RSS

As-Salafiyyun Fanatik Terhadap Para Ulama Mereka?

13 Okt

As-Salafiyyun Fanatik Terhadap Para Ulama Mereka?

Oleh : Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi al-Atsari hafizhahullahu

Wahai saudara-saudara, syubhat begitu banyak dan terus bertambah. Namun, tidaklah melahirkan, melainkan bagaikan hewan yang mati tercekik, atau terpukul, atau terjatuh dari tempat yang tinggi, atau tertanduk. Hal ini tidak lain karena syubhat-syubhat tersebut tidak ada kenyataannya, dan tidak ada hakikatnya sama sekali! Seluruhnya terbangun di atas kebatilan! Berdiri di atas hawa nafsu! Ia sungguh berbeda dengan al huda (petunjuk yang benar)!

Kalau kita mau terus membicarakan syubhat-syubhat yang ada, maka akan sangat panjang. Namun, secara umum bisa kita simpulkan bahwa syubhat-syubhat itu mirip dan serupa, antara yang satu dengan yang lainnya. Walaupun demikian, saya akan sebutkan satu syubhat lagi yang telah mereka lontarkan.

Mereka mengatakan bahwa as-Salafiyyun sangat fanatik terhadap para ulama mereka!

Kita -walillahil hamd- tidak mengenal fanatisme, melainkan kepada al haq! Kalau sampai ada yang datang kepada kita orang awam yang bukan ulama, atau penuntut ilmu, atau siapapun orangnya, maka tidak ada antara kita dan al haq perseteruan dan permusuhan sama sekali. Bahkan kita berkeyakinan dan menganggap al haq adalah sesuatu yang manis dan indah.

Maka, jika para pendusta yang berkata-kata bohong itu ingin menjuluki dan menamakan suatu sikap fanatisme terhadap al haq dan berpegang teguh dengan al haq dengan sebutan fanatisme terhadap para ulama, maka lakukanlah!

Sungguh orang-orang kafir terdahulu pun telah menamakan dan menyifati hujjah Nabi Nuh Alaihis sallam dengan sebutan jidal (perdebatan). Maka, tidak ada masalah sama sekali, jika para pendusta yang baru (bermunculan kini) ingin menamakan konsistensi ahlul haq (orang-orang yang berpegang teguh dengan al Haq) terhadap al haq dengan sebutan fanatisme.

Akan tetapi walaupun demikian, sesungguhnya kenyataan yang jelas-jelas nyata dan tidak seorang pun yang dapat menolaknya; kita berkeyakinan dan menganggap para ulama kita adalah manusia biasa seperti yang lainnya. Bisa salah dan bisa benar. Mungkin tahu, dan mungkin pula tidak tahu.

Kita selalu angkat tinggi-tinggi perumpamaan al Imam Malik, Imamu Daril-Hijrah (Imam di Madinah pada zamannya). Bagaimanakah tatkala beliau ditanya dengan empat puluh sekian pertanyaan, dan yang ia jawab sekitar lebih dari tiga puluh lima pertanyaan? Seluruhnya beliau jawab dengan perkataan “La adri” (Saya tidak tahu).[1]

Betapa banyak permasalahan yang kami (Syaikh Ali bin Hasan) berbeda pendapat dengan Masyayikh (guru-guru) kami dan para ulama besar kami. Seperti Syaikh Ibnu Baz, Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Syaikh al Albani. Tetapi kendati pun demikian, perbedaan kami dengan mereka semua, tidaklah membuat kami (jauh dari mereka). Bahkan kami justru semakin cinta mereka, semakin dekat dengan mereka, semakin erat hubungan kami dengan mereka dan orang-orang yang sejalan dengan mereka.

Sekali lagi, silahkan para pendusta menamakan hal ini dengan nama fanatisme! Sama sekali tidak bermasalah bagi kita. Bahkan hal ini justru membahayakan diri mereka sendiri! Bahkan, silahkan beri nama “fanatisme golongan”! Tidak membahayakan kepada kita sama sekali! Justru hal itu menyebabkan bahaya pada diri mereka sendiri!

Mereka terus melontarkan tuduhan-tuduhan ketika mereka sendiri telah melakukan fanatisme dan telah salah dan keliru dalam memahami hakikat fanatisme! Alangkah lebih baik, seandainya fanatisme yang mereka praktekkan adalah fanatisme kepada orang-orang yang sederajat dengan para ulama kita!

Namun yang amat disayangkan, fanatisme mereka justru ditujukan terhadap orang-orang bodoh; terhadap orang-orang remeh dan kecil; terhadap orang-orang tidak berguna; yang justru telah menggiring mereka untuk berbuat fanatisme dan mendukung mereka sendiri! Tanpa ada hujjah! Tanpa haq!

Mereka orang-orang yang tidak mengerti al haq, tidak mengerti pengetahuan tentang ilmu dan hujjah! Mereka sekedar orang-orang yang pintar bicara, pandai menghias dan merangkai kata-kata semata! Sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

إِنَّ مِنَ الْبَيَانِ لَسِحْرًا

“Artinya : Sesungguhnya sebagian dari penjelasan terdapat sihir”[2]

Adapun kita, maka kita selalu berusaha berangkat dan berbuat dari ilmu syar’i, dari al Kitab dan as-Sunnah, seperti perkataan seorang ulama berikut:

Ilmu adalah “Allah berfirman”, “Rasulullah bersabda”, “Sahabat berkata”, dan bukan perancuan (pengaburan).

Bukanlah ilmu, (jika) engkau tegakkan perselisihan dengan cara yang bodoh, (perselisihan antara sabda) Rasul dan pendapat seorang yang faqih (pandai ilmu).[3]

Inilah pedoman kita! Dan itulah fanatisme mereka!

Hendaknya setiap orang introspeksi terhadap apa-apa yang telah ia lakukan, sebagai bekal persiapan menghadap Allah l ; karena hanya ada dua pilihan saja, ke surga atau ke neraka!

Demikianlah yang dapat kami ungkapkan, dengan senantiasa memohon ampunan Rabb kita Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sesungguhnya hanya Dia-lah yang mampu memberikan ampunan.

Dan shalawat, salam serta berkah, mudah-mudahan senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi kita Muhammad, para keluarga, dan seluruh sahabatnya.

Ceramah Syaikh Ali Hasan al-Halabi al-Atsari

di Masjid Islamic Center Jakarta, Ahad, 23 Muharram 1428H/11 Februari 2007M

Alih Bahasa & Transkrip : Ustadz Arief Budiman bin ’Utsman

Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XI/1428H/2007

Artikel ini didownload dari Markaz Download Abu Salma (http://dear.to/abusalma]

Dipublikasikan oleh : ibnuramadan.wordpress.com


[1] Lihat kisahnya dalan Siyaru A’lamin Nubala (8/77)

[2] HR Al-Bukhari (5/1976, 2176 no. 4851, 5434) dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, Muslim (2/594 no. 869) dari Ammar bin Yasir Radhiyallahu ‘anhu, dan lain-lain. Adapun makna hadits ini, di antaranya adalah : sebagian penjelasan orang ada yang mampu membuat hati orang lain yang mendengarnya terpengaruh dan terbawa, walaupun kepada sesuatu yang tidak haq. Lihat An-Nihayah fi Gharib Al-hadits wal Atsar (1/759)

[3] Bait-bait syair ini dibawakan oleh Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Lihat Fawa’id al-Fawa’id hal. 238

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 13, 2008 in ZZ..BANTAHAN..ZZ

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: