaupun ada di antara mereka yang belum mengkafirkan pemerintah pada hari ini, ia telah berada di atas jalan menuju pengkafiran. Karena memenuhi dada-dada dengan rasa benci kepada pemerintah merupakan jalan menuju pengkafiran pemerintah, menuju pernyataan tidak adanya hak pemerintah yang syar’i untuk ditaati dan dipatuhi; yang sudah jelas hal ini kontradiktif dengan al haq, sama sekali tidak sesuai dan tidak selaras dengan al haq.


Ceramah Syaikh Ali Hasan al-Halabi al-Atsari

di Masjid Islamic Center Jakarta, Ahad, 23 Muharram 1428H/11 Februari 2007M

Alih Bahasa & Transkrip : Ustadz Arief Budiman bin ’Utsman

Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XI/1428H/2007

Artikel ini didownload dari Markaz Download Abu Salma (http://dear.to/abusalma]

Dipublikasikan oleh : ibnuramadan.wordpress.com


[1] HR Al-Bukhari (4/1577 no. 4085) (6/2612, 2649 no. 6726, 6830), Muslim (3/1469 no. 1840) dan lain-lain dari hadits Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu

[2] Lihat Shahih Al-Jami (7520)

[3] HR Muslim (3/1482-1482 no. 1855) dan lain-lain dari hadits Auf bin Malik Al-Asyja’i Radhiyallahu ‘anhu

[4] HR Al-Bukhari (6/2588 no. 6647), Muslim (3/1470 no. 1709), dan lain-lain dari hadits Ubadah bin Ash-Shamit Radhiyallahu ‘anhu

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 13, 2008 in ZZ..BANTAHAN..ZZ

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: