RSS

Fitnah Sururiyyah!

26 Des

Oleh: Ustadz Abdullah bin Taslim

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum, ustadz ana masih bingung tentang permasalahan yang katanya semenjak Syaikh bin baz dan Syaikh albani rohimahumullah tidak ada, surur merajalela di madinah dan menggerogoti salafiyyun di madinah sampai2 ana bingung untuk ikut kajian yang mengatakan bahwa al-sofwa surur, ustad yazid surur, ustadz hakim surur, dan lain-lain, yang benar gmn ustadz?

Jawaban Ustadz:

Permasalahan yang antum sampaikan ini –yang ana yakin antum nukil dari orang lain, oleh karena itu jawaban ini ana tujukan kepada sumber berita antum, maka harap jangan tersinggung jika ada kata-kata ana yang kurang berkenan–, jawabannya perlu diperinci karena padanya ada keterangan yang benar dan ada yang salah. Bahwa pemahaman sururiyyah telah berkembang di Madinah, bahkan seluruh wilayah Arab Saudi –apalagi di luar Arab Saudi– memang benar, tapi kalau dikatakan sampai merajalela dan menggerogoti salafiyyun di Madinah, maka ini adalah berita yang tidak benar, bahkan berita ini mengandung pelecehan dan penghinaan kepada para Masyaikh Ahlusunnah yang ada di Madinah, seperti Syaikh ‘Abdul Muhsin al ‘Abbad, ‘Ali Nashir al Faqihi, Shaleh as Suhaimi, Muhammad bin Hadi, Ibrahim ar Ruhaili, ‘Abdurrazzak, ‘Abdul Malik Ramadhani dan lain-lain –semoga Allah ta’ala menjaga mereka semua–, apakah para Masyaikh di atas tidak mampu membimbing dan menjelaskan manhaj yang benar kepada para Salafiyin di Madinah sehingga mereka begitu mudah digerogoti pemahaman bid’ah ini? Atau mungkin ada yang mengatakan bahwa para Masyaikh tersebut kurang paham dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan manhaj (Manhaj Ahlusunnah dalam menyikapi bid’ah dan ahli bid’ah)? Demi Allah, Ini adalah kedustaan yang besar dan nyata! Apakah mungkin mereka digolongkan sebagai Masyaikh Salafiyin kalau terhadap masalah yang besar dan penting ini (masalah manhaj) mereka tidak paham?

Kalau memang demikian, apa gunanya mereka disebut sebagai Masyaikh salafiyyin? Syaikh Rabi’ bin Hadi –semoga Allah ta’ala menjaga beliau– pernah ditanya tentang orang yang mengatakan bahwa para Masyaikh Salafiyin ada di antara mereka yang kurang paham masalah manhaj, maka beliau menjawab bahwa ucapan ini sama seperti ucapan orang-orang Sururiyyin yang mengatakan bahwa para ulama Ahlusunnah tidak paham terhadap masalah Fiqhul Waqi’ (pemahaman terhadap realita dan kondisi yang terjadi pada umat islam), artinya mereka hanya sibuk membahas masalah-masalah akidah, ibadah dan muamalah tapi tidak paham dan kurang perhatian terhadap realita dan kondisi yang terjadi pada umat islam. Rekaman kaset jawaban beliau ini ada pada ana. Jawaban yang beliau sampaikan ini sangat tepat dan sesuai sekali, karena sebagaimana orang-orang Sururiyyin dengan mengatakan bahwa para ulama Ahlusunnah tidak paham Fiqhul Waqi’, dan yang memahaminya dengan baik hanyalah ulama-ulama(?) mereka sendiri, dengan tujuan untuk menggiring kaum muslimin –utamanya para pemuda – agar hanya mengambil pemahaman agama dari tokoh-tokoh mereka itu dan memalingkan mereka dari para ulama yang sesungguhnya, demikian pula orang-orang yang mengatakan bahwa di antara para ulama Ahlusunnah ada yang kurang paham masalah manhaj, tujuan mereka adalah menggiring para pemuda Salafiyin agar hanya mengikuti pemahaman dan sikap keras mereka, setelah mereka menyadari bahwa ternyata pemahaman dan sikap mereka itu sangat jauh bertentangan dengan pemahaman dan sikap para ulama Ahlusunnah, apalagi para ulama kibar (senior) di antara mereka (silahkan baca tulisan ana yang dimuat dalam website ini, pada artikel “Menjawab Tudingan Pada Dakwah Salafiyyah”).

Yang lebih aneh dan mengherankan lagi, pemahaman dan sikap mereka yang nyeleneh itu mereka nisbatkan kepada dua Imam besar Ahlusunnah, yaitu Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz dan Syaikh al Albani –semoga Allah ta’ala merahmati keduanya–, padahal pemahaman dan sikap kedua Imam ini –demikian pula para ulama senior lainnya, seperti Syaikh Muhammad bin Shaleh al ‘Utsaimin dan lain-lain– sangat berseberangan dengan pemahaman dan sikap mereka dalam masalah ini, seperti yang ditegaskan oleh salah seorang murid senior Syaikh bin Baz yang masih hidup sampai saat ini dan tinggal di Madinah, Syaikh ‘Abdul Muhsin al ‘Abbad –semoga Allah ta’ala menjaga dan memanjangkan umur beliau–, dalam kitab beliau “Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah”. Sebagai bukti apa yang ana sampaikan ini, coba kita amati dengan seksama pemahaman dan sikap murid-murid senior dua Imam besar ini, karena bagaimanapun kita semua sepakat bahwa yang paling tahu tentang pemahaman dan sikap dua Imam ini –setelah Allah ta’ala- adalah murid-murid senior mereka jika dibandingkan dengan orang lain. Coba antum perhatikan pemahaman dan sikap murid-murid Syaikh bin Baz, seperti Syaikh ‘Abdul Muhsin yang ana sebutkan di atas, baca kitab beliau “Rifqan Ahlas Sunnah bi Ahlis Sunnah” (yang sudah diterjemahkan), antum akan dapati perbedaan yang sangat jauh antara sikap dan pemahaman beliau dengan sikap dan pemahaman mereka.

Contoh lain, pemahaman dan sikap salah seorang ulama besar di Saudi saat ini, yaitu Syaikh Shaleh al Fauzan –semoga Allah ta’ala menjaga beliau–, selama sekitar 7 tahun ana berada di Madinah, yang ana ingat paling tidak sekitar 5 kali beliau berkunjung ke Madinah dan menyampaikan ceramah umum, 3 kali di antaranya beliau sampaikan di kampus Universitas Islam Madinah, dan –alhamdulillah– semuanya ana hadiri. Dalam semua ceramah yang beliau sampaikan itu tidak sekalipun beliau menyampaikan berita seperti yang antum sampaikan di atas, yang beliau sampaikan adalah pujian terhadap Universitas Islam Madinah, anjuran untuk selalu merujuk kepada para ulama Ahlusunnah di Madinah dan Saudi secara umum, pentingnya aqidah dan dakwah di atas Al Quran dan As Sunnah menurut pemahaman salaf. Apakah Syaikh Shaleh al Fauzan tidak mengetahui bahwa ikhwan salafiyun di Madinah telah digerogoti pemahaman sururiyyah –kalau memang berita tersebut betul– sehingga beliau tidak merasa perlu untuk mengingatkan hal ini secara terang-terangan meskipun cuma sekali saja? Atau apakah Syaikh Shaleh al Fauzan kurang paham dan kurang perhatian terhadap masalah manhaj sehingga beliau tidak menyampaikan hal ini?

Kemudian coba perhatikan pemahaman dan sikap murid-murid senior Syaikh al Albani dalam masalah ini, seperti Syaikh Ali Hasan, Salim al Hilali, Masyhur Hasan Salman, Muhammad Musa Nashr dan lain-lain, yang –alhamdulillah– mereka ini sering berkunjung ke Indonesia sehingga kita bisa mengamati langsung sikap mereka dalam masalah ini, dan ternyata kita dapati sikap mereka pun sama dengan sikap para ulama yang ana sebutkan di atas, kalau antum kurang yakin, antum bisa tanyakan langsung hal ini kepada mereka sewaktu mereka berkunjung ke Indonesia.

Bukti lain, kitab-kitab, tulisan dan kaset-kaset ceramah dua imam besar ini sampai saat ini –alhamdulillah – mudah kita dapatkan, tapi tidak kita dapatkan satu keterangan pun dari dua Imam ini yang mendukung pemahaman dan sikap mereka tersebut, yang ada malah justru sebaliknya, keterangan yang menunjukkan menyimpangnya pemahaman dan sikap mereka dari manhaj Ahlusunnah dalam masalah ini.

Juga ingin ana sampaikan di sini, bahwa munculnya pemahaman sururiyyah sejak dulu telah diingatkan bahayanya oleh para ulama Ahlusunnah, sekaligus mereka menjelaskan ciri-ciri pemahaman sesat ini, yang di antaranya adalah, mudah mengkafirkan pemerintah, melecehkan para ulama Ahlusunnah, memuji dan mengagungkan ahlul bid’ah yang telah jelas bukti kebid’ahannya dan lain-lain. Sekarang coba antum perhatikan siapakah di antara ustad-ustad Salafiyin yang kita kenal dakwah mereka di atas manhaj salaf, seperti ustad Abdul Hakim Abdat, Yazid Jawwas, Aunur Rafiq Gufran, Abdurrahman at Tamimi, Ahmas Faiz, ustad-ustad di pondok Jamilurrahman, pondok Imam Bukhari dan lain-lain –yang kemudian mereka tuduh sebagai sururiyyin– yang memiliki ciri-ciri tersebut di atas? Kalau kemudian mereka berdalil dengan hubungan beberapa ustadz di atas dengan beberapa yayasan dana yang dinilai oleh sebagian dari para ulama sebagai yayasan yang menyimpang manhajnya –dan inilah satu-satunya dalil yang mereka miliki–, maka kita jawab, bahwa para ulama Ahlusunnah sendiri berbeda pendapat dalam masalah boleh/tidaknya berhubungan dan mengambil bantuan dari yayasan-yayasan tersebut, karena dana yang dimiliki yayasan-yayasan tersebut bukan berasal dari para pengurusnya, akan tetapi dari kaum muslimin yang benar-benar ingin menyumbangkan harta yang mereka miliki kepada orang-orang yang berhak menerimanya, maka tidak ada hubungannya antara bantuan harta tersebut dengan penyimpangan manhaj yang ada yayasan-yayasan tersebut selama bantuan tersebut tidak mengikat dengan syarat-syarat yang membawa kepada penyimpangan manhaj.

Di antara ulama Ahlusunnah yang melarang keras mengambil bantuan ini adalah Syaikh Rabi’ bin Hadi, Muhammad bin Hadi dan lain-lain, sedangkan ulama Ahlusunnah yang membolehkannya di antaranya Syaikh ‘Abdul Muhsin, ‘Abdurrazzak, Muhammad bin ‘Abdul Wahhab al ‘Aqil dan lain-lain, bahkan Syaikh ‘Abdul Muhsin ketika ditanya tentang masalah ini, beliau tidak hanya membolehkan bahkan memuji salah satu dari yayasan-yayasan tersebut (yayasan Ihyaut Turats) dengan mengatakan bahwa yayasan tersebut memiliki banyak kebaikan dan manfaat terhadap kaum muslimin, seperti menyumbangkan dana untuk pembangunan masjid-masjid, sekolah-sekolah agama, tunjangan untuk anak yatim, para dai dan lain-lain, bahkan beliau menegaskan bahwa perpecahan yang terjadi karena mempermasalahkan hubungan dengan yayasan ini adalah termasuk perbuatan setan! Bolehnya mengambil bantuan ini, bahkan rekomendasi terhadap yayasan-yayasan tersebut juga dinisbatkan kepada banyak ulama senior di Saudi seperti Syaikh bin Baz, Muhammad al ‘Utsaimin, ‘Abdul ‘Aziz Alu asy Syaikh (mufti kerajaan Arab Saudi saat ini), Shaleh Alu asy Syaikh dan lain-lain.

Juga yang perlu ana ingatkan di sini, dan hendaknya ini menjadi renungan untuk kita semua, bahwa para ulama Ahlusunnah yang berselisih pendapat dalam masalah ini, tidak kita dapati salah seorang pun di antara mereka yang lantas menuding ulama yang lainnya sebagai hizbi atau sururi karena memuji dan membolehkan hubungan dengan yayasan-yayasan tersebut! Sebagai contoh, sewaktu kami mengunjungi Syaikh Rabi’ bin Hadi, ketika beliau sedang sakit dan berada di rumah putra beliau di Madinah, pada waktu itu beliau menunjukkan sikap yang sangat menghormati Syaikh ‘Abdul Muhsin yang jelas-jelas berbeda pendapat dengan beliau dalam masalah ini, bahkan Syaikh ‘Abdul Muhsin menyampaikan ketidaksetujuan beliau terhadap sikap-sikap Syaikh Rabi’ dalam beberapa masalah termasuk masalah ini secara terang-terangan -dengan tetap memuji Syaikh Rabi’- pada pengajian rutin Syaikh ‘Abdul Muhsin di Masjid Nabawi, dan berita ini telah sampai kepada Syaikh Rabi’, pada waktu itu Syaikh Rabi’ bahkan sempat juga memuji Syaikh ‘Abdul Muhsin –dan ini ana dengar langsung– dengan mengatakan, “Beliau (yaitu Syaikh ‘Abdul Muhsin) adalah termasuk Masyaikh (guru-guru) kami.”

Contoh lain, waktu kami berkunjung ke kediaman Syaikh Muhammad bin Hadi di Madinah, pada waktu kami sampaikan kepada beliau masalah ini dan beliau sangat keras melarang mengambil bantuan dari yayasan-yayasan tersebut, bahkan beliau mengatakan bahwa Syaikh ‘Abdurrazzak –yang membolehkan mengambil bantuan dari yayasan-yayasan tersebut– dalam masalah ini salah dari ujung rambut sampai ke ujung kaki! Akan tetapi dalam pertemuan itu sendiri beliau mengatakan –dan ini juga ana dengar langsung–, “Syaikh ‘Abdurazzak adalah saudaraku (sesama Ahlusunnah)”, dan beliau juga mengatakan, “Saya dan Syaikh ‘Abdurrazzak adalah seperti tangan yang satu, bahkan jari yang satu”. Sikap serupa juga ditunjukkan oleh Syaikh ‘Ubaid al Jabiri dalam masalah ini, sebagaimana yang diberitakan oleh Syaikh Muhammad al ‘Aqil kepada salah seorang teman kami di Madinah.

Perhatikanlah sikap para ulama di atas! Bagaimana bijaksananya mereka dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara mereka, memang terkadang mereka bersikap keras dalam menilai suatu pendapat, akan tetapi hal itu tidak menjadikan mereka saling menuding satu sama lain sebagai hizbi atau sururi! Coba antum bandingkan sikap ini dengan sikap sebagian Ikhwan salafiyyin di Indonesia yang begitu mudah mengeluarkan orang dari manhaj Ahlusunnah dalam masalah-masalah seperti ini, kalau bukan sikap para ulama di atas yang kita teladani, lantas sikap siapa lagi? Dan perlu ana tegaskan di sini bahwa ana sendiri dan kebanyakan teman-teman senior yang kuliah di Universitas Islam Madinah lebih memilih pendapat yang mengatakan bahwa lebih baik tidak menerima bantuan dari yayasan-yayasan tersebut, akan tetapi hal ini tidak menjadikan kami kemudian menuding semua orang yang mengambil bantuan tersebut sebagai hizbi atau sururi.

Di sini juga ana ingin menyebutkan satu contoh nyata bahwa seorang yang telah kita kenal manhajnya benar dalam memahami dan mengamalkan agama ini secara umum, maka tidak mudah untuk kita hukumi dia keluar dari manhaj ini meskipun dia memiliki kesalahan-kesalahan dan melakukan perbuatan-perbuatan ahlu bid’ah –karena kelalaian dan bukan karena sengaja–,kecuali dengan bukti-bukti yang jelas dan syarat-syarat tertentu, itu pun setelah kita berusaha menasihatinya dengan baik dan kita yakini –atau paling tidak kita memiliki dugaan kuat– bahwa hujjah (argumentasi) yang membuktikan kesalahannya telah tegak dan jelas di hadapannya, tapi dia tetap menolaknya.

Kejadian sekitar 6 tahun yang lalu, ketika sekelompok besar dari ikhwan kita Salafiyin, mencetuskan wajibnya berjihad di Maluku melawan orang-orang kafir di sana –berdasarkan fatwa dari beberapa ulama Ahlusunnah-, yang kemudian kegiatan mereka ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Yang jadi masalah di sini, selama kegiatan mereka ini berlangsung, kita dapati banyak sekali penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan, yang di antaranya ada yang jelas-jelas menyelisihi manhaj Ahlusunnah, bahkan bisa dikatakan mirip dengan beberapa ciri pemahaman sururiyyah yang ana sebutkan di atas, misalnya pelecehan dan penghinaan terhadap para ulama Ahlusunnah –dan ini adalah penyimpangan terbesar yang ada pada mereka pada waktu itu, menurut pandangan ana, dan sampai saat ini ana belum dengar berita bahwa mereka telah bertobat dalam masalah ini–, yaitu ketika mereka ingin membantah fatwa para ulama yang mengatakan tidak wajibnya jihad di Maluku (bahkan Syaikh Muhammad al ‘Utsaimin dan Syaikh ‘Abdul Muhsin al ‘Abbad mengatakan bahwa jihad di Maluku tidak disyariatkan, karena pemerintah Indonesia pada waktu itu menentang kegiatan tersebut dan kita tidak boleh menentang pemerintah), ada ustadz dari kalangan mereka yang mengatakan, “Fatwa tersebut adalah fatwa yang zalim.” Ada juga yang mengatakan, “Para ulama di Madinah telah dipengaruhi oleh orang-orang yang tidak suka adanya jihad di Maluku, sehingga mereka tidak memfatwakan wajibnya jihad di sana.” Dan sebagai akibatnya, ana dan ikhwan Salafiyin yang kuliah di Madinah merasakan bahwa pada waktu itu kepercayaan mereka kepada para ulama di Madinah yang tidak mendukung kegiatan mereka ini bisa dikatakan sangat berkurang atau mungkin hilang sama sekali. Ada juga ustadz besar lainnya ketika ana sampaikan padanya fatwa dua Syaikh di atas, dengan ringannya dia menjawab, “Para ulama tersebut tidak mengetahui keadaan di Indonesia, kalau mereka mengetahuinya pasti mereka akan memfatwakan wajibnya jihad!” Bahkan ketika fatwa Syaikh Muhammad al ‘Utsaimin tersebut sampai kepadanya, ustadz ini langsung menyembunyikan fatwa tersebut agar tidak diketahui oleh ikhwan salafiyyin lainnya, dengan tujuan agar semua orang menyangka bahwa semua ulama Ahlusunnah sepakat memfatwakan wajibnya jihad di Maluku! Dan ucapan-ucapan di atas didengar dan diketahui oleh banyak ustad-ustadz salafiyyin yang bergabung bersama mereka pada waktu itu, akan tetapi tidak kita dapati seorang pun di antara mereka yang mengingkarinya, bahkan sangat terkesan pada waktu itu bahwa mereka semua menyetujui ucapan- ucapan tersebut di atas!

Dalam hal ini ana bukannya ingin membahas pendapat mana yang lebih kuat dalam masalah wajib/tidaknya jihad di Maluku pada waktu itu, akan tetapi yang patut dipertanyakan adalah: mengapa mereka begitu mudah mengucapkan kata-kata keji tersebut dan ditujukan kepada para ulama Ahlusunnah hanya karena para ulama tersebut tidak mendukung kegiatan mereka? Apa bedanya ucapan mereka itu dengan ucapan orang-orang sururiyyin yang mengatakan bahwa para ulama Ahlusunnah hanya memahami masalah-masalah yang berhubungan dengan haidh dan nifas, tapi mereka tidak memahami dan kurang perhatian terhadap Fiqhul Waqi’? Kalau tindakan-tindakan tersebut di atas tidak dianggap sebagai pelecehan dan penghinaan, lantas tindakan bagaimana lagi yang dinilai sebagai pelecehan dan penghinaan?

Kemudian penyimpangan-penyimpangan lainnya, yang ana sebutkan secara ringkas saja karena khawatir jawaban ini terlalu panjang: kegiatan demonstrasi dan tindakan-tindakan brutal yang mereka lakukan di Jakarta, Solo, Ngawi dan lain-lain, dengan alasan memberantas perbuatan maksiat, yang ini sangat bertentangan dengan manhaj salaf dan bimbingan para ulama Ahlusunnah. Demikian juga ancaman dan penganiayaan terhadap beberapa orang dai dan ikhwan Salafiyin, serta upaya untuk menghancurkan bangunan yayasan yang dinilai menentang kegiatan mereka, seperti yang terjadi di Madiun, Surabaya dan lainnya. Dan masih banyak penyimpangan-penyimpanganlainnya yang terlalu panjang untuk dirinci satu persatu.

Yang ingin ana sampaikan di sini, bahwa meskipun kita dapati ikhwan-ikhwan kita tersebut banyak melakukan penyimpangan-penyimpangan yang di antaranya menyangkut masalah manhaj selama kegiatan jihad mereka berlangsung, tapi ana dan ikhwan Salafiyin yang ada di Madinah –dan ana dapati banyak di Indonesia yang juga bersikap seperti ini–, tidak ada seorang pun di antara kami yang kemudian menuding dan mencap mereka –baik itu orang perorangan ataupun kelompok mereka secara keseluruhan– sebagai hizbi atau sururi atau ikhwani, karena mungkin saja mereka lalai dan lupa, atau terlalu berambisi dan menuruti hawa nafsu, apalagi pada waktu itu mungkin nasihat belum sampai kepada mereka dan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Padahal kalau kita bandingkan mereka yang ana sebutkan di atas dengan kesalahan ustadz-ustadz Salafiyin yang mereka tuduh sebagai hizbi atau sururi –kalau kita anggap kesalahan-kesalahan tersebut ada dan terbukti–, maka jelas kesalahan ustadz-ustadz tersebut tidak artinya dibandingkan dengan kesalahan-kesalahan mereka, maukah mereka merenungkan kenyataan ini?

Kemudian ana rasa perlu untuk menyampaikan dalam jawaban ini rekomendasi dari beberapa ulama Ahlusunnah terhadap Universitas Islam Madinah, karena sebagai akibat dari permasalahan yang antum sebutkan di atas banyak kalangan yang kemudian menuding Universitas ini sebagai sarangnya orang-orang hizbi, sehingga lebih baik belajar di tempat lain dari pada di Universitas ini, juga tudingan bahwa mayoritas ikhwan Salafiyin yang sedang belajar di Universitas ini tidak paham masalah manhaj dan banyak terpengaruh dengan manhaj para Masyaikh yang mengajar di sana yang –kata mereka–mayoritas orang-orang hizbi/sururi, meskipun kami tidak mengingkari keberadaan orang-orang sururi bahkan beberapa di antaranya tokoh-tokoh mereka yang mengajar di sana.

Yang pertama ana nukilkan rekomendasi dari Syaikh Rabi’ bin Hadi, karena rekomendasi ini ada pada ceramah beliau yang kemudian dibukukan dan disebarkan oleh markas Imam al Albani, yang berjudul “Al hatstsu ‘alal mawaddati wal i’tilaf wattahdziiru minal furqati wal ikhtilaf” (anjuran untuk saling mencintai dan bersatu serta peringatan untuk menjauhi perselisihan dan perpecahan), buku ini dicetak sekitar 2 tahun yang lalu (1420 H/ 2004 M). Pada hal. 8-9 beliau mengatakan –dan di sini langsung ana terjemahkan–:

“Universitas islam (Madinah) ini –dengan para pendiri dan pengurusnya – telah memahami realita dan kondisi yang di alami kaum muslimin di dunia islam saat ini, yaitu ketidakpahaman dan jauhnya mereka –kecuali sedikit sekali – dari jalan Allah I yang benar. Maka Universitas ini benar- benar telah dibangun di atas manhaj islam yang benar, yang besumber dari kitab Allah dan sunnah Rasulullah shollallahu’alaihiwasallam, dan sekitar 4/5 dari mahasiswa yang diterima (untuk belajar) di kampus ini khusus diperuntukkan bagi anak- anak kaum muslimin di seluruh dunia islam, sedangkan yang 20% lagi diperuntukkan bagi anak- anak kaum muslimin dari negari dua tanah suci (Arab saudi), agar nantinya mereka yang datang ke kota tempat turunnya wahyu ini (Madinah) dan menimba ilmu dari sumber- sumbernya yang jernih di sana, kembali ke negeri-negeri mereka untuk menyebarkan dan mendakwahkan kebenaran, kebaikan dan petunjuk yang telah mereka pelajari, (sebagaimana firman Allah dalam QS at Taubah: 122),

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنفِرُواْ كَآفَّةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Maka ini adalah kesempatan emas bagi kalian (wahai para penuntut ilmu di Universitas ini), maka manfaatkanlah (sebaik-baiknya), dan hadapkanlah dirimu (dengan sungguh-sungguh) untuk menimba ilmu yang bermanfaat, yang suci dan murni serta bersumber dari kitab Allah dan sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, karena sumber-sumber rujukan ilmu ini –alhamdulillah– terpenuhi dengan lengkap di hadapan kalian, di kota Madinah ini (secara umum) dan di kampus ini (secara khusus). Dan barang siapa yang menginginkan kebenaran dan kebaikan untuk dirinya sendiri, keluarga, masyarakat dan negerinya, maka hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam menimba ilmu dari para ulama (Ahlusunnah) yang ada (di kampus dan kota Madinah ini), yang para ulama tersebut telah menyerahkan jiwa dan raga mereka untuk mengajarkan dan menyebarluaskan kebenaran ini –semoga Allah ta’ala melimpahkan keberkahan dari-Nya kepada kalian semua–, …dst ucapan beliau dalam ceramah tersebut.

Rekomendasi serupa juga disampaikan oleh salah seorang ulama senior di Madinah, yaitu Syaikh ‘Ali Nashir Faqihi, dalam ceramah beliau –yang rekamannya ada pada kami– di hadapan mahasiswa Salafiyin Universitas Islam Madinah, yang ceramah ini juga dihadiri oleh beberapa Masyaikh Salafiyin seperti Syaikh Muhammad bin Hadi dan lain-lain, setelah Syaikh Muhammad bin Hadi menyampaikan semacam kata sambutan, kemudian beliau mempersilahkan Syaikh ‘Ali Nashir untuk berbicara. Dalam ceramah tersebut Syaikh ‘Ali Nashir mengatakan bahwa Universitas ini bertujuan untuk mengajak manusia ke jalan Allah, dan berlandaskan Al Quran dan sunnah Rasulullah dengan pemahaman salaf dalam aqidah, ibadah dan muamalah.

Dan masih banyak rekomendasi lain yang semakna dengan 2 rekomendasi di atas, yang kami dengar langsung dan berkali-kali dari para ulama Ahlusunnah, seperti Syaikh : Shaleh al Fauzan, ‘Abdul ‘Aziz alu asy Syaikh , ‘Abdul Muhsin al ‘Abbad dan lain-lain. Bahkan rekomendasi ini terlihat nyata dari sikap dan perbuatan para Masyaikh Salafiyin di Madinah dengan mereka sampai saat ini tetap mengajar di Universitas ini, seperti Syaikh ‘Abdul Muhsin al ‘Abbad, Shaleh as Suhaimi, Muhammad bin Hadi, Ibrahim ar Ruhaili, ‘Abdurrazzak, Tarhib ad Dausari, Muhammad al ‘Aqil dan lain-lain, yang kalau seandainya Universitas ini benar-benar sarangnya hizbiyyin, maka mestinya mereka tidak mau mengajar di sana.

Tujuan ana menyampaikan rekomendasi di atas, sama sekali bukan untuk memuji diri ana dan teman-teman Salafiyin yang kuliah di Universitas Islam Madinah, tapi semata-mata untuk menjelaskan kenyataan yang sebenarnya, yang ini banyak dikaburkan oleh sebagian kalangan, dengan mengatasnamakan pembelaan terhadap manhaj (baca: manhaj mereka sendiri), karena ana dapati banyak sekali ikhwan Salafiyin yang tidak memahami hal ini. Dan lebih dari pada itu, tujuan ana adalah untuk menjaga dan membela nama baik para ulama Ahlusunnah di Madinah dan Arab Saudi pada khususnya, maupun di luar Arab Saudi pada umumnya.

Terakhir, tentang yayasan Al Sofwah, terus terang ana tidak begitu banyak tahu tentang yayasan ini, dan berita-berita yang sampai kepada ana tentang yayasan ini sangat simpang siur dan sampai saat ini ana belum sempat mencari kejelasan tentangnya, maka saran ana, sebaiknya antum tanyakan langsung hal ini kepada ustadz-ustadz yang terpercaya dan tahu persis keadaan yayasan ini. Wallahu a’lam.

Kota Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, Kamis, 17 Muharram 1427 H

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 26, 2008 in ZZ..BANTAHAN..ZZ

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: