RSS

GERAKAN JARI TELUNJUK SAAT TASYAHHUD

21 Feb

Pertanyaan: ”…..menggerakkan jarinya, ada yg bengkok, ada yg tegak dan ada juga yg tidak digerakkan, mana yg mendekati kebenaran ?. ana lihat ikhwan banyak yang berbeda tentang ini, sukron.”

http://groups.yahoo.com/group/pendengar-rodja/message/25

Jawaban: Masalah ini adalah masalah ikhtilaf (perbedaan pendapat) yang mu’tabar di kalangan ulama Islam, bahkan di kalangan ulama ahlus sunnah sendiri. Sebagian Hanafiyah berpendapat memberikan isyarat telunjuk ketika tasyahhud dengan mengacungkan jari telunjuk ketika mengucapkan Lâ Ilâha, lalu menurunkannya ketika mengucapkan illallah. (Badâ`i ash-Shanâ`i I/214). Sebagian Malikiyah berpendapat untuk senantiasa menggerak-gerakkan telunjuk ke kiri dan kanan dari awal hingga selesai (Bulghatus Sâlik I/120). Sebagian Syafi’iyah memakruhkannya dan sebagian lagi menyunnahkan mengangkat telunjuk ketika mengucapkan syahadat (al-Majmû’ III/454). Sedangkan Hanbali berpendapat untuk menyimpulkan jari tengah dengan ibu jari membentuk simbol 53 dan mengacungkan telunjuk ketika dzikir namun tidak digerak-gerakkan terus menerus. (al-Kâfi I/140).

Dalam masalah ini, mari kita menelaah hadits tentang menggerakkan telunjuk yang diriwayatkan dari Za`idah bin Qudamah yang menjadi letak kontroversi munculnya perbedaan pendapat ini.

Dari Za`idah bin Qudamah, dari ‘Ashim bin Kulaib, dari ayahandanya (Kulaib bin Syihab), dari Wa`il bin Hujr Radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan tentang sifat sholat Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam, beliau mengatakan “…kemudian beliau (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) mengangkat jari (telunjuk)-nya, dan aku melihat beliau menggerak-gerakkannya sembari beliau berdo’a” (HR Ahmad IV/318, Abu Dawud (no. 727), Nasa`i (no. 889) dan Ibnu Hibban (no. 485).)

Sebagian ahli ilmu mencacat hadits ini dan menganggapnya sebagai hadits yang syâdz (ganjil), karena riwayat “menggerak-gerakkannya (jari telunjuk)”(yuharrikuhâ) hanya diriwayatkan oleh Za`idah bin Qudamah dari ‘Ashim bin Kulaib. Mereka berpandangan bahwa riwayat tambahan dari Za`idah ini tidak diriwayatkan oleh dua puluh perawi hadits lainnya yang menjelaskan tentang sifat tasyahhud Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Sehingga dikatakan bahwa Za`idah menyelisihi 20 perawi lainnya yang lebih tsiqqoh darinya. Oleh karena itu, hadits tambahan (ziyâdah) dari Za`idah ini adalah hadits yang syâdz. Pendapat ini disandarkan kepada Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullâhu, sebagaimana dinukil oleh Syaikh ‘Ali bin Ahmad al-Qofili al-Yamani dalam buku “Bughyatu ath-Thalib al-Mubtadî”. Syaikh Bakr Abu Zaid juga menjelaskan hal yang semisal di dalam at-Ta`shîl.

Pendapat di atas perlu diklarifikasi kembali, karena lafazh yang berasal dari seorang perawi yang dapat mempengaruhi keshahihan sebuah hadits adalah, apabila perawi tersebut adalah seorang yang dha’if atau seorang yang tsiqqoh namun menyelisihi riwayat yang lebih tsiqqoh darinya. Sedangkan Za`idah adalah seorang perawi yang tsiqqoh dan kuat hafalannya.

Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Orang-orang yang kuat hafalan haditsnya ada empat, yaitu Sufyan, Syu’bah, Zuhair dan Za`idah.” (Tahdzîb at-Tahdzîb III/306).

Imam Ibnu Hibban berkata, “Za`idah termasuk kalangan huffâzh yang kuat hafalannya. Sebab beliau tidak akan mengatakan telah mendengar hadits kecuali beliau mendengarkannya sebanyak tiga kali.” (Tahdzîb at-Tahdzîb III/306)

Sedangkan dalam kaidah asal, yaitu seorang perawi tsiqqoh tidak boleh dituduh keliru atau salah, kecuali dengan bukti yang kuat. Sedangkan tidak ada seorang ahli haditspun sejauh pengetahuan kami, yang menuduh Za`idah melakukan kesalahan dan melakukan idraj (penyisipan) lafazh dalam hadits ini.

Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini hafizhahullâhu, di dalam dars (pelajaran) Syarh ‘Alfiyah as-Suyûthî, sebagaimana termuat di dalam video di dalam situs pribadi beliau (http://alheweny.ws) , mengatakan –secara makna- : أن ليس الشاذ هو ما رواه الثقة زائداً على الثقات أمثاله بل هذا يدل على زيادة حفظه فلا يقال في هذه الزيادة شذوذاً “Tidaklah dikatakan syâdz, hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi tsiqoh dengan adanya tambahan (ziyadah) atas riwayat para perawi tsiqqot lainnya yang semisal (sederajat) dengannya. Bahkan keadaan ini menunjukkan atas tambahan hafalannya. Oleh karena itu tidak bisa dikatakan tambahan seperti ini sebagai syâdz.”

Apa yang dijelaskan oleh Syaikh Abu Ishaq adalah lebih kuat menurut kami, sebab para perawi lainnya yang tidak mencantumkan lafazh tahrik tersebut, tidak ada yang secara terang-terangan menyatakan bahwa ‘Ashim bin Kulaib tidak pernah meriwayatkan lafazh ini. Para perawi selain Za`idah juga tidak menyebutkan adanya lafazh Laa yuharrikuhâ (tidak menggerakkan telunjuknya). Sekiranya para perawi tersebut menyebutkan lafazh Laa yuharrikuhâ, maka klaim bahwa hadits Za`idah syâdz bisa dibenarkan. Jadi, tidak ada pertentangan antara hadits tambahan Za`idah dengan 20 riwayat dari perawi lainnya. Bahkan, bisa kita katakan bahwa ziyadah (tambahan) dari Za`idah adalah tambahan ilmu dan hifzh (hafalan) dari Za`idah. Wallohu a’lam.

Bagaimana sifat tahrîk (menggerak-gerakan) jari telunjuk? Menurut hemat kami, pendapat yang terpilih dan terkuat mengenai hal ini adalah, dengan gerakan ringan yang tidak terlalu mencolok. Tidak digerakkan ke atas bawah atau kiri kanan, secara keras atau cepat. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini hafizhahullâhu dalam pendahuluan kitab Tanbîh al-Hâjid, bahwa suatu hari Syaikh al-Albani melihat beliau (Syaikh Abu Ishaq) sholat dan menggerakkan jari telunjuknya ketika tasyahhud dengan cara mengangkat dan menurunkan jari telunjuknya. Selesai sholat Syaikh al-Albani berkata kepada Syaikh Abu Ishaq, “Saya lihat anda menggerakkan jari telunjuk anda naik turun. Apakah anda memiliki dasar sunnah tentangnya?”

Syaikh Abu Ishaq menjawab, “sesungguhnya saya mendapatinya di dalam kitab anda Shifat ash-Sholah.” Syaikh al-Albani berkata, “Sesungguhnya yang kusebutkan adalah menggerakkannya (tahrik), aku tidak mengatakan mengangkat dan menurunkannya (al-Khofdh war Raf’u). Sedangkan apa yang kamu lakukan adalah mengangkat dan menurunkan jari telunjuk (al-Khofdh war Raf’u).”

Hal yang serupa juga pernah diceritakan oleh Syaikh Muhammad ‘Umar Bazmul, sebagaimana tercantum dalam buku beliau, at-Tarjîh fî Masâ`ili ath-Thoharoh wash Sholâh, bahwa beliau pernah berjumpa dengan Syaikh al-Albani di kota Makkah pada tanggal 6 Jumadil Awwal 1410 H, dan Syaikh al-Albani menjelaskan bahwa maksud yuharrikuhâ (menggerak-gerakkan telunjuk) tidakah menggerakkannya naik turun, kiri kanan, secara cepat dan mencolok. Padahal Syaikh Muhammad Bazmul sebelumnya memahaminya demikian ketika mendengar ceramah dan membaca buku Syaikh al-Albani. Menurut penjelasan Syaikh al-Albani, bahwa yang dimaksud dengan yuharrikuhâ adalah, menggerakkan jari telunjuk dengan tenang dan tidak mencolok sembari berdoa. Allohu a’lam bish showab.

Sekali lagi, masalah tahrîk (menggerak-gerakkan) telunjuk ketika tasyahhud ini adalah khilâf yang mu’tabar. Tidak boleh bagi kita dalam masalah ini sampai jatuh kepada permusuhan, pertikaian dan saling mencela, hanya karena perbedaan dalam masalah fiqhiyah seperti ini. Yang wajib atas kita adalah menuntut ilmu dan berupaya mencari tahu ilmu berikut dalil-dalilnya.

Sebagai penutup hendaklah memperhatikan beberapa hal dari Syaikh Abu Ubaidah Mansyur Bin Hasan Ali Salman (dari kitab Al-Muhkam al-Matin fi ikhtishar al-Qaul al-Mubin fi Akhtha al-Mushallin) berikut ini :

Pertama: bahwa telah disebutkan di dalam sebagian riwayat hadts, “Aku telah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang duduk ketika shalat…beliau mengangkat jari telunjuknya, Nabi membengkokkan jari telunjuknya ketika berdoa.” Namun ternyata hadits ini dha’if dari segi sanadnya.

Syaikh kita Al-Albani berkata, “Saya tidak menemukan keterangan yang menyebutkan bahwa Nabi membengkokkan jari telunjuknya kecuali hanya dalam hadits ini. Tidak disyaratkan untuk mengamalkan sebuah hadits setelah diketahui bahwa kualitas hadits tersebut adalah dha’if. Wallahu a’lam.”

Kedua: Juga disebutkan di dalam sebagian riwayat bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menggunakan isyarat dengan jari telunjuknya kemudian bersujud. Jika memang hadits ini benar, berarti memberikan isyarat pada duduk di antara dua sujud juga disyaratkan. Sebaliknya riwayat ini sebenarnya berlawanan dengan keterangan yang disebutkan oleh beberapa riwayat hadits lain yang menerangka bahwa tidak ada pemberian isyarat yang dilakukan sebelum sujud. Dengan demikian riwayat di atas bersifat syadz (ganjil, aneh). Oleh sebab itu tidak disyariatkan bagi orang yang sedang shalat menggerakan jari telunjuknya di antara kedua sujud.

Ketiga: Makruh hukumnya memberikan isyarat dengan jari telunjuk tangan kiri. Bahkan andaikata tangannya terpotong, hendaklah dia tidak memberi isyarat dengan jari telunjuk tangan kiri, karena nilai sunnahnya yang selalu tetap terjaga.

Keempat: Sebagian orang shalat menggerakan jari telunjuk tangan kanannya dengan membentuk bulatan. Mereka mengira bahwa perbuatan mereka ini mempunyai landasan, yaitu berdasarkan hadits riwayat Wa’il sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, ”Saya melihat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam benar-benar telah menggerakan jari jempol dan jari tengahnya”. Pemahaman pada hadits tidak tepat. Pemahaman yang benar tentang maksud hadits tersebut yaitu bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam meletakkan jari jempol dan jari tengahnya di atas bentuk bulat. Juga termasuk kesalahan mereka berkaitan dengan penggerakan jari telunjuk, yaitu mengangkat jari telunjuk lalu menurunkannya kembali. Hal ini jelas bertentangan dengan tuntunan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sebenarnya yang dimaksud adalah mengangkat jari telunjuk dan menggerakkannya dalam keadaan tetap terangkat, baik menggerakannya ke atas-bawah atau ke kanan-kiri, karena tidak ada keterangan yang jelas dari hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam .

Allohu a’lam bish showab

Semoga bermanfaat.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 21, 2009 in LAINNYA, ZZ..SUNNAH..ZZ

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: