RSS

Tidak Ada Paradigma Takfiri yang Melandasi Sikap Golput Sebagian Salafy

12 Jun

Oleh: al-Ustadz Fakhruddin Abdurrahman, Lc.

Tulisan ini kami toreh untuk meluruskan kesalahan pemahaman Ust Yusuf Baisa hafizhahullahu wa hadaanallaahu wa-iyyaah yang dimuat dalam gemaislam.com.

Kenapa sebagian Salafiyyin menolak untuk terlibat dalam pilpres?

Kira-kira inilah pertanyaan yang hendak dijawab dalam tulisan beliau yang tidak lebih dari sepuluh paragraf tersebut. Namun sangat disayangkan beliau membawakan alasan yang tidak pernah terlintas dalam benak salafiyyin.

Beliau menggambarkan seolah-olah para salafiyyin yang memilih golput adalah orang-rang yang termakan paradigma takfiri. Diantara paradigma yang beliau tulis: “setiap angota pemerintaha yang tidak menerapkan syari’at islam maka dia kafir”, “menolak produk politik apapun yang dilahairkan oleh pemerintah”

Kami sepakat paradigma seperti ini adalah adalah paradigma takfiri, bahkan inilah prinsip dasar yang ada dalam setiap hati takfiri di dunia. Oleh karena itu kami yakin tidak ada seorang salafiyyin pun yang punya paradigma seperti ini ! Kami ragu apakah beliau punya bukti bahwa sebagian salafiyyin yang golput punya paradigma seperti ini ? atau paradigma seperti ini adalah ungkapan pemahaman dan pemikiran beliau sendiri ?

Salafiyyin di Indonesia tidak pernah mengkafirkan anggota pemerintah di negeri ini. Salafiyyin juga tidak pernah menolak setiap produk politik yang dilahirkan pemerintah.

Setiap penguasa yang telah mendapat kekuasaan baik dengan cara yang halal maupun haram wajib kita ta’ati. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

أُوْصِيْكُمْ بِتَقوَى اللهِ عز وجل وَالسَّمعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ

“Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah Taala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak.” (HR. Abu Dawud dan at-Titmidzi)

Salafiyyin punya prinsip sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa; 59)

Dan sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

لا طاعة في معصية الله، إنما الطاعة في المعروف

“Tidak boleh taat (kepada makhluk) dalam bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya taat (kepada makhluk) itu hanyalah dalam perkara kebaikan.” (HR Al Bukhari)

Demokrasi dengan pemilu sebagai dasar penentu siapa yang berkuasa bukanlah sesuatu yang diperbolehkan dalam syari’at Islam.

Sebagian salafiyyin ketika menolak untuk terlibat dalam pilpres kali ini, mengambil keputusan bukan sesederhana yang digambarkan. Bukan juga dengan seenak perutnya menolak fatwa para ulama besar yang notabennya adalah hasil ijtihad mereka. Namun sebaliknya pernahkah Ust Yusuf membaca fatwa para ulama besar lainnya yang melarang kita terlibat dalam pemilihan seperti ini ? Sehinngga beliau bisa sedikit berhati-hati dalam menyampaikan opini. Tidak menyinggung perasaan sebagian salafiyyin yang selama ini sangat anti terhadap paradigma takfiri dan tidak memancing di air keruh, memperdalam jurang perbedaan serta menggebosi dakwah sebagian du’at salafiyyin. Kira-kira siapa yang diuntungkan dengan tuduhan semacam ini?

Kami melihat bahwa:

Pertama: Pilpres kali ini bukanlah sarana yang baik untuk memperjuangkan Islam. Salafiyyin semenjak dulu berkeyakinan bahwa Islam akan jaya dengan dakwah tauhid, bukan dengan demokrasi dan pemilihan, namun dengan mengajak dan mengajarkan kaum muslimin kembali pada agamanya, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

إذا تبايعتم بالعينة وأخذتم أذناب البقر، ورضيتم بالزرع ، وتركتم الجهاد، سلط الله عليكم ذلا لا ينزعه حتى ترجعوا إلى دينكم” (رواه الإمام أحمد وأبو داود وغيرهما وصححه الألباني في السلسلة الصحيحة)

“Jika kalian berdagang dengan sistim ‘inah (salah satu sistim riba), sibuk dengan peternakan, lebih ridho terhadap pertanian dan meninggalkan jihad, maka Allah timpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan dicabut sampai kalian kembali kepada agama kalian” ( Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan Abu Daud dan yang lainnya, dishohihkan oleh Al-Albani)

Kedua: Ikut terlibat dalam keruwetan politik pada hari ini, dengan komentar dan tulisan yang tak jarang keluar dari prinsip manhaj salaf adalah sebuah kemunduran dan mengutamakan sesuatu yang kurang bermanfaat atau bahkan tidak ada manfaatnya. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَيَعْنِيْهِ (حديثٌ حَسنٌ، رواه التِّرمِذيُّ)

“Di antara tanda bagusnya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan; diriwayatkan oleh at-Turmudzi)

Ketiga: Kemudharatan demokrasi dan pemilu lebih besar dan lebih nyata dari pada kemudharatan perkembangan syi’ah, liberal dan orang-orang kafir di negeri ini, saat ini.

Salah satu kemudharatan yang sudah tampak nyata saat ini adalah terganggunya barisan du’at salafiyyin.

Keempat: Obat yang paling manjur untuk menangkal kemudharatan perkembangan syi’ah, liberal dan kekufuran di negeri ini, saat ini adalah dengan memperluas dan mempergencar dakwah yang hak, membuka mata kaum muslimin tentang kesesatan mereka.

Sumber : kristaliman.wordpress.com

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 12, 2014 in DEMOKRASI

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: