RSS

Al-Qoul Al-Adli Al-Amin fi Mubahatsati As-Syaikh Robi Fi Jalsatihi Ma’a Al-Filasthiniyyin

24 Mei

(Perkataan yang adil dan terpercaya tentang diskusi Syaikh Robi dengan orang-orang Falestina di majlisnya ).

Penulis : Ali Hasan Al-Halabi

.. (Aku Tidak akan memusihimu sebagaimana orang lain memusuhimu, antara diriku dan dirimu adalah ilmu) ..
Ini adalah kata – kata terakhir yang saya ucapkan kepada Syaikh Rabi Bin Hadi – semoga Allah melindunginya – sebelum saya mengucapkan kata salam dan perpisahan – di waktu terakhir saya bertemu dengannya di rumahnya di Mekah, di pertengahan bulan Ramadan tahun (1429), dan hal ini adalah sesuatu yang saya sangat menjaganya sampai saat ini – dan saya meminta kepada Alloh untuk membantu saya dalam hal ini.

Saya telah menyebutkan di artikel sebelumnya « Berlemah lembutlah kepada Syaikh Robi – semoga Allah memberkati Anda ! -» apa yang wajib bagi kita – sebagai salafi – terhadap Syaikh Rabi – semoga Allah melindunginya -, dan yang wajib bagi kita adalah berlemah lembut dan bersikap halus kepadanya walaupun hal itu dalam membantah perkataannya yang kita anggap salah – semoga Allah memberkatinya – karena dia adalah manusia « Membantah dan dibantah ».

Mungkin ini adalah yang pertama kali saya akan menjelaskan di dalamnya – dengan penuh rasa hormat dan penghargaan – dalam menyanggahnya dan menjelaskan kebenaran beserta dalil dan bukti – yang secara jelas mengungkapkan – sebagian dari apa yang dikatakan oleh beliau kepada saya atau koreksiannya kepada saya dan hal itu berdasarkan dari apa yang disebutkan dalam ( Majlis Mahasiswa Falestina ), dan saya berusaha dengan sepenuh kekuatan untuk menjaga pena saya dengan adab ilmu, dan kekuatan argumen – secara bersamaan -.

Dan ini semua – bagi setiap orang yang arif – adalah hak yang syari’ yang kuat. Dan barangsiapa yang menyangka bahwa kekuatan argumen dan kebenaran bertentangan dengan adab ilmu atau penghormatan terhadap ulama maka hendaklah dia menangisi dirinya sendiri, seperti orang yang sesat dan jelek yang mensifatiku dengan zindik hanya karena aku menulis artikel yang telah lalu ( Berlemah lembutlah kepada Syaikh Robi ! ).

Dan saya mengira bahwa syaikh – Semoga Alloh memberikannya taufiq – akan bergembira dengan diskusi yang penuh kecintaan ini, karena hal ini akan membuahkan bagi syaikh – insya Alloh – pembetulan pemahaman yang keliru dan pembetulan kenyataan-kenyataan dan ilmu.

… Dan Allah – Yang Maha Kuasa – berfirman : ( Dan di atas yang mengetahui ada Dzat Yang Maha Mengetahui ) …
Dan aku akan membahas ucapan – ucapan syaikh – semoga Allah melindunginya – dan perkataannya yang membicarakanku, kata demi kata dalam majlis tersebut, dan saya akan menyebutkan kebenaran yang sesuai dengan kenyataan, baik kebenaran itu bagi saya atau bagi syaikh, dan Allah adalah Penolong orang – orang yang benar.

1. Syaikh berkata : ( Buku ini adalah sanggahan terhadapku ! ) .

Aku berkata : Yang dimaksudkan oleh syaikh – semoga Allah melindunginya – adalah buku saya « Manhaj As-Salaf As-Sholih Fi Tarjih Al-Masholih Wa Tathwih Al-Mafasid Wa Al-Qobaih Fi Ushuli An-Naqdi Wa Al-Qobaih » telah terbit edisi revisi yang kedua dengan beberapa tambahan – segala puji bagi Allah -. Seandainya kitab itu memang dimaksudkan untuk menyanggah beliau, apakah ia akan mencela semua kitab yang tujuannya untuk menyanggah ulama, siapapun dia dalam segi keutaamaan dan kedudukannya ?
Atau bahwa orang yang mencela buku – buku apa pun itu – karena buku tersebut menyelisihi kebenaran , dan bertentangan dengan petuntuk ?

Dan inilah sesuatu yang sangat ingin saya ketahui sampai saat ini, dan saya tidak melihat pentingnya sanggahan-sanggahan beliau kepada saya setelah saya menelitinya.
Apakah ada satu orang dari para ulama – secara keseluruhan – yang tidak boleh disanggah?

2. Syaikh Robi berkata : ( Saya sabar menghadapinya selama sepuluh tahun, dia bersama mereka, mendukung mereka, membela mereka dan saya tetap sabar ).

Aku berkata : Yang dimaksud beliau – Semoga Allah memberikan taufiq kepadanya – Bahwa ia sabar dalam menghadapiku ( Syaikh Ali ) dalam hal yang beliau isaratkan yaitu mendukung dan membela mereka saja.

Adapun kesabaran, maka kita sama-sama mencurahkannya – Segala puji bagi Alloh -. sebagaimana beliau melihat saya dalam posisi yang salah dari mereka [ Yang beliau maksudkan adalah Maghrowi, Urur, Abu Al-Hasan, kemudian Abu Ishak, dan Muhammad Hassan ], saya – juga – melihat sikap beliau terhadap mereka tidak benar – seharusnya kita saling menasehatkan ilmu, dan saling mewasiatkan petunjuk – maka apakah yang terjadi pada beliau ?.

Kesabaran itu membutuhkan kasih sayang sebagaimana kesabaran itu tegak di atas kebenaran, dan kesabaran itu tidak dibatasi hanya ada pada satu orang dan tidak terlarang dari seseorang! ( dan saling menasehatilah kalian dengan penuh kesabaran dan saling menasehatilah kalian dengan penuh kasih sayang ) …
Adapun aku bersama mereka, maka hal itu tidak benar, bahkan – demi Alloh – aku hampir tidak bertemu dengan salah satu dari mereka dan tidak meneleponnya melainkan hanya sekali setahun atau dua tahun sekali , atau mungkin lebih dari dua tahun – dan Allah menjadi saksi atas hal itu – bahkan aku tidak berbicara dengan sebagian mereka dan tidak meneleponnya bertahun – tahun lamanya, lalu bagaimana bisa aku dikatakan bersama mereka ? .

Jika yang diinginkan oleh syaikh : ( Aku bersama dengan mereka ) yaitu dalam pemikiran dan ide – ide, maka saya bersama mereka sebagaimana saya bersama dengan yang lainnya yang saya yakini sebagai seorang salafi walaupun dia salah dalam sebagian masalah, dan aku tidaklah bersama orang – orang hizbiyyah, takfiriyyah, qutbiyyah atau dengan orang – orang selain mereka yang menyimpang.

Adapun aku mendukung mereka – secara umum maka ini tidak benar juga – bahkan aku menyelisihi sebagian dari pendapat mereka yang mereka anggap sebagai kebenaran tetapi saya tidak berpendapat seperti itu, dan saya menasehati mereka dalam masalah tersebut dan saya memperingatkan kesalahan meraka dengan penuh kelembutan, kasih sayang dan kesantunan.

Hal ini adalah – tanpa menjatuhkan mereka dan membid’ahkan mereka sebagimana apa yang kita sepakati terhadap mereka dan orang – orang yang seperti mereka – dengan Syaikh Rabi – di depan sekelompok para ulama – di rumahnya di Mekah – delapan tahun yang lalu, maka apa yang telah berubah dari beliau ?

Adapun saya membela mereka , maka itu benar – dan aku masih membela mereka -, dalam hal yang aku berpendapat mereka dikritik dengan tidak benar, atau dikatan kepada mereka sesuatu yang tidak benar seperti : mubtadi’ / pembuat bid’ah, sesat, setan, pengikut dajjal, quthbi / pengikut sayyid qutub, takfiri / yang suka mengkafirkan – dan yang lainnya – yang tidak mengandung – menurutku – satu segipun dari segi kebenaran.
Betul , mereka memiliki kesalahan, sebagimana yang lainnya memiliki kesalahan – kesalahan padahal mereka itu adalah salafiyyin walupun mereka ulama besar -, akan tetapi sanggahannya tidak separah itu atau tidak dengan sanggahan yang menyerupainya!

Dan jalan keluar dari permasalahan ini adalah : Saling berwasiat dan saling menasehati bukan dengan cara saling memboikot atau penyerangan yang dahsat tanpa henti – henti ! .

Dan harus diperhatikan – yang ke enem dan kesembilan – bahwa perbedaan para ulama ahli sunnah tentang kedudukan seseorang dalam jarh wa ta’dil ( komentar baik dan buruk ) – dahulu dan sekarang – merupakan permaslahan khilafiyyah ilmiah yang mu’tabar.
Seperti perbedaan pendapat mereka – dahulu – tentang Ibnu Abi Yahya, dan perbedaan pendapat mereka – sekarang – tentang Ibnu Jibrin.
… Dan selain mereka, banyak juga para ulama yang diperselisihkan dalam jarh wa ta’dil!

3. Syakh Robi berkata : ( Dia menyanggah dengan satu buku atau dua buku, dan dengan situs internet yang jelek ).

Saya berkata ( Syaikh Ali ) : Bahkan jika bantahan itu dengan sepuluh buku; maka apa urusannya ? Apakah kitab itu diejek karena ia adalah kitab ? atau apakah ejekan itu diarahkan kepada kandungannya karena ia menyelisihi kebenaran ?
Apakah ada seseorang yang berada di atas kritik dan sanggahan (tidak boleh dikritik dan disanggah) ? .

Situs yang jelek yang dimaksudkan Syaikh Robi adalah situs kita yang diberkati – Semoga Allah memberikan taufiq kepadanya – ( Situs semua salafi ) dan ia adalah situs yang aku tidak mengizinkan – sekuat tenagaku – di dalamnya ada sesuatu yang mengusik Syaikh Robi, baik itu celaan atau pencemaran nama baik, apalagi kejelekan yang lebih parah dari itu.

Dan apa yang luput dari saya, saya minta dari saudaraku yang mengikuti perkembangan situsku untuk menunjukanku kepada hal itu agar saya segera menghapusnya.
Dan ini permintaan langsung dari saya yang ditujukan kepada saudara – saudaraku pengurus situs ini begitu juga kepada para anggota dan pengunjung.

Dengan pentingnya membedakan antara koreksi ilmiah yang bersih dan celaan yang tidak ilmiah yang tegak di atas pencemaran nama baik dan menjelek – jelekan dan mencampurkan antara keduanya merupakan pencemaran nama baik yang sebenarnya.

4. Syaikh Robi berkata : Sekarang dia mencemarkan nama baikku, Ali Hasan tidak memujiku.

Saya berkata : Adapun saya mencemarkan nama baiknya maka ini tidak benar, seribu kali tidak benar, dan saya meminta bukti yang paling ringan terhadap pengakuan ini, dan kalian tidak akan menemukannya, adapun koreksi yang syari’ maka itu urusan lain, dan bagi setiap masalah ini ada babnya dan sebab – sebabnya, adapun saya tidak memujinya, maka memujinya secara hukum syari’ tidaklah wajib, seandainya kami berpendapat bahwa hal ini wajib maka hal ini adalah wajib kifayah bukan wajib ain, dan saya tidak mengira bahwa ada seseorang yang punya akal mengatakan bahwa pujian itu wajib kifayah atau wajib ain, bahkan yang benar dalam masalah ini dan kenyataan yang sebenarnya adalah bahwa saya memujinya – semoga Alloh memberikan taufiq kepadanya – sebagaimana saya memuji yang lainya dari para ulama.

Dan diantara pujian saya yang terkahir adalah : Jawaban – jawaban dari pertanyaan – pertanyaan yang diajukan kepada saya oleh para penanya untuk disebarkan di situs kita yang di dalamnya terdapat pujian untuk beliau, dan pengakuan terhadap keutamaannya, akan tetapi pujian dan keutaamaan tidak mewajibkan adanya kema’suman / keterjagaan dari kesalahan walaupun dalam segi kemaksuman yang paling rendah.

5. Syaikh Robi berkata : Ali Hasan memberikan kekuasaan kepada anak kecil untuk melawan para ulama ; memuji mereka, memberikan rekomondasi kepada mereka, ia menegatakan : Robi termasuk diantara para ulama padahal dia memerangi saya ( muharobah ) dalam masalah ini.

A. Saya menjawab : Adapun memberikan kekuasaan kepada anak kecil untuk melawan para ulama, maka saya tidak tahu masalah ini dan saya tidak pernah menghayalkan adanya hal ini, dan apabila hal ini ada pada selainku maka saya tidak meridoinya, maka bagaimana saya memberikan kekuasaan kepada anak kecil sedangkan saya tidak mengenalnya dan saya tidak meridoinya, bagaimana aku memuji sesuatu yang tidak terjadi dan tidak ada ?

Kemudian seandainnya kita mengangap anak – anak kecil itu ada secara nyata dan ini merupakan ucapan untuk menghina mereka ( masyayikh yang disebutkan namanya di atas yang syaikh ali bela), apakah anak – anak kecil dicegah untuk menerima kebenaran yang ada pada mereka ? ( anak-anak kecil ).
Apakah kebenaran itu dibatasi keberadaannya pada orang – orang yang tua secara umur, atau apakah terkadang yang kecil memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang besar ? dan terkadang orang besar salah melakukan seusatu padahal anak kecil tidak salah dalam melakukannya ?.

“Dan dalam sungai-sungai yang kecil ada sesuatu yang tidak terdapat pada samudra yang luas”

Dan saya melihat kata – kata yang lembut dalam ucapan para ulama hadits yang dulu yaitu kata ‘as-sobi / anak kecil ’ ; ucapan ini dikatakan sebagai jarh / komentar buruk bagi para perowi hadits yang tepercaya.

B. Adapaun Syaikh Robi termasuk para ulama maka hal ini aku tidak menyelisihinya, dan saya menjadikan pengakuan ini sebagai ibadah kepada Alloh dan ini merupakan pujian, maka perhatikanlah, akan tetapi saya melihat beliau seperti para ulama yang lainnya terkadang salah dan terkadang benar, terkadang mengetahui dan terkadang tidak mengetahui, terkadang menyanggah dan terkadang disanggah, dan tidaklah perkataan beliau merupakan tanda terhadap kebenaran bahkan mesti dengan dalil yang memuaskan dan hujjah yang nyata atas setiap perkataan, fatwa atau hukum, dan bukanlah sesutu yang samar bahwa tidak setiap dalil itu memuaskan, kalaulah dalil yang dicari itu tidak harus memuaskan maka pastilah hadits ( Air laut itu airnya suci ) sebagai dalil rukunnya salam dalam sholat.

Maka ia adalah dalil bagi orang yang berpendapat demikian – tanpa ada keraguan sedikitpun – , akan tetapi dalil tersebut tidak memuaskan bahkan tidak mewajibkan yang lainnya untuk mengikutinya, maka tidaklah cukup kesohihan dalil kecuali dengan benarnya segi pengambilan dalil dan ini menurut ilmu usul, dan dalam hal ini tidak layak berselish tentangnya dua orang yang bijaksana.

C. Adapun Ali Hasan memerangiku dalam permasalahan ini, maka memerangi siapa, bagaimana ini terjadi, dan di mana ?
Ini adalah pertanyaan – pertanyaan syari’ yang membutuhkan kepada jawaban yang jelas, disertai dengan bukti terhadap setiap pengakuan walaupun pengakuan itu sedikit, dan kalau tidak demikian maka pengakuan ini tertolak.
Dan hendaklah diperhatikan – untuk yang ketiga dan keempat kalinya – terhadap perbedaan sanggahan dan memerangi ( muharobah ).

6. Syaikh Robi berkata Ahmad Bazmul termasuk ulama , Ia Doktor, Ia Doctor dalam hadits dan Ali Hasan adalah penuntut ilmu

Bekata Syikh Ali : Saya tidak akan menjawab hal ini dengan panjang lebar, dan cukuplah bagiku kukuku atas pensifatan syaikh kepada saya bahwa saya adalah penuntut ilmu ( saya tidak membutuhkan pujian bahwa saya adalah ulama ), dan alhamdulillah ini adalah ucapan guru saya Al-Imam Al-Albani, beraklali – kali mesifati dirinya dengan penuntut ilmu dan beliau tidak menambah sifat tersebut dengan sifat yang lainnya, adapun perbandingan keutamaan apalagi tarjih / mana yang lebih kuat maka aku tidak berusaha untuk mencapainya dan tidak mengharapkannya akan tetapi aku akan meninggalkan penilaian dalam hal ini kepada sejarah dan orang -orang yang berakal dan tidak diragukan lagi bahwa mereka akan selalu ada, dan sebaliknya syaikh robi – semoga Alloh memmberikan taufiq kepadanya – tidak akan menyelisishiku bahwa banyak orang yang memiliki gelar Doctor akan tetapi tidak berhak mendapatkan DR melainkan hanya salah satu dari hurup itu bisa hurup yang awal yaitu D atau yang akhir yaitu R.

7. Syikh Robi berkata : Siapa guru – gurunya ?

Saya menjawab : Yang beliau masksud adalah saya, adapun guru-guru kami dalam sanad dan ijazah adalah guru kami Syaikh Hamad Al-Ansori dan guru kami Syaikh Badiuddin As-Sindi, guru kami Syaikh Atho’ulloh Hanif dan ini adalah 25 tahun yang lalu dan guru kami syaikh Ali Adam Al-Itstubi Al-Makki – semoga Alloh menjaganya – dan yang lainnya, adapun guru kami yang tidak ada bandinganya dan saya sangat bangga dengannya adalah As-Syaikh Al-Imam Al-Faqih Al-Muhaddits Abu Abdirrohman Muhanmmad Nasiruddin Al-Albani yang mensifatiku dalam kebanyakan kitabnya dengan dengan murudku, sahabatku, saudaraku dan As – Syaikh mengisyaratkan kata – kata ini kepadaku atau beliau menukil ucapan dariku, maka mengapa ada orang yang meniadakan hal itu hanya dikarenakan kabar burung atau kesalahan pena dan tanpa ada ilmu dan penelitian ilmiyah.

8. Syaikh Robi berkata : Dia belajar kepada Al-Albani dalam kitab apa, dalam kitab apa ia bermulazamah kepadanya ( Al-Albani ), ia bermulazamah dalam kitab Sohih Bukhori , ia bermulazamah dalam kitab Sohih muslim, ia bermulazamah kepadanya dalam kitab Al-Aqidah At-Thohawiyyah ? dan mempelajari kitab-kitab tertentu ?

Saya berkaya : Saya beharap kepada Syaikh Robi untuk menjelaskan kepada kami dalil yang memuaskan terhadap apa yang ia isaratkan bahwasanya berguru itu mesti dengan mulazamah ? dan mempelajari kitab-kitab tertentu
Ingatlah ! yang saya minta adalah dalil yang memuaskan bukan yang lainya , dan kita tidak mengetahui apa yang kita akan perbuat terhadap apa yang disebutkan oleh Al-Imam Al-Mizzi, di dalam kebanyakan biografi kitabnya Al-Bahru ( yang seperti lautan ilmu ) yaitu Tahzibul Kamal dan diantara mereka ada murid yang hanya mendengarkan satu hadits saja dan dari sebagian mereka Ada syaikh yang tidak mengajarkan melainkan hanya satu riwayat saja bahkan apa hukum Al-Munfaridat dan Al-Wuhdan dalam ilmu hadits ?.

Dan saya sangat heran sekali terhadap orang yang tidak takut kepada Alloh, dengan menisbatkan bahwa ia murid guru kami – Syaikh Al-Albani – dengan merasa bangga karena hadirnya dia di kajian beliau di universitas, dan belajar di universitas walaupun lama tapi hal ini adalah terbatas, pada waktu yang sama dia meniadakan pengakuan murid terhadap orang yang menemaninya ( syiakh Al-Albani ) tatkala safar, dan ia duduk di majlisnya tanpa terhitung tatkala beliau hadir, dan Syaikh Al-Albani menyebutkan murid tersebut dalam kitab – kitabnya dengan sebutan yang sangat banyak ?.

Dan akhirnya saya memberitahukan bahwasanya saya tidak mengetahui tentang guru kami bahwa beliau mempelajari salah satu dari kitab – kitab yang telah disebutkan di atas kepada salah seorang syaikh dan tidak pernah bermulazamah kepadanya, terus apa yang akan kita katakan kepada syaikh Al-Albani ?

9. Syaikh Robi berkata : Al-Albani tidak punya murid ?

Saya menjawab : Seandainya kita menerima adanya nukilan ini dari beliau maka penjelasaanya dari 4 segi :

Yang pertama : Bahwasanya beliau menulis dengan tangannya sendiri di beberapa tempat yang lain secara tegas menetapkan bawha ia mempunyai murid, dan yang menetapkan sesuatu didahulikan daripada yang meniadakan sesuatu sebagai mana hal ini sudah menjadi ketetepan dalam ilmu usul.

Yang kedua : Bahwa guru kami mengatakan hal ini adalah ketika beliau tidak punya murid kemudian setelah itu beliau mempunyai murid maka tidak ada pertentangan dalam hal ini.

Yang ketiga : Bahwa guru kami mengatakan hal ini karena rendah hati seperti yang dikatakan beliau di waktu yang lalu : Saya mengajarkan akan tetapi saya tidak mentarbiyah. Maka orang-orang hizbiyyah menjadikan hal ini sebagai tangga untuk mencela beliau dan metode beliau.

Yang keempat : Menerima dan menyebarkan ucapan bahwa guru kami tidak punya murid adalah celaan secara tidak langsung bahkan ini celaan secara langsung kepada guru kami, maka bagaimanakah keadaan seorang syaikh siapapun dia yang telah menghabiskan seperempat abad umurnya untuk mengajar kemudian dia tidak punya murid, maka bagaimana jika guru yang tidak punya murid tersebut adalah Al-Albani dan saya tidak mengira bahwa syaikh robi menginginkan makna ini, maka kalau begitu makna apa yang beliau inginkan dari ucapannya ?

10. Syaikh Robi berkata : Al-Albani dengan suaranya mengatakan hal itu dan kita mengetehui kenyataan ini, dan ini sebagai jawaban kepada orang yang berkata kepadanya ( Syaikh Al-Albani ) dengan menukil dari Al-Albani : Dia menulis ( bahwa ia muridmu ) ya syaikh dia menulis ( bahwa ia muridmu ) wahai syaikh.

Maka saya tidak tahu siapakah yang buktinya paling kuat, kalimat dalam kaset yang tidak diketahui tempatnya, waktunya dan keadaannya , ataukah kalimat ini terdapat dalam kitab syaikh Al-Albani yang terpercaya diketahui tanggalnya dan keadaanya, adapun mengetahui kenyataan maka dari siapa, bagaimana dan di mana ? dan ini adalah pertanyan – pertanyaan syari’ yang membutuhkan jawaban, bukankah ini juga pertanyaan – pertanyaan syari’ yang saya mengira bahwa saya tidak akan mendaptkan jawabannya, dan apabila ditemukan jawabnya maka dimanakah ia ? dan bagaimana apabila jawaban itu dikesempatan yang lain ?

11. Syaikh Robi berkata : Tidaklah laki – laki ini melainkan muruidnya Syaqroh.

Saya menjawab : Begitulah beliau berkata dan yang beliau maksud adalah saya, bagaimana saya bisa menjadi murid Syaqroh padahal saya belum belajar kepadanya satu kitabpun dan saya tidak bermulazamah kepadanya dalam sohih bukhori, sohih muslim, at-thohawiyah dan yang lainnya, maka kenapa engkau menetepkan saya murid syaqroh di sini sementara engkau meniadakan bahwa saya murid Al-Albani di sana ?.

Dan merupakan kesempatan yang baik apabila saya menyebutkan perkataan Syaqroh : At-Tohawiyyah adalah injilnya orang – orang salafi. Maka apakah yang membuat beliau menjadikan saya murid syaqroh dan tidak menjadikan saya murid Imam Al-Albani padahal kenyataanya itu satu ?.

Yang kedua : apakah tidak sampai kepada beliau bahwa saya telah menyelisishi syaqroh, mebuangnya, menyanggahnya, dan beliau – semoga Alloh meberinya hidayah – pembela said qutub, ikhwani, takfiri dan seperti bunglon, maka permuridan seperti apakah seandainya permuridan tersebut masih ada ?.

Yang ketiga : Syaikh Robi menganggap dirinya murid Syaikh Al-Albani karena dia hadir dimuhadoroh beliau di jami’ah islamiyah madinah dan ini adalah haknya, kenapa dia tidak mengangap dirinya murid syaqroh yang telah mengajarnya dimuhadoroh di jami’ah islamiyyah, dan hal ini merupakan sesuatu mengejutkan bagi kebnyakan orang.

Maka siapkah sebenarnya yang murid syaqroh itu ? Apabila dikatakan Syaikh Robi telah menyelisihinya, maka kita katakan : Kami sudah menyelisihinya sebelum beliau menyelisihinya dan dengan sesuatu yang lebih kuat dan lebih jelas, Bahkan saya telah mendengar dari syaikh robi sendiri bahwa dia segan untuk menyanggah sebagian kebatilan syaqroh karena ia telah mengajarnya di jami’ah islamiyyah, apapkah hal ini menghalangi beliau untuk menjelasakan kebenaran ? Subhanalloh, dan dalam akhir bagian yang pertama dari dikusi ini saya akan mengingatkan syaikh Robi dengan nasihatnya untuk penduduk yaman dan saya telah menukil ucapan beliau ini dalam kitab manhaj salaf sholih halaman 423 cetakan ke 2 .

Syaikh Robi berkata : Telah meneleponku ( aku = syaikh robi ) Syaikh Muqbil bin Hadi AL-Wadiie pada satu kesempatan : Ia berkata : Telah sampai kepadaku bahwa engkau mengatakan tentang halaqoh – halaqoh kami bahwa kami adalah hizbiyyun ?.
Syaikh Robi menjawab : Saya ( syaikh robi ) tidak mengingat bahwa saya telah menggucapkan perkataan ini dahulu, akan tetapi saya berkata sekarang : Ya, saya telah mengucapkan perkatan tersebut ( bahwa halaqoh – halaqoh kalian adalah hizbiyyah ), karena sesungguhnya tukang fitnah akan menjadikan bagi tokoh yang penting teman – teman setia, mereka menjadikan bagi syaikh Al-Albani teman – teman setia, dan bagi Syaikh Ibnu Baz teman setia dan bagi para pemimpin menjadikan teman teman setia dan bagi setiap ulama menjadikan teman – teman setia untuk mencapai tujuan mereka dari temen-teman setia ini, maka kita tidak merasa aman terhadap tipuan – tipuan mereka.

Maka saya sangat berharap kepada syaikh robi – karena beliau adalah tokoh yang sangat penting sekali di hari ini – untuk memperhatikan teman – teman setia beliau dari satu sisi dan menjauhi tipuan – tipuan mereka dari sisi yang lain karena saya tidak melihat hal yang lebih banyak pengaruhnya terhadap syaikh robi dalam pernyataan – pernyataan terhadap saya melainkan kebanyakannya merupakan pengaruh dari mereka atau tumbuh dari mereka, semoga Alloh memperlihatkan kepada beliau tentang mereka dan menyingkapkan mereka – dengan karuniaNya – bagi beliau sebagaimana Alloh telah menyinggkapkan bagi beliau orang – orang yang sebelum mereka dan Alloh Maha mengetahui mereka , dan tidaklah Syaikh Robi di hari ini lebih utama dari Al-Albani dan di hari yang lalu dari Ibnu Baz, semoga Alloh merahmati mereka tatkala hidup dan sesudah mereka meninggal.

11. Berkata Syaikh Robi : Ali Hasan dan yang semisalnya meminta Al-Abbad (Al-‘Allamah Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr -hafidzohulloh-) untuk menyusun kitab : Berlemah lembutlah engkau wahai ahlu sunnah kepada ahlu sunnah.

Saya berkata : Alloh dan orang-orang yang bijaksana dari hamba – hamba Alloh mengetahui bahwa perkataan ini tidak memiliki dalil sama sekali, bahkan di hari itu akupun dikagetkan dengan munculnya kitab ini (Berlemah lembutlah engkau wahai ahlu sunnah kepada ahlu sunnah) dan saya tidak mengetahui sedikitpun tentang buku ini sebelum kemunculnya.
Bahkan aku menulis dalam majalahku Al-Asholah makalah yang khusus berkaitan dengan kitab ini – ketika kemuculannya – saya mengkritiknya dalam beberapa poin walaupun saya sependapat dengan buku ini secara global, dan kita tidak hanya punya hitam putih saja
Maka saya tidak tahu – dan inilah keadaan saya – bagaimana saya dan orang yang semisal dengan saya dianggap termasuk diantara orang – orang yang meminta syaikh Al-Abbad untuk mengarang kitab ini ?
Dengan meberikan isarat – di sini – bahwasanya risalah Fadhilah Ustadz Syaikh Al-Abbad menunjukan secara yakin bahwasanya beliau membaca, menelaah dan mengetahui bahkan beliau mengetahui sekali, tidak sebagaimana yang digembar-gemborkan dan disebarluaskan oleh orang banyak dan para pengikut mereka yang berbeda dengan kenyataan.

Perhatian !
Telah terjadi dalam majlis tersebut perkataan yang lain seputar Syaikh Al-Abbad, saya melihat perkataan tersebut merupakan perbuatan jelek terhadap beliau, akan tetapi saya berpegang kepada sarat saya dalam diskusi ini yaitu : Saya tidak membahas di dalamnya kecuali sesuatu yang berhubungan dengan saya, yaitu kritikan Syaikh Robi kepada saya – semoga Alloh memaafkannya – , dengan meninggalkan kesempatan untuk membantah Syaikh Robi kepada selainku yaitu orang yang ahli dari kalangan saudara-saudaraku dan anak – anakku – dengan bantahan yang penuh dengan hujjah dan adab ilmu –.

12. Kemudian Syaikh Robi berkata – mengajak bicara teman-teman kita dari Falestina – : Demi Alloh seandainya timbangan kalian adalah kitabulloh, sunnah dan perkataan salaf sholih kalian tidak akan menolong Ali Hasan walaupun dengan satu kata.

Saya berkata : Semoga Alloh memaafkan Fadhilah Syaikh Robi dan membaguskan ahir hayatnya, Apakah Ali Hasan menyelisihi alquran, sunnah dan perkataan salaf sehinngga dia tidak sama dengan salaf walaupun dalam satu kata ?
Mahasuci Alloh, apakah sampai ketingkatan ini, apakah saya tidak memiliki walaupun satu kata yang sama dengan kitabulloh, sunnah dan ucapan salaf, atau maksudnya aku tidak sama dengan kitabulloh, sunnah dan ucapan salaf walupun satu kata dalam hal yang Syaikh megkritikku ?
Jikalau yang dimaksud adalah yang pertama ( bahwa syaikh Ali Hasan menyelisihi kitabulloh , sunnah dan salaf dan tidak ada satu perkataanpun bagi beliau yang sama dengan salaf) maka kita telah melipatkan tikar ( mengakhiri diskusi ) dan kita menghalalkan berjaga-jaga diperbatasan untuk perang, jikalau yang dimaksud adalah yang kedua maka saya akan selalu meminta , apakah permasalahan itu ? dan bagaimanakah ia ? apakah ia pembahasan muwazanah ? atau pembahasan perbedaan aqidah dan manhaj ? atau pembahasan yayasan ihya turots ? atau pembahasan kritikan dengan penjelasan ( jarh mufassar ) ? atau pembahasan berita orang yang terpercaya (khobar tsiqoh) ? atau pembahasan kritikan dan pujian (jarh dan ta’dil) ? atau pembahasan kritikan kepada si pulan dan pencacatan kepada si alan ? mahasuci Alloh !!
Semuanya permasalahan ini – dengan semua pemaparannya – telah digambarkan kepada Syaikh dengan gambaran yang buruk, kalau tidak demikian maka saya dalam permasalahan-permasalahan ini mempunyai penjelasan yang jelas dan mepunyai pendahulu dari kalangan salaf yang terhormat dan kuat – dihadapan fadhilah Syaikh Robi dan yang lainnya – .
Maka apakah yang terjadi ? kenapa Syaikh memberikan kepada mereka kesempatan untuk mencelaku di waktu yang mana Beliau tidak memberikan izin kepada mereka untuk mengkritik mereka (para penghasut syaikh) ?.
Atau apakah mereka memanjangkan dindingku ( melindungiku ) dan dan memendekan dinding-dinding mereka ( membuka keburukan para penghasut Syaikh Robi ) ? , wahai Syaikh ! ini semuanya adalah masalah – masalah ijtihadiyah dan perbedaan pendapat dalam masalah ini adalah boleh dan diakui masih ada dalam bingkai manhaj salaf dan para ulamanya, dan saya tidak mengira – siapapun dia – yang mengklaim bahwasanya masalah – masalah ini adalah masalah – masalah yang qot’i atau bahwasanya perbedaan pendapat dalam masalah – masalah ini adalah perbedaan antara sunnah dan bid’ah.
Maka apakah yang telah di bolak – balikan oleh hari ini agar engkau meninggalkan kaidah salafiyyah yang benar ? Apakah hukum terhadap masalah – masalah ini dengan menyalahkannya atau dengan membid’ahkannya menjadikan orang yang mengatakannya ahli bid’ah sebagaimana keadaan perbedaan pendapat dalam masalah – masalah yang besar seperti maslah iman, qodar, sifat-sifat Alloh, dan yang semisalnya ? apakah ini temasuk dari kaidah – kaidah salaf dalam membid’ahkan ? apakah tingkatan – tingkatan bid’ah dan membidahkan itu sama ? dan apakah seperti ini penerapan salaf – semoga Alloh merahmati mereka – terhadap kaidah ini ?.

13. Berkata Syaikh Robi – semoga Alloh menjaga beliau – : Demi Alloh, demi Alloh sesungguhnya Abul Hasan dan Urur seratus kali lebih jelek, lebih bobrok, lebih dusta, lebih kasar dan lebih menjijikan dari Salman Al-Audah, saya menyanggah Safar Hawali beberapa kali dan tidaklah ia menjawab walaupun dengan satu kata, Salman Al-Audah saya menyanggahnya dengan kitab Ahlul Hadits Hum At-Thoifah Al-Manshuroh, dan Ali Hasan tatkala terkepung dia mengatakan : Al-Jarh wa At-Ta’dil. Dia tidak mempunyai dalil dari kitabulloh dan sunnah, dan dia berkata : Kesalahan lafadz, kesalahan lafadz, demi Alloh dia tidak menjawab kepadaku dengan hujjah yang lainnya, dan nanti akan muncul dalam kitabnya ; dia menetapkan dalam kitabnya, dia tidak menjawab kepadaku dengan selain hujjah ini, dan nanti akan muncul perkataannya yang kedua mengakui bahwa ia salah, ini dalah kesalahan yang besar.

Saya berkata : Saya akan keluar sedikit dari sarat saya dalam diskusi ini, Apakah keadaan bobrok, dusta, kasar, jijinya Abul Hasan dan Adnan Urur -lebih parah dari Safar dan Salman – sebagaimana Syaikh Robi mengungkapkannya kembali kepada sebab bahwa Abul Hasan dan Urur menyanggah kepada Syaikh Robi sementara Safar dan Salman sama sekali tidak menyanggahnya ?.
Ini adalah lahiriyah dari perkataannya, apabila Fadhilah Syaikh berkata : Saya tidak bermaksud demikian, maka kita akan menerimanya dengan segera – maka apakah yang diinginkan beliau – lahiriyah perkataannya atau yang lainnya ? apakah hanya karena menyanggah – sanggahan apapun ia – menjadikan pelakunya lebih kasar, lebih menjijikan, lebih pendusta, kemudian tidak adanya sanggahan menyelamatkan pelakunya dari hal tersebut seratus kali ?.
Saya berharap ini bukan maksud Syaikh Robi ; walupun ini adah lafadz dan nash dari ucapannya! Dan alangkah indahnya sebuah perkataan : Maksud dalam hati tidak bisa menolak lafadz yang diucapkan. Akan tetapi ; harus dengan kasih sayang dan kelembutan bukan dengan kemarahan dan balas dendam.
Adapun permaslahan Al-Jarh Wa At-Ta’dil maka saya telah mengupas sikap saya dan menjelaskan maksud saya tentangnya, dan saya telah menyingkapkan maksud saya dalam masalah tersebut dengan sesuatu yang tidak perlu ditambah lagi yaitu dalam cetakan kedua dari kitab saya ( Manhaj As-Salaf As-Sholih) halaman 133 -140 dan di sana saya telah menukil perkataan Syaikh Robi Bin Hadi sendiri – semoga Alloh meberikan taufiq kepadanya – dalam sebagian kitabnya seputar ilmu AL-Jarh Wa At-Ta’dil bahwasanya ia diciptakan untuk menjaga agama dan untuk menempatkan seseorang pada tempatnya ….. apakah dikatakan kepada sesuatu yang memiliki dalil dari kitabulloh dan sunnah bahwasanya ia diciptakan ?, maka yang dimaksud dalil-dalil yang menetapkan ; adalah dalil- dalil yang mensyariatkannya …… dan yang dimaksud dengan menciptakan adalah sesuatu yang baru : pembagiannya, jenis-jenisnya yang sebelumnya belum ada.
Maka yang diinginkan beliau itulah yang saya inginkan dan apa yang dimaksudan oleh beliau itulah yang saya maksudkan, dan jika lafadz dan ungkapan saya – yang sebelumnya dan yang sesudahnya – itu menghianati saya maka siapakah anak manusia yang tidak luput dari hal itu (tidak pernah salah).

Dipuji dan dicela padahal kamu tidak melampui batas kedua sifat itu
Dan kebenaran itu terkadang tercampuri dengan jeleknya pengungkapan

Dan apakah hal ini dimaafkan dari selainku dan tidak dimaafkan jika dilakukan olehku ? Maka kenapa demikian ? dan apakah yang membedakannya ? dan adapun perkataan Faddhilah Syaikh : Nanti akan datang perkataannya yang kedua dalam kitabnya yang menetapkan bahwa ia salah, maka saya mengira kesalahan dalam ucapan ini disebabkan penukilan teman-teman setianya yang jelek – semoga Alloh memberikan petunjuk kepada mereka – .
Saya dalam kitab tersebut sama sekali tidak menetapkan bahwa saya salah, akan tetapi saya hanya menjelaskan maksud dan keinginan saya sebagai jawaban bagi orang yang mempunyai masalah dengan ucapan saya … dan saya tidak mengira bahwa Fadhilah Syaih Robi memahami kitab saya sebagimana orang yang memahami bahwasanya saya menyalahkan diri saya di dalam kitab tersebut, akan tetapi jikalau pada hakikatnya saya menyalahkan diri saya dalam buku saya, bukankah itu yang engkau inginkan wahai Fadhilah Syaikh ? kenapa engkau mencela saya ? akan tetapi kebenaran itu apa yang telah saya sebutkan dalam kitab saya, maka saya tidak akan memperpanjang pembicaraan.

14. Kemudian Dia ( Ali Hasan ) mensifati para sahabat seperti buih !

Saya berkata : Maka ini – Demi Rob Muhammad Shollallohu ‘Alaihi Wasallam – tidak pernah terjadi dan tidak akan terjadi selama dalam keringatku terdapat harumnya sunnah ( selama aku berpegang teguh kepada sunnah ), saya memohon kepada Alloh untuk memberikan kepada kita keteguhan di atas sunnah dan wafat di atas keimaanan dan jika saya tidak demikian maka ini adalah jurang kehancuran dan kebinasaanku – semoga Alloh melindungi aku dan kalian -.
Adapun apabila yang dimaksudkan oleh Fadhilah Syaikh tentang sikapku terhadap orang yang mengatakan ucapan ini ( para sahabat seperti buih ) maka sikapku seperti sikap guru kami Fadhilah Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad – semoga Allloh menjaganya – dan ini adalah sikapku yang diumumkan, dikenal, tersebar luas dan jawaban yang terkenal yang mencakup sanggahan, peniadaan dan kritikan terhadap kalimat ini, yang mengucapkannya dan yang menukilnya atau yang rido terhadapnya dan saya tidak akan memperpanjang pembahasan ini karena hal ini sangat jelas dan tersingkap permasalahannya dengan mengisaratkan kepada para pembaca yang bijaksana – akan tetapi di manakah mereka kepada – kitabku ( Ithaf As-Sail Wa Ifham Al-Jahil Bima Waroda Fi As-Shohabah Al- Asoyil Min Al-Fadhoil).
Dan kitab ini sudah dicetak . Inilah hal yang Alloh menolongku untuk melakukannya di pertemuan ini dengan meminta kepada Alloh taufiq, kebenaran dan petunjuk bagiku dan Fadhilah Syaikh Robi dan menjauhkan kami semua dari kekeliruan dan sahabat – sahabat setia yang jelek sambil berdoa dengan doa nabawi yang dirwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shohinya dari Aisyah – Rodhiallohu ‘Anha – :

اللهمَّ مَن وَلِيَ مِن أمرِ أُمَّتِي شيئاً فشَقَّ عليهم : فاشْقُق عليه، ومَن وَلِيَ مِن أمرِ أُمَّتِي شيئاً فرَفَقَ بهم : فارْفُق به.
Ya Alloh barang siapa yang memegang sebagian urusan ummatku kemudian ia menyusahkan mereka maka susahkanlah ia dan barang siapa yang memegang urusan ummatku kemudian ia berlemah lembut kepada mereka maka berlemah lembutlah kepadanya.

Diantara Mutiara dari artikel-artikel Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah yang sangat berharga adalah perkatanya – Semoga Alloh memberkatinya – di dalam kitabnya Ar-Rod ‘Ala-Albakri ( Sanggahan terhadap Bakri ) juz 2 halaman 705 : (( Maka seseorang selain Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam apabila dia mengungkapkan kata-kata yang bisa dipahami dengan pemahaman yang salah dengan disertai ucapan yang dapat menghilangkan kesalahan pahaman tersebut maka hal ini adalah sesuatu yang boleh – menurut kesepakatan kaum muslimin -.

Dan juga, jika kesalah pahaman disebabkan oleh jeleknya pemahaman si pendengar – bukan kecerobohan orang – orang yang bicara -, maka hal itu tidak menimbulkan apa-apa bagi pembicara.

Dan tidak disaratkan bagi para ulama – jika mereka membicarakan ilmu – bahwa tidak seorangpun yang mendengarkan ucapannya melainkan harus memahami ucapannya sesuai dengan apa yang mereka maksudkan!

Bahkan manusia akan terus menerus memahami kata-kata orang lain dengan pemahaman yang berbeda dengan apa yang mereka maksud ! dan hal ini tidak mengurangi kehormatan orang-orang yang menyampaukan kebenaran )) .

Aku berkata : Saya menerbitkan makalahku ini dengan menyertakan perkataan yang berharga dari Syaikh Al-Islam! karena kebanyakan – jika tidak semuanya – apa yang dikritikan kepadaku – dari yang telah lalu dan yang akan datang – adalah dari permasalahan ini, tidak keluar dari permaslahan ini – dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah -, dan orang yang adil akan bisa memutuskan kebenaran!

Kemudian kami masih berjalan di atas keberkahan yang diberikan – oleh Alloh Yang Maha Penolong – Maha Suci Engkau Ya Alloh – dalam diskusi dengan Syaikh Robi – Semoga Alloh memberikan taufiq kepadanya – terhadap koreksiannya kepadaku, atau apa yang ia katakan kepadaku di majlisnya dengan para mahasiswa falestina – semoga Alloh menambahkan keutaamaan bagi mereka -; dan saya tidak mengira melainkan bahwa hal ini akan menjadikan Syaikh Robi senang dan bahagia – Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan –.

Aku meminta pertolongan kepada Allah – Yang Maha Kuasa – untuk mengendalikan penaku, menjaga kata – kataku dan hurup – hurupku – sehingga berlanjutlah diskusi ini sesuai dengan format yang telah disaratkan olehku kepada diriku sendiri – dengan diskusi yang ramah, penuh kasih, dalil dan argumentasi .

15 – Syaikh Robi berkata – sebagai tanggapan atas perkataan saudara – saudara kita mengomentari poin sebelumnya (14) – yang mana mereka berkata : – ( Apakah Sebuah perkataan dikembalikan kepada maksud pembicara atau kepada maksud orang yang menukilnya ? Beliau mengomentari : « Inilah cara berpikir yang sesat, Ali Hasan mengajarkan kalian di atas cara berpikir yang sesat ! »

Aku berkata : Begitulah Beliau berkata – semoga Alloh membimbing kita dan beliau kepada kebenaran ! Dimanakah cara berpikir yang sesat dalam pernyataan yang sangat jelas yang tidak akan berbeda pendapat dua orang manusia dalam memahaminya dan dua ekor kambing tidak akan saling menanduk karenanya !
Atau Apakah orang yang menukil pembicaraan lebih memahami perkataan orang yang berbicara (!) – dengan tanpa bukti – ???
Demi Allah, Yang tidak ada tuhan lain yang hak selainNya ; saya tidak tahu tentang Safsathoh ( cara berpikir yang sesat / pemutar balikan fakta / pengelabuhan ) melainkan hanya definisinya yang disebutkan dalam buku –buku : Bahwa definisinya adalah : Penolakan terhadap kebenaran pemutar balikan fakta, dan pengelabuhan) – seperti dalam kitab Ar-Rod ‘Ala Al-Manthiqiyyin ( Sanggahan terhadap para pendewa akal ) hal. 229 karangan Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah -.

Apakah Saya mendidik manusia untuk berpikir sesat ? Apakah kitab-kitab aqidah dan tauhid yang kita ajarkan kepada para pelajar mengajari mereka untuk berfikir sesat, apakah buku-buku Sunnah dan fiqih yang kita ajarkan kepada murid–murid kami mengajarkan merka untuk berfikir sesat ?
Semoga Alloh mengampuni anda dan memaafkan anda… wahai Syaikh Robi Demi Allah, Kami tidak mendidik murid-murid kami melainkan untuk memuliakan dalil ; kami tidak mendidik murid-murid kami melainkan untuk meninggalkan taqlid, menolak fanatisme dan perkataan-perkataan yang lemah.
Kita tidak mendidik mereka melainkan untuk tunduk kepada kebenaran dan patuh kepadanya , kita tidak mengajarkan mereka melainkan untuk memuliakan para ulama dan menghormati mereka, namun bukan dengan mengorbankan bukti – dan ini tidak akan terjadi selama lamanya -., betul saya adalah manusia biasa yang tekadang benar dan terkadang salah, dan aku memiliki kecendrungan dan hawa nafsu, akan tetapi aku selalu berusaha untuk mencapai kebenaran dan menundukan kecendrungan jiwa dan hawa nafsu, dan saya mengira keadaan selainku – siapapun dia – tidak akan lebih baik dariku kecuali jika ……….

16 – Kemudian Syaikh Robi berkata : Bagaimana Ali Hasan membuka pintu ini ? Ali Hasan mengatakan kepada pembela Said Qutub : Lihatlah, aku membuka empat pintu bagi kalian utuk memuji guru – guru kalian!

Aku berkata : Perkataan beliau – semoga Alloh menjaganya – berkenaan dengan manhaj muwazanah !!, Adapun aku membuka pintu tersebut maka hal ini – demi Alloh – tidak benar sama sekali, bahkan – dan karunia itu hanya milik Alloh yang Maha Tinggi – aku telah mengoreksinya, membatasinya dan menjadikan baginya segi – segi kebenaran dan penjelasan ; mengeluarkannya dari definisi – definisi yang berlebih – lebihan dan menganggap mudah – secara bersamaan – dengan membangaunnya di atas ucapan Imam – Imam Ahli Sunnah di zaman ini
Syaikh Ibnu Baz dan Syaikh Ibnu Utsaimin – dengan ucapan yang tidak menyelisihi ucapan guru kami Al-Albani – secara asal – begitu juga ulama – ulama yang lain dari ulama kita, apakah yang dikatakan kepadaku – di sini – dikatakan juga kepada mereka ??!! padahal babnya dan ucapannya sama.

Adapun aku berkata kepada pembela Said Qutub ….

Maka ucapan ini berbeda dengan kenyataan, apalagi dengan apa yang saya sebutkan dengan penjelasan yang memuaskan dalam kitab saya Manhaj As-Salaf As-Sholih halaman 60 , bahwasanya semua ucapanku ditujukan kepada kepada saudara-saudara kami salafiyyin dan secara khusus kepada mereka yang dituduh dengan kebida’ahan dengan tidak benar – menurut saya – sebagai pembelaan terhadap mereka.

Dan kitab tersebut tidak ditujukan kepada Pembela Sayyid Qutub, Takfiriyyin, Haddadiyyin, Mumayyi’in, ikhwaniyyin dan yang lainnya, itu adalah ucapanku dalam kitabku sejak 2 tahun yang lalu atau lebih, maka bagaimana aku dituduh dengan kebalikannya ??!! bahkan – di sana – aku berkata : Tidak boleh bagi siapa saja memanfaatkan ucapanku – dalam kitabku ini dan yang lainnya – untuk memecah persatuan salafiyyin dan mematahkan barisan mereka, demi Alloh, tidaklah saya menulis buku ini melainkan untuk menyatukan kaum salafiyyin sebagai bukti kesungguhanku untuk bersatunya mereka, bersepakatnya mereka dan bersatu padunya mereka .

Maka demi Alloh kenapa saya dituduh dengan sesuatu yang berbeda dengan ucapanku ?, kemudian apakah empat pintu yang saya buka bagi Pembela Sayyid Qutub sebagaimana yang diisaratkan Fadhilah Syaikh Robi ? – Semoga Alloh memberikan taufiq kepadanya -.
Apakah pengakuan ini sesuai dengan permulaan ucapanku dalam kitabku Manhaj As-Salaf As-Sholih halaman 257 cetakan kedua – ketika aku berkata – : Masalah keempat belas : Manhaj Muwazanah – secara terperinci – Telah menjadi ketetapan para ulama ahlu sunnah dan ahlu hikmah mereka – di zaman ini – bahwasanya ahlu bid’ah dan hawa nafsu tidak disebutkan kebaikan mereka ketika menyanggah, mengkritik dan membatalkan keyakinan mereka ; karena hal itu akan menyesatkan orang-orang awwam dan sebagian orang-orang khusus, sehingga mereka tertipu dengan kebaikan-kebaikan ahli bid’ah dan mentutup mata dari kesalahan-kesalahan mereka.

Dan hal ini terdapat dalam ucapan Guru kami Imam Al-Albani – semoga Alloh menyayanginya – dengan ucaapan yang sangat banyak bahkan banyak sekali dan juga ucapan – ucapan Saudara – Saudara Beliau dari kalangan Para Ulama Besar, kemudian di kitab itu saya memberikan komentar dalam catatan kaki : Hanya saja aku tidak mebahas hal ini secara panjang lebar dengan menyebutkan penukilan – penukilannya – dicetakan pertama dari kitabku ini – karena aku mengira hal itu sudah cukup jelas di kalangan para dai yang bermanhaj salaf, tertanam kokoh dalam hati – hati mereka dan akal – akal mereka.

Dan sungguh saya terkejut karena kenyataannya tidaklah seperti itu, walaupun saya mempunyai pendapat pribadi di pokok pembahasan muwazanah yaitu : Bahwasanya penyebutan kebaikan orang yang dikritik itu tujuannya untuk memikat sebagian kelompok-kelompok yang menyimpang agar sebagian ahlu sunnah menyerang sebagian yang lain ; dengan kata lain : Seandainya kita menganggap benar madzhab mereka yang rusak tentang wajibnya menyebutkan kebaikan orang yang kita sanggah ( kririk ), apakah mereka akan menerima kritik ini ? Apakah mereka akan rela dengan sanggahan kepadanya ? Apakah mereka akan kembali kepada kebenaran yang kita miliki ? Saya sangat yakin tidak satupun dari hal ini akan terjadi!

Apakah dikatakan – setelah ini bahkan sebelumnya – bahwasaya aku menguatkan manhaj muwazanah padahal aku telah menamakannya dengan madzhab yang rusak, apalagi dkatakan kepadaku telah membuka empat pintu bagi pembela Sayyid Qutub ? kemudan saya berkata di kitabku halaman 258, : Saya tidak akan menambah ucapan – setelah menetapkan kaidah yang pokok ini – atas jawaban-jawaban yang mendetail dari Fadhilah Samahah Syaikh Abdul Aziz Bin Baz karena di dalamnya terdapat faidah – faidah dan tambahan – tambahan manfaat dan itu tatkala beliau ditanya tentang manhaj ahli sunnah dalam mengkritik ahli bid’ah, apakah merupakan kewajiban menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka dan kejelekan-kejelekan mereka atau apakah cukup menyebutkan kejelekan-kejelekan mereka ? Kemudian aku menyebutkan naskah ucapannya – Semoga Alloh menyayanginya – dalam pembahasan muwazanah, beliau mengoreksinya dan menelitinya, Apakah akan dikatakan : Syaikh Ibnu Baz membuka empat pintu bagi pembela sayyid Qutub, apabila ucapan ini tidak dikatakan kepadanya padahal beliau adalah akar maka bagaimana mungkin ucapan ini dikatankan kepadaku padahal aku adalah cabangnya ? Maha suci Engkau ya Alloh.

17.Kemudian Syaikh Robi berkata – semoga Alloh menjaganya – Ali Hasan sekarang ingin mendekati Para pembela Sayyid Qutub.

Begitulah beliau berkata – Semoga Alloh memberikan taufiq kepadanya –
dan ucapannya itu tidaklah mengandung satu segipun dari kebenaran selama-lamanya, bagaimana aku mendekati Para Pembela Sayyid Qutub padahal aku telah menggoncangkan benteng pertahanan mereka yaitu Sayyid Qutub dalam dua kitab yang khusus mebahasnya, dalam puluhan fatwa, dalam beberapa artikel dan ucapan-ucapanku.

Bahkan saya mengkritik Yang Mulia Samahah Mufti negri haromain atas pembelaannya yang terkenal kepada Sayyid Qutub yang mana pada waktu itu kebanyakan orang tidak berani mengkritiknya, lalu bagaimana aku mendekati Para Pembela Sayyid Qutub padahal aku telah menjelaskan kerusakan mereka, mengungkapkan aib mereka, dan mematahkan fondasi-fondasi mereka ? bahkan bagaimana aku mendekati mereka padahal aku sangat menampakan perbedaanku dengan jalan mereka, menyelisihi manhaj mereka dan pembid’ahanku kepada mereka sepanjang malam dan siang, apalagi mereka sangat memusuhiku dan memberikan perlawanan yang keras kepadaku ??!!

Wahai Syaikh Robi takutlah kepada Alloh , hati-hatilah terhadap apa yang engkau ucapkan – dengan kehati-hatian yang sangat banyak dan sangat banyak -, wahai Syaikh Robi engkau adalah manusia yang mungkin salah dan lupa, wahai Syaikh Robi sesungguhnya orang-orang yang ada disekitarmu menggambarkan permasalah-permasalahan tersebut kepadamu dengan gambaran yang tidak sesuai dengan kenyataan ; mereka menggambarkannya sebagaimana yang mereka inginkan, maka perhatikanlah dan sadarlah semoga Alloh meberikan keberkahan kepadamu…

18. Dan ketika salah seorang saudara kami berkata : Demi Alloh, demi Alloh kami tidak mengenal guru kami melainkan seorang salafi yang murni dan bersih, Syaikh Robi menjawab : Engkau tidak tahu salafiyyah.

Saya berkata : Apakah dengan pertambahan matematika : Satu tambah satu sama dengan dua kemudian keluarlah hasilnya dengan tepat : Ali Halabi tidak tahu salafiyyah!!!

Dan disinilah pena berhenti untuk menulis, wah alangkah bahagianya Para Pembela Sayyid Qutub, Takfiriyyin (para tukang mengkafirkan) dan Ikhwaniyyin (orang-orang al-ikhwanul muslimin) dan saya tidak akan menambah ucapan saya selain – dengan terus menerus berusaha untuk mengedalikan jiwaku untuk kesekian kalinya dan kesekian kalinya dan dalam setiap waktu – : Semoga Alloh mengampuni Syaikh Robi, dan hanya kepada Alloh-lah kita meminta pertolongan.

(Ditejemahkan oleh Abu Wafiyyah Zamzam Al-Hawari (http://zamzamalhawari.blogspot.com/) dari situs guru kami yang tercinta Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ali Hasan Bin Abdul Hamid Al-Halabi Hafidzohulloh http://www.alhalaby.com/).

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 24, 2011 in SALAFIYAH

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: